My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 88: She Is My Friend


__ADS_3

"Kelasku sudah akan dimulai. Apakah kamu sudah baik-baik saja?" Mendengar pertanyaan Civanya, Arana sekali lagi menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak selemah itu," balas Arana setelah dia menenangkan emosinya.


Arana merasa bersyukur bahwa kekhawatiran Civanya bukanlah kepalsuan, berbeda dengan teman-temannya yang lain, yang menggunakan status pertemanan untuk mendongkrak naik menjadikan Alana ATM berjalan dan sebagai tameng mereka untuk merundung dan menggunakan identitas kelas atas. Arana benar-benar ingin mengungkapkan terima kasih kepada Civanya, namun dia tidak bisa mengatakannya secara langsung dan hanya diam-diam mengucapkan terima kasih didalam hatinya.


"Pergilah, aku juga akan pergi." Ujarnya.


Civanya tidak melihat kebohongan diwajah Arana dan pada akhirnya mengangguk. Ia berpisah, kemudian melangkah pergi untuk mengikuti pembelajaran dikelasnya setelah berpamitan kepada Arana yang membalas dengan seadanya.


Arana memandang lantai dibawahnya selama dua detik. Setelahnya, Arana dengan tegas melangkah pergi ke kelasnya, dan keluar dua jam kemudian. Dia tidak mengikuti kelas lain hari ini, dan dia memiliki waktu luang untuk menunggu Civanya dan makan siang bersama. Meskipun Alana tidak menyukai Civanya, namun Arana secara pribadi menyukai Civanya dan sebenarnya ingin berteman baik dengannya. Arana merenung selama beberapa waktu. Selama perkataannya masih acuh dan dia masih dingin pada Civanya dan dia bisa menemukan alasan mengapa dia ingin bersamanya, mungkin tidak masalah. Mungkin Arana juga bisa menemukan alasan yang bisa membawa keduanya mengobrol nanti.


Jadi dengan perasaan baik setelah melupakan kejadian pertemuannya dengan David, Arana dengan ringan melangkah ke departemen jurusan Civanya, menemukan kelasnya, dan mendudukkan dirinya disalah satu bangku dikoridor.


Maniknya sesekali memandang kearah pintu sebelum kembali terfokus pada ponsel yang bersarang ditangan kanannya.


Tidak lama kemudian, orang-orang mulai keluar dari ruang kelas setelah seorang pria setengah baya melangkah keluar. Arana mendongak, dan setelah menunggu selama beberapa waktu, seseorang yang ditunggunya tidak kunjung keluar. Arana yakin bahwa Civanya tidak lewat tadi, dan dia juga tidak merasa bahwa Civanya akan meninggalkan pelajarannya begitu saja. Jadi kemungkinan yang paling masuk akal adalah Civanya masih tertinggal dikelas karena sedang mencatat atau mungkin mencoba memahami lebih dalam materi pelajaran hari itu.


Karena Arana sering melakukannya sewaktu sekolah dulu.


Arana bangkit berdiri, meluruskan roknya dan melangkah kepintu untuk mendatangi Civanya. Namun ketika dia melangkah masuk, langkahnya terhenti seketika.


"Oh, jadi kau tidak mau membantu kami?"


"Bukan begitu, pekerjaan rumah seharusnya dikerjakan sendiri." Civanya yang dikelilingi beberapa mahasiswi itu nampak sedikit menunduk, menjawab dengan pelan, namun jelas. Namun jawabannya membuat mereka tidak puas. Yang berambut sebahu langsung menyambar bukunya dan melemparnya dengan kesal.


"Kau benar-benar menjengkelkan! Kau pikir kau siapa berhak menolak, huh?!"

__ADS_1


"Ketika kami menyuruhmu untuk membantu, maka kau hanya perlu menjawab iya!'


Civanya masih nampak ragu, dan dia dengan perlahan menggeleng. Masih menolak untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka. "Tidak."


"Kau--!"


Gadis itu hendak mengangkat tangannya meraih Civanya ketika sebuah tangan terlebih dahulu menahan gerakannya dan menariknya kebelakang dengan pelan. Gadis itu menoleh dengan marah, ketika ia bertemu dengan tatapan dingin Arana.


"Siapa kau?!" tanyanya marah.


Arana dengan tenang melepaskan cengkramannya ketika gadis itu menarik tangannya, dan dia melangkah untuk membantu mengambilkan buku milik Civanya yang dilemparkan. Jelas mengabaikan pertanyaan gadis itu kepadanya. Arana menaruh buku itu didepan Civanya dan dengan tegas berkata, "Beresi barang-barangmu, ayo."


