My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 18: Amber Plan


__ADS_3

Alva sedang berbicara dengan Arana ketika dia tiba-tiba merasakan tatapan tajam dan panas dari sebelahnya. Tidak perlu menoleh atau melirik untuk menemukan bahwa Amber-lah pelaku penatap itu. Alva menyadari ketidaksopanannya dan menggulung senyuman sambil menatap Amber dan Arana bergantian. "Aku akan mengapa tamu yang lainnya."


Arana mengangguk.


"Amber, silakan nikmati pestanya." Setelahnya, Alva berlalu meninggalkan keduanya disudut balroom. Berdiri disamping meja minuman dan kue manis yang menggemaskan dan nampak sangat cocok untuk dijadikan objek foto bagi para selebgram atau semacamnya.


Oh, bahkan dia tidak menunggu balasan Amber.


Amber segera menatap Arana dan melotot. "Ini gila Arana. Jangan bilang kamu benar-benar akan membiarkan pria itu mengambil kesucianmu? Meskipun dia suamimu, setahu dirinya, kamu adalah Alana."


Arana melebarkan matanya dan tiba-tiba menyadari apa hal yang membuat perasaannya tidak nyaman bahkan sebelum pernikahan dilangsungkan. Sial, bagaimana Arana bisa melupakan masalah sebesar ini?


"Amber, aku, aku tidak ingin melakukannya! Aku masih ingin menjaga malam pertamaku untuk orang yang kucinta!"


Arana mungkin akan menangis, benar-benar merutuki kelalaiannya dengan masalah masa depan seperti ini. Arana adalah gadis yang berprinsip. Dia hanya boleh memberikan kehormatannya kepada pria yang dia cintai, dan yang sudah menjadi suaminya. Alva adalah suaminya, namun dia tidak mencintainya. Lagipula, pernikahan ini palsu. Jika Alva sampai tahu bahwa dia bukanlah gadis yang dia cintai, entah bagaimana kedepannya!

__ADS_1


Arana memegang lengan Amber dan merengek. "Amber, bagaimana ini?"


Amber diam selama beberapa waktu. Keningnya berkerut, menggambarkan betapa kerasnya dia berpikir, sebelum dia menjentikkan jarinya mendapatkan sebuah ide. "Aku tahu. Dengarkan aku. Kamu hanya perlu menghindarinya setiap kali dia mencoba melakukan itu."


"Tepat di malam pertama nanti, kamu bisa mengatakan jika kamu lelah dan ingin langsung beristirahat. Dia akan setuju karena kalian berdua pasti memang akan sangat kelelahan setelah pesta ini. Kemudian, dua hari kemudian, katakan kamu sedang mengalami menstruasi. Selama 2 minggu, kamu pasti akan baik-baik saja!" Amber menawarkan ide cemerlang, namun Arana segera bertanya.


"Kemudian bagaimana selanjutnya?" Tanyanya.


Amber memutar otaknya. "Begini Arana, mari berpikir positif. Sepertinya Alva bukanlah tipe orang yang tampak sangat ingin melakukan hal-hal seperti itu. Dengan pekerjaannya, dia mungkin akan menghabiskan lebih banyak waktu di perusahaannya daripada dirumah. Jadi, intinya kamu hanya harus menghindari malam pertamamu. Aku serius, jika dia bahkan tidak percaya, pakailah pembalut!"


"Masalah bulan madu, bagaimana aku harus memberimu saran? Intinya katakan saja kamu lelah!" Kata Amber.


Arana berharap, Alva benar-benar sibuk!


...***...

__ADS_1


Arana masih mengobrol dengan Amber kala merasakan perasaan tidak nyaman dibenaknya. Seakan dia ditatap dengan intens. Manik Arana mengedar, hanya untuk menemukan orang-orang nampak mengobrol dengan ringan dan nampak santai. Tidak ada yang menatapnya, dan Arana sedikit tersesat saat berpikir itu mungkin hanya perasaannya saja.


"Hei, Na. Ada apa?" Pertanyaan itu membuat Arana menoleh, menatap Amber yang melihat dengan kebingungan sebelum menggelengkan kepalanya.


"Ah, tidak. Bukan apa-apa."


Tapi tidak. Rasa penasaran itu semakin besar. Arana melirik sekeliling, dan pada akhirnya berhenti. Sepasang manik itu menatap sudut balroom. Ada seseorang disana, yang balas menatapnya. Sepasang manik gelap itu beradu dengan manik hazelnut miliknya. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan keduanya, namun begitu Arana bereaksi, orang itu berbalik dan pergi. Meninggalkan balroom dan Arana yang kebingungan. Bertanya-tanya mengapa orang itu menatapnya.


"Ada apa sih, Na?" Tanya Amber.


Arana menggelengkan kepalanya sekali lagi. "Tidak, sepertinya aku tadi melihat seseorang yang mirip dengan Lily."


Amber tertawa, "Bagaimana mungkin? Saat ini dia ada di Sydney, berkutat dengan rumus-rumus menjengkelkan kesukaannya."


"Iya, itu hanya perasaanku." Lebih baik mengatakan seperti itu daripada Amber cemas.

__ADS_1


Arana tersenyum. Dia mengangkat gelasnya, menyesap cairan manis didalamnya. Sepasang manik itu sedikit naik, memandang keatas ketika sepasang maniknya melebar seketika.



__ADS_2