
Arana berbaring nyaman ditempat tidurnya.
Beberapa hari berlalu semenjak Alva membawa Arana ke Singapura, dan pada malam itu juga, Arana meminta kembali ke Jakarta. Pada akhirnya, dini hari mereka sampai di Jakarta dan tidur sampai pukul sembilan pagi karena rasa kantuk yang menghantui.
Dering ponselnya membuat Arana mengambil benda persegi panjang yang tergeletak dinakas meja.
"Halo?"
[Halo Alana. Maaf jika aku mengganggumu dengan panggil telepon.]
Arana menjawab dengan nada acuh, meski dalam hati ia penasaran mengapa Karina menelponnya diwaktu sibuk kerja seperti itu. "Tidak masalah, ada apa?"
Suara disana terdengar senang dan ramah. [Rancangan yang kamu kirim sangat diterima baik oleh klien kita. Dia bahkan dengan tidak sabar mendesak agar gaun tersebut segera dibuat.]
Arana sangat senang, namun dengan tenang ia menjawab, "Yah, itu berita bagus. Kalau tidak ada apa-apa lagi, akan kumatikan. Aku memiliki beberapa urusan lainnya disini. Jika ada pekerjaan lain, hubungi saja aku."
[Baiklah, terima kasih Alana. Senang bekerjasama denganmu! Semoga harimu menyenangkan!]
Setelah kata terakhir itu, Arana bergumam samar dan mematikan panggilan telepon. Ketika ia meletakkan ponselnya, sebuah senyuman manis merekah dibibirnya. Wajahnya yang cerah dengan manik berkilau itu bisa dilihat dengan mata telanjang.
Arana benar-benar senang!
Apa yang diimpi-impikan olehnya berhasil. Desainnya diterima baik oleh klien pertamanya! Betapa menyenangkannya itu!
"Kyaa!!" Lengkingnya tertahan.
"Nona? Ada apa? Saya mendengar anda berteriak?!"
Dari balik pintu, Rosa muncul dengan wajah cemas dan sedikit panik ketika mendengar lengkingan Arana. Wanita itu diminta Alva untuk menjaga dan mengawasi Arana, jadi dia harus selalu siaga dengan keadaan apapun.
Melihat kekhawatiran diwajah Rosa, Arana merasa malu. Ia terbatuk dengan canggung dan menggeleng. "Ti—Tidak ada apa-apa. Ta—Tadi hanya ada kecoa yang menempel diluar jendela. Sekarang sudah tidak ada."
Merasa bahwa Arana benar-benar tidak kenapa-kenapa, Rosa dengan lega mengangguk dan kembali melanjutkan kegiatannya dibawah. Sementara Arana, menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat dibantal.
Memalukan!
__ADS_1
...***...
"Memangnya tidak masalah bagimu untuk berbohong kepada keluargamu?" Suara pria itu terdengar disepanjang garis pantai yang kala itu tengah ramai.
Berbaring di lengannya, Alana dengan hanya balutan bikini tipis hitam menyunggingkan seringaian. "Tentu saja tidak masalah. Sejak lama nenekku memang tidak menyukai aku. Aku mengatakan akan tinggal bersama dengan sahabatku, dan dia membiarkanku begitu saja."
"Haha, mengapa nenekmu bisa begitu?"
Alana memainkan jarinya didada pria pirang itu dengan seduktif, dengan nada seolah mengadu. "Dia pernah memergokiku mencoba merokok. Dia memarahiku, dan aku kesal karena dia begitu cerewet. Jadi aku melawannya dan berakhir dia tidak menyukaiku."
Ia melanjutkan. "Aku sama tidak sukanya dengan dia. Bahkan jika dia matipun, aku mungkin akan berpura-pura sakit agar mama dan papa tidak peduli padanya."
Pria itu menyeringai geli. "Sepertinya akan bagus. Aku menantikannya, sayang."
"Oh iya, ngomong-ngomong, apakah kembaranmu benar-benar mirip denganmu?" Ia bertanya kepada Alana.
Alana dengan tidak terima membalas. "Sama sekali tidak! Saat awal dia datang, penampilannya lusuh, pendiam dan sekalinya berbicara sangat menyebalkan! Pokoknya, aku membencinya."
Pria itu mengangkat alisnya. "Oh ya? Apakah kamu punya fotonya?"
Pria itu menunduk dan menjatuhkan ciuman dalam pada Alana yang dengan senang hati membuka bibirnya. Mempersilakan daging tanpa tulang itu untuk mengeksplorasi bagian dalam mulutnya. "Hanya untuk memastikan, bahwa memang hanya kamu yang paling cantik, bahkan jika dia memiliki wajah yang sama denganmu."
