
Melihat pemandangan didepannya, Arana merasakan rasa tidak suka yang membuncah.
Maniknya memandang tajam Selena yang masih mendekati Alva dengan agresif, sebelum tatapannya jatuh kepada Alva. Alisnya berkerut, menahan rasa kesal ketika mendapati Alva nampak tidak berusaha begitu keras untuk mendorong perempuan itu menjauh.
Arana tidak menyadari betapa tidak sukanya Alva diperlakukan seperti ini. Cengkraman di kerah baju yang dikenakannya terlalu kuat, hingga ia memerlukan kekuatan yang cukup untuk melepaskan kedua tangan Selena tanpa merusak pakaian yang saat ini dikenakannya.
Meskipun tidak masalah bahkan jika bajunya rusak, namun tetap saja Alva tidak ingin menyia-nyiakan penampilannya karena perempuan itu.
"Al! Kami tidak bisa menikahinya! Ceraikan dia!"
Selena menatap Arana dan menunjukknya dengan kejam. "Apa yang kamu lihat darinya?!"
Maniknya tak sengaja memandang kaki Arana dan kursi roda disampingnya. Ia semakin menjadi. "Dia bahkan tidak bisa berjalan! Gadis cacat sepertinya, apa yang bisa kamu banggakan darinya?! Dia bahkan tidak sebanding denganku, Al!"
Alis Alva berkerut tajam. "Tutup mulutmu, Selena. Selama aku masih membiarkanmu, pergilah."
"Bagaimana aku bisa pergi?! Aku masih tidak terima dengan apa yang kamu lakukan padaku! Aku tidak pernah menerima bahwa kita putus. Aku masih menganggap kamu sebagai kekasihku! Aku tidak menerimanya! Tetapi kamu justru menikah dengan gadis itu! Apa kamu lupa bahwa karena dia, The—!"
"Hentikan!!" Sentakan itu membuat perkataan Selena terhenti. Wanita itu memandang Alva dengan pandangan tajam. Namun tatapan tajamnya perlahan runtuh ketika melihat kemarahan disepasang manik Alva.
Selena tahu bahwa pembahasan tentang adik Alva adalah sesuatu yang sensitif baginya. Bagi Alva, Theo adalah adik satu-satunya yang paling dia sayangi didunia. Meskipun sikapnya terlihat dingin dan acuh, namun sebenarnya Alva bisa melakukan apapun untuk Theo, bahkan jika harus menghancurkan hidupnya sendiri.
Bibir Selena berkerut, kedua tangannya terkepal erat disisi tubuhnya. "Keluar dari sini sekarang juga!"
Selena menggeleng dengan keras kepala. "Aku tidak akan keluar sampai kamu memberikan jawaban padaku! Kenapa kamu menikahinya bahkan disaat kamu tidak mencintainya! Kenapa kamu melakukan ini padaku?!"
Kesabaran Arana sudah sampai batasnya. Dia lelah, dia lapar, dan rasa cemburu yang dia sadari seharusnya tidak dimilikinya meledak didalam benanknya. Ia bangkit berdiri, memaksakan dirinya untuk melangkah menuju kearah Alva meskipun rasa sakit menggerogoti kakinya.
"Sayang! Apa yang kamu lakukan? Jangan memaksa untuk berjalan!" Melihat Arana memaksa dirinya berjalan, Alva dengan panik bergerak menuju Arana ketika Selena menahannya. "Lepaskan!"
__ADS_1
Selena menatap tak percaya pada tangannya yang baru saja disentak dengan kasar. Sebelum maniknya melebar ketika Arana tanpa sepatah katapun mengalungkan lengannya ke leher Alva dan menciumnya dengan tegas, tanpa rasa sungkan ataupun rasa malu karena keberadaannya disana.
"Kau!!" Selena memekik, menyadarkan Alva dari keterkejutannya selama beberapa detik lalu.
Sebelum otaknya bisa mencerna, tangannya terlebih dahulu melingkari pinggang Arana dan membalas ciumannya dengan dalam.
