My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 26: What If We Prove It?


__ADS_3

Arana memandang rak didepannya dengan tatapan berbinar. Tidak biasanya dia menatap benda-benda didepannya dengan tatapan yang bak menemukan harta karun. Beberapa waktu ingatannya tentang rencana Amber melintas dikepalanya. Dia benar-benar hampir melupakan tentang cara menghindari malam pertamanya dengan Alva. Beruntungnya Arana ingat rencana itu setelah menemukan sebungkus pembalut didalam keranjang belanjaan wanita yang ditolongnya tadi.


Dan disini dia berada. Diantara jajaran rak pembalut dengan berbagai merek dan berbagai jenis.


Arana sebenarnya tidak berpikir akan nyaman menggunakan pembalut saat sedang tidak datang bulan, namun bagaimanapun, hanya menahan rasa nyaman lebih baik daripada kehilangan mahkotanya.


"Lebih baik aku memilih yang tipis." Gumamnya.


Maniknya menjelajah, sebelum akhirnya dengan serius mengambil dua bungkus pembalut yang memang sering dipakainya dan memasukkannya kedalam keranjang belanjaannya. Gadis itu menghela nafas lega, dan melangkah menuju meja kasir untuk menghitung total pesanannya. Shopkeeper yang berdiri diseberang meja kasir mulai menghitung pesanan Arana. "Totalnya 545 ribu rupiah, kak. Ada pesanan lain?"


Arana menggelengkan kepalanya sebelum dengan senyuman melunasi barang-barang yang dibelinya. Setelah berbelanja, Arana pergi dari supermarket itu sembari menghela napas.


...***...


Arana memandang gugup jam dinding diruang makan. Alva telah kembali beberapa waktu lalu dan sedang berada didalam kamar mandi saat ini, ketika Arana masih mencoba menenangkan dirinya. Menyiapkan mentalnya untuk menghadapi Alva.


Alva tidak akan membahas masalah malam pertama, kan?


Mendengar langkah kaki, Arana mendongak. Dari tangga melingkar, nampak Alva melangkah turun dengan balutan piyama abu bermotif bulan yang merupakan piyama pasangan dari piyama yang dikenakannya. Motif bintang. Karena baru saja keramas, rambut hitam Alva masih cukup basah, jatuh menutupi dahinya. Itu pemandangan yang baru bagi Arana karena biasanya rambut Alva disisir kesamping dan menampilkan dahinya yang bagaimanapun, sempurna.


Mendudukkan dirinya diseberang Arana, Alva memandang makanan didepannya dan tak bisa menahan kekaguman. "Wahhh, apa ini? Terlihat enak!"


Nasi putih didalam mangkuk kaca masih memiliki kepulan uap samar yang menunjukkan bahwa nasi itu baru saja diangkat dari rice cooker. Disamping nasi, ada semangkuk sup ayam dengan sosis dan udang. Tidak luput jagung manis dan kacang polong masuk kedalamnya. Disebelahnya lagi, ada sepiring tofu kecap yang dihiasi daun parsley yang nampak sangat lembut dan ranum. Sepiring udang tumis tersaji didepannya, dan Alva memandang Arana dengan senyuman diwajahnya yang cerah. "Kamu membuat ini sendiri, sayang?"


Arana mengangguk.


"Try || Cobalah." Sembari berkata, Arana mengambilkan makanan untuk Alva yang menerimanya dengan senang hati.


"How's tasted? || Bagaimana rasanya?" Pemuda itu mengambil sendokan besar dibawah tatapan Arana dan menerbitkan senyuman lebar diwajah cerahnya. "Sangat lezat!"

__ADS_1


"Tetangga sebelah, kak Melisa mengajariku memasak saat aku berkunjung keapartemennya. Masakannya sangat lezat, jadi aku ingin membuatkan sesuatu yang sama untukmu."


Arana tentu saja berbohong. Yah, dia benar belajar memasak bersama dengan Melisa, namun itu hanya sebatas teori, mereka tidak benar-benar memasak. Arana murni memasak sendiri, menggunakan pengalaman dan pengetahuannya. Tetapi untuk mengurangi keanehan jika masakannya yang baru saja seperti garam goreng, Arana membuat masakannya sedikit berbeda dari bagaimana rasa biasanya. Menambahkan sedikit lebih banyak garam, mengurangi garam. Menambahkan sedikit gula.


Oh, tapi dia tidak tega mengubah tumis udangnya, karena itu makanan kesukaannya.


