
Hah? Bagaimana?
"Gaun yang kamu buat sangat indah, dan bahkan tanpa desain, kamu berhasil menciptakan gaun seindah itu, aku benar-benar yakin jika kamu memiliki prospek yang bagus didunia mode. Jadi karena itu, aku ingin kamu menjadi bagian dari Karina Boutique, dan mendesain gaun milikmu sendiri. Menjadi desainer sekaligus taylor."
Karina adalah orang yang jujur. Dia tidak pernah menginginkan desain dari bawahannya yang bagus untuk dijadikan miliknya sendiri. Karina justru membantu pekerjanya untuk mematenkan hak gaun buatan mereka dan menjamin sepenuhnya bahwa desain itu adalah milik mereka tanpa campur tangannya sedikitpun. Hal itu membuatnya disukai oleh pekerja-pekerjanya, dan mereka sangat setia dan segan kepada Karina.
"Alana?"
"Ya?" Arana menjawab dengan terkejut. Dia masih tidak percaya. Gaunnya disukai oleh Karina, desainer yang paling terkenal di seluruh Indonesia bahkan Asia Tenggara! Bahkan dia diminta untuk menjadi desainer sekaligus taylor di butiknya!
Itu adalah impian Arana untuk menjadi seorang desainer!
Tapi, Alana harus berkuliah bulan depan. Dan Alana telah memilih sendiri jurusan apa yang dia mau. Tekno**logi Informasi dan Manajem Bisnis. Jika dia mengambil kesempatan yang diberikan oleh Karina, Lidia pasti tidak akan mengizinkannya. Lagipula, Alana disini memang tidak pernah sekalipun menyentuh alat gambar, apalagi menyentuh jarum. Berbeda dengannya.
Melihat kebimbangan disepasang manik Arana, Karina tersenyum. "Pikirkanlah lebih dulu. Aku akan menerima apapun jawabanmu saat kamu sudah siap."
"Oh, lalu aku sudah memesankan makanan untukmu. Makanlah sebelum kamu pergi." Kata Karina.
Oh, Arana semakin bimbang dan bingung.
...***...
Duduk didalam taksi, Arana memandang keluar jendela. Angin menyapanya ketika ia membuka sedikit jendela mobil. Hatinya masih bimbang karena tawaran Karina. Kepalanya semakin pusing karenanya. Oh, ngomong-ngomong, daerah ini ternyata dekat dengan perusahaan Alva. Jadi, Arana sedang dalam perjalanan menuju perusahaan Alva untuk mengantarkan makan siang pria itu sekaligus menjalankan rencananya.
Rencana C: Mengganggu dia bekerja
"Sudah sampai, nona."
Supir taksi menginformasikan kepada Arana bahwa mereka sudah sampai didepan perusahaan Alva. Perusahaan yang menjulang tinggi itu nampak kokoh dan elegan dengan warnanya yang didominasi warna hitam dan kaca satu arah. Meraih kantung plastik yang ada disampingnya, Arana melangkah keluar dan mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan kepada sang supir.
"Terima kasih, pak."
"Sama-sama, nona."
Berbalik, Arana memandang bangunan didepannya sebelum melangkah masuk. Beberapa orang memandangnya yang nampak baru disana, namun beberapa orang langsung mengenalinya sebagai Alana, istri boss mereka. Ia melangkah masuk dan melirik sekelilingnya. Sebelum dia melihat Erlan tengah berteleponan dengan seseorang. Dia berjalan mendekati Erlan.
"Dimana Alva?"
Erlan yang tengah sibuk tanpa sadar menjawab. "Dilantai 18."
__ADS_1
Arana yang telah mendapatkan jawabannya segera menaiki lift dan menekan tombol lantai 18. Bersamaan dengan Erlan yang baru saja tersadar. "Eh, siapa itu tadi?"
...***...
Denting suara lift terdengar ketika pintu besi itu terbuka dikedua sisinya. Dilantai ini, hanya ada satu pintu diujung lorong. Nampaknya itu adalah ruangan Alva. Oh, ada satu ruangan sebelum ruangan diujung, dikelilingi oleh kaca setengah buram. Arana melangkah, dan membuka pintu tanpa mengetuk.
Itu tidak sopan, tapi itu tujuannya. Hehe!
Alva yang tengah duduk di bangku terkejut begitu pintu terbuka begitu saja. Ia langsung menyembunyikan berkas yang ada ditangannya begitu melihat Arana memasuki ruangan tanpa mengetuk. Gadis itu mengenakan kemeja biru muda dengan rok setengah paha berwarna putih. Bagian luarnya, ia mengenakan cardigan panjang berwarna kontemporer susu dan mint yang lembut.
"Sayang?" Alva bangkit berdiri, menyambut Arana. "Apa yang kamu lakukan disini?"
"Mengantarkan makan siang, mungkin." Ucap Arana acuh, meletakkan kantunf makanan itu diatas meja kerja Alva dan beralih mendudukkan dirinya diatas sofa ruangan itu. Kakinya bersilang, dan tangannya sibuk menggeser layar ponselnya.
Alva tersenyum, "Terimakasih sayang. Aku memang belum makan siang. Ingin makan bersama?"
"Tidak, aku sudah makan."
"Baiklah jika begitu. Aku akan makan. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Pertanyaan itu yang sudah ditunggu Arana sejak tadi.
"Minuman coklat."
Alva mengangguk. "Aku akan memanggilkan OG kesini."
"Anda membutuhkan sesuatu, Pak?"
Alva menunjuk Arana. "Bertanyalah pada istriku."
Wanita itu mengangguk, berdiri sedikit membungkuk di hadapan Arana. "Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
Arana berkata dengan acuh. "Buatkan saya segelas coklat dingin. Tanpa gula, tambahkan sedikit mint dan vanilla. Saya mau siap dalam lima menit."
Wanita itu sedikit terkejut, sebelum mengangguk. Sebagai OG diperusahaan besar, dia telah hafal perangai orang-orang kaya. Tamu-tamu bossnya bahkan beberapa karyawan yang memiliki jabatan tinggi tak jarang memperlakukan mereka yang berkedudukan lebih rendah daripada mereka dengan buruk dan semena-mena. Jadi mendapatkan perlakuan yang sama dari istri CEO perusahaan tempat dimana dia bekerja, dia tidak lagi heran. Istri CEO-nya pasti mendapatkan semua yang dia inginkan dengan mudah. Lihat, penampilannya bahkan seperti malaikat. Sangat cantik.
"Apa yang kau tunggu?" Pertanyaan Arana membuat OG itu tersentak. "Sa–Saya akan segera membuatkannya, Bu."
Segera setelahnya, Arana melihat OG itu pergi, dan kembali secepat yang dia bisa. Yah, tersisa sepuluh detik sebelum lima menit berlalu.
"Si–Silakan, Bu."
__ADS_1
"Tetap disitu." Arana memerintahkannya untuk tinggal. Dibawah pengawasan Alva yang tengah menikmati makan siangnya dan dibawah tatapan sangat OG yang gugup, Arana mengambil sedotan dan menarik cairan dari dalam gelas masuk kedalam bibirnya.
"Tidak enak!" Arana mengernyit, memasang wajah tidak puas disaat sebenarnya dia menyukai rasa coklat khas dari minuman didepannya. Sayangnya dia harus bersikap kurang ajar jika ingin rencananya berjalan lancar untuk membuat Alva tidak senang pada sifatnya.
OG itu gemetar ketika Arana memandangnya tajam. "Sayang! Dia benar-benar tidak bisa mengerjakan sesuatu dengan benar! Aku mau kamu memecatnya!"
Alva adalah orang yang bijaksana. Meskipun dia mencintai Alana, hanya dengan masalah sepele seperti ini, tidak akan membuat Alva memecat seseorang semudah itu, kan?
"Baiklah."
"Ah?" Arana membeo, ketika Alva kembali berbicara. "Aku akan memecatnya."
Wanita itu pucat. Wajahnya menunjukkan keterkejutan dan kepanikan yang kental. Dia menyatukan kedua tangannya di depan dada dan memohon kepada Arana. "Bu, saya mohon maafkan saya. Tapi tolong jangan pecat saya. Pak, saya mohon, Pak! Saya memiliki putra yang masih kecil di kampung, hanya saya yang mencari nafkah untuk anak keluarga saya!"
Hati Arana mencelos.
Bukan seperti ini yang diharapkan Arana. Arana tidak bermaksud membuat wanita ini terancam dipecat. Arana tahu betapa sulitnya mencari pekerjaan dan mencari uang untuk bertahan hidup. Dengan pekerjaannya yang tergolong pekerjaan kecil, mereka yang berada diatasnya selalu menghinanya. Bahkan teman-teman sekolahnya dulu tak sedikit yang menjauhinya dan menghinanya karena dia miskin. Arana tahu itu sulit.
Arana tidak ingin membuat wanita ini dipecat.
Dengan ragu dia membuka bibirnya. "Sudahlah! Lupakan apa yang baru saja aku katakan. Kamu, buatkan aku minuman lagi. Kali ini, tambahkan lebih banyak vanilla."
Wanita itu menerbitkan senyuman diwajahnya yang seketika lega, mendengar pernyataan. Is segera mengangguk berterima kasih. "Terimakasih, Bu! Terimakasih! Sa–Saya akan segera membawakan minuman Anda!"
Tidak!
Rencana C juga gagal! Dia tidak bisa menyusahkan orang lain hanya karena masalahnya sendiri.
Pintu tertutup. Ada keheningan sesaat sebelum Alva membuks bibirnya. "Aku benar-benar akan memecatnya jika kamu ingin dia dipecat, sayang."
Catatan Penulis:
SELAMAT MERAYAKAN HARI NATAL!
MERRY CHRISTMAS 2023
*̣̥☆·͙̥❄‧̩̥࿌ིྀ྇˟͙☃️˟͙࿌ིྀ྇‧̩̥❄·͙̥̣☆*̣̥
__ADS_1
Di tahun ini, semoga berkah dan berkat Tuhan menyertai kita semua. Aku berharap keluargaku dan keluarga pembaca sekalian diberikan rezeki yang berlimpah, keselamatan, kebahagiaan, cinta dan kasih sayang yang lebih dari Tuhan.
Sekali lagi, selamat natal untuk yang merayakan🎉