
Setelah puas bermain di panti asuhan dan berkenalan dengan anak-anak disana, Arana kembali pulang menggunakan bus publik. Tak perlu memakan waktu lama, Arana sampai diperumahannya setelah limabelas menit duduk dibangku penumpang bus.
Cukup berjalan beberapa waktu untuk dia sampai didepan gerbang rumahnya.
"Nona muda? Anda sudah kembali?" Bibi sedang menyiram tanaman saat Arana kembali.
Arana menyunggingkan senyuman samar dan mengangguk tipis sebelum melangkahkan kakinya memasuki rumah bertingkat itu. Suasana diruang keluarga nampak damai, meski Lidia dan Michael nampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing, namun mereka nampak harmonis.
Arana menatapnya sesaat sebelum memilih melangkah menaiki tangga.
"Kamu sudah pulang, nak?"
Langkahnya terhenti. Arana tidak berharap bahwa salah satu atau keduanya akan menyapanya. Dengan samar dia menjawab. "Ya," sebelum melanjutkan langkahnya.
Menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, gadis itu menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan rumit. Getar ponselnya membuat Arana merogoh saku celananya dan melihat layar ponsel, sebelum mengerutkan keningnya.
Banyak sekali obrolan grup dan pribadi yang muncul dimuka halaman chat. Arana memperhatikannya selama beberapa saat sebelum tatapannya tertuju pada group chat teman-teman Alana.
Ia mengerutkan keningnya.
"Pesta lajang?" Gumamannya hampir setipis suara balikan kertas. Ia mengangkat alisnya paham dengan situasi digroup chat itu.
"Dimata umum, Alana memang akan melepaskan status lajangnya. Semuanya terlihat sempurna, ya, Alana."
...***...
Kehidupan keluarga kelas atas memang berbeda dari kehidupan rakyat sederhana seperti dirinya. Arana dibuat takjub dengan pemandangan gedung pencakar langit yang dijadikan tempat pertemuan malam ini. Dipuncak tertinggi gedung ini terdapat sebuah restoran yang biasanya digunakan dalam acara jamuan khusus yang harus melakukan pemesanan terlebih dulu sebelum bisa diakses. Dan karena view dan service yang didapat diatas rata-rata, dengan nuansa yang dapat diubah sesuai keinginan customer, harga untuk membooking satu tempat ini fantastic.
Hanya mereka yang dari golongan sosialita yang mampu menyewa.
"Benar-benar menghambur-hamburkan uang." Cicitnya hampir tanpa suara.
Arana benar-benar tidak akan bisa sependapat dan sepemikiran dengan orang-orang dari golongan atas. Sejak awal dia telah hidup sederhana dan bahkan hidup dengan mengandalkan kekuatannya. Jadi, Arana benar-benar yakin bahwa kehidupan yang berlebihan seperti ini sungguh sia-sia.
Jika ini pernikahannya sungguhan dan dia sebagai Arana yang akan mengadakan pesta mengakhiri masa lajangnya, dia pasti memilih untuk nongkrong dicafe biasa, ditemani cake dan jus strobery kesukaannya. Sementara dua sahabatnya yang berasal dari keluarga kaya, tentu tak keberatan dengan kesederhanaannya.
"Sudahlah." Mengesampingkan semua bayangannya, Arana melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda untuk menuju ketempat yang telah dijanjikan.
__ADS_1
Ia berhenti didepan lift, sebelum menoleh saat merasakan ada seseorang disampingnya. Kebetulan seseorang disampingnya juga menoleh dan menatap terkejut Arana. "Alana, beruntung bertemu denganmu disini!"
Arana diam selama sedetik dan meneliti penampilan gadis didepannya. Berkulit putih, bermata hijau, berambut pirang bergelombang. Arana tahu siapa dia karena Alana menunjukkannya dan menjelaskan siapa-siapa saja temannya dan musuhnya.
Wanita ini hanya sebatas teman dengan Alana, tidak termasuk jajaran sahabatnya.
Civanya Aleasa.
"Oh, kau membeli anting baru?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Arana, ketika melihat anting ditelinga kiri Civanya berbeda dari yang ada difoto yang ditunjukkan Alana.
Wanita itu tersenyum dan menggeleng. "Hadiah dari tunanganku."
"Oh, lalu selamat untuk rencana pernikahanmu. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa secepat itu kau akan menikah." Katanya menampilkan lesung pipi disalah satu sisi wajahnya kala dia berbicara.
