
Mendengar bisikan Arana, Alva menghentikan kegiatan makannya dan memandang Arana yang terpejam disampingnya.
Alva tidak tahu apakah Arana sudah tidur atau belum, namun Alva dengan tenang mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi Arana sebelum dengan lembut menggenggam tangannya dan bersenandung lembut. Menandakan bahwa dia bisa. Bisa menjadi milik Arana Canyelier selamanya, tanpa ada seorangpun yang mempermasalahkannya.
Arana mungkin benar-benar tertidur. Dia kelelahan setelah berurusan dengan masalah yang dia alami akhir-akhir ini, terutama karena David. Dia tidak bisa memikirkan apakah David benar-benar akan memberitahu Alva atau tidak. Bahkan jika David memberitahu Alva, yang akan rusak adalah nama Alana. Namun, mungkin saat itu juga Arana tidak akan bisa lagi menikmati kebersamaan dengan Alva seperti ini. Selayaknya dua orang yang tengah dimadu kasih.
Entah berapa lama Arana tertidur, namun ketika ia terbangun, Alva tengah memeluknya.
Mereka berada disebuah ruangan. Dibawahnya, ada ranjang empuk yang membuat tidurnya nyenyak, dan selimut lembut menyelimuti keduanya dan menghindarkan mereka dari dinginnya malam. Ketika Arana melirik jam diponselnya, waktu menunjukkan pukul satu pagi. Arana dengan tenang meraih ponselnya, memeriksa cahaya ponselnya tidak mengganggu Alva dan membuka ponselnya untuk memeriksa apakah ada pesan.
Benar saja, ada beberapa pesan yang dikirimkan beberapa jam lalu, dan ada pesan yang baru terkirim beberapa menit yang lalu.
Membukanya, Arana melebarkan matanya.
[Kak, ini aku, Aki. Tolong jemput aku di bandara, aku kabur dari rumah. Jangan beritahu ayah dan ibu.]
...***...
Memandang ponselnya dengan cemas, Arana mencoba menghubungi Aki beberapa kali. Bandara tidak sedekat itu dan butuh setidaknya dua jam untuk sampai di bandara. Setelah mendapatkan pesan dari Akim Arana membangunkan Alva dan keduanya bergegas menuju bandara dengan mobil Alva. Menyetir dengan kecepatan sedikit diatas rata-rata, Alva membiarkan Arana mencoba menghubungi Aki sampai bisa.
"Aku akan mencoba menghubunginya terus. Astaga, bagaimana bisa anak sekecil dia berkeliaran sendirian dibandara! Al, bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?!" panik Arana.
Alva mencoba menenangkan Arana. "Tenang sayang. Aki adalah anak yang cerdas. Bandara adalah tempat teraman untuknya saat ini daripada diluar. Ada petugas keamanan disetiap sisi, dan jika terjadi sesuatu dengannya, dia pasti akan meminta bantuan kepada petugas yang ada."
Arana mengangguk, menenangkan dirinya ketika dia dengan tegas menekan ikon telepon. Menghubungi Aki lagi dan lagi.
Setelah banyak panggilan tidak terhubung, akhirnya panggilan terhubung. "Aki? Apa kamu baik-baik saja? Dimana kamu sekarang?!"
[Tenang kak. Aku masih dibandara. Ponselku kehabisan daya dan aku meminjam pengisi daya dari seorang petugas. Aku duduk didekat pintu masuk.]
Mendengarnya, Arana begitu lega. "Astaga, kamu benar-benar menakuti kami. Tetap disana dan jangan kemana-mana, oke? Kami akan tiba satu jam lagi disana. Jika ada sesuatu, hubungi kami dan minta bantuan petugas disana mengerti?"
__ADS_1
[Ya, kak. Aku akan menunggu, Hati-hatilah dijalan.]
Tidak lama kemudian, panggilan diakhiri. Arana memandang Alva, "Aki masih menunggu disana. Syukurlah, ponselnya tadi hanya kehabisan daya. Itu benar-benar menakutiku. Apa yang sebenarnya membuatnya kabur dari rumah?"
Alva menggeleng. "Aku juga tidak tahu. Aku harus menginterogasinya nanti. Aku juga akan mengabari kak Yoko dan Yosua, setidaknya jika Aki tidak ingin keberadaannya disini diketahui, aku akan mengabari mereka dulu dan mencoba membuat mereka mengerti agar memberi Aki waktu. Kemudian, kita bisa mencoba membujuk Aki."
Arana mengangguk setuju.
Disisi lain, remaja laki-laki itu memandang ponselnya dengan dingin. Mematikan lokasi ponselnya dan dengan tenang memblokir nomor orangtuanya. Tidak ingin terganggu untuk beberapa waktu. Ia menghela napas, dan kemudian memandang kedepan dengan dingin.
Dia pada akhirnya menjadi pengecut karena kabur.
...***...
Satu jam lebih, mobil Alva memasuki area bandara. Bandara selalu buka dan cahayanya menerangi setiap sisi. Membuka pintu mobil, Arana dan Alva berjalan berdampingan memasuki bandara untuk mencari Aki.
