My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 43: Alva And Fever


__ADS_3

"Ana, malam ini aku tidur denganmu, ya? "


Pernyataan Amber membuat Alva yang sedang memperhatikan data perusahaan di layar IPadnya menoleh dan memandang Amber. Keningnya sedikit berkerut samar, namun Alva dengan sabar menyuarakan pendapatnya pada Amber. "Istriku tentu saja akan tidur bersamaku malam ini, seperti biasanya."


Amber menatap Alva menantang. "Tentu karena sudah biasa. Aku dan Ana, kan, jarang bertemu, maka kami akan mengobrol banyak. Ini antara perempuan, lho~"


Ujung bibir Alva berkedut. "Bagaimana bisa begitu."


Amber mengabaikan Alva dan menoleh kepada Arana. "Ana, malam ini temani aku, dong! Aku punya banyak cerita untuk dibagi denganmu! "


Arana menyunggingkan senyuman. "Okay!"


"Sayang, malam ini aku menemani Amber, ya? Boleh, kan?" Melihat tatapan Arana, Alva mengangguk, mau tak mau memasang senyuman. "Boleh."


...***...


Sejak makan malam, gadis itu mulai menganggu Alva. Bukan mengganggu secara fisik atau menghina dan sebagainya, namun Amber menghalangi Alva untuk banyak berinteraksi dengan Arana. Seperti saat Alva hendak meminta Arana mengambilkan makanan, Amber terlebih dahulu menyela Alva dan berakhir dengan Arana yang sampai menyuapi Amber. Dan Alva yang hanya bisa diam memakan makanan yang ada didekatnya. Arana sendiri hampir menganggap bahwa sikap Amber hanyalah karena keisengannya, atau memang karena gadis itu sejak dulu sangat manja.


Hal seperti menyuapi atau mengelus kepalanya adalah hal lumrah antara Amber, Arana dan Lily.


Alva melirik Amber, dan dia berani bersumpah bahwa dia sempat melihat gadis itu menyeringai sembari menatapnya. Alva tercengang, dan maniknya menyipit menatap Amber. Untuk sesaat keduanya saling bersitatap, sebelum akhirnya Amber yang terlebih dahulu memutuskan kontak mata itu untuk bergelanyut manja pada Arana.


"Ana, pokoknya kamu harus mengunjungiku balik ketika aku kembali nanti." Ucap Amber.


Arana menatap Amber dan mengerutkan alisnya samar. Yah, dia kan juga akan pulang nantinya. "Okay."

__ADS_1


Alva membuka bibirnya, hendak mengatakan sesuatu sebelum diam dengan wajah kusut. Pria itu memilih mengalihkan atensinya kembali pada Ipad ditangannya, membaca satu persatu dokumen penting perusahaan yang harus diperiksanya.


Suasana hening datang diantara mereka. Hanya suara dari televisi besar didepan mereka yang sedikit mengantarkan bising. Arana dan Amber duduk bersandar dipunggung sofa, menikmati camilan mereka sambil menonton film yang sedang diputar. Film itu mengunakan bahasa Indonesia dengan subtitle bahasa Inggris. Jadi, Amber bisa memahaminya, namun juga dapat belajar bahasa Indonesia.


Itu yang biasa dilakukan Amber selama mereka gadis itu memiliki waktu luang.


"Rana, aku mau susu coklat."


Arana menoleh dengan cepat dan maniknya yang bersinggungan dengan manik Amber sama-sama melebar. Amber menutup mulutnya tanpa sadar dan merutuki mulut tipisnya. Keringat dingin mengalir dari punggung Arana dan Amber. Keduanya secara kompak melirik Alva dari sudut mata mereka.


Pria itu masih nampak tenang. Duduk disofa tunggal disebelah kiri Arana dan beberapa kali kedapatan menggeser layar IPadnya. Terlihat sangat fokus.