Mendengar perintah Arana, Civanya tanpa sadar tertegun selama beberapa waktu sebelum dengan segera memasukkan buku-bukunya kedalam ransel hitamnya. Diabaikan begitu saja oleh Arana, gadis berambur pendek itu meledak karena kemarahan. DIa meraih kerah baju Arana dan menatapnya dengan mata melotot. "Sialan! Siapa kau?!"


Arana melirik tangan dikerah bajunya dan menampiknya dengan ringan. "Jangan menyentuhku."


Arana tidak segan-segan menunjukkan ekspresi jijiknya ketika dia melihat ketiganya. Arana pernah berada diposisi Civanya ketika dia duduk dibangku sekolah menengah di Melbourne dan hampir setiap hari dia menghadapi kejadian seperti ini. Pada waktu itu dia pernah berulang kali mencoba melawan, namun tidak ada diantara mereka yang menyerah, dan bahkan para guru hampir tidak memperdulikan kesusahannya selama itu tidak keterlaluan bagi mereka. Arana tidak ingin merepotkan Amber dan Arselyne, sehingga dia memendam kesulitan selama ini sendirian.


Meski dia mendapatkan lebih banyak kesulitan, namun karena prestasinya, dia berhasil melalui kesulitan itu dengan lebih santai. Pada akhirnya disini, dia menemukan seseorang yang bisa dia anggap sebagai teman karena tulus padanya, dan orang lain mencoba menggertaknya. Bagaimana mungkin Arana akan diam saja membiarkan dia digertak.


"Kupikir kau sudah tahu siapa aku, mengingat aku cukup terkenal," ungkap Arana.


"Aku memperingatkanmu, entah ... siapapun namamu itu, aku tidak begitu peduli. Tapi, gadis ini adalah temanku, dan jika kau mencoba mengganggunya, kau mungkin akan berurusan denganku dimasa mendatang." Sambungnya dengan nada yang penuh dengan ancaman, berbanding terbalik dengan senyuman tenang yang terpatri diwajahnya.


Civanya yang tengah memeluk tasnya hampir saja tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak ternganga. Dia tercengang ketika gadis yang biasanya akan memandang rendah dirinya sekarang justru membelanya dan melindunginya dari perundung.


Bahkan menyebutnya sebagai temannya!

__ADS_1


Berbeda dengan Civanya yang terpesona, tiga gadis perundung itu menjadi semakin marah dan meradang. "Kau yang tidak berhak berbicara begitu! Kau yang tidak mengenal siapa kami, dan kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu? Hah! Kau bercanda?!"


Sebagai seorang perundung yang sudah terkenal di Universitas itu, bahkan dikenal mengulang kelas selama tiga tahun berturut-turut, Lesa adalah salah satu dari perundung yang tidak bisa disinggung begitu saja. Melihat bahwa mahasiswa yang baru saja masuk ini berani menyinggungnya, Lesa tentu saja tidak menerimanya dan marah.


Dia hendak mengangkat tangannya untuk melakukan tindakan yang lebih keras ketika dia berhenti tiba-tiba, saat Arana dengan tenang mengangkat ponselnya, menampilkan sebuah video dimana dia memaksa Civanya untuk mengerjakan tugas mereka.


"Jika dosen melihat ini, kalian mungkin akan mengulang kelas." Ringan Arana tanpa menyadari bahwa dia telah mencolek titik sensitif Lesa, yang membuat wajah gadis itu memerah antara kemarahan dan rasa malu.


Arana menyimpan ponselnya dan menarik tangan Civanya untuk berdiri. "Tidak perlu khawatir. Selama kau tidak mencoba mengganggunya lagi, video itu akan aman bersamaku."


Kemudian, Lesa dan antek-anteknya ditinggalkan begitu saja.


"Sialan!"


...***...


Di koridor yang sepi, Arana dan Civanya berjalan berdampingan dan hampir tidak ada pembicaraan diantara mereka selama lima menit terakhir. Civanya yang sejak tadi masih kebingungan dan keheranan pada akhirnya menoleh, memandang Arana yang berjalan dengan tegas kedepan. Seakan tidak memperdulikan sekelilingnya, padahal pada kenyataannya, Arana bahkan dengan jelas menyadari sepasang manik memandangnya dengan penuh antusias dan penuh dengan penyelidikan.


Abaikan saja, Na.


Namun pada akhirnya, setelah lima menit berlalu, Arana tidak bisa menahan tekanan yang terus diarahkan kepadanya dan dia menoleh kepada Civanya dengan kerutan didahinya.


"Kenapa, sih?"


Civanya memandangnya dengan terkejut selama beberapa detik, sebelum dengan cepat membuka bibirnya dan bertanya.


"Apa kamu benar-benar Alana?"

__ADS_1


"Hah?"



__ADS_2