Manik Arana bergerilya memandang sekelilingnya, dan menemukan seorang anak laki-laki tengah duduk bersandar didinding sembari memainkan ponselnya. Ia membawa ransel kecil ditangannya yang mungkin hanya muat untuk beberapa barang. Melihat tatapannya, hati Arana mencelos. Dia pernah melihat tatapan mata seperti itu.
Arana melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Aki. Disusul Alva dibelakangnya, Arana meraih Aki dan membawanya kedalam pelukan yang membuat anak laki-laki itu terkejut dan tertegun ketika mendengar gumaman Arana didekat telinganya.
"Tidak apa, kamu akan baik-baik saja disini. Kamu pasti ketakutan, kan? Tidak masalah, kami sudah ada disini untukmu."
Arana memeluk Aki lebih erat, dan sesekali mengusap punggungnya. Anak laki-laki itu memandang lurus kedepan dengan tertegun, dan sepasang maniknya berkaca-kaca, ketika dia tanpa sadar membalas pelukan Arana dan menenggelamkan wajahnya dibahu Arana. Untuk pertama kalinya, Aki menangis dalam hidupnya.
Merasakan bahu yang gemetar dipelukannya, Arana dengan sabar menenangkannya.
Arana pernah melihat tatapan itu. Tatapan rasa sakit dan kekecewaan seakan ia tengah berada diambang keputusasaan. Arana pernah melihatnya, karena seseorang yang pernah membuat tatapan itu adalah orang yang selalu dekat dengannya, menjadi sahabat dekatnya, Amber.
...***...
Flashback
__ADS_1
Gadis duabelas tahun itu memandang pemandangan rumah didepannya dengan kagum. Arana memandang Arselyne yang ada disampingnya dan bertanya dengan sepasang manik yang sedikit membulat. "Amber tinggal disini, Ly?"
Arselyne mengangguk. Membuat Arana berseru ringan, "Rumahnya bagus sekali!"
Bangunan didepannya adalah perpaduan gaya eropa klasik dan modern. Pilar-pilar tinggi dengan kubah dan jendela melengkung bisa dilihat tertata rapi. Pepohonan yang rindang menghiasi taman yang luas yang ada dibalik pagar, dan air mancur besar dibangun ditengah jalan penghubung gedung dan jalanan, sebagai poros putar. Elemen warna cream lembut dan hitam granit membuat Arana terpaku dalam kekaguman.
"Ayah Amber masih memiliki darah bangsawan. Jadi, ya ... keluarganya mempertahankan estetika mereka." Kata Arselyne menjelaskan.
Arana hampir tidak percaya. "Padahal Amber adalah anak yang berpakaian eksentrik. Aku kagum bahwa dia sebenarnya dibesarkan dilingkungan seperti ini."
Arselyne tersenyum dan mengangguk, kemudian mengajak Arana melangkah masuk untuk menemui Amber atas kunjungan rutin yang selalu Arselyne lakukan. Arana mengikuti Arselyne sembari memandang sekelilingnya, mencoba memperhatikan keindahan rumah itu. Berapa banyak Arana melihat, semakin besar dia merasa bahwa estetika ayah Amber adalah yang terbaik dalam aliran klasik. Benar-benar nuansa yang mewah dan elegan.
Menekan bel. Arselyne dan Arana menunggu selama beberapa waktu sebelum pintu besar itu terbuka.
Ada dua orang maid yang membukakan pintu. Mereka mengenakan pakaian hitam dan putih, dengan rambut yang digelung rapi. Arana memperhatikan mereka dan Arselyne menyapa. "Selamat pagi, Amber ada?"
Kedua wanita itu tahu siapa Arselyne. Sahabat nona muda mereka. Keduanya saling pandang selama beberapa waktu sebelum mereka dengan tenang berkata, "Maaf tuan Arselyne, dan nona kecil. Nona muda sedang pergi bersama dengan nyonya dan tidak akan kembali sampai nanti malam. Jawaban mereka rapi dan tenang, namun Arana merasa bahwa mereka menyembunyikan sesuatu dilihat dari bagaimana mereka saling pandang diawal membuka pintu. Apalagi, kemarin Amber mengatakan bahwa hari ini dia tidak memiliki acara dan bebas bermain seharian dengan mereka.
Arselyne menganggukkan kepalanya, karena memang tahu bahwa mama dari Amber memang sering mengajak Amber pergi. "Baiklah kalau begitu. Kami akan pergi, sampai jumpa kak!"
"Mohon hati-hati dijalan tuan dan nona."
Setelah berpamitan, Arselyne dan Arana melangkah keluar dan menaiki mobil Arselyne. Namun kening Arana berkerut semakin dalam semakin dia memikirkannya. Pada akhirnya, dia membuka suaranya. "Apa Amber benar-benar pergi bersama dengan mamanya?"
Arselyne mengangguk. "Sepertinya begitu. Mama Amber memang sering mengajaknya keluar. Entah itu belanja atau hanya jalan-jalan."
"Apa mama Amber adalah wanita muda dengan rambut hitam?"
Arselyne mengangguk. "Bagaimana kamu tahu? Bukannya kamu belum pernah bertemu dengannya?"
"Tapi, Ly. Aku melihatnya melangkah dijendela lantai dua tadi."
__ADS_1