
Arana memandang bangunan rumah besar nan mewah didepannya dengan sedikit gugup. Dibelakangnya, Amber menepuk bahunya dan dengan cengiran khasnya mendorong Arana untuk membunyikan bel.
"Apa Lily benar-benar ada disini?"
Amber menganggukkan kepalanya. "Iya, aku sudah mengikutinya selama beberapa hari ini dan dia memang pulang kesini. Memang cukup mencengangkan melihat dia sudah tidak tinggal disini selama hampir delapan tahun."
"Aku masih khawatir." Ragu Arana sembari memandang pintu didepannya.
"Tidak! Lakukan saja sekarang!" Desak Amber.
Arana menghela napas dan mengulurkan tangannya hendak membunyikan bel rumah. Namun sebelum ia sempat menekan bel, ada suara bernada datar yang menyapa indra pendengaran keduanya. "Apa yang kalian lakukan disini?"
Keduanya menoleh hampir bersamaan kesumber suara, dan menemukan Arselyne duduk setengah bergantung di pagar balkon salah satu kamar rumah yang berbentuk huruf L itu.
"Lily." Beo Arana.
Arselyne memandang keduanya, menarik kakinya dari pagar balkon dan berdiri. "Tunggu disana sebentar."
Dua menit menunggu, Amber dan Arana sesekali menengok ke balkon, menunggu apakah Arselyne sedang berjalan atau apa. Suara derap langkah kaki membuat Arana dan Amber menatap pintu secara bersamaan, dan suaranya semakin jelas. Tak, tak, tak. Seperti suara langkah kaki keras dari sepatu berhak tinggi. Kedua gadis itu saling pandang sebelum meneguk ludah dengan kasar, merasakan firasat buruk dari suara itu.
"Tidak mungkin ..."
Keduanya hampir bergumam bersamaan, berbarengan dengan pintu yang terbanting dengan kuatnya. Jika pintu bisa mengeluh, sudah dipastikan kata-kata keluhannya sepanjang rel kereta api. Hentakan yang kuat itu membuat Arana dan Amber mundur selangkah, menutup telinga dan menempel untuk melindungi satu sama lain. Keduanya secara bersamaan menoleh, untuk menemukan seorang wanita didepan sana.
Ada seorang gadis yang nampak berusia sama seperti mereka, berambut pirang dengan penampilan yang amat mirip dengan Arselyne, dan orang yang tidak mengenalnya bisa mencurigainya sebagai kembaran Arselyne, padahal bukan.
"Nana!! Lala merindukan Nana!!"
Ia memandang Arana dengan sepasang manik biru yang berbinar dan tanpa banyak peringatan menerjang Arana dengan pelukan yang membuat Arana hampir terjungkal kebelakang bilamana Amber tidak membantunya menjaga keseimbangan. Arana tidak bisa bereaksi sampai ketika wajahnya menjadi korban kecupan si pirang.
"Cella, hentikan!"
Arselyne menarik kerah baju gadis itu dan mendorongnya menjauh dari Arana yang segera disembunyikan oleh Amber dibelakangnya. Penampilan Arana kini benar-benar lucu, dengan wajah linglung dan seluruh wajahnya yang ternoda oleh lipstik merah dan jejak bibir yang tebal. Amber menatapnya sekilas dan tidak bisa menahan membatin.
"Kebiasaan sekali."
__ADS_1
Cella mencoba mendekati Arana lagi, namun dihentikan dengan satu tangan oleh Arselyne. Merasa tidak bisa melawan Arselyne dalam segi kekuatan, Cella memandang penuh ketidakpuasan pada Arselyne dan mencubit lengannya yang kokoh. "Dasar anak tidak sopan! Menyentuh kepala ibumu seperti ini, apa kamu tidak takut dikutuk menjadi domba?!"
"Oh, takut sekali." Cibir Arselyne membuat Cella semakin meradang. "Oh! Lepaskan aku! Aku mau memeluk kesayanganku lagi! Biarkan aku memeluk Nana, kamu anak nakal lepaskan!"
Arselyne alami memutar bola matanya malas dan dengan tenang berteriak lantang. "Papa, bawa masuk istrimu atau aku akan menguncinya diluar malam ini!"
Mendengar itu, Cella mengembungkan kedua pipinya, dan wajahnya yang nampak seperti anak remaja semakin terlihat menggemaskan. Benar-benar tidak bisa dipercaya bahwa dia sudah memiliki seorang putra yang sudah belasan tahun usianya. Orang-orang bahkan menganggap mereka sebagai saudara kembar, bagaimana mereka bisa sampai pada kesimpulan bahwa dia adalah Ibunya jika melihat penampilannya.
Tidak berselang lama, seorang pria melangkah keluar. Penampilannya tampan, dan aura disekitarnya lembut dan membuat orang nyaman. Ia memandang sang istri yang ditahan menggunakan sebelah tangan oleh putranya dan dua orang lagi yang ada dibelakang putranya. Senyumnya tersungging memandang keduanya.
"Amber, Arana, selamat datang."
"Halo, paman! Kami berkunjung!" Sapa Amber semangat, mengabaikan Cella yang masih mencoba meraih Arana. Dan melangkah menuju pria itu, menempelkan kedua pipi mereka bergantian.
Arana melakukan hal yang sama dengan Amber. "Paman Jack. Lama tidak berjumpa."
"Bagaimana kabarmu, nak? Sudah lama sekali kamu tidak main. Cella benar-benar menggila sejak dia mendengar bahwa kamu datang." Ungkap Jack sembari melepaskan rangkulan singkat mereka.
"Aku baik, paman. Memang cukup sibuk dengan urusan lain sekarang."
