
"Terimakasih! Makanannya lezat sekali." Ucap Arana tanpa sadar. Kebiasaannya sejak kecil untuk selalu mengucapkan terimakasih setelah menikmati makanan membuatnya selalu tidak ketinggalan untuk berkata demikian ketika perutnya terisi.
Alva menoleh dan menyunggingkan senyuman. "Sudah kenyang? Apa makanannya sesuai dengan lidahmu?"
Arana mengangguk, tidak menyembunyikan kepuasannya akan makanan lezat yang baru saja dia nikmati. Bagaimanapun,dengan keadaannya dulu, memikirkan untuk menikmati makanan lezat sekelas restoran bintang 5 itu hampir tidak memiliki keinginan seperti itu. Memandang piring kotor yang baru saja dia gunakan, Arana memiliki keraguan yang jelas. Apakah dia harus mencuci piringnya? Tapi, Alana tidak pernah melakukan pekerjaan seperti ini. Alana mengatakan dengan jelas, bahwa kulitnya sensitif dengan sabun, dan bahkan sabun mandinya adalah sabun pilihan dokter kulit. Arana berkutat dengan keraguannya selama setengah menit, sebelum suara hatinya membisikkan kepadanya untuk membersihkan apa yang sudah dia buat menjadi kotor.
Arana melirik kearah Alva yang tengah menggunakan earphones dan nampak berbincang dengan seseorang. Gadis itu bergegas meraih piringnya dan melangkah menuju wastafel. Ia menyalakan keran dan mengguyur piring dibawah air mengakimengambil spons bersabun dan dengan gerakan kilat mencuci piring. Sebelum membilasnya dan meletakkannya diatas rak.
Menoleh kebelakang, Arana melihat Alva masih berkutat dengan ponselnya, dan gadis itu menghela nafas lega. Mengeringkan tangannya, dia melangkah kembali ke kamarnya setelah memastikan Alva benar-benar masih sibuk.
Dia butuh istirahat.
Apa yang tidak dia sadari adalah, tepat ketika dia melangkah naik, Alva menoleh. Menatap meja makan, tanpa kata.
...***...
Arana belum bisa tidur ketika dia merasakan tempat tidur berderit setengah jam kemudian setelah dia makan. Dia berbaring membelakangi Alva yang baru saja mengambil sebagian tempat tidur dan selimut. Jantung Arana berdetak lebih cepat. Antara gugup, cemas dan malu, semuanya tercampur aduk. Arana belum pernah sedekat ini dengan laki-laki yang bahkan baru dikenalnya beberapa waktu.
Ketika sepasang lengan kokoh melingkari pinggangnya, tubuh Arana menegang. Namun dia berusaha untuk tetap tenang dan menjaga citra orang tidur yang sedang dilakoninya saat ini.
Arana mengatur nafasnya sealami dan setenang mungkin. Membiarkan Alva menyalurkan kehangatan dari sepasang tangan kokoh yang memeluk lembut. Benar-benar membawa perasaan nyaman dan hangat, namun mengingat bahwa pernah ini palsu, Arana merasa sangat bersalah kepada Alva. Oh, bagaimanapun, dia bukanlah seseorang yang dicintai Alva. Jika sampai Alva tahu bahwa dirinya adalah orang lain, Arana khawatir Alva akan langsung mengusirnya, Arana yakin. Jika bukan karena informasi dari Alana, Arana yakin dirinya sudah ada dijalanan detik ini.
Oh, tidak. Masih ada Amber.
"Kamu belum tidur?" Pertanyaan yang lebih seperti pernyataan itu membuat batin Arana tersentak. Dia ragu, apakah dia harus berkata tidak atau sudah. Oh tunggu, mana ada orang tidur menjawab sudah saat ditanya apakah sudah tidur atau belum.
"Belum."
__ADS_1
Pada akhirnya, dia berkata belum dengan suara pelan. Tampaknya Alva bertanya karena menyadari bahwa dia belum tidur. Dan Arana merasa bahwa akting tidurnya memang tidak pernah sebaik itu sejak dulu bersama Amber. Jika dia berpura-pura tidur, Amber selalu bisa menebaknya dan berakhir dirinya berhadapan dengan Amber, memainkan permainan kartu dan ToD semalaman saat menginap bersama.
