
"Minum susu dulu, sayang."
Arletta meninggalkan tatapannya pada Lidia dan dengan lembut berkata kepada Arana sembari menyerahkan segelas susu kepada Arana. Arana menerimanya dengan tenang dan meminumanya. Dibawah tatapan Michael dan Lidia, Arana menyerahkan setengah dari susu yang diminumnya kepada Alva. Alva juga dengan tenang menenggak habis susu itu dan bangkit berdiri untuk membawa gelas itu kedapur.
"Eh? Kenapa Alva minum susunya?" Lidia membeo.
Arletta duduk disamping Arana yang sudah menurunkan kakinya dan berkata dengan suara santai. "Tidak ada yang salah. Alva hanya menginginkan semua yang dimakan atau diminum oleh Arana. Mungkin itu bawaan bayinya."
"Maksudnya Alva ... ngidam?" Tanya Lidia ragu.
"Bisa dibilang begitu." Arletta mengangguk sembari membuka kue kering dan menawarkannya kepada Arana. "Mau kue, Na?"
Arana menggelengkan kepalanya dan menolak dengan sopan. "Tidak, ma. Nana masih kenyang."
Arletta tersenyum dan kemudian meletakkan kembali kue kering itu keatas meja. Ada keheningan untuk beberapa waktu sebelum Michael membuka suaranya. "Apakah bayinya laki-laki atau perempuan?"
"Ah, masih belum tahu, pa. Kehamilannya masih satu bulan." Ucap Arana menjelaskan.
"Nana baru hamil satu bulan, tentu saja masih belum bisa mengetahui apa jenis kelamin bayinya. Bahkan perut Nana belum membuncit." Kata Arletta. "Lagipula, baik perempuan ataupun laki-laki, kita sebagai kakek dan nenek hanya harus mencintainya dan menyayanginya sebagaimana seorang kakek dan nenek memperlakukan cucunya."
Michael memincingkan mata menatap Arletta yang tengah bertanya kepada Arana apakah Arana membutuhkan sesuatu. Michael bertanya, "Dimana Johan?"
"Sedang dalam perjalanan bisnis. Mungkin akan kembali beberapa hari lagi. Ngomong-ngomong, apakah kalian akan menginap?"
Lidia menoleh kearah Michael. Pria itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku masih harus kembali keperusahaan setelah ini karena ada beberapa rapat. Istriku mungkin yang masih akan tinggal disini."
Lidia menghela napas samar dan menganggukkan kepalanya. "Jika diperbolehkan, aku akan menginap semalam. Aku juga harus berbicara dengan Alana untuk membahas masalah Ibu dan anak."
Arletta hanya mengangguk. "Kalau begitu aku akan menyuruh bibi menyiapkan kamar untukmu nanti malam."
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Alva kembali dari dapur. Ia nampak menguyah sesuatu dimulutnya dan bahkan masih memegang sepiring cake strobery ditangan kirinya ketika dia kembali duduk. Arletta melirik Michael tanpa sepengetahuan pria itu dan berkata dengan senyuman riang kepada Alva. "Nampaknya bayinya adalah perempuan. Aku ingat pernah membaca jika seseorang ngidam dan suka makan yang manis-manis, kemungkinan besar bahwa bayinya adalah perempuan."
"Kamu dulu juga begitu kan, Lidia?"
Diberi pertanyaan seperti itu, Lidia dengan sedikit kaku menjawab, "Se-Sepertinya tidak harus selalu begitu. Aku dulu juga suka makan manis saat aku mengandung Hiro."
"Tapi aku punya firasat bahwa bayinya adalah perempuan. Bagaimana jika bayinya perempuan, Nan?" Tanya Arletta pada Alva.
Alva mengangguk. "Alva tidak memikirkan tentang jenis kelaminnya, karena Al sudah sangat bahagia bahwa Nan akan menjadi ayah. Jika bayinya laki-laki, dia akan membantu Al melindungi Nana. Tapi jika bayinya perempuan, dia akan menemani mama belanja. Semuanya sama-sama menguntungkan Al, ma."
Arletta tergelak atas perkataan Alva.
Putranya memang benar-benar bisa diandalkan.
Kemudian karena merasa tidak lagi memiliki percapakan setelah beberapa waktu setelahnya, Michael berpamitan sementara Lidia masih tinggal disana dengan niatan menginap untuk semalam. Dalam obrolan sebuah keluarga itu, Lidia hampir lebih banyak diam dan tidak berbicara jika topik yang dibahas berada diluar kendalinya. Hanya Arana yang dengan sadar diri beberapa kali bertanya kepada Lidia karena Arana tidak tahu hubungan seperti apa yang terjalin diantara Arletta dan Lidia, sehingga sang mama nampak cukup canggung berada didekat Arletta.
