My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 37: Flora Hamilton Laskaria


__ADS_3

"Tara, ini dia, puding special untuk sayangku."


Memberikan sepiring puding kepada Alva, pria itu menerima pemberian Arana. Puding itu tidak cacat, bentuknya setengah lingkaran dengan gelombang seperti bunga. ada cairan coklat putih yang meleleh di atasnya, dan aromanya lembut. Ketika piring itu berpindah tangan, sesaat puding itu bergoyang dengan lembut.


"Cicipilah dan katakan bagaimana rasanya?" Kata Arana dengan senyuman yang tak lepas diwajah ayunya.


"Baiklah, aku akan coba." Alva mengambil sendok yang sudah diletakkan disamping pudding dan mulai memotong. Mengambil potongan yang cukup besar dan memasukkannya kedalam mulutnya.


Rasa lembut dan manis meleleh terasa di lidahnya. Teksturnya kenyal, namun bisa meleleh seperti marshmello yang unik. Alva tak bisa untuk tidak menyendok lagi dan lagi.


"Sangat lezat!" Alva tidak lupa penilaiannya pada puding itu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Alva, membuat Arana tersenyum puas. Sejak dulu, selain senang membuat cookies, dia juga suka membuat puding. Puding dengan rasa apapun, namun diantara semua puding yang dia buat, Arana paling suka puding susu karena rasanya lembut dan manisnya terasa nyaman dilidah.


Darimana Arana belajar?


Untuk kali ini, dia tidak belajar dari neneknya. Dia belajar dari seorang wanita yang dulu menjadi tetangganya. Wanita itu sangat baik, ramah dan mudah bergaul. Arana sering bermain kerumahnya untuk belajar membuat puding. Mulai dari puding biasa bahkan sampai puding lukis. Namun baru beberapa bulan tinggal, wanita itu harus pindah karena mengikuti suaminya yang dipindah tugaskan.


Jika bertanya siapa diantara Amber dan Lily yang paling suka puding, maka jawabannya adalah Lily. Saat bermain di apartemennya, dan Arana membuat puding, Lily akan menghabiskan semuanya. Dan pada akhirnya, berebut dengan Amber yang berakhir dengan cekcok diantara keduanya. Tapi ya, selanjutnya mereka akan kembali makan saat dia menyuguhkan makanan. Melupakan sesaat pertengkaran mereka.


Arana tersenyum. "Syukurlah kalau kamu suka!"


Melihat senyuman Arana, tangan Alva terulur. Menangkup pipinya dan melayangkan kecupan berulang dikedua pipinya yang membuat Arana kegelian. "Al, hentikan! Itu geli!"


"Kenapa? Aku kan hanya menciummu." Tanpa menghiraukan tangan Arana yang mencoba menutupi wajahnya, Alva terus melayangkan ciuman dipipi putih gadis itu.


Menukikkan alisnya, Arana memindahkan tangannya ke pinggang Alva dan menggelitikkinya. Alva terlonjak, namun Arana menahan kaki Alva dengan kakinya sendiri dan menyeringai jahil. "Sa–Sayang, Aku minta maaf, okey? Aku hanya bercanda."

__ADS_1


"Kamu benar-benar menggemaskan sampai aku ingin mengunyah pipimu. Maafkan aku, ya?"


Arana menggeleng. "Tidak ada ampun untukmu kali ini!"


Setelahnya, sama seperti dulu, ruangan itu hanya diisi gelak tawa dari Alva yang digelitikki, dan Arana yang sibuk menggerakkan jari-jarinya. Bahagia karena kesengsaraan Alva yang tak bisa menahan kegelian akibat ulahnya.


Arana melihat Alva yang tertawa dibawahnya. Bibirnya mengungkapkan tawa yang indah, suaranya mempesona menyapa pendengarannya dan maniknya cerah oleh air mata. Jantung Arana berdentuk dengan cepat. Dia tersenyum.


Rasanya memang hangat.


...***...


Membuka maniknya, Arana mengerjab selama beberapa saat sebelum memandang lurus kedepan. Dia ada dikamarnya? Apakah semalam dia tertidur di sofa dan Alva memindahkannya? Ah, Arana lupa.


