My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 78: Apologies And Pleas


__ADS_3

Amber tidak memikirkan banyak hal.


Namun untuk saat ini, apa yang ada dibenaknya adalah kekecewaan. Ia kecewa pada Arselyne yang benar-benar tidak bisa memahami perasaan Arana, mendesaknya dan menyalahkannya. Sebagai sesama perempuan, Amber jelas tahu bagaimana perasaan Arana lebih baik daripada Arselyne. Mereka mengakui kesalahan mereka dan berusaha menjelaskan untuk menyelesaikan masalah dan kesalahpahaman yang terjadi, namun Arselyne dengan kekanakannya menolak permintaan maaf mereka dan tidak ingin menerima penjelasan apapun.


"I'm not being childish! If you were in my position, could you just accept it?! Don't you think that Arana is so naive and stupid for accepting a marriage with a foreigner just because his parents asked him to? Her parents are trash and you still let her go?! || Aku tidak bersikap kekanakan! Jika kau diposisiku, bisakah kau menerimanya begitu saja?! Tidakkah kau berpikir bahwa Arana begitu naif dan bodoh karena menerima pernikahan dengan orang asing hanya karena orangtuanya memintanya? Orangtuanya adalah sampah dan kau masih membiarkannya begitu saja?!" Arselyne tidak pernah mau mengalah jika hal itu menyangkut Arana, dia masih dengan tegas menyalahkan Lidia dan Michael, bahkan Arana sendiri dan Amber.


"Arana didn't do it on purpose! Hear!! || Arana tidak melakukannya dengan sengaja! Dengar!!" Amber mengerang dan meraih kerah baju Arselyne. "Arggh! Apakah kau tidak mengerti bahasa manusia?!"


"Amber!" Arana yang melihat Amber melakukan tindakan itu segera menahannya, dan bangkit berdiri untuk menarik Amber.


"Amber, kumohon berhenti." Ucap Arana sembari menahan Amber.


Arselyne memandangnya datar. "Won't hit me? Come on, hit me! Isn't that what you can do to cover up all your mistakes? With violence? So come on hit me and prove that you are guilty! || Tidak jadi memukulku? Ayo, pukul aku! Bukankah memang itu yang bisa kau lakukan untuk menutupi semua kesalahanmu? Dengan kekerasan? Jadi ayo pukul aku dan buktikan bahwa kau memang bersalah!"


Saat itu, manik Amber benar-benar tajam. "Damn it! || Sialan!"


Tepat setelah mengatakan itu, sebuah kepalan tangan meluncur, menyambut pipi putih dan pucat Arselyne yang membuat Arana memekik.


"Amber!!"


Amber mendorong Arana menjauh, menarik kerah Arselyne yang terhuyung dan memandangnya tajam. "This is no longer your business with Arana. This is between you and me! Don't think that I am your best friend then I will tolerate all your bad attitude like this, Arse. If you can't come to your senses with one punch, then I'm ready to beat you to death! || Ini bukan lagi urusanmu dengan Arana. Ini menjadi urusanmu denganku! Jangan berpikir bahwa aku adalah sahabatmu maka aku akan mentolerir semua sikap burukmu yang seperti ini, Arse. Jika kau tidak bisa sadar dengan satu pukulan, maka aku siap untuk menghajarmu sampai kau mati!"

__ADS_1


Arana menarik Amber, namun Amber mengabaikannya dan tidak melepaskan Arselyne yang terduduk di sofa. "Amber, already! stop it! You can't say that || Amber, sudah! Hentikan! Kamu tidak boleh berkata seperti itu."


Arana dengan panik memandang kearah Arselyne yang masih menatap tajam Amber. "Ly, aku mengakui aku salah! Aku mohon jangan begini. Kalian adalah sahabat, ini adalah masalahku, aku mohon jangan membuat hubungan kalian rusak hanya karena masalahku!"


"Kalau begitu lakukan sampai berapa lama itu, karena aku tahu aku tidak bersalah." Arselyne berujar dengan nada menantang yang membuat emosi Amber hampir meledak dari ubun-ubunya. Amber bersiap mengangkat tangannya, dan kepanikan segera melanda Arana ketika suara bel membuat ketiganya menoleh bersamaan kearah pintu.


Entah siapa yang datang, namun Arana benar-benar merasa bersyukur karena setelah bel berbunyi dua kali, Amber melepaskan cengkraman tangannya dikerah Arselyne dan dengan tegas melangkah pergi memasuki kamar mandi yang ada dilantai bawah.


Arana mengepalkan tangannya dan melangkah menuju pintu bersamaan dengan Arselyne yang meraih ranselnya dan melangkah melewati Arana yang menahan ujung jaketnya.


