
Ketika Arana melangkah memasuki perusahaan Alva, beberapa pasang mata memandangnya dan beberapa yang berpapasan dengannya dengan hormat menyapanya. Bukan berarti mereka yang tidak mneyapa tidak menghormati Arana, namun bahkan Arana sendiri tidak mengharapkan dirinya akan disapa, dan ia berharap mereka bekerja dengan tenang tanpa memperdulikan kehadirannya. Jika mereka kebetulan berpapasan dengannya dan menyapanya, tentu Arana juga tidak akan sombong dan akan menyapa mereka.
"Selamat malam, nyonya."
Arana mengangguk dan tersenyum kecil. "Selamat malam."
Melangkah memasuki lift yang biasanya khusus digunakan oleh Alva dan para petinggi, Arana menekan tombol paling atas. Arana memang sudah mendapatkan akses dari lift itu sebab Alva menyuruhnya menggunakan lift khusus itu, karena statusnya. Bukan berarti Alva tidak pernah menggunakan lift lain, hanya saja lift khusus itu memberikan kenyamanan lebih karena tidak perlu berdesakan dengan orang lain yang juga harus menggunakan lift. Juga, tidak perlu mengantri. Meski lift dikantor itu banyak, namun penghuni perusahaan itu lebih banyak, lift memang sibuk.
Menekan tombol lift paling atas, Arana dengan tenang menunggu sembari meihat anak panah lift yang bergeser. Ketika pintu terbuka dan suara berdenting sebelumnya, Arana melangkah keluar untuk berjalan menuju ujung koridor, yang merupakan ruangan Alva berada diantara ruangan-ruangan yang tidak diketahui olehnya.
Sebelum mencapai pintu, pintu terlebih dahulu dibuka dan seseorang keluar yang membuat Arana dengan ringan menyapanya.
"Lan, baru menemui Alva? Apa ada seseorang didalam?"
Mendengar suara Arana, Erlan menoleh dan menggeleng setelah mendengar pertanyaan Arana selanjutnya. "Tidak, aku hanya mengirim beberapa file."
Melirik bungkusan ditangan Arana, Erlan bertanya, "Membawakan makan malam untuk Alva?"
Arana menganggukkan kepalanya. "Alva bilang dia akan lembur, jadi aku membawakannya makan malam. Ini sudah hampir jam makan malam, makanlah bersama kami, Lan."
Erlan dengan sopan menolak tawaran Arana. "Terima kasih, tapi sebelumnya aku sudah ada janji makan bersama dengan seseorang."
Mendengar jawaban Erlan tidak membuat Arana kecewa. Ia dengan senyuman berkata, "Baiklah kalau begitu. Lain kesempatan, cobalah untuk mampir ke apartemen kami. Aku akan membuatkan makan malam yang lezat, sekaligus sebagai ucapan terimakasih karena sudah banyak membantuku selama ini."
Erlan menganggukkan kepalanya. "Aku menantikannya. Masuklah, Alva pasti sudah menunggumu."
Arana dengan ringan menganggukkan kepalanya. "Selamat bekerja!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Arana membuka pintu, melangkah masuk dan menutup pintu. Meninggalkan Erlan yang menggelengkan kepalanya ringan, benar-benar merasa bahwa Arana seperti adik kecil yang menggemaskan.
"Jika itu Alana yang asli, aku bahkan tidak ingin berada didekatnya semenit saja."
...***...
Menutup pintu, Arana menoleh dan tersenyum kearah Alva yang tengah fokus pada kertas-kertas ditangannya. Tanpa melihat keatas, Alva dengan tenang berkata, "Aku sudah memeriksa berkas yang baru saja kau berikan. Tolong beritahu kepada Dana untuk mengevaluasi pada bagian tim pemasaran. Kinerja mereka menurun, jika tidak ada hasil selama satu bulan kedepan, aku akan mengganti tim dengan yang baru."
Erlan sudah terbiasa dengan sikap Alva, dan terkadang dia tidak membalas apapun dan kemudian pergi. Alva pun jadi paham bagaimana sikap Erlan, namun tidak mendengar suara pintu terbuka, Alva bertanya kembali, "Apa lagi yang kau butuhkan?"
Ada suara manis yang membuat Alva mendongak dengan cepat. "Aku butuh pelukan suamiku~"
"Sayang? Kamu sudah tiba?"
Menyadari bahwa yang sejak tadi berdiri didekatnya adalah Arana membuat Alva merasa malu. Ia dengan cepat berdiri, menyambut Arana kedalam pelukannya ketika Arana menjawab, "Belum lama. Aku bahkan sempat berpapasan dengan Erlan tadi."