Alana menyunggingkan senyuman dan dengan cepat meraih ponselnya. "Madam memotretnya setelah dia selesai didandani. Aku sepertinya belum menghapusnya dari galeriku."
"Sebentar ... ah, ini dia! Lihatlah."
Manik biru pria itu menyaksikan dengan jelas seorang gadis tengah duduk menghadap kamera. Wajahnya memang sama persis dengan Alana, kekasihnya. Namun ada sesuatu yang membuat gadis itu terlihat berbeda. Ia melihat kearah Alana, dan kembali keponsel.
Cantik.
Wajahnya cantik.
Ekspresi tak nyamannya dan rasa malunya yang tergambar tipis di wajahnya benar-benar cantik. Tatapan mata gadis polos yang mungkin belum pernah merasakan rasanya ciuman membuat sisi lainnya memberontak, penasaran akan tatapannya yang berubah dipenuhi gairah dibawah kungkungannya.
Pose tubuh canggung yang bahkan tidak bisa menyembunyikan keindahan bentuk tubuhnya.
__ADS_1
"Dia tidak sebaik aku kan?" Pertanyaan itu membuatnya menoleh pada Alana dan mengangguk. "Tentu sayang. Kamu lebih baik darinya."
Namun disudut dimana Alana tidak melihat, ia diam-diam menjilat bibirnya dengan manik yang menyipit.
Alana memang lebih baik dalam urusan ranjang. Tapi gadis polos dan manis sepertinya, berkali-kali lebih memuaskan untuk digoda, kan?
...***...
"Minggu depan kamu sudah akan masuk kuliah, kan? Tidak ditunda saja sampai kakimu benar-benar pulih?"
Bersandar disofa sembari memangku laptope, Alva bertanya kepada Arana yang tengah menghadap setoples kue kering rasa vanilla. Arana menoleh, dan menggelengkan kepalanya. Jika dia tidak masuk kuliah, Lidia mungkin akan menghubunginya dan menanyakan segala macam hal padanya. Dia hanya tidak ingin berurusan dengan Lidia untuk sekarang.
Lagipula, tidak masalah baginya berangkat kuliah. Toh, dia sebenarnya masih bisa berjalan meski memang cukup kesusahan.
"Aku harus kuliah, Al. Lagipula, sebentar lagi kakiku juga akan segera sembuh. Jangan khawatir." Ucapnya sembari tersenyum.
"Tapi tetap saja aku cemas. Bagaimana jika tiba-tiba kakimu sakit? Tidak ada yang mengawasimu di kampus." Ia terlihat menimang sesuatu sebelum akhirnya angkat suara lagi. "Aku bisa menyuruh Erlan untuk menemanimu. Aku akan meminta izin kepada rektor untuk membiarkan Erlan menemanimu."
Arana entah ingin menangis atau tertawa.
"Al, tidak perlu. Aku bisa sendiri, tidak perlu ditemani Erlan. Sungguh, Erlan memiliki kesibukan sendiri, dan aku akan tidak nyaman jika ditemani oleh Erlan. Bukan maksudku Erlan menyebalkan atau mengganggu, tapi aku tidak ingin orang lain melihatku dengan aneh." Jelas Arana panjang lebar.
"Tidak perlu ditemani, sungguh!"
Melihat Arana mencoba meyakinkannya, pada akhirnya Alva luluh. "Baiklah, aku tidak akan menyuruh Erlan menemanimu ke kampus. Tapi aku akan menyuruh seseorang mengantar jemput kamu. Selain itu juga, jika kamu harus selalu menghubungiku."
"Apa perlu sampai seperti itu? Aku hanya akan berkuliah, Al."
Alva mengangguk. "Harus! Jika kamu tidak mau diantar jemput dan tidak mengirimiku pesan balasan jika aku mengirim pesan padamu dalam waktu paling lama lima menit, maka aku akan langsung datang ke kampus menemuimu. Memeriksa secara langsung apakah kamu baik-baik saja atau tidak. Jika kamu tidak mau menerimanya, maka aku tetap akan kembali ke rencana awal dan menyuruh Erlan mendampingimu ke kampus."
Arana tersenyum tak berdaya dan mengangguk. "Baiklah, aku akan menurutimu. Aku akan diantar-jemput dan aku akan selalu cepat membalas pesanmu, oke?"
Alva tersenyum, namun senyumnya surut setelah dis mengingat sesuatu. "Tapi, sayang. Sepertinya, akhir-akhir ini kamu tidak pernah memanggilku dengan panggilan sayang lagi. Apa itu mengganggumu?"
__ADS_1