My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 86: Arana's Apology


__ADS_3

Alva melirik Calvian sebelum mendengus dengan dingin. Sepandai-pandainya orang itu, jika berhadapan dengan dirinya, Alva harus bisa menemukan orang itu.


Alva tidak pernah pandang bulu pada siapapun yang mengusik kehidupannya. Selama orang itu sudah mengganggunya atau menyentuh yang sudah menjadi miliknya, Alva tidak akan segan menggunakan cara paling kejam sekalipun untuk memberi mereka pengertian, bahwa apapun yang menjadi kepunyaan seorang Alva, tidak akan bisa diganggu atau disentuh dengan mudah.


Arana adalah istrinya, dan seseorang berani menargetkannya karena kesalahan orang lain, tentu saja hal itu menyulut emosi Alva sampai pada tingkat tertinggi. Dia akan menemukan orang itu, dan memastikan bahwa dia akan mendapatkan ganjaran yang melebihi apa yang dia lakukan pada Arana.


"Kami akan kembali. Sudah larut malam, dan kalian perlu beristirahat." Erlan memimpin mereka untuk berpamitan. Hari sudah malam, dan sudah waktunya mereka untuk beristirahat. Erlan bahkan masih memiliki beberapa dokumen yang belum diselesaikannya, dan dia harus kembali lembur malam ini.


Arana dengan sadar diri mengucapkan terimakasih tulus dari hatinya karena ia sudah merepotkan mereka selama ini. Dia sedikit membungkuk.


"Maaf sudah merepotkan kalian! Terimakasih karena sudah banyak membantuku!" tegas Arana mengabaikan keterkejutan ketiganya, tak terkecuali Alva.


Erlan dengan canggung batuk. "Sebenarnya ... tidak perlu."


"Tidak cantik, jangan meminta maaf. Siapa yang merepotkan memangnya? Tidak ada!" ucap Angga yang langsung mendapatkan pelototan dari Alva. Angga diam-diam mengangkat dua jarinya yang artinya damai. Oh, mulutnya benar-benar todal bisa disaring.


"Tapi aku benar-benar sudah merepotkan kalian hari ini. Aku benar-benar berterima kasih dan ingin meminta maaf," tulus Arana, "Jadi aku mohon, terima permintaan maafku."


Erlan kebingungan, dan tanpa sadar melihat ke arah Alva yang menganggukkan kepalanya. Erlan dengan canggung berucap, "Baiklah. Aku menerimanya."


Mendengar perkataan Erlan, Angga hanya mengikuti. "Aku juga."


Calvian adalah yang paling santai. Sejak awal, dia hanya mendengarkan dan tidak mengatakan apapun. Sejak ketika Alva menyuruhnya mencari informasi tentang Arana, dia tahu bahwa gadis itu berbeda sekali dengan Alana. Jika Alana adalah iblis, Arana adalah malaikat. Jika Alana adalah hitam, maka Arana adalah putih. Intinya, selain wajah, mereka benar-benar berbeda. Jadi ketika dia berkata begitu, Calvian tidak terlalu heran, karena Arana memang memiliki hati yang baik.


"Kakak tidak perlu khawatir. Aku tidak direpotkan, tapi kalau kakak memaksa, anggap saja aku sudah memaafkan kakak." Balas Calvian atas permintamaafan Arana.


Arana merasa lega seketika. Dia sudah merepotkan mereka, dan Arana benar-benar merasa bersalah. Setelah ini, dia akan meminta maaf kepada Alva dan berterima kasih padanya karena sudah datang menjemputnya. Lain halnya dengan Arana yang merasa lega, Erlan dan Angga tercengang ketika mendengar Calvian memanggil seseorang dengan sebutan kakak dengan nada lembut yang jauh dari rasa malas yang biasanya dia miliki.


Dua pria itu saling bertatapan dan seakan berkomunikasi melalui tatapan itu, bertanya-tanya tentang keanehan Calvian sebelum mengedikkan bahu mereka hampir bersahutan.


"Ya, sudah. Kami pergi."

__ADS_1


Kemudian, barulah mereka pergi. Alva menutup pintu ketika ia melihat Arana memandangnya. Alva agaknya bisa menebak apa yang dipikirkan oleh kekasihnya itu. Namun, Arana tidak mengharapkannya untuk berpikir seperti itu.


"Al, aku-"


"Jika kamu ingin berterimakasih dan meminta maaf padaku, aku justru akan marah kepadamu." Sela Alva.


"Sayang, dengar. Aku adalah suamimu, dan sudah sewajarnya menjadi seorang suami untuk menjaga dan melindungi istrinya. Justru disituasi ini, akulah yang harus meminta maaf kepadamu karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik, sehingga kejadian ini bisa terjadi. Jadi jika kamu meminta maaf padaku, justru aku akan semakin merasa bersalah." Sambungnya.


Arana diam. Sesaat, dia menyadari kesalahannya. Ia mengatupkan bibirnya dan mengubah perkataannya. "Maksudnya, Al, aku lapar. Aku ingin makan."


