My Beloved Arana

My Beloved Arana
EKSTRA BAB 1


__ADS_3

EXTRA 1 — AMBER & EXEL


[Chapter 1]




"Kau kemari lagi? "


Amber bertanya kepada Exel yang lagi-lagi datang. Padahal baru kemarin dia mengatakan akan datang setiap minggu, namun belum ada satu hari berlalu, mengapa dia sudah kembali lagi?


"Kamu bilang akan datang setiap minggu, tapi kamu datang lagi saat kamu baru datang kemarin."


Exel melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu, seakan itu adalah rumahnya sendiri, dan bahkan melangkah masuk dengan santai sembari meletakkan sekantung buah-buahan, sayuran dan daging keatas meja sembari dia meletakkan mantelnya disofa. Ia menatap sekelilingnya dan berbalik memandang Amber yang melangkah mendekat setelah menutup pintu.


"Rumah ini memiliki sirkulasi udara yang baik. Kamu memiliki pembantu rumah tangga?"


Amber menggeleng. "Untuk apa?"


"Duduklah."


Mendengar perkataan Exel, Amber mau tidak mau duduk. Pria muda itu menyusul duduk diseberang Amber dan kemudian berkata, "Aku akan mempekerjakan pembantu rumah tangga dirumah ini kedepannya. Pekerjaan berat akan diurus pembantu dan masalah suplemen dan kebutuhan kehamilanmu, aku akan mempekerjakan seorang perawat untuk membantumu mengatur pola asupan yang baik untuk bayi kita."


Amber sedikit menurunkan tatapan maniknya ketika mendengar kata kita yang digunakan pada bayi diperutnya. Amber sedikit mengusap perutnya dan tidak bisa mengelak bahwa memang pria itu juga merupakan ayah biologisnya.


"Soal bibi Melody, aku sudah mendatanginya kemarin ketika aku pulang dari sini."


Amber sedikit terkejut dan mendongak. Ia baru memperhatikan ruam merah dipip kiri Exel dan memandangnya sebelum berkata dengan keraguan dibenaknya. "Jangan-jangan bibi..."


Exel mengusap pipinya sekilas dengan santai. "Hanya sisa, tidak ada masalah. Yang penting masalah sudah selesai dengan bibi Melody, dan mulai sekarang aku akan kemari setiap hari. Meski tidak lama, setidaknya aku akan datang untuk makan siang atau sarapan sembari membawakan keperluanmu."


"Jadi jangan ragu untuk mengirimiku pesan." Exel mengangkat matanya, "Itupun jika kau tidak memblokir nomorku dari ponselmu."

__ADS_1


"Tidak," Amber menggeser tatapannya, "kok.."


Exel tidak kecewa karena dia sudah menduga bahwa Amber memang memblokir nomornya. Ia dengan tenang mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada Amber. "Itu nomorku yang baru. Aku baru berganti beberapa waktu yang lalu karena beberapa masalah, kau bisa menghubungiku disana jika kamu butuh sesuatu."


Amber memandang kartu nama itu sebelum menganggukkan kepalanya dan menyimpannya didalam laci kaca dimeja. "Aku akan menghubungimu jika butuh sesuatu. Tentu, hanya jika."


"Yang penting kamu tahu nomorku."


Amber menganggukkan kepalanya, memandang kearah dapur. "Mau makan siang sebelum pergi?"


"Aku hanya memasak sup tomat dan ayam, tentu tidak tahu apakah rasanya seenak buatan Arana, namun setidaknya masih bisa mengenyangkan perut." Kata Amber dengan sedikit malu karena mengingat dia bukanlah koki yang baik.


Exel memperhatikan ekspresi Amber sebelum dengan tenang menganggukkan kepalanya. "Um, aku akan makan jika kamu mengizinkan."


Amber menganggukkan kepalanya, melangkah menuju dapur sementara Exel duduk dibangku dimeja makan dan menatap Amber yang tengah menyiapkan makanan untuknya. Lima menit kemudian, Amber kembali dengan semangkuk sup tomat yang hangat. Amber hendak kembali ke dapur, namun Exel terlebih dahulu berdiri dan kemudian mengambil nasi dan ayam yang sudah disediakan oleh Amber dan membawanya kemeja karena tidak ingin terlalu memberatkan Amber.


Keduanya kemudian duduk dan mulai menikmati makan siang mereka berdua.


Setidaknya ada seseorang disampingnya, yang ingat untuk menemaninya makan.


Beberapa saat berlalu, Exel menyeka bibirnya dengan tissue dan membuangnya ke tempat sampah. Ia mengambil mantelnya yang ia sampirkan di sofa dan melangkah menuju pintu keluar bersamaan dengan Amber yang mengantarnya. Exel mengenakan mantelnya kemudian sedikit terdiam selama beberapa waktu sebelum berbalik menatap Amber yang mendongak memandangnya.


Exel menurunkan tatapannya dan memandang perut Amber yang membuncit dan sedikit ragu. "Bolehkah aku ... menyentuhnya?"


Amber menyadari maksud Exel dengan segera. Ia kemudian mengangguk. Mendapatkan izin dari sang empunya, tangannya terangkat dan bergerak perlahan sampai mendarat dengan halus ke kandungan Amber yang menginjak usia kehamilan tiga bulan. Kehangatan tangan Exel membuat Amber sedikit menatap Exel yang masih terpaku pada perutnya. Gerakan tangannya mungkin sedikit canggung, namun Amber dengan jelas merasakan perasaan lembut dan rasa hangat yang nyaman. Baik diperutnya maupun dihatinya.


