
Brak!
Suara bantingan pintu membuat Arana yang tengah berkutat dengan kompresan didapur membuatnya menoleh dan memandang bingung Amber. Gadis itu memasang wajah kusut, bahkan baju putih yang digunakannya ternoda oleh warna biru dan coklat yang kontras.
"Amber? Apa yang terjadi? " Arana bertanya karena khawatir kepada Amber. Walaupun sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena kehebatan gadis itu dalam bela diri.
Amber memasang wajah cemberut, memandang Arana dan mendudukkan dirinya di lantai sembari menangis. "Aku kesal, Ana! Aku sangat kesal! Huaa!! "
Arana sedikit mengangkat alisnya, tidak terkejut akan tindakan Amber yang sebenarnya terlihat sangat kekanakan. Sejak dulu, jika Amber kesal pada sesuatu dan tidak bisa menyelesaikannya, gadis itu mengalihkan kekesalannya pada tangisan. Tentu saja tidak melupakan sumpah serapah dan gunjingan yang meluncur indah dari bibir tipisnya.
Amber dulu pernah menangis selama berjam-jam hanya karena senior disekolahnya membuat masalah padanya, yang sayangnya pada saat itu Amber tidak bisa membalasnya karena ada disekolah. Kemudian, berakhirlah gadis itu uring-uringan di apartemen Arana, menangis seperti anak kecil yang permennya dicuri darinya.
Arana menggeleng, menepis ingatannya dan berjongkok disebelah Amber yang masih menangis. "Huaaa!! Sangat menyebalkan! Sialan, seharusnya aku menendang burungnya agar dia jadi impoten! "
"Hiks! Benar-benar tidak sopan!! "
Arana menyangga wajahnya dengan kedua tangannya. Dengan tenang mendengarkan ocehan Amber. Beruntungnya kamar Alva ada diatas, dan cukup kedap suara sehingga suara Amber tidak akan mengganggu Alva yang sudah terlelap setelah meminum obat darinya.
Memberikan selembar tissue kepada Amber yang mulai tenang, Arana membuka bibirnya. "Apa yang terjadi? Seseorang mengganggumu? "
__ADS_1
Amber mengangguk seperti mematuk ayam. "Pemuda itu sungguh menyebalkan! "
"Karena hari ini panas, aku mampir ke sebuah toko es krim. Kamu tahu aku sangat suka dengan posisi dimana aku bisa melihat pemandangan yang ada diluar jendela. Aku sudah menarik kursi, dan masalahnya, seseorang menarik kursi diseberang kursi yang kutarik. Awalnya aku tidak masalah dan berniat menawarinya untuk duduk bersama saja jika dia tidak keberatan, namun belum aku membuka suaraku, dia menghinaku sebagai anak kecil, Na! "
"Dia bertanya kepadaku dimana ayah dan ibuku, mengapa anak kecil sepertiku berkeliaran sendirian. Bukankah dia keterlaluan?! "
Sebenarnya, pemuda itu juga tidak salah mengira Amber sebagai anak kecil. Karena gaya pakaiannya yang terkesan childish dan juga karena tinggi badannya yang lebih pendek setengah kepala darinya, Di Melbourne, saat keduanya pergi cukup jauh dari lingkungan dimana orang-orang mengenal Arana dan Amber, mereka akan mengira bahwa Arana dan Amber adalah kakak beradik. Dengan Arana sebagai kakak dan Amber sebagai adiknya.
Arana memikirkan lebih detail lagi.
Amber tidak suka dianggap sebagai anak-anak. Namun, gaya pakaiannya selalu terkesan childis. Hmm, Arana berpikir dengan cermat dan akhirnya menarik kesimpulan.
Jika Amber mengetahui apa yang dipikirkan Arana sekarang, sudah dipastikan bahwa gadis itu akan mengamuk dan mendiamkannya selama satu minggu penuh.
"Karena aku marah, aku langsung memarahinya. Dia bahkan bisa saja lebih muda dariku, namun dia berani memanggilku bocah! Jadi aku berdebat padanya, bahkan sampai menunjukkan kartu pengenalku. Masalahnya lagi, dia bahkan tidak percaya dan menuduhku sebagai penipu. Dia bahkan menghubungi polisi! " Cerita Amber menggebu-gebu.
Oh, ini juga salah pemuda itu karena tidak mendengarkan dengan baik saat orang berbicara dan justru berburuk sangka.
"Karena aku terkejut, aku otomatis merebut ponselnya. Tapi ponselnya terlepas dari tanganku dan aku juga tidak sengaja menabrak meja disebelahku. Lihat! Es krim tumpah dibajuku." Kesal Amber.
__ADS_1
Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel yang Arana yakini bukan milik Amber. Ponsel itu berwarna biru gelap. Dan keadaannya benar-benar parah. Patah menjadi dua bagian. "Dia meminta ponselnya kembali dengan utuh, bukan ponsel baru ataupun uang. Sebagai jaminan, dia mengambil ponselku dan menyuruhku menghubunginya saat ponselnya sudah benar. Saat itu, jika saja aku tidak ada di keramaian, aku akan menenggelamkannya kedalam sungai! Memangnya ponsel yang patah menjadi dua seperti ini bisa diperbaiki?! Beli saja yang baru dan pindahkan kartunnya! "
Arana menyunggingkan senyuman dan terkekeh kecil. "Aku akan mencoba membujuk pemuda itu untuk membiarkan masalah ini berlalu. Akan lebih baik jika dia mau menerima uang daripada ponsel, jadi dia bisa memilih sendiri ponsel yang dia inginkan. Atau jika tidak, kamu benar-benar harus mencari ponsel yang sama seperti yang sebelumnya dia miliki untuk menunjukkan kesopananmu."
Amber meraih tangan Arana. "Nana! Kamu benar-benar pahlawanku! "
Arana memutar bola matanya malas. Meraih tangannya dan mengambil ponselnya sendiri untuk menghubuni nomor telepon Amber.
Dialling berbunyi selama beberapa sesaat, namun diabaikan hingga mati. Arana berpikir, dan pemuda itu cukup sopan untuk tidak menjawab panggilan yang bukan seharusnya miliknya tanpa seizin pemilik ponsel.
Arana tak kehilangan akal. Dia mengirim pesan karena tahu ponsel Amber selalu menampilkan pop-up chat bahkan saat layarnya terkunci.
[Saya adalah teman pemilik ponsel yang anda bawa saat ini. Bisa tolong angkat panggilan teleponnya?]
Tidak ada balasan, dan Arana tidak mengharapkan balasan. Dis menekan kembali tombol diall dan menunggu pihak lain mengangkat panggilan suara itu. Arana menunggu selama dua detik sebelum panggilan tersambung. Ia segera berkata, "Halo? Maaf mengganggu, saya Ana. Saya adalah teman dari gadis yang sudah merusakkan ponsel anda ditoko es krim tadi."
Tidak ada jawaban yang keluar selama beberapa waktu, sebelum suara seseorang diseberang sana membuat manik Arana melebar.
[Alana?]
__ADS_1