Melihat bahwa istrinya begitu patuh dan pengertian, Alva tersenyum hangat, meraih Arana kedalam pelukannya dan membawanya duduk kesofa untuk memesan makanan secara online. Alva tidak bisa memasak, dan Arana sedang terluka. Jadi pilihan terbaik adalah memesan makanan secara online agar tidak repot.


"Um? Hanya ini yang ingin kamu makan?"


Melihat Arana hanya memesan nasi kari dengan susu strobery membuat Alva bertanya. Namun Arana menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa jika dirinya memang hanya ingin makan apa yang dia inginkan.


Alva mengangguk, tidak terlalu memikirkannya. Jika Arana masih mau makan lagi, ia bisa memesan lagi nanti. "Baiklah, makanannya akan diantar dalam setengah jam."


Disela makannya, manik Arana tidak sengaja menangkap beberapa buku novel dibawah meja kaca. Arana memandangnya selama beberapa waktu, merasa bahwa dia telah melupakan sesuatu.


Dua detik kemudian, Arana hampir menjatuhkan sendoknya, dan gerakan itu membuat Alva bingung.


"Sayang? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Alva.


Arana menoleh memandangnya dan hampir meneteskan air mata. Mengapa dia begitu pelupa. "Sayang, bagaimana ini? Aku menjanjikan akan mengirimkan buku novel kepada Aki saat tiba di sini. Ini ... ini sudah lama sekali, dan pasti Aki akan kecewa jika aku mengatakan aku melupakan untuk mengirimkan bukunya segera setelah sampai di Indonesia!"


Memikirkan Aki menunggu dan menunggu membuat Arana merasa bersalah dan merasa tertekan. Mengirimkan novel menggunakan kurir juga akan memakan waktu yang tidak sebentar, dan itu membuat Arana semakin tertekan.


"Novel? Apa Aki suka membaca novel?" heran Alva.


Arana mengangguk. "Seharusnya Aki sangat menyukainya. Aki adalah penggemar Jessica Ann, sama sepertiku, dan kami sama-sama menyukai bukunya. Sayangnya dia tidak bisa mendapatkan Airistya karena itu hanya dijual di Melbourne. Beruntung sekali aku ting--!"

__ADS_1


Arana menahan napasnya selama beberapa detik, merutuki mulutnya yang tidak bisa menahan obrolan sensitif. Segera, Arana menemukan alasan yang tepat, "Beruntung sekali temanku berlibur disana selama beberapa waktu, dan membelikanku Airistya."


"Kalau begitu aku bisa meminta seseorang mengirimkan novel itu dengan cepat. Akan tiba disana dalam waktu tiga hari," tawar Alva, "Mau?"


Manik Arana segera kembali bersinar. "Bisakah? Hanya tiga hari?"


"Iya sayangku," kekeh Alva geli melihat tingkah Arana.


Arana menjadi bahagia seketika. "Kalau begitu aku akan menyiapkan novelnya nanti. Besok aku akan memberikannya kepadamu untuk dibawa pada kenalanmu."


Alva mengangguk. Sebenarnya, sangat sederhana untuk membahagiakan kekasihnya itu. Hanya dengan perbuatan sepele mampu membangkitkan senyumannya yang semanis gula kapas. Alva meraihnya kedalam pelukannya, dan mencibir didalam hatinya, bahwa mereka yang menyia-nyiakan Arana adalah orang paling buta dan dungu didunia.


...***...


"Aki! Bunda sudah menyuruhmu untuk belajar! Mengapa kamu terus bermain dengan kameramu?!"


Suara itu melengking didalam sebuah kamar. Yoko berkacak pinggang, memandang tajam Aki yang duduk diatas futon sembari memegang kamera kesayangannya. Yoko tidak pernah melarang Aki untuk bermain dengan kamera, namun Aki juga harus belajar. Aki harus belajar dengan rajin agar dia bisa masuk ke Universitas terbaik di Tokyo, dan bisa menjadi seorang dosen.


"Aku sudah belajar, bunda. Aku hanya memilah foto sebentar." Balas Aki mencoba membela dirinya.


"Tidak perlu membuat banyak alasan, Aki. Serahkan kamera milikmu dan kembali ke meja belajarmu dan belajarlah!" tegas Yoko sembari mengulurkan tangannya.


Aki menunduk, meremat kamera ditangannya dengan samar, sebelum ia kembali mengulurkan tangannya dan memberikan kamera miliknya kepada sang wanita. Yoko menerima kamera ditangan Aki, dan dibawah tatapan tajamnya, Aki melangkah kemeja belajar dan mendudukkan dirinya diatas bangku kemudian mulai membuka buku dan belajar.


"Bagus, kamu harus membiasakan dirimu belajar. Demi masa depanmu, kamu harus suka belajar seperti Naoki." Kata Yoko.


Aki menggenggam pulpen ditangannya.


Dia benci belajar.


__ADS_1


__ADS_2