My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 90: Unlucky Alva


__ADS_3

Pagi yang cerah menyingsing. Langit biru menyapa, dan bunyi jalanan padat terdengar ketika jendela balkon dibuka.


Ditempat tidur, Alva perlahan membuka matanya. Menyamankan penglihatannya dengan cahaya matahari yang menyelinap dari celah tirai yang sedikit terbuka. Bangkit mengambil posisi duduk, Alva mematikan lampu meja disampingnya dan menguap sebelum meregangkan tubuhnya guna melenturkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah semalaman tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Alva memandang jam dinakas meja, menunjukkan pukul delapan pagi.


Arana mengerutkan keningnya, memanggil Arana.


"Sayang?" panggilnya.


Tidak ada sahutan, jadi kemungkinan besar Arana belum kembali dari tempat Civanya. Alva meraih ponselnya untuk melihat sebuah pesan dari Arana. [Al, maafkan aku. Aku terbangun lebih siang hari ini dan tidak bisa kembali karena aku memiliki kelas pagi. Maaf aku tidak bisa membuatkan sarapan untukmu. Aku sudah membeli roti tawar didalam laci, dan ada beberapa selai juga. Kamu bisa memakannya sebagai sarapan.]


[Aku akan memulai kelasku, sampai jumpa nanti, sayang.]


Alva membalasnya, namun tidak ada balasan lain. Arana berkata dia akan memulai kelas, jadi pasti Arana sedang belajar dan tidak bisa membuka ponselnya saat ada dikelas. Alva meletakkan ponselnya, merasa sedikit bosan dengan kesendirian meskipun ini baru satu malam tanpa Arana. Alva bangkit berdiri, memakai sandal rumahnya dan melangkah ke kamar mandi untuk mandi.


Dua puluh menit kemudian, Alva keluar dengan kemeja hitam yang melekat ditubuh atletisnya. Kemeja itu dipadukan dengan celana abu-abu gelap yang nampak menawan dikenakannya. Setelah menggunakan jam tangan, menyisir surainya, menyemprotkan parfum dan merangkapi kemejanya dengan jas abu-abu senada dengan celananya, Alva melangkah turun menuju basement dan menunggu Erlan datang menjemputnya, seperti hari-hari biasa.


Sebenarnya bukan karena Alva terlalu merepotkan Erlan, namun karena apartemen Erlan yang memang lebih jauh daripada apartemen Alva. Erlan selalu melewati apartemen Alva dan dia sekalian menjemput dan mengantar Alva.


Lagipula sebagai asisten, itu termasuk dari tugasnya, meski tidak sepenuhnya wajib.


Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Erlan. "Lan, kenapa belum sampai?"


Diseberang sana Erlan menjawab dengan cepat. [Maaf bos, hari ini tidak bisa menjemput. Aku tidak kembali semalam dan menginap di kantor. Tapi tenang saja, aku sudah menyuruh supir perusahaan untuk menjemput.]


Kening Alva sedikit berkerut, namun pada akhirnya ia bergumam dengan acuh tak acuh dan kemudian menutup telpon bersamaan dengan sebuah mobil yang datang. Mobil itu memiliki logo perusahaannya, dan memang merupakan mobil perusahaan.


"Pak, silakan naik."

__ADS_1


Supir turun dan membukakan pintu untuk Alva. Alva kemudian melangkah masuk dan duduk dibangku penumpang dengan tenang sembari sesekali memandang ponselnya. Nampak membaca pdf dan file yang dikirimkan melalui email untuk diperiksanya. Sepuluh menit kemudian, ia sudah sampai di perusahaannya dan ia melangkah turun untuk menuju loby.


Tidak ada yang aneh, dan semua orang juga melakukan kegiatan mereka masing-masing dengan tenang. Karyawan-karyawan Alva adalah orang-orang yang dipilih berdasarkan kualitas mereka. Dan mereka secara alami adalah pekerja profesional yang tidak harus berpura-pura bekerja dan melimpahkan semua pekerjaan mereka kepada bawahan mereka. Disini, justru para senior benar-benar membimbing junior mereka agar para junior lebih paham dan mengerti tentang pekerjaan yang perlu mereka lakukan. Penanaman sikap disiplin dan mawas diri ditanamkan sejak awal mereka memasuki perusahaan, dan mereka tidak perlu khawatir tentang perselisihan diantara para pekerja.


Itulah yang membuat perusahaan Alva mampu menjadi perusahaan yang paling maju didunia perbisnisan.


Alva sesekali mengangguk, membalas sapaan karyawannya yang berpapasan dengannya. Dengan wajah datar andalannya, Alva melangkah memasuki ruangannya dan mendudukkan dirinya.


Tidak lama berselang setelah Alva duduk, pintu diketuk, dan sekertarisnya melangkah masuk dengan tenang. Siska--sekertarisnya adalah wanita muda berusia 21 tahun. Wajahnya cantik, dengan kepribadian yang baik dan tegas. Alva menerimanya menjadi sekertarisnya karena kompetensinya dan kecakapannya dalam bekerja.


"Pak, ada beberapa dokumen yang perlu ditandatangani," ucapnya, "Ini dari depertemen promosi."


