
Tubuh Civanya gemetar. Keringat mengalir dari dahinya ketika dia menyaksikan betapa kejamnya Alva menghajar pria itu.
Dipelukannya, Arana nampak melemas dan wajahnya pucat.
Pukulan demi pukulan dilayangkan, bahkan ketika darah memercik kewajahnya, Alva tidak memperdulikannya. Tatapannya begitu dingin dan mematikan, melebihi kejamnya seorang pembunuh. Alva tidak ragu untuk mengayunkan tinjunya bahkan ketika pria itu hampir tidak berdaya, sekarat dibawahnya dan tidak bisa melakukan apapun selain mencoba bernapas dengan paru-parunya yang tertekan. Alva tidak ragu untuk menekuk pergelangan tangannyw, mematahkannya seakan itu hanya seonggok sampah.
Tangan yang berani melukai miliknya!
Mata yang berani menatap miliknya!
Sampah!
Tendangan tak jarang menyapa wajahnya yang tak berbentuk.
Erlan menarik napasnya dengan dingin, dan tulang punggungnya terasa dingin ketika dia melangkah mendekati Alva dan menariknya. "Al, sudah!"
"DIa bisa mati," lanjutnya.
Alva tidak mendengarkan, dan dengan tegas mendaratkan tinjunya kewajah pria yang terkapar dibawahnya. Darah menggenang dibawah kepala pria itu, dan mungkin dia tidak akan tertolong dengan beberapa pukulan lagi. Namun Alva tidak peduli dan tidak ingin membiarkannya lolos dari pukulan yang membawa setiap kemarahan dalam dirinya.
Bugh!
Melihat bahwa Alva tidak meresponnya dan tetap memukulnya, Erlan segera menariknya.
"Jangan menggangguku!"
"Tapi dia bisa mati!"
Alva berkata, "Aku tidak pedu--!'
"Bukan dia, Al! Istrimu! Lihat istrimu!" sentak Erlan membuat Alva mencelos.
__ADS_1
Ia memandang Arana yang memejamkan mata dengan tubuh gemetar. Wajahnya memerah dan bibirnya nampak bergetar, nampak begitu kesakitan dengan keringat yang mengalir didahinya. Alva segera menuju pada Arana dan menggendongnya, ketika Erlan berkata, "Aku sudah memanggil ambulance, mereka akan tiba dalam lima menit."
Alva mengambil alih Arana dari Civanya, berlutut ditanah sembari memeluk Arana erat. Napas lemah Arana membuat jantung Alva terasa begitu sakit dan matanya memerah. Ia hanya ingin memeluk Arana dan ingin memindahkan rasa sakitnya kepada dirinya sendiri jika itu bisa. "Sayang, bertahanlah."
"Kumohon." Cicitnya nyaris tanpa suara, ketika setetes cairan bening jatuh dilengannya yang memeluk Arana erat.
...***...
Keadaan didepan ruang IGD tegang. Baik Alva, Erlan maupun CIvanya sama-sama tidak mengatakan apapun yang membuat situasi itu menjadi lebih baik. Civanya dibangku yang cukup jauh dari Alva, duduk bersama dengan Erlan yang masih takut untuk duduk disamping Alva yang saat ini menampilkan wajah sedingin belati dan dari ekspresinya dia benar-benar memiliki niat membunuh yang kentara.
"Jangan berburuk sangka padanya. Alva sebenarnya ... tidak begitu kejam?" ucap Erlan membuat Civanya tercengang.
"Ah, tidak," gumam Civanya, "Aku tidak menganggapnya kejam, kok. Sebenarnya, aku cukup paham bahwa Alva pasti sangat cemas dan marah melihat Arana diperlakukan seperti itu."
Civanya tidak berbohong. Meskipun dia dengan mata kepalanya sendiri bahwa Alva menyerang dan menghajar pria itu dengan habis-habisan, Civanya tahu bahwa Alva melakukannya karena amarah yang dimilikinya karena pria itu berani membuat istrinya terluka seperti itu. Jika Civanya ada diposisi Alva, dia akan melakukan hal yang sama dengan Alva, dan dia harus mengakuinya.
Bahkan sekarang saja, ada amarah yang terurai dibenak Civanya melihat kondisi Arana.
Civanya melirik Erlan dan ragu-ragu untuk membuka bibirnya sesaat. "Dia sebenarnya gadis yang baik."
Erlan mengedikkan bahunya dan dengan senyuman miris tersenyum. "Disitulah masalahnya. Semua orang tahu bahwa dia adalah gadis yang menyebalkan, kan?"