Arana tadi linglung selama beberapa waktu karena hampir lupa dengan tindakan antimainstream yang sering dilakukan oleh Cella ketika dia berkunjung kesana. Ia melihat Cella memerah dan dengan heboh menjerit. "Kyaa! Nana akhirnya berbicara pada Cece!"
"Nana, Cece sangat merindukan Nana. Nana kenapa tidak pernah main lagi kesini? Cukup anak nakal dan anak berandal ini yang tidak pernah mengunjungiku, tapi Nana jangan!"
Arselyne yang mendapat kartu anak nakal dan Amber yang mendapat kartu anak berandal sejak lama hanya mundur kebelakang dan memutar bola mata mereka hampir bersamaan. Predikat apapun itu, tidak ada pengaruhnya juga buat mereka.
"Sudah, sudah. Sayang, ajak mereka masuk."
Cella dengan senang hati merangkul lengan Arana dan membawanya masuk mengikuti langkah Jack sembari menutup pintu, mengabaikan Amber dan Arselyne yang tertinggal didepan pintu yang tertutup didepan wajah mereka. Tidak ada ekspresi dikedua wajah mereka, dan Arselyne dengan tenang berucap. "Entah siapa yang anaknya."
"Heh, kamu mungkin ditemukan dibawah pohon." Ledek Amber membuat Arselyne mendengus.
...***...
Didalam ruang utama, Arana, Amber dan Arselyne duduk berhadap-hadapan. Ada keheningan selama beberapa waktu, sampai Arana menarik napasnya panjang.
__ADS_1
"Aku tidak akan menceraikan Alva." Putusnya setelah banyak waktu ia berpikir.
"Kenapa?" Tanya Arselyne begitu Arana selesai berucap.
"Pada awalnya, aku tidak berpikir bahwa aku akan baik-baik saja menikah dengan orang asing, namun aku tidak pernah berharap bahwa suatu ketika, aku akan memiliki perasaan ini kepada seseorang yang baru kutemui selama beberapa bulan. Aku tahu itu tidak masuk akal, namun aku tidak bisa menceraikannya karena aku mencintainya."
Untuk beberapa waktu, baik Arselyne maupun Amber terkejut mendengar penuturan Arana, dan keduanya memiliki ekspresi yang berbeda. Amber adalah yang pertama kali berbicara, dan dia mencubit titik paling sensitif dalam pembicaraan ini.
"Tapi dia tidak tahu bahwa kamu adalah Arana. Nana, yang dia suka adalah Alana." Suaranya memang tidak begitu keras, namun Arana dapat mendengarnya dengan jelas. Arana mengepalkan tangannya, dan kepalanya menunduk. Ia memejamkan matanya sesaat untuk mengendalikan emosinya, dan lambat laun menarik napas sebelum mengangguk.
"Aku tahu, Amber. Tapi hatiku tidak bisa berbohong, dan aku menyukainya. Aku mencintainya dan aku ingin bersamanya." Ia lanjut berkata, "Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan selamanya bisa bersama dengan Alva. Jika suatu saat dia tahu identitasku yang sebenarnya, aku tahu bahwa aku tidak akan bisa lagi menampilkan wajahku didepannya."
"Aku tidak akan menceraikannya, sampai suatu saat nanti, tiba waktunya aku untuk pergi. Maka dengan kakiku sendiri, aku akan kembali kesini." Final Arana.
Ia sudah yakin dengan keputusannya, maka dari itu ia membuka bibirnya. "Maafkan aku, Ly. Kamu berhak marah, kamu berhak mengataiku, kamu berhak membenciku, tapi aku tetap akan teguh dengan keputusanku."
Tidak ada balasan dari Arselyne selama beberapa waktu sebelum pada akhirnya pemuda itu menarik punggungnya dari sandaran sofa dan meraih tangan Arana. Arana mendongak, memandang wajah tersenyum Arselyne dan pada akhirnya tidak bisa menahan air mata yang menggenang dikedua pelupuk matanya ketika mendengar nasihat Arselyne.
"Aku minta maaf untuk sikap keras kepalaku beberapa hari ini. Aku sudah memikirkannya dengan matang-matang dan aku menyadari bahwa ini memang bukan kesalahanmu. Aku sadar bahwa kamu peduli padaku sehingga tidak memberitahuku, begitupun yang dilakukan Amber."
"Na, jika kamu benar-benar mencintainya, tidak apa. Ikuti kata hatimu. Hati tidak akan pernah bisa berbohong, tapi sesakit apapun itu, semenyedihkan apapun itu, ketika kamu harus pergi, kamu harus melakukannya. Ketika saat itu tiba, ingat bahwa aku dan Amber akan selalu ada disampingmu, menunggumu dan akan selalu membantumu." Tutur Arselyne dengan lembut.
"Hiks ... Lily!"
Isak tangis Arana terdengar. Gadis itu dengan cepat menghambur memeluk Arselyne, disusul Amber yang memeluknya dari belakang. Suasana haru dan harmonis tercipta, dan Cella yang mengintip diruangan sebelah tidak bisa menahan air matanya, sedih dan bahagia secara bersamaan. Dibelakangnya, Jack memandang istrinya dan tidak bisa menahan untuk menggelengkan kepalanya dengan geli. "Honey, sudah, jangan mengintip mereka. Beri mereka privasi."
Cella menoleh, memandang tajam Jack dengan tatapan tajamnya yang tidak bisa dibantah.
"Jangan menggangguku saat aku sedang melihat bayi kesayanganku! Oh, Nana yang malang! Lihat saja Lidia dan Michael, sialan! Aku akan menghajar mereka jika aku sampai bertemu dengan mereka." Ancamnya dengan penuh dendam.
"Oh, honey, hentikan."
"Diam!"
__ADS_1