"Ana, bu–buatkan aku susu coklat, dong! " Meralat perkataannya dengan canggung, Amber memberikan tatapan meminta maaf kepada Arana yang masih melirik Alva sekilas. Memastikan bahwa pria itu memang tidak mendengar kesalahan yang Amber katakan tadi.


"Susu coklat buatanmu paling enak!" Kata Amber dengan bahasa Indonesia-nya yang beraksen kental orang luar negeri. "Love yaa, Ana!"


Arana memutar bola matanya sesaat sebelum bangkit berdiri dan melangkah menuju dapur. Amber melirik kearah Alva selama beberapa detik, sebelum mengedik acuh dan meraih setoples kue kering dan melanjutkan kesibukannya menonton film. Ia bahkan sampai terbahak kala tiba dibagian komedi.


Tidak menyadari, dibalik tangan Alva yang setengah menutup bibirnya, pria itu menyeringai dengan geli.


...***...


Membuka maniknya, Arana berkedip selama beberapa kali sebelum mengambil posisi duduk dan meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku selepas tidur. Ia menoleh, menemukan Amber tidur dengan posisi terlentang. Selimut bagian gadis itu tersingkap dengan sia-sia.


Oh, Arana tahu darimana rasa kaku ditubuhnya. Pasti semalaman penuh, Amber menjadikannya sebagai guling penghangat. Memerangkapnya diantara tangan dan kakinya, tak memberikan ruang cukup untuk Arana bergerak.

__ADS_1


Hmm, Amber patut disalahkan.


Melirik jam diatas meja, Arana menemukan jam alarm sudah menunjukkan angka enam lebih duapuluh. Berjalan keluar dari kamarnya, Arana menutup pintu kembali, membiarkan Amber untuk menikmati waktunya berenang dalam dunia mimpi. Toh, ini adalah waktu liburan gadis itu. Bangun lebih siang tidak masalah.


Memutuskan untuk mandi, Arana kembali ke kamarnya dan kamar Alva.


"Alva?"


Arana member diambang pintu. Terkejut karena mendapati sosok Alva terbaring diatas tempat tidur dengan setengah selimut menyelimuti tubuhnya. Arana pikir Alva sudah berangkat ke kantor. Apa terjadi sesuatu kepada Alva?


Membuka maniknya, sepasang manik sayu itu memandang Arana, namun tidak kuat untuk menggerakkan lidahnya. Alva hanya diam dengan napas yang tidak teratur.


Sejak kecil, Alva jarang sekali sakit. Namun sekalinya sakit, Alva hampir tidak bisa melakukan apapun sendirian. Kepalanya berdenyut, dadanya terasa panas, bibirnya kelu dan tubuhnya pegal juga lemas. Namun Alva adalah anak yang cenderung pendiam, bahkan saat dia sakit, dia tidak banyak merengek atau mengeluh seperti anak-anak lainnya. Orangtuanya bahkan harus memaksanya untuk pergi ke rumah sakit atau memanggil dokter keluarga agar Alva mau diperiksa.


Menghampiri Alva dengan sedikit panik, Arana bertambah panik ketika menyentuh dahi Alva.


"Panas sekali!"


"Mnn~" Bergumam dengan samar, Alva sedikit mengerutkan alisnya. Dahinya basah oleh keringat, dan wajahnya memerah karena suhu tubuhnya yang tinggi.


"Demam? Astaga, bukankah kemarin dia masih baik-baik saja?" Bergumam pelan, Arana memeriksa panas kening dan leher Alva sebelum memastikan bahwa tubuhnya benar-benar panas. Arana bergerak cepat membenarkan posisi berbaring Alva. Gadis itu bergerak menuju dapur, memanaskan air agar sedikit hangat dan kembali untuk mengompres Alva.


Merasakan suhu hangat menempel didahinya, Alva memaksa membuka maniknya perlahan. "Sa–Sayang?"


__ADS_1


__ADS_2