"Tidak bisa tidur?" Suara Alva menggema lembut di pendengarannya. Nafas hangatnya disemburkan kebelakang telinganya, dan membawa dampak signifikan bagi gadis itu. Arana dapat merasakan jantungnya berdetak cepat, dan wajahnya tanpa sadar memerah. Terlalu dekat!
Arana menggeleng dengan wajah menangis, hampir kebingungan untuk mengatakan apa. "Mungkin."
"Ingin mengobrol denganku?" Pertanyaan Alva membuat Arana ragu selama sesaat, sebelum berbalik. Arana rasa, dia juga butuh informasi tentang Alva lebih banyak daripada yang diceritakan Alana. Sesungguhnya, apa yang dikatakan Alana tidak cukuplah membantunya mengetahui apa yang disukai Alva dan kegiatan sehari-harinya. Jadi dia mengangguk, "Mau."
Alva menganyamankan Arana dipelukannya ketika dia menganggukkan kepalanya. "Kamu punya rekomendasi apa yang akan kita obrolkan?"
"Umm, bagaimana tentangmu?"
Alva menaikan alisnya dengan nada bertanya, "Tentangku?"
Arana menganggukkan kepalanya dengan senyuman lebar. "Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu."
Arana sedikit terbatuk mendengar panggilan yang super manis itu. Sebelum membuka bibirnya bertanya. "Saat sarapan, kamu lebih suka makanan berat atau ringan?"
"Em, aku lebih suka makanan ringan." Jawab Alva. "Contohnya?"
"Sosis dan roti?"
Arana menganggukkan kepala paham. American breakfast. Arana juga menyukainya, terutama sosis dengan celupan saus yang sedikit pedas. Itu enak!
Arana kembali membuka bibirnya. "Siapa teman terdekatmu?"
"Erlan tentu saja. Kami sudah lama bersahabat." Ucap Alva membuat Arana terkejut.
__ADS_1
"Oh ya? Kalian bersahabat? Tapi Erlan bekerja menjadi asistenmu, kan?" Arana murni penasaran.
Alva mengangguk. "Kami bersahabat sejak kami masih di sekolah dasar. Ayahnya adalah pemilik rumah sakit besar sementara ibunya juga merupakan dokter. Dia sebenarnya diminta untuk menjadi dokter, tapi dia tidak pernah tertarik pada bidang kesehatan."
Arana menganggukkan kepalanya paham. Dia baru tahu bahwa Erlan adalah sahabat Alva. Alana tidak pernah mengatakannya. Arana sudah duga, informasi Alana tidak lengkap atau bahkan hanya sedikit. Yah, dia hanya tahu tentang Alva saat bersamanya saja. Nampaknya Alana, tidak pernah bertanya dan mengobrol seperti ini bersama dengan Alva.
"Tapi Erlan memang seperti itu, ya? Cuek dan terlihat dingin?" Tanya Arana ditengah rasa penasarannya.
Alva tertawa, "Kamu tahu? Sebenarnya, Erlan itu adalah pelawak ahli saat kamu dekat dengannya."
Arana berkedip. "Benarkah?"
Alva menganggukkan kepalanya. "Satu hari di SMA, dia pernah memamerkan baju hello kitty kesayangannya kepada semua teman sekelas. Dia bahkan membuka baju di tengah lepangan saat dihukum karena terlambat. Saat ditanya alasan kenapa dia terlambat, dia berkata jika dia membantu nenek-nenek dijalanan dan dihadihi ciuman. Bahkan lipstik merah dan bibir keriput itu menempel jelas di pipinya.Semua orang mentertawakannya karena lipstik itu masih ada keesokan harinya."
Arana terbengong, sebelum tertawa. Dia tahu bagaimana rasanya menjadi Erlan.
Saat itu dia berumur tujuh tahun ketika neneknya yang mengenakan lipstik merah menciumnya didahi. Teman-temannya mentertawakannya, dan pada akhirnya dia malu karena bekas ciuman itu. Namun dia tidak malu karena neneknya, dia malu karena lipstik itu bertahan 3 hari di dahinya.
Oh, lipstik nenek-nenek begitu tahan lama.
"Lucu sekali." Tawanya dengan lepas meluncur begitu saja.
Sayangnya dia tidak menyadari, bahwa bibir Alva terdiam menjadi garis lurus. Tatapannya tertuju kepadanya, dengan sepasang manik dingin tanpa sedikitpun kehangatan.
"Bagaimana denganmu, sayang?"
__ADS_1