Erlan tidak bisa menahan untuk tidak merasa sedih didalam hatinya. Arana adalah gadis yang manis, baik dan menyenangkan. Hanya karena Alana, yang membuat begitu banyak musuh dan begitu banyak masalah, Arana tidak akan mengalami hal ini. Jika Alana menerima pernikahannya dengan Alva meskipun terpaksa, Arana tidak akan pernah datang ke Indonesia dan Arana tidak perlu terluka karena ulah seseorang yang membenci Alana.
Bagaimana Erlan tahu bahwa itu adalah ulah seseorang yang membenci Alana?
Insting.
Erlan meyakini bahwa dari reaksi tubuh Arana, gadis itu minum obat perangsang. Dan alkohol biasa tidak akan membuat Arana mengalami hal semacam itu.
Jadi, Arana pasti secara sengaja diberi obat perangsang.
__ADS_1
Erlan benar-benar ingin melindungi Arana bahkan tanpa perintah dari Alva karena Arana adalah gambaran adik perempuan baginya. Erlan adalah anak bungsu dari dua bersaudara, dan dari dulu, dia selalu ingin memiliki adik perempuan. Arana datang kepada Alva yang akhirnya juga dekat dengannya, dan keduanya secara alami beberapa kali bercanda bersama, terutama dengan Amber.
Erlan menyayanginya dengan perasaan bahwa dia adalah adik perempuannya sendiri.
Mendengar jawaban Erlan, Civanya tidak berbicara dan diam-diam menunduk. Ketika pintu IGD terbuka, dan Angga muncul.
"Bagaimana keadaannya?!" tanya Alva seketika ketika dia bangkit berdiri.
Angga melepaskan masker yang dikenakannya dan wajahnya tidak begitu baik. "Keadaannya benar-benar parah ketika dia dibawa kesini. Obat perangsang yang dia minum menimbulkan alergi yang membuatnya mengalami penurunan tekanan darah ketika tubuhnya sepanas arang. Kemudian, luka-lukanya juga hampir bisa dilihat diseluruh tubuhnya."
"Kami sudah melakukan penanganan, dan dia akan baik-baik saja setelah beberapa pemeriksaan lagi. Yakinlah, Al." Tegas Angga membuat Alva terduduk.
Pria itu menundukkan kepalanya, mengusap wajahnya dengan tangan membentuk segitiga dan menghela napasnya. "Syukurlah."
Erlan begitu tahu bagaimana perasaan Alva, dan dia mengulum senyuman dan mengangguk kepada Civanya dan Angga.
Erlan adalah salah satu saksi bisu yang menyaksikan perubahan sifat Alva. Sejak dia masih remaja yang sebenarnya polos menjadi mesin pembunuh yang kejam. Semua itu karena orang yang dia sayangi direnggut paksa darinya, dan orang yang dia cinta tidak mendapatkan keadilan yang cukup dihidupnya. Erlan mengetahuinya.
Arana adalah sebuah anomali dalam rencana Alva, namun Arana juga menjadi sesuatu yang membuat Alva kembali memiliki keceriaan dan kebahagiaan yang sudah lama hilang darinya semenjak kematian Theo. Dengan keadaan Arana yang begitu mengenaskan tadi, Erlan tahu sehancur apa perasaan Alva. Pria itu bahkan sampai menangis dan Erlan tidak akan berkomentar apapun meski biasanya dia akan menjadi yang paling heboh jika melihat kekonyolan Alva.
Hanya Tuhan yang tahu, bahwa Erlan benar-benar ingin melihat Alva tersenyum sepanjang waktu, dan menikmati hari-hari bahagianya dengan Arana tanpa perlu memikirkan hal-hal buruk seperti yang terjadi hari ini.
"Tidak apa. Dia akan bangun besok setelahe efek anastesinya hilang." Ungkap Angga.
"Permisi," suara itu membuat mereka menoleh bersamaan kesumber suara.
Erlan mengerutkan keningnya bingung ketika mendapati seorang pria berkemeja biru gelap melangkah mendekati mereka dengan wajah yang nampak gugup namun juga khawatir.
"Siapa?" gumamnya tanpa sadar.
Disampingnya, CIvanya memandang pria itu dan kemudian melebarkan matanya. "Ah, bukankah anda bartender di club Eveloise?"
__ADS_1
Mendengar itu, Alva segera melebarkan matanya, bangkit berdiri dan meraih kerah pria itu dengan sebelah tangan, memandangnya dengan tatapan yang begitu dingin hingga membuat tulang punggung siapapun bergidik melihatnya. Termasuk pria dicengkramannya yang bergidik ketakutan dan berkeringat. "Katakan, apa yang sudah kau campurkan diminuman istriku?!"