Ia memandang Exel dan membuka bibirnya. "Ketika kita pertama kali bertemu, apakah kamu membenciku?"


Gerakan tangan Exel berhenti diperut Amber. Ia dengan perlahan menarik tangannya, menaikkan tatapannya dan beradu pandang dengan sepasang manik abu Amber.


Flashback


"Mulai hari ini kita akan tinggal disini, Amber."

__ADS_1


Bangunan itu begitu besar dan megah dimata Amber. Sepasang maniknya yang berwarna abu memandang rumah barunya dengan berbinar. Tidak pernah terlintas sedikitpun dibenak anak perempuan berusia lima tahun itu bahwa dia akan tinggal disebuah bangunan yang bahkan nampak seperti istana, terlebih disaat dia sebelumnya tinggal ditempat yang sangat berbanding terbalik dengan bangunan didepannya.


"Jaga sikapmu selama tinggal disini." Suaranya penuh dengan ketegasan, "Kau harus menghilangkan kebiasaan burukmu dan mulai berperilaku sopan atau mama akan meninggalkanmu untuk hidup dijalanan."


Ancaman membuat Amber menggelengkan kepalanya dan menatap Leviana. Dia mungkin memang cukup nakal, namun dia selalu mendengarkan perkataan sang mama karena bagi Amber, hanya sang mama yang selalu bersamanya, ketika kehidupan mereka bak neraka. Hanya sang mama yang mendekapnya ketika dia kedinginan. Yang bekerja selalu pulang larut untuk memberinya makan dan kebutuhannya.


"Aku akan jadi anak baik, ma."


Tidak lama setelah Amber berbicara, gerbang terbuka. Ada beberapa pelayan yang segera berjajar. Dan bersamaan dengan itu, seorang pria tua berjanggut putih panjang segera menyapa Leviana dan Amber dengan bungkukan sopan, namun bukan sebuah keramahan dan hanya bentuk formalitas kerja.


"Selamat datang nyonya Leviana. Silakan ikuti saya untuk bertemu dengan tuan besar."


Amber dibawah gandengan Leviana segera mengikuti wanita itu membawanya. Ia memandang sekelilingnya dengan tatapan kekaguman, yang jelas memperlihatkan betapa kampungannya dirinya. Amber tidak merasa malu, karena dirinya memang tidak pernah melihat atau memiliki hal yang mengagumkan seperti itu dalam hidupnya. Pilar-pilar tinggi, taman yang begitu rindang dan luas serta pekerja yang begitu banyak berkeliaran diseluruh bangunan untuk mengurus rumah yang begitu besar hingga Amber mampu menyebutnya seperti istana itu.


"Mama, kakek ini siapa?" Pertanyaan Amber membuat Leviana menatap Amber dengan senyuman, namun tatapan tajamnya membuat nyali Amber untuk bertanya kembali menciut.


"Panggil dia kakek Sam, Amber. Dia adalah kepala pelayan dirumah ini. Jika kau butuh sesuatu, kamu bisa bertanya apapun kepadanya, namun ingat untuk tidak merepotkan, mengerti?"


Amber menerbitkan senyumnya. Pipi gembulnya terangkat dan dia menganggukkan kepalanya dengan segera. "Amber mengerti, mama!"


Amber tidak tahu seberapa jauh mereka berjalan. Namun ketika Amber akhirnya merasa lelah karena terus berjalan dengan kaki kecilnya, akhirnya dia dibawa masuk kedalam bangunan. Manik Amber lebih melebar oleh kekaguman, hingga sepasang maniknya menatap seseorang yang nampak berdiri ditangga dan menatapnya dengan tatapan mata yang membuat Amber kurang lebih merasa bingung. Ia sedikit memiringkan kepalanya dan memandang anak laki-laki yang nampaknya lebih tua darinya itu sebelum berkedip ketika Leviana menariknya kembali untuk mengikutinya.


Amber mengalihkan tatapannya dan melihat dirinya dibawa kedalam sebuah ruangan setelah melewati lift.


Ada seorang pria yang nampak lebih tua dari sang mama, namun penampilannya tampan dan berkharisma yang membuat Amber kembali terkagum. Pria itu bangkit berdiri, memeluk Leviana selama beberapa saat, saling mengungkapkan kata rindu dan kata romantis dibawah tatapan Amber sebelum pria itu menarik tubuhnya menjauh dari Leviana dan ia berjongkok didepan Amber.


"Amber, kan?"


Amber memandang pria didepannya sebelum menganggukkan kepalanya dengan tegas. Amber tidak pernah takut dengan apapun, dan kesadaran akan kemiskinan membuat dia tumbuh dalam kepercayaan diri untuk menjunjung harga dirinya sendiri meskipun dia tidak memiliki harta apapun. "Ya. Paman siapa?"


Pria itu meletakkan tangannya dikepala Amber dan membelainya, membuat Amber mengerutkan kening bingung. "Nampaknya mamamu masih belum bercerita dengan rinci. Mulai hari ini, kamu akan tinggal di mansion ini, karena kamu adalah putriku, putri kandungku, Amber."


__ADS_1


__ADS_2