My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 28: She's Not Alana


__ADS_3

Alva membenci Alana.


Itu sudah kisah lama, alasan mengapa Alva membenci Alana.


Sejak lama, semua orang tahu bahwa Alana itu adalah gadis yang sangat amat sombong dan angkuh. Tidak membiarkan siapapun menyentuh garis bawahnya dan menganggap semua orang lebih rendah darinya. Sikapnya yang seperti itu membuat dia dibenci banyak orang, namun karena wajahnya yang cantik, tidak sedikit orang yang menaruh kekaguman dan rasa suka padanya.


Theo Mateas, adalah salah satu dari orang yang menyukai Alana. Bukan karena wajahnya. Tapi dia juga bukan masokis yang suka diperlakukan kasar dan bahkan dikata-katai dengan rendah. Dia menyukai Alana, tulus dari hatinya.


Oh, siapa Theo?


Adik Alva.


Pemuda itu menyembunyikan nama belakangnya. Ayah mereka setuju untuk membiarkan Theo tidak menggunakan nama belakangnya sampai usianya menginjak usia dewasa, agar pemuda itu bisa menikmati masa sekolahnya dengan nyaman tanpa kendala atau gangguan dari musuh-musuh keluarganya. Itu juga pernah dilakukan pada Alva saat Alva masih muda. Johan Vionier Erlangga, benar-benar mencintai putra-putranya, dan hanya ingin melindungi mereka.


Dibandingkan dengan Erlan yang acuh dan Alva yang dingin, Theo adalah pribadi yang hangat dan ramah. Dia senang tersenyum dan sangat mudah untuk bergaul. Dia bahkan sedikit cerewet. Tapi itu yang membuat dia banyak disenangi.


"Kak! Coba dengar apa yang baru saja terjadi!" Alva ingat dengan baik ketika pemuda itu dengan riang menampilkan senyuman cerah.


Alva dan Erlan yang tengah mendiskusikan materi kuliah mereka menoleh, mengerutkan kening melihat wajah Theo yang begitu bersinar. "Apa yang terjadi?"


Theo membuka bibirnya. Pemuda bersurai coklat itu menyunggingkan senyuman. "Alana menerima perasaanku, kak!"


"Alana?" Alva membeo, menggumamkan nama yang disebutkan oleh sang adik. Dia tahu Alana, karena dia pernah melihatnya secara langsung di perjamuan yang diadakan keluarganya saat ulang tahun gadis itu dulu.

__ADS_1


Alva tahu betapa buruknya sifat gadis itu. Tapi melihat pancaran kebahagiaan diwajah adiknya, Alva menelan kembali suaranya dan membisu dalam senyuman. Tidak mengatakan sepatah katapun. Mengapa? Karena dia tidak bisa.


Dia tahu bahwa itu mungkin kesalahannya. Kurang memberikan perhatian kepada Theo ketika dia dikejar proyek dan tugas kuliah, perhatiannya pada adiknya yang sudah berpacaran dengan Alana selama beberapa bulan terbagi. Hingga pada satu hari, dimalam yang lebih dingin dari biasanya, adiknya meninggal.


Theo, bunuh diri.


...***...


"Alva, kau yakin dengan pernikahan ini?"


"Aku sudah mempersiapkan segalanya dengan cermat, Lan. Lagipula, apa maksudmu?"


Erlan memandang Alva. "Pernikahan bukan sebuah mainan, Va. Aku tahu maksudmu, tapi pernikahan itu, terlalu jauh."


Alva menutup kotak cincin ditangannya dan melemparkannya kedalam laci. "Aku tahu apa yang aku lakukan, Lan."


"Semua sudah kupersiapkan dengan baik. Dengan menikahinya, aku akan lebih dekat dengannya. Menghancurkannya, akan menjadi lebih mudah." Ucap Alva dengan dingin.


Ia mendesis. "Akan kupastikan, dia hancur."


Dia ingin Alana merasakan manisnya madu yang ia berikan, sebelum akhirnya menariknya dari kenyataan. Dia ingin menghancurkannya sedikit demi sedikit. Merusaknya, menyakitinya dan pada akhirnya membiarkannya tenggelam dalam keputusasaan dan lebih memilih mati daripada hidup. Itu rencana awalnya.


Alva sudah menyelidiki Alana. Dia tahu segalanya tentang gadis itu. Dia ingin menggunakan itu semua untuk senjatanya menghancurkan gadis itu. Memperlakukannya dengan manis, sebelum menghempaskannya. Alva tahu itu akan sulit karena sifat gadis itu yang begitu angkuh, namun Alva yakin lambat laun dia akan berhasil menaklukkannya.

__ADS_1


Sampai keanehan terjadi.


Gadis yang bahkan tidak pernah mengikuti latihan fisik apapun selain yoga, dapat membanting tubuhnya kelantai. Alva bahkan ingat bagaimana rasa sakitnya. Pada awalnya, Alva masih berpikir bahwa itu karena refleks semata.


Kemudian dia mulai memanggilnya dengan panggilan sayang. Hal yang hampir mustahil didengarnya dari gadis itu.


Karena rasa curiganya, dia memberanikan diri untuk memberikan cobaan kecil kepadanya. Menciumnya. Dan keanehan muncul kembali. Alana tidak akan pernah membiarkan dirinya menyentuhnya. Tetapi dia membiarkannya mengecupnya dan bahkan tersenyum manis.


Pikiran Alva berkelana liar. Dia berpikir bahwa apakah Alana sudah mengetahui rencananya dan bahkan identitasnya sehingga menggunakan balasan?


Tetapi Alva menepis teori ini, karena identitas Theo bahkan hanya segelintir orang yang tahu.


Dari kecurigaannya yang tak berkesudahan, Alva mencoba memberikan gadis itu tes kecil. Alana yang dia tahu, sangat menyukai cappuccino. Pada awalnya gadis itu menerimanya dengan senyuman, dan meminumnya dengan senang hati. Namun setelah dia menyedot sekali, dia tidak pernah menyentuh minuman itu lagi. Beralasan tidak haus.


Dia bahkan nampak tidak mengenali Juan yang notabennya adalah sepupunya.


Dia curiga dan semakin curiga dengan semua yang dilakukan gadis itu. Namun Alva hampir tidak peduli. Dia tetap menjalankan rencananya. Dia yang menyuruh seseorang untuk merusak gaun pernikahan mereka, agar dia merasakan perasaan malu yang seumur hidupnya tidak pernah dia alami. Namun siapa yang menduga bahwa dia akan muncul dengan gaun yang lebih sempurna. Dan ketika dua gadis yang bersamanya ditanyai, menjawab bahwa dia yang membuat gaun itu.


Seorang Alana?


Pada akhirnya tahu, dia membuat kesimpulan bahwa dia jelas bukan Alana. Mengapa? Sebab Alva tahu, Alana telah kehilangan keperawanannya. Jadi, mengapa dia harus bersikap seolah-olah belum pernah melakukannya? Itu lucu menurutnya.


Karena Alva tahu, ketidaktahuannya, bukan kepura-puraan.

__ADS_1


Jadi Alva hanya ingin tahu, siapa dia sebenarnya?



__ADS_2