Arana menganggukkan kepalanya setengah acuh. Tetapi didalam hatinya berpikir bahwa sebenarnya ada aura menyenangkan dan nyaman dari sosok Civana yang membosankan menurut Alana.
Seandainya mereka bertemu dengan cara yang lain, mereka bisa cepat akrab dan menjadi teman baik.
Tidak banyak percakapan diantara mereka setelah percakapan terakhir. Kini keduanya sampai direstourant yang menjadi tempat mereka melaksanakan pesta yang mungkin sederhana bagi mereka, tapi tidak dengan Arana.
"Woahh, lihat. Putri pesta telah datang!"
Yang berambut sebahu dengan lipstik merah cerah itu bertanya, "Bagaimana kalian bisa datang bersama? Apa kalian sudah janjian?"
Seingatnya, namanya Liora.
Arana menggulirkan matanya dan segera mendudukkan dirinya diantara mereka sembari berujar, "Apakah mobilnya cukup bagus untuk membuatku mau duduk bersamanya? Aku lebih senang berjalan kaki."
Keberadaan Civana disana tidak bisa dikatakan sebagai teman. Dia berada diantara kelimanya, dan menjadi satu-satunya yang sering dan hampir selalu diacuhkan ketika mereka sedang bersama dan mengobrol dengan asyik. Tetapi meski begitu, Civana tidak bisa begitu saja menjauh saat teman-teman Alana dan Alana sendiri tidak membiarkannya menjauh.
"Sungguh? Kupikir kalian berdua sengaja janjian untuk berangkat bersama." Tawa yang berambut sepinggang, Maudy.
Sejujurnya, Arana ingin sekali menampar mereka karena sifat mereka yang memuakkan bagi Arana. Namun dengan identitasnya sebagai Alana, dia tidak bisa berlaku apapun. Mengabaikan mereka sesaat dan menatap Civana yang berdiri disampingnya.
Nampaknya masih selalu tersinggung dengan kata-kata tajam.
Tentu saja dirinya sendiri akan tersinggung jika dihina dan dilontari kata-kata kasar. Bedanya, dia dapat melawan, sementara Civana hanya bisa diam, mengingat bahwa tunangannya bekerja diperusahaan Michael.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan dengan berdiri disampingku begitu? Duduklah!"
Mendengar perintah bernada datar khas Alana, Civana sedikit tersentak dan segera mendudukkan dirinya dibangku kosong disana.
"Hei, bagaimana persiapan pernikahanmu? Sudah sampai mana?" Yang berambut panjang diikat bertanya.
Arana mengetahui bahwa namanya Leva. Ia menggelengkan kepalanya, "Entah. Alva yang mengurus semuanya."
"Sangat pengertian!" Lengking Maudy.
"Aku harap kekasihku akan memperlakukanku seperti putri begitu, benar-benar membuat iri ya~" Kata Liora sembari membuat gerakan kecil menggelengkan kepala dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
Arana ingin memutar bola matanya malas, namun dia menahannya dan memasang senyuman tipis yang menyimpan sebuah kesan acuh tak acuh padanya.
...***...
"Anak baru, segera pindahkan kardus sayuran itu kemesin pendingin atau mereka akan segera layu!" Perintah dari atasan diwilayah dapur itu membuat seseorang mengangguk dengan patuh.
Karena tergesa termakan waktu, gadis itu tidak menyadari bahwa tangannya yang hendak mengambil kain bersih diatas rak tak sengaja menekan sakelar listrik seluruh restoran itu. Hanya restoran itu yang seketika menjadi gelap gulita, bersamaan dengan suara pecahan kaca yang memekakan telinga.
Blazt!
Praang!!
"Auchh!"
"Kyaa! Apa itu?!"
"Kyaa!!"
Semua orang panik. Dan sahabat-sahabat Alana tidak mampu menahan pekikan mereka, ketika mereka sadar bahwa sesuatu yang menembus kaca itu adalah sebuah peluru yang tergeletak dilantai setelahnya.
"Shhh!"
Cahaya bulan menyorot remang, namun tak cukup mampu untuk menyembunyikan cahaya setipis benang berwarna merah yang menyorot samar sebelum lenyap tanpa jejak. Arana suka menonton film action, dan dalam tiap film yang ditontonnya ia selalu melihatnya. Ditengah rasa sakit yang menyerang kakinya ketika peluru tadi sempat menggores kakinya, meninggalkan goresan yang cukup dalam, dan dia jelas tahu bahwa laser merah seperti ini bukan sesuatu yang baik.
Ini jelas direncanakan.
__ADS_1