"Aku membawakanmu makan malam, sayang sekali Erlan tidak bisa makan bersama karena sudah ada janji dengan orang lain." Kata Arana.
Alva mengeratkan pelukannya pada Arana dan meletakkan dagunya dibahunya dengan ringan. "Berat sekali. Pekerjaanku sangat banyak sampai aku pusing."
Bagaimanapun, sebagai seorang CEO dari sebuah perusahaan besar yang menjadi perusahaan terbesar didunia membuat Alva memiliki segudang pekerjaan. Tidak hanya terbatas pada pekerjaan ringan, namun Alva memegang kendali penuh atas pemeriksaan dan pengawasan. Jadi bukan berarti bahwa dirinya adalah seorang CEO dia bisa terbebas dari pekerjaan dan melimpahkan segala pekerjaannya kepada anak buahnya. Itu salah besar.
Mengusap punggung Alva, Arana melirik Alva dari sudut matanya dan dengan ringan berkata, "Semangatlah sayang~ Kamu kerja untuk menghidupiku, lho~"
Alva mengangguk. "Tentu saja. Itu adalah kewajibanku untuk membahagiakan istriku yang super menggemaskan ini."
Arana dengan tenang membiarkan Alva memeluknya dan membiarkannya beristirahat selama beberapa waktu setelah cukup bekerja. Arana tahu bahwa pekerjaan Alva tidak sedikit dan dia pasti kelelahan, makanya, Arana dengan sadar diri membawakan Alva makan malamnya dan mengelus punggungnya dengan sayang, mencoba memberikannya semangat meskipun Arana tahu bahwa Alva bukan seseorang yang lemah.
__ADS_1
"Sudah ya, sayang. Kamu harus makan." Kata Arana mengingatkan Alva agar tidak melupakan makannya dan tidak hanya berpelukan lebih dari sepuluh menit.
Alva dengan enggan melepaskan pelukannya dari Arana dan mengajaknya untuk duduk disofa. Jam menunjukan pukul delapan yang mana sudah lebih beberapa waktu dari jam makan malam. Duduk bersebelahan, Arana membuka kotak makanan yang dibeliknya, untuk segera mengungkap nasi putih yang masih hangat. Dua kotak lainnya berisi ayam lada hitam dan dikotak lainnya terdapat dua cumi berukuran sedang yang dimasak dengan cara dibakar. Aromanya menyebar keseluruh ruangan, harum dan menggugah selera.
Arana juga membeli salad buah dan salad sayur sebagai pendamping makanan berat tersebut.
"Selamat makan!"
Menyuap, Alva langsung merasakan efeknya. Perutnya semakin memberontak untuk diisi dan diisi kembali. Menyuap beberapa kali lagi, Alva pada akhirnya menyadari bahwa hanya dirinya yang makan dan Arana memandangnya dengan penuh perhatian dan senyuman. Alva membalas tatapannya dan tersenyum. "Sayang, mengapa kamu hanya melihatku dan tidak makan? Makanlah juga."
Arana tersenyum semakin lebar. "Melihatmu makan dengan baik membuatku senang."
"Kenapa kamu senang?" tanya Alva.
Arana menggeleng. "Tidak tahu. Hanya merasa senang saja. Kamu makan dengan banyak berarti kamu akan sehat dan tidak akan sakit. Lagipula, melihat kamu makan membuatku kenyang entah mengapa. Aku baru mengerti saat kamu mengatakan kamu kenyang ketika melihatku makan."
"Sayang, aku sedang makan. Jangan menggodaku, atau aku akan memakanmu juga." Ancam Alva dengan senyuman yang bertengger diwajah bahagianya.
Arana yang mendengarnya hanya terkekeh sebelum dengan tenang menyandarkan kepalanya disandaran sofa dan memandang Alva lebih lembut. "Lanjutkan makanmu, Al. Makanannya nanti dingin jika tidak segera kamu habiskan."
"Baik sayangku~"
Melihat Alva makan dengan senang, Arana lagi-lagi tidak bisa menahan senyumannya. Bertopang tangan, Arana memperhatikan setiap detail wajah Alva. Memperhatikannya dengan baik dan menyimpannya didalam hatinya. Alva yang baik, Alva yang perhatian, Alva yang sempurna.
"Al." Panggilnya lirih. Entah mengapa, suaranya tiba-tiba menjadi serak penuh dengan emosi.
"Mn?" Gumam Alva disela kunyahannya.
__ADS_1
Arana memejamkan matanya dan berbisik, "Bisakah aku memilikimu selamanya?"