
Sudah 3 hari berlalu sejak Alva sakit, dan 2 hari sejak Amber kembali ke Melbourne.
Dalam dua hari, Arana merawat Alva dengan telaten. Membuatkannya bubur, membantunya minum obat, membantunya ke kamar mandi, menunggunya sewaktu tidur agar tidur pria itu nyaman. Arana bahkan sampai begadang untuk mengganti kompresan Alva.
Hasilnya, hari ini pria itu sudah duduk dikursi ruang makan. Wajahnya sedikit mengantuk dan masih memiliki jejak hitam dibawah kedua matanya, namun keadaannya sudah jauh lebih membaik tanpa harus pergi ke rumah sakit atau memanggil dokter pribadi. Kepalanya tidak lagi pusing, dan walaupun badannya masih sedikit lemas, Alva sudah bisa untuk sekedar berjalan-jalan disekitar rumah untuk menghirup udara segar.
Nenek Arana selalu bilang jika udara segar baik untuk orang yang sakit. Itu sebabnya saat nenek Arana sakit, Arana selalu membawanya berkeliling disekitar rumah menggunakan kursi roda.
"Sayang, aku lapar." Alva berkata sembari memegangi perutnya.
Dari belakang, Arana menuangkan bubur hangat kedalam mangkuk. "Sebentar, Al. Ini sudah siap."
Menambahkan irisan daging yang berair keatas bubur, Arana membawanya kehadapan Alva. "Bubur lagi?"
"Sayang~ Aku ingin makan spagetti."
Arana menggeleng. "Kamu masih dalam proses penyembuhan, Al. Belum boleh makan makanan berat seperti spagetti. Bubur ini lebih bergizi karena aku membuatkannya secara langsung dengan bahan yang segar. Jadi, sayang. Jangan banyak merengek dan makan."
Bibir Alva mencebik. Tidak mencerminkan usianya yang sudah menginjak 24 tahun. Menyaksikan Alva makan dalam tertekan, Arana tersenyum. Berjalan kembali ke pantry dan mengambil semangkuk bubur yang sama dengan Alva. Begitu kembali, Alva memandangnya.
"Kenapq kamu makan bubur?"
Arana menyuap dan menyunggingkan senyuman. "Aku kan sudah berjanji kepadamu. Dalam keadaan apapun, aku akan selalu menemanimu. Jadi, jika kamu merasa tidak adil karena kamu harus makan bubur, aku akan menemanimu makan bubur."
Arana menyunggingkan senyuman hingga menampilkan gigi putihnya. "Itu namanya bersama dalam suka dan duka."
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan Arana, Alva hampir tidak bisa berkata-kata. Pada awalnya, karena mengetahui bahwa Arana dan Alva adalah kembar, Alva pikir Arana akan sama saja seperti Alana. Meskipun didalam data yang didapatkannya dia adalah gadis yang hebat, ia pikir itu semacam satu wajah yang dia miliki, agar orang menyukainya.
Tetapi setelah beberapa waktu lamanya bersama dengan Arana, Alva mulai merasakan bahwa Arana benar-benar berbeda dari Alana.
Dia memang pekerja keras. Dia percaya diri, namun dia tidak sombong. Dia memiliki bakat, wajahnya cantik namun dia rendah hati. Bahkan informasi dari Flora membuatnya sadar bahwa Arana memang sangat baik, hingga mampu membuat Flora menyukainya.
Dia pandai memasak. Alva dengan jelas akan mengakui jika masakan yang dibuat Arana adalah yang terbaik. Bahkan bisa dikatakan lebih baik dari masakan bibi yang sejak dulu memasak untuk keluarganya. Dia tidak mau merepotkan orang lain untuk membersihkan apartemen, dan membersihkan semuanya dengan tenaganya sendiri. Dari CCTV yang sejak awal sudah terpasang di beberapa sudut apartemen, Alva bisa tahu bahwa Arana menikmati kegiatannya dan tidak merasa itu merepotkan sedikitpun.
Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah itu seakan itu adalah tanggungjawab yang dia miliki.
Hal lainnya adalah bahwa Arana sama sekali tidak pernah menggunakan uang yang diberikannya, ketika seharusnya jika itu adalah Alana, hanya akan memandang sebelah mata uang pemberiannya.
Arana jelas menikahinya bukan karena harta. Itu diperkuat dari logika yang dia ambil jika sebenarnya Lidia dan Michael yang menyuruh Arana untuk menikah menggantikan Alana agar perusahaan mereka tetap aman dan makin berkembang.. Jika tidak, mengapa mereka harus repot-repot pergi mencari kembaran putri kesayangannya beberapa hari sebelum pernikahan berlangsung?
Pun dari bagaimana Arana dan Amber berkomunikasi melalui pesan pada malam itu.
Alva ingin membalaskan dendam adiknya.
Namun gadis didepannya sama sekali tidak bersalah. Dia bahkan tidak pernah sekalipun diperhatikan lagi sebelum dibutuhkan untuk pernikahan ini. Gadis malang yang entah mengapa ditinggalkan untuk hidup seorang diri, menghadapi kenyataan hidup yang membuatnya memiliki hati seteguh baja dengan keceriaan yang dia miliki.
"Sayang, apakah kamu menyukaiku?" Pertanyaan itu Alva lontarkan pada Arana yang tengah menyuap bubur kedalam mulutnya.
Arana menoleh, menelan dan mengangguk mantap. "Aku menyukaimu. Kenapa memangnya?"
"Apa kamu mencintaiku?" Tak mengindahkan pertanyaan Arana, Alva kembali bertanya, yang membuat Arana sedikit kebingungan. Arana sedikit ragu, sebelum menjawab dengan senyuman. "Aku mencintaimu, sayangku~"
__ADS_1
"Bagaimana denganmu, apa kamu mencintaiku?"
Apakah Alva mencintainya?
Alva tidak akan bertele-tele. Dia tidak akan menolak ataupun menyangkal perasaan yang timbul didalam benaknya. Perasaan berdebar dan rasa nyaman yang membuatnya ingin terus mendekap orang didepannya ini untuk terus berada di sisinya. Terus bersamanya dan hanya bergantung dan percaya kepadanya. Itulau yang Alva rasakan.
Mengepalkan tangannya, Alva menatap tepat ke dalam iris madu Arana dan berkata dengan suara rendah yang penuh dengan keyakinan. "Aku mencintaimu."
Ya, Alva mencintainya.
Dan itu, hanyalah Arana. Arana Canyelier yang sederhana, baik dan satu-satunya Arana.
...***...
Wajah Arana masih memerah saat dia mengembalikan mangkuk kotor ke dapur. Berdiri didepan wastafel, Arana sedikit linglung kala melihat air mengalir dari keran. Pikirannya melayang, dan dia merasa malu untuk beberapa alasan ketika mendengar perkataan Alva.
Pandangannya seakan menatapnya, lembut, dan penuh dengan ketulusan yang membust hati Arana berdesir.
Tetapi detik berikutnya, tangannya meraih dadanya dan mencengkram bajunya. Dadanya terasa sesak. Hatinya seperti tertusuk jarum ketika mengingat bahwa seseorang yang dicintai oleh Alva adalah saidari kembarnya, Alana. Arana mengigit bibir bawahnya, dan wajahnya menampilkan rasa sakit dan tidak nyaman. Ia ingin bernapas, tapi seakan ada yang menghalanginya, dan mengganggunya.
"Kenapa?"
Ia melirih, "Kenapa sakit."
Jadi kenapa dia harus merasa sakit?
__ADS_1