Tapi meskipun begitu, Alva tetap mengatakan masakannya enak. Arana tidak bisa untuk tidak memikirkan sesuatu. Jika Alva benar-benar menikahi Alana, apakah dia bisa miskin karena terus membeli makanan cepat saji?


Atau apakah Alva bisa terkena darah tinggi karena terlalu banyak mengkonsumsi garam?


Arana melihat Alva makan dengan lahap. Arana menerbitkan senyuman dan mengambil makanannya sendiri. Mulai makan dengan tenang. Yah, walaupun sayurnya sedikit asin, tapi tidak masalah. Rasanya masih tetap enak dan tidak begitu asin dimakan dengan nasinya.


Hampir dipenghujung acara makan mereka, Arana tiba-tiba memelankan kecepatan kunyahannya dan memandang Alva. Ia teringat akan artikel yang dibacanya beberapa waktu lalu. Dengan ragu, mulai membuka bibirnya.


"Sayang," panggilnya membuat Alva yang sedang makan bersenandung menyahut. "Hm?"


"—impoten?"


Brushh!


Alva menyemburkan air minumnya tepat ke wajahnya Arana tanpa disadarinya. Ketika mendengar pertanyaan Arana secara lengkap, dia benar-benar tercengang. Hampir sama tercengang nya dengan Arana yang saat ini memiliki wajah basah karena semburan Alva yang benar-benar tidak pernah dibayangkan akan dilakukan oleh seorang Alva!


Hah?


Apa yang baru saja terjadi?!


Alva tersadar lebih dahulu dan segera berdiri mengambil tissue. Ia melangkah menuju Arana dan membersihkan wajahnya dengan wajahnya yang menampakkan penyesalan. "Sayang, a–aku sungguh minta maaf! Aku tidak sengaja melakukannya!"


"Aku berani bersumpah! Aku hanya, hanya terkejut mendengar pertanyaanmu." Ucap Alva masih terus menggunakan tangannya dan tissue untuk mengeringkan wajah Arana.

__ADS_1


Arana yang tersadar menatap Alva dan menggelengkan kepalanya. Meraih tangan Alva mengartikan bahwa sudah cukup untuk pria itu mengeringkan wajahnya. Alva masih menampilkan wajah menyesalnya, dan entah mengapa, Arana merasa lebih menyesal.


Oh, dia harusnya marah karena disembur, namun dia lebih merasa bersalah karena membuat Alva merasa bersalah seperti itu. Ia terbatuk dengan canggung. "Uhuk! Aku, aku sudah tidak apa. Maaf, apakah pertanyaanku sebegitu mengejutkan untukmu?"


Dalam beberapa detik, kening Alva mengerut. Dia memasang wajah tidak puas. "Sebenarnya, apa yang membuatmu mengira aku seorang pria impoten?"


Pria manapun jelas tidak akan terima dikatakan impoten. Oh, miliknya bahkan lebih tangguh dari milik orang lain! Tentu saja Alva tidak terima miliknya direndahkan secara tidak langsung.


Arana memasang senyuman kamu. Ia bertanya karena artikel yang dibacanya hari ini mengungkapkan bahwa sebagian besar pria yang sudah menikah akan langsung melakukan hubungan pasutri. Dan beberapa komentar mengatakan bahwa bagi mereka yang tidak melakukannya, sebagian besar karena di suami adalah seorang impoten, yang tidak mampu melakukan tugasnya sebagai laki-laki tulen.


Arana benar-benar tidak bermaksud untuk berpikir sampai kesana. Dia hanya butuh informasi apakah malam pertama itu sangat harus dilakukan,apakah bulan madu juga harus dilakukan, namun malah menemukan artikel seperti itu.


Arana menggeleng. "A–Aku hanya penasaran. Ka–Karena kamu tidak pernah membahasnya—!"


Arana membelalakkan matanya. Menyadari bahwa Kata-katanya sangat ambigu. Itu terdengar seperti dia mencoba menggoda Alva!!


"Tidak! Buk—"


Alva segera menyela Arana dengan senyuman aneh diwajahnya. "Jadi karena kita belum melakukan malam pertama, kamu meragukan suamimu ini, hm?"


Sial, Arana salah langkah!


"Bagaimana kalau kita buktikan saja, apakah suamimu ini impoten atau tidak?"



For Your Information:


Impotensi adalah kondisi ketika *pip* tidak bisa ereksi atau tidak mampu mempertahankan ereksi, meski mendapat rangsangan seksual. Impotensi merupakan masalah seksual yang rentan terjadi pada pria usia 40 tahun ke atas.

__ADS_1


__ADS_2