Alva mengangguk. "Bawa kemari."


Kemudian, Siska menyerahkan kertas itu, namun tangannya tidak sengaja menyenggol gelas teh yang dalam sekejab, terguling dan tumpah kecelana Alva. Pria itu segera bangkit dengan terkejut, sementara Siska segere membungkam bibirnya.


Wajah Alva mendingin, namun dia tidak mengatakan apapun selain tidak apa. Siska segera berkata, "Itu ... haruskah saya membelikan suite baru untuk anda?"


Alva menggeleng. "Tidak perlu."


Siska diam-diam mengangguk, dan pergi setelah mendengar perintah Alva. Alva membuka lemari dinding di dalam ruang istirahat di ruangannya, namun ia mengerutkan kening ketika tidak ada satupun setelan yang tersimpan didalamnya. Jika dia ingat, seharusnya sejak dulu ada beberapa pakaian yang tersimpan disini sebagai baju cadangan jika terjadi sesuatu yang seperti kejadian hari ini, namun, mengapa tidak ada satupun pakaian?


Ia menghela napas berat dan kembali ke mejanya untuk mengambil ponsel miliknya. Ia hendak menghubungi Erlan, ketika menyadari bahwa panggilan itu tidak dapat tersambung karena nomor lain sedang sibuk. Mungkin, Erlan sedang menelpon seseorang?


Ia mencobanya kembali setelah beberapa waktu, dan pada akhirnya, nomor Erlan tetap sedang sibuk.


Alva keheranan, dan dengan kesal mencoba menghubunginya kembali, dia menemukan bahwa nomornya diblokir. Perkembangan ini membuat Alva tercengang, dan maniknya memandang bingung dan tidak percaya pada ponselnya. Apakah Erlan tidak sengaja menekan tombol blokir? Jika memang benar, mengapa setelah beberapa lama Erlan tidak kunjung membuka blokirannya?

__ADS_1


Ia menyerah, mengambil telepon kantor diatas meja dan menghubungi bagian pelayanan. Sesaat sebelum dia hendak berbicara, ada suara cepat diseberang. [Halo? Maafkan kami! Tetapi pada saat ini kami kerepotan karena kehabisan pekerja karena semuanya terkena diare! Kami akan mengusahakan kami kembali dalam beberapa waktu untuk menyiapkan kopi dan teh!]


Setelahnya, panggilan diakhiri. Alva tercengang kembali, dengan telepon masih bertengger didekat telinganya.


Suasana hati Alva mendadak menjadi buruk. Melihat pakaian kotornya, ia memasang wajah yang lebih dingin daripada biasanya dan terpaksa harus kembali ke apartemen untuk membersihkan diri.


Ia mengembalikan telepon ketempatnya dengan sedikit keras sebelum melangkah dengan aura tidak menyenangkan disekitarnya.


Penampilan atasnya masih menawan, namun jika orang menurunkan tatapan mereka, mereka akan menemukan noda besar dipaha bagian kanannya. Alva merasakan tatapan karyawannya, dan tangannya terkepal menahan rasa kesal dan rasa malu. Selalunya, dia berpenampilan bersih dan rapi, sebagai pemimpin, Alva seharusnya mencontohkan hal itu kepada karyawannya, namun saat ini penampilannya sendiri berantakan karena kopi.


Alva melangkah dengan buru-buru, menyambar kunci mobil perusahaan yang tergantung disamping meja resepsionist dan mengabaikan salam hormat dari sang resepsionist. Begitu memasuki mobilnya, Alva bisa bernapas lega.


"Rasanya tidak nyaman," gumamnya, "Lengket."


Teh yang diminumnya tadi menggunakan susu dan caramel yang membuat teh itu cukup manis. Caramel dengan cepat mengering dan membuat rasa lengket dikakinya dan itu membawa rasa tidak nyaman ketika kain basah bergesekan dengan kulit kakinya. Ia mengabaikan rasa tidak nyamannya dan mengendarai mobilnya keluar dari area perusahaannya.


Dijalan, ketika ia hendak berbelok, seseorang terlebih dulu dengan tiba-tiba muncul dan membuatnya mengerem mendadak. Sayang sekali tindakannya membuat mobil dibelakang Alva tidak sempat mengerem dan menabrak mobil Alva dengan cukup keras. Alva menoleh kebelakang dengan muram dan terkejut.


"Sial!" desisnya.


"Hei! Keluar kau!" teriak seseorang yang baru saja keluar dari mobil dibelakangnya.


Alva menghela napas dingin dan mencoba menenangkan hatinya sebelum dia melangkah keluar dan berucap dengan sopan kepada pria didepannya. "Maaf, aku tidak sengaja. Ada seseorang yang muncul tiba-tiba didepanku, tadi."


"Maaf?! Sialan, apa kau tahu berapa harga mobilku?! Lima ratus juta! Bisakah kau menggantinya?!" bentaknya marah. Manik Alva dengan dingin melirik mobil yang menabrak mobilnya, dan hatinya menjadi lebih dingin dan kesal.


Pembohong, harga mobil itu tidak lebih dari seratus juta.

__ADS_1



__ADS_2