"Bisa kita mengobrol sebentar, Na?"
Malam itu, sebelum beranjak ke kamarnya, Lidia berkata kepada Arana yang hendak menuju kamarnya menyusul Alva. Arana memandang Lidia selama beberapa waktu sebelum menganggukkan kepalanya. "Bisa, ma. Tapi aku akan izin kepada Alva dulu, jadi dia tidak akan menunggu."
Lidia sedikit terkejut dengan respon Arana sebelum menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, mama akan menunggumu dikamar tamu."
"Ya." Jawab Arana sembari menganggukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Lidia menuju kamarnya. Lima menit kemudian, Arana kembali turun dan menyusul Lidia yang sudah berada di kamar tamu, membuka pintu dan kembali menutupnya.
"Duduklah."
Lidia menepuk kasur disampingnya, mengkode Arana untuk duduk disampingnya. Arana melangkah mendekati Lidia dan duduk disampingnya. Ada jarak yang bisa dilihat dengan mata telanjang yang dibuat Arana kepada Lidia. Lidia memandang Arana dan berucap, "Mama ingin membicarakan masalah kandunganmu, Rana."
"Ada apa dengan kandunganku?" Tanya Arana secara langsung.
__ADS_1
"Kamu tahu, kan, bahwa Alana memiliki tubuh lemah sejak masih bayi? Dokter mengatakan bahwa Alana tidak akan bisa melahirkan lebih dari satu kali, karena kandungannya akan menjadi lemah, dan itu juga perlahan menggerogoti tubuhnya."
"Oleh karena itu, mama sangat berharap kamu akan menyerahkan bayi ini kelak kepada Alana untuk dirawat. Mama akan berusaha membujuk Alana untuk menerima Alva, sehingga kamu bisa kembali menjalani hidupmu seperti sebelumnya."
"Aku sudah menjalani hidupku seperti sebelumnya seandainya mama menyadarinya." Ucap Arana dengan nada suara yang tegas.
"Aku tidak pernah mengunjungi mama lagi. Aku tidak pernah menanyakan kabar mama dan papa sekalipun. Aku hanya menghubungi mama dan papa untuk saat yang benar-benar penting. Jika aku tidak menghubungi mama di kehamilanku, bukankah itu hal yang aneh? Jadi aku menghubungi mama. Bukan berarti aku ingin mama tahu segala hal tentangku atau aku hanya berbasa-basi ingin mengetahui keadaan mama dan papa, tapi karena aku tidak ingin identitasku dicurigai." Arana menjelaskan dengan panjang lebar tanpa perubahan ekspresi.
Lidia terdiam mendengar penuturan Arana sebelum ia mengerutkan keningnya. "Rana, apa maksud kamu?"
Arana memandang Lidia. "Mama dan papa tidak akan pernah mengakui kehadiranku sebagai putri mama dan papa, kan?"
Lidah Lidia kelu dan dia hanya menatap Arana yang masih berbicara. "Mama mengatakan bahwa aku akan menjalani kehidupanku seperti sebelumnya ketika Alana kembali. Ya, kehidupanku tanpa keluarga. Kehidupanku tanpa peran orangtua yang seharusnya masih merawatku diusiaku yang masih muda, dan tanpa sosok yang akan mendengarkan keluh kesahku ketika aku kelelahan dan hampir mati karena harus mencari nafkah untuk diriku sendiri, agar aku bisa makan dan bisa tinggal dibawah atap kecil tanpa harus terkena hujan atau dinginnya malam sementara aku tahu jika aku memiliki keluarga yang bahkan memiliki rumah seperti istana, puluhan pembantu dan yang tidak akan pernah merasakan rasanya kelaparan!"
Arana terisak. "Aku hanya ingin tahu, ma. Apa yang membuatku diperlakukan selayaknya sampah seperti itu?"
"Kenapa hanya aku? Padahal, aku juga anak mama dan papa, kan?"
"Pelankan suaramu, Na!" Lidia nampak menatap Arana dan sedikit mengangkat suara, "Bagaimana jika ada yang dengar?"
Arana menghela napasnya dan dengan tenang mengusap wajahnya sebelum dengan perlahan berdiri. "Maaf, ma. Aku sedikit sensitif karena kehamilanku. Silakan istirahat, aku tidak akan mengganggu waktu istirahat mama."
Arana kemudian meninggalkan Lidia yang menatap Arana sampai pintu tertutup, meninggalkan bayangan gelap ruangan yang perlahan menyempit dan menghilang dibalik pintu bercat coklat itu.
Yang Arana inginkan tidak muluk-muluk dia harus diperlakukan sebagaimana Alana diperlakukan. Yang Arana inginkan hanya untuk diakui.
Cukup hanya dengan sebuah pengakuan.
__ADS_1