Bibir yang saling beradu, menciptakan suara basah yang membuat Selena yang mendengarnya memiliki wajah merah padam. Menahan amarah dalam dirinya ketika melihat Alva yang dia cinta dicium dan bahkan membalas ciuman wanita lain dengan penuh perhatian.
Arana menarik wajahnya, memeluk Alva dan memandang Selena dengan tajam. "Alva bukanlah milikmu. Alva adalah suamiku."
"Sayang~"
Panggilan itu bersamaan dengan Alva yang menjatuhkan kembali ciuman dibibirnya. Pada akhirnya, Selena berbalik, melangkah pergi setelah membanting pintu dan memekik. "Sialan!"
...***...
Tangan Arana meluruh turun, memukul pelan dada bidang Alva, menunjukkan bahwa dirinya sudah tidak tahan akan ciuman tersebut dan ingin mengakhirinya. "Mnn!"
"Kenapa, mn?"
Suara Alva serak karena ciuman, dan maniknya memandang Arana dengan dalam. Hampir dapat menyedotnya kedalam pusaran badai jika saja Arana tidak mengalihkan pandangannya. Bibirnya yang basah melengkung, dan membuat Arana linglung selama beberapa waktu.
Sial, Alva sangat seksi!
"Uhuk! Itu, dia sudah pergi." Ucap Arana.
Tangan Alva masih melingkar di pinggang Arana, bahkan untuk beberapa alasan, Arana merasakan bahwa tangan Alva makin mengencang, dan ia makin menempel dekat dengan tubuh pria itu. Wajah Arana yang sudah memerah akibat ciuman makin memerah. Dan melihat hal itu, Alva makin ingin menggoda istri kecil dipelukannya itu.
Kesempatan yang diciptakan dalam kesempitan seperti tadi jarang terjadi, dan dia tidak bisa meninggalkan kesempatan ini.
__ADS_1
"Lalu?" Ia bertanya sembari mendekati sisi wajah Arana, mengendus pipinya yang halus, membau aroma khas yang manis dari Arana.
Merasakan napas hangat menyapu pipinya, Arana merasa geli dan gatal. Tak hanya diwajahnya, namun sampai ke hatinya. Ia meremat tangannya dan mengerutkan bibirnya, sebelum dengan tegas memandang Alva setelah menarik dan menangkup wajah pria itu.
"Hentikan. Katakan, siapa wanita tadi?"
Melihat sorot ancaman dan tatapan tajam Arana, Alva menyunggingkan senyuman dan menjawab dengan jujur. "Namanya Selena. Kami pernah menjalin hubungan—"
Arana menyela. "Tidak ada kata kami. Aku tidak suka mendengarnya."
Manis sekali.
Alva benar-benar ingin menggigit pipi yang menggembung lucu karena cemburu itu. Ia hanya bisa diam-diam mengeratkan pelukannya dan melanjutkan perkataannya. "Baik, baik. Aku dan dia pernah menjalin hubungan saat aku dan dia berada di SMA. Tapi karena dia berselingkuh, aku memutuskannya. Tapi dia tidak pernah menerima fakta bahwa aku memutuskan dia dan dia bertingkah seolah dia adalah kekasihku sampai saat ini."
"Dia selingkuh darimu?!" Arana berkata dengan penuh kejutan.
"Iya. Kenapa memangnya?" Tanya Alva bingung dengan respon Arana yang nampak begitu terkejut dengan jawabannya.
Arana menggeleng. Namun dalam hati tidak bisa menahan untuk mengatai Selena buta dan agak bodoh.
Alva adalah pria yang tampan, kaya dan hampir mendekati kata sempurna. Terlepas dari apakah Alva kaya atau tampan, Arana menyukai Alva karena kebaikannya. Ketulusannya dan perlakuan kecil yang bahkan diperhatikan oleh Alva. Bahkan seperti saat ini, mengetahui bahwa kakinya sakit, Alva menahan tubuhnya agar tidak membebani kakinya, dan bahkan diam-diam melirik ke arah kakinya.
Bagaimana Arana tidak jatuh pada Alva, ketika dia