"Ly." Panggilnya.


Arselyne hanya melihatnya sekilas, berkata. "Jangan menemuiku jika kau masih menggunakan identitasmu sebagai Alana. Aku tidak memiliki seseorang yang bernama Alana untu menjadi sahabatku."


"Eh? Ala, siapa tadi?"


Arana menyunggingkan senyuman paksa yang tidak begitu ketara. "Temanku, kak. Dia datang bersama dengan temanku, tapi dia sedang dikamar mandi saat ini."


"Ngomong-ngomong, apa yang kakak lakukan disini?" Tanya Arana membuat Mellisa ingin menepuk dahinya karena melupakan tujuan awalnya. Ia menyerahkan kue kering itu kepada Arana. "Aku memanggang kue ini semalam. Karena aku membuat cukup banyak, aku ingin kamu mencicipinya, La."


Arana menerimanya dengan senang hati. "Terimakasih banyak, kak. Mampirlah kak."

__ADS_1


Mellisa melambaikan tangannya. "Tidak, ah. Aku masih belum mencuci baju, jadi aku akan kembali. Jangan lupa beritahu jika ada yang kurang dari kuenya, ya."


"Sepertinnya tidak mungkin jika kue kakak akan kurang rasanya. Kak Mellisa kan sangat pandai membuat kue." Ucap Arana. "Sekali lagi terimakasih, kak."


Ketika Mellisa kembali ke apartemennya, Arana melangkah masuk sesudah menutup pintu. Ia menoleh dan menemukan Amber tengah duduk disofa, menenggelamkan wajahnya di bantal dan lututnya sendiri. Arana mendekatinya, meletakkan setoples kue kering keatas meja dan duduk disamping Amber yang tidak bergerak selama beberapa waktu.


"Amber," panggil Arana pelan.


Amber mengangkat wajahnya, air mata membasahi seluruh wajahnya, dan ingusnya menempel di bantal untuk terentang dan memberikan dampak lucu dan jijik secara bersamaan. Arana memandang Amber tanpa kata-kata dan membiarkan Amber menumpahkan seluruh keluh kesahnya. "Nana, sob! I'm really mad at him. How could he act like that? || Nana, hiks! Aku benar-benar marah padanya. Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu?"


"This is no longer an issue between you and Lily, but it is an issue with me. I don't like his egotistical attitude, and I don't accept him treating you as if you were the one at fault here. I admit that maybe it was a mistake we didn't tell Lily, sob, but she should know that we're doing it for her own good too || Ini bukan lagi masalah antara kamu dan Lily, tapi ini menjadi masalahnya denganku. Aku tidak suka sikap egoisnya, dan aku tidak terima dia memperlakukanmu seakan-akan kamu adalah yang bersalah disini. Aku mengakui bahwa mungkin memang salah kita tidak memberitahu Lily, hiks, namun dia harus tahu bahwa kita melakukannya juga untuk kebaikannya sendiri." Lanjutnya dengan suara yang lebih lirih dan lebih menyedihkan.


Arana menundukkan kepalanya dengan sedih dan berkata, "From the start this was my problem. I'm really sorry to make you guys fight || Dari awal ini adalah masalahku. Aku benar-benar minta maaf membuat kalian bertengkar."


Arana menundukkan kepalanya. "I am really, really sorry || Aku, benar-benar minta maaf."


"Hei!"


Arana tersentak ketika Amber menyentak dengan suara keras yang membuatnya dengan cepat mengangkat wajahnya dan memandang Amber yang melihatnya dengan tatapan tajam. Ia hendak berkata ketika Amber dengan cepat menyela perkataannya. "If I hear you say sadly like that and you lower your head, I will tickle you until your voice runs out || Jika aku mendengarmu berkata sedih begitu dan kamu menundukkan kepalamu, aku akan menggelitikimu sampai suaramu habis."


"Listen, Nana. It's really not your fault, don't blame yourself for this matter. In truth, this was purely a misunderstanding, and simply a result of a lack of communication. It doesn't matter, after I get over my annoyance at Lily, I'll go up to her and try to talk to her. Lily also must have done the same thing || Dengar, Na. Ini benar-benar bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu untuk masalah ini. Sebenarnya, ini murni kesalahpahaman, dan hanya karena kurang komunikasi. Tidak masalah, setelah aku melupakan kekesalanku pada Lily, aku akan mendatanginya dan mencoba berbicara padanya. Lilypun pasti juga melakukan hal yang sama." Papar Amber.

__ADS_1


"We will find a way out together || Kita akan mencari jalan keluarnya bersama."



__ADS_2