Kasur disebelahnya kosong, menandakan bahwa Alva sudah tidak ada disana. Memandang jam yang terpasang dinakas meja, Arana sedikit melebarkan matanya. Sudah jam 8 dan dia baru bangun?! Luar biasa sekali, Arana! Kamu tidur seperti koala!


Meraih ponselnya, Arana menemukan sebuah pesan dari Alva. [Sayang, aku sudah berangkat ke perusahaan. Aku tidak tega membangunkanmu jadi aku minta maaf karena tidak berpamitan padamu. Oh iya, aku sudah menyiapkan roti panggang dan susu dimeja. Makanlah. Love you.]


[Love you too.]


Meregangkan tubuhnya setelah meletakkan ponselnya disampingnya, Arana menguap kecil sebelum bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. 20 menit kemudian, dia keluar dengan balutan baju lengan pendek dan celana selutut berwarna hitam. Wajahnya lebih segar setelah dia membersihkan dirinya. Karena mandi menggunakan air hangat, pipinya memerah alami, dan ada embun samar dibulu matanya, yang membuat helaian bulu mata itu terlihat berkilau dibawah mentari pagi.


"Umm, lebih baik aku ke taman saja." Gumam Arana.


Daripada bosan, lebih baik menghirup udara segar diluar sambil menggambar. Setidaknya itu lebih bermanfaat daripada hanya duduk diam dirumah menonton televisi, mengurangi pasoka sumber daya listrik dunia. Oh, sepertinya akan bagus jika hari ini dia juga ke panti asuhan. Menemui Katrina dan anak-anak yang lain.


"Yosh, ayo siap-siap!" Gumamnya.

__ADS_1


...***...


Berjalan di taman kota yang tidak begitu ramai, Arana sesekali meregangkan tangannya. Ia mendongak, menarik napas dalam sebelum menghembuskannya. Udara pagi ini sangat segar, dan matahari nampak bersinar dengan cerah. Arana mengedarkan pandangannya, menemukan sebuah bangku panjang dibawah pohon. Kakinya melangkah, membawanya untuk duduk di bangku taman itu. Memandang orang-orang yang berlalu-lalang ditaman itu.


Ada pasangan kekasih yang tengah berolahraga bersama. Ada sekelompok ibu-ibu yang tengah melakukan senam pagi, ada anak kecil yang berlarian bersama dengan teman-temannya. Suasana nyaman yang membuat Arana tersenyum.


Ia membuka tasnya dan mengambil buku sketsa dan penanya. Mengangkat penanya lurus untuk mengukur sekelompok ibu-ibu yang sedang senam, Arana mulai menggoreskan tinta ke kertas sketsa yang berwarna kecoklatan itu.


Garis lamat mulai terbentuk. Tangannya tidak berhenti bergerak, sama seperti maniknya yang terus bertukar pandang antara kertas sketsa dan sekumpulan ibu-ibu itu. Hingga 10 menit kemudian, gambaran ibu-ibu yang sedang melakukan gerakan yang seirama dengan latar belakang kota dan bangunan tinggi tercetak jelas di buku sketsa ditangannya. Memberikan sentuhan terakhir, Arana dikejutkan oleh suara yang tiba-tiba muncul dari sebelahnya.


"Gambar yang bagus."


"Ah!" Karena terkejut, tangan Arana tanpa sadar terlonjak mengikuti tubuhnya. Sebuah coretan besar tergambar memotong gambar yang dia buat.


Arana menoleh. Wanita itu memandang sketsanya sebelum berkata dengan acuh. "Sayang sekali. Keindahan memang tidak bertahan lama, kan?"


Arana kebingungan dan menatapnya ragu. "Itu, a—anda siapa, ya?"


Wanita itu menginginkan seringaian. Bibir merahnya melebar dan maniknya yang tajam menyipit. "Flora Hamilton Laskaria."


"Kekasih Alva."



Catatan Penulis:


SELAMAT TAHUN BARU 2023

__ADS_1


Di tahun 2023 ini, aku berharap semua orang bisa memulai langkah barunya untuk hidup yang lebih baik. Mari bersama-sama memeriahkan tahun baru ini dengan senyuman, cinta kasih, kebahagiaan dan kepuasaan dalam keluarga, pertemanan bahkan pekerjaan.


Salam, Ree (●'▽'●)ゝ


__ADS_2