
Kembali kekamarnya setelah mendinginkan wajahnya dengan mencuci muka, Arana mendapati Alva masih duduk bersandar dikepala ranjang, mengenakan kacamata baca dan dengan tenang menggeser layar ponselnya keatas dan kebawah beberapa kali.
"Sudah selesai saya-" Alva menghentikan perkataannya ketika melihat sepasang mata merah Arana. "Kamu menangis?"
Arana menyunggingkan senyuman dan dengan tenang menjawab, "Aku menangis karena mama menceritakan beberapa hal yang membuatku terharu. Mungkin karena kehamilanku juga aku menjadi lebih cengeng. Hanya mendengar mama berkata merindukanku sudah membuat air mataku berjatuhan, haha."
Alva jelas tahu bahwa Arana berbohong. Maniknya memandang Arana sebelum ia menyunggingkan senyuman tipis. "Istirahatlah, sayang. Sudah malam, bayi kita juga harus cukup beristirahat, kan?"
"Baik, sayang." Kata Arana.
Gadis itu kemudian dengan tenang menaiki tempat tidur dan berbaring miring menatap Alva yang dengan senyuman lembut penuh kasih sayang mengusap surai Arana. Perasaan hangat mengalir dibenak Arana, maniknya perlahan terpejam dan hanya dalam beberapa menit, suara napasnya terdengar teratur, menandakan bahwa Arana benar-benar sudah tertidur pulas. Alva membenarkan selimut Arana sebelum ia meraih ponselnya dan nampak menekan sebuah nomor.
"Jadi bagaimana?"
Suara Alva tegas dan bernada datar. Seseorang disana dengan segera menjawab pertanyaan Alva, suara yang akrab dan familiar dipendengaran. [Seperti yang sudah kukatakan, wanita itu masih bergerak untuk mencelakai Nana. Kita harus bisa menangkapnya sebelum sesuatu yang buruk terjadi kepada Nana karena rencananya.]
"Aku mengerti. Selama aku sudah tahu siapa itu, serahkan semuanya kepadaku, bibi Cella." Dingin Alva.
[Oh~ Nana benar-benar beruntung memilikimu. Sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah mencintai Nana kesayanganku dengan tulus dan benar-benar bersedia merangkak keneraka sekalipun untuk menyelamatkan dan melindunginya, aku akan mengirimkan sesuatu kepadamu. Aku jamin kamu akan menyukainya, Alva~]
Belum sempat berkata apa-apa lagi, panggilan itu diakhiri sepihak. Kemudian dalam dua detik, ada sebuah foto yang dikirim ke ponselnya. Alva mengunduh gambar itu dan maniknya melebar. Ia menutup bibirnya dan dalam sedetik, dia menyeringai.
"Sempurna sekali! Ternyata mereka menyembunyikan masalah seseru ini selama belasan tahun."
Alva berbisik dengan nada kejam, "Kita tunggu tanggal mainnya."
Tatapannya menatap dingin kedepan. "Sekarang aku hanya harus memancing wanita itu."
__ADS_1
...***...
2 Bulan Kehamilan Arana
Acara itu berlangsung dengan begitu meriah dan mewah disebuah gedung mewah. Sebuah gedung yang menjadi salah satu aset dibawah perusahaan milik Alva. Alva dan Arana nampak berdiri ditengah ruangan besar yang dipenuhi minuman dan makanan itu, ketika dengan bangga Alva memberitakan tentang kehamilan pertama Arana kepada khalayak yang memang kebanyakan adalah teman dan rekan kerja serta karyawannya.
Ucapan selamat berdatangan kepada Arana dan Alva yang menerimanya dengan kebahagiaan yang tidak bisa terbendung diwajah mereka.
"Boss, kau tidak memberitahuku dari awal jika kau akan menjadi seorang ayah!" Erlan datang dengan menggandeng Bianca disisinya.
Alva melirik Erlan dan dengan tenang mengedikkan bahunya. "Surprise."
Wajah Erlan hampir menunjukkan ketidakpercayaan dan kebingungan yang kental ketika Erlan memandang Alva. Erlan menghela napas dengan berat dan memandang Arana dan menyunggingkan senyuman. "Selamat, Na."
"Terimakasih, Lan."
Arana menganggukkan kepalanya dan membalas harapan Bianca. "Terimakasih banyak, kak Bianca. Aku juga berharap demikian. Dan aku kan sudah pernah berkata kepada kak Bianca untuk berbicara dengan normal kepadaku, dan tidak menggunakan nada formal seperti itu."
"Kalau begitu, hati-hati ya, Alana?" Setelah mengatakan itu, Bianca tersenyum dan melangkah pergi untuk menyusul rekan kerjanya, meninggalkan Alana ditengah kebingungan yang dia miliki begitu dia mendengar perkataan Bianca.
Arana melirik Bianca selama beberapa waktu sebelum kembali menyambut sapaan dan salam dari yang lain selepas menekan keraguan didalam hatinya. Ia mengobrol dengan teman sekampusnya ketika ponselnya bergetar. Arana meminta izin sesaat untuk membalas pesan dan menemukan bahwa itu adalah pesan dari Karina.
[Selamat atas kehamilan pertama, Alana. Aku sedang berada di Paris karena mengikuti acara fashion week ketika aku mendengar kamu mengadakan pesta yang meriah untuk mengucapkan rasa syukur karena tengah memomong buah hati pertama di kandunganmu. Aku turut senang, namun sekali lagi maaf aku tidak bisa menyampaikannya secara langsung dan hanya bisa melalui pesan.]
Arana membalas dengan segera pesan tersebut.
[Tidak masalah, nona Karina. Terimakasih untuk ucapan selamatnya dan semoga berhasil dengan kegiatan anda disana.]
__ADS_1
Setelah selesai membalas, Arana mengantongi kembali ponselnya dan kembali mengobrol dengan teman kampusnya yang pada saat itu juga diundang karena mendengar tentang kehamilannya. Pesta itu memang benar-benar besar dan meriah sehingga siapapun yang memiliki hubungan dengan Arana dan Alva maupun pihak keluarga Arana maupun Alva akan diundang, dan memeriahkan pesta yang pasti memakan biaya yang tidak akan bisa dibayangkan.
"Apa kamu lelah sayang? Jika kamu lelah, kamu bisa duduk di sofa dan menunggu sampai acara selesai."
Alva mendatangi Arana dan berbicara dengannya dengan nada suara yang lembut dan sedikit rendah. Alva benar-benar memperhatikan kesehatan dan keselamatan Arana, bahkan ada banyak penjaga yang berkeliaran disekitar balroom gedung itu untuk menjaga keamanan sekitar.
Arana menggelengkan kepalanya dan dengan tenang menyunggingkan senyuman. "Tidak apa, Al. Aku masih kuat. Jika nanti aku sudah lelah, aku akan duduk sendiri."
"Kamu yakin?"
"Aku tidak selemah itu, Al~"
Mendengar rengekan pelanmu, Alva menyunggingkan senyuman dan mengusap pipi Arana dengan lembut selama beberapa waktu yang menimbulkan lirikan iri dari mereka kaum jomblo. Siapa yang tidak iri dengan keuwuan dan kemanisan hubungan keduanya, coba?
Sudah good looking semua, kaya pula.
Alva mengangguk dan kemudian membiarkan Arana kembali bersama dengan teman-temannya. Civanya menemaninya dan sesekali keduanya mengobrol dan bercanda, yang mengundang tatapan penasaran dari teman-teman Alana yang pernah menjadi teman sekolah Alana. Mereka jelas tahu bagaimana sikap Alana, namun mengapa Alana didepan mereka begitu ramah dan begitu berbeda?
Hm, apakah bawaan bayi memang bisa seberpengaruh itu bahkan pada kepribadian seseorang?
Civanya mendekati Arana dan sedikit berbisik dengan tidak nyaman didekatnya. "Na, hanya perasaanku saja atau wanita didekat kak Erlan terus menatapmu? Jangan langsung menoleh menatapnya, berpura-pura saja sedang mencari seseorang."
Arana menuruti ucapan Civanya, keduanya tersenyum untuk menunjukkan seolah mereka baru saja bercanda sebelum Arana mengalihkan tatapannya. Sekali, dua kali dan tiga kali. Dan apa yang dilihatnya membuat keraguan didalam hatinya semakin bergetar.
Mengapa Bianca menatapnya seperti itu?
__ADS_1