
Garis-garis terasir dengan campuran kasar dan lembut. Setiap detail membawa cipta yang tergurat, dan kertas yang semula putih bersih kini telah digunakan beberapa lembar oleh Arana untuk menggambar apa yang bisa sepasang manik hitamnya pantulkan. Arana perlahan menggerakkan punggungnya, melenturkan setelah berjam-jam duduk di bangku di balkon. Memutuskan mengakhiri acara menggambarnya, Arana menyimpan buku sketsanya kembali kedalam koper dan berjalan kedapur.
"Haruskah aku berbelanja?" Ia bergumam, memandang kulkas yang hanya terisi beberapa barang setelah ia gunakan tadi pagi.
Arana menganggukkan kepalanya. Memutuskan untuk berbelanja kebutuhan bulanan yang ada di minimarket didepan apartemen. Arana berjalan menuju kamarnya, mengambil dompetnya dan keluar.
"Oh, Alana? Mau kemana?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Melisa yang tengah menata tanaman pot kecil disamping pintu apartemennya. Wanita itu menatap Arana dan sedikit memiringkan kepalanya.
Ariana tersenyum. "Ingin keminimarket, kak. Karena baru pindah, aku belum sempat membeli bahan dapur."
Melisa mengangguk mengerti. "Berhati-hatilah kalau begitu. Jalanan selalu padat."
"Terimakasih, kak. Kalau begitu aku pergi." Melisa mengangguk, membiarkan Arana berlalu sebelum dirinya kembali menyirami tanamannya.
Apartemen itu memiliki lorong tanggal dengan sisi bagian dalam adalah ruang apartemen, sementara didinding lainnya adalah jajaran jendela besar yang jernih. Jadi ketika orang melangkah, bisa melihat pemandangan yang ada diluar. Namun yang membuat nyaman adalah kaca itu satu arah, sehingga mereka yang ada diluar tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada dibaliknya. Itu memberikan akses melihat pemandangan, namun juga menjaga privasi penghuni apartement itu.
...***...
Arana berjalan perlahan setelah dia keluar dari lift. Dengan baju lengan panjang dan rok selutut berwarna putih, Arana melewati penghuni apartement lainnya yang sedang berlalu lalang dilantai dasar. Ada yang sedang mengobrol, ada yang bertanya kepada resepsionist, ada yang hanya lewat sama seperti dirinya, dan bahkan ada yang tengah bersama tukang angkut untuk mengangkat perabotan yang nampak mewah.
__ADS_1
Oh, orang kaya.
Arana menatap sekelilingnya selama berjalan dalam waktu singkat, sebelum dia sampai ditepi jalan raya. Kendaraan berlalu lalang, baik motor, mobil bahkan kendaraan besar seperti bus dan truk. Berdiri dibawah lampu penyeberangan bersama dengan beberapa penyeberang lainnya, Arana menunggu sampai lampu menjadi hijau, sebelum dia dan beberapa penggunaan jalan lainnya menyeberang.
Setibanya di minimarket, Arana masuk dan mencari beberapa barang yang menjadi barang kebutuhannya dan Alva. Dimulai dari beras, daging, telur, susu, roti, selai, dan banyak hal lain yang dirasa Arana penting dan mendesak.
"Uh!" Mendengar gumaman itu, Arana menolehkan kepalanya dan melihat seorang anak kecil tengah mencoba meraih sesuatu diatas rak yang lebih tinggi darinya. Anak laki-laki yang terlihat baru berusia tujuh atau delapan tahun itu berjinjit dan merentangkan tangannya setinggi mungkin. Namun masih begitu sulit.
Anak laki-laki itu—Ryen sengaja datang ke toko ini untuk menemani sama mama berbelanja. Atau setidaknya itu dalih agar dirinya bisa membeli camilan kesukaannya. Beberapa waktu lalu dia terpisah dari sang mama yang membeli kebutuhan kamar mandi, sementara dirinya berlari ke rak camilan untuk mencari jajanan kesukaannya. Namun sayangnya, makanan kesukaannya ada di rak yang cukup tinggi, sampai dia tidak cukup bisa untuk menggapainya.
Ketika dia berusaha untuk menggapainya, ada sepasang tangan ramping yang lebih dulu mengambil camilan kesukaannya. Dia pikir itu sang mama, sampai dia tertegun ketika menoleh.
Arana mengulurkan camilan itu ke arah Ryen. Anak laki-laki itu dengan tatapan tak lepas dari Arana mengulurkan tangannya dan menerima camilan itu. "Te-Terima kasih, ka-kakak malaikat."
Perkataan anak itu membuat Arana menyunggingkan senyuman geli. Sungguh sangat menggemaskan!
Arana selalu menyukai anak kecil karena mereka benar-benar tidak pernah memiliki sedikitpun kebencian dalam diri mereka. Mereka tulus dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Arana menyukai kejujuran mereka.
Dia bukan malaikat, dia hanya Arana. Gadis itu berjongkok, menyamakan tingginya dengan tinggi Reyn.
__ADS_1
"Halo, siapa namamu?" Tanya Arana. Anak itu menjawab dengan senyuman malu. "Re-Reyn."
"Reyn? Nama yang sangat bagus! Reyn disini bersama dengan siapa?"
Arana bertanya karena dia merasa penasaran karena anak ini sendirian disana. Tidak mungkin, kan, dia datang sendirian?
"Dengan mama. Tapi, mama sedang berbelanja disana. Kakak sendiri, nama kakak siapa?" Jawaban itu membuat Arana mengangguk puas. Dia membuka bibirnya untuk menjawab pertanyaan Reyn. "Nama kakak Alana. Kebetulan kakak juga sedang berbelanja kebutuhan rumah."
"Reyn?"
Keduanya menoleh. Wanita itu membawa keranjang belanja. Begitu tatapannya menyapu Arana, maniknya melebar. Pupilnya menyempit dan nafasnya tercekat. Dia tanpa sadar menjatuhkan belanjaannya, dan menarik tangan Reyn. Menggendongnya dan berlari meninggalkan Arana yang kebingungan dan keheranan. Ia masih berjongkok ketika dia memungut belanjaan wanita tadi dan memasukkannya ke keranjang.
"Apa yang terjadi?" Gumam Arana.
Arana menggelengkan kepalanya, sebelum dengan tenang menurunkan tatapannya. Tetapi begitu tatapannya jatuh ke belanjaan wanita itu, maniknya melebar.
Sial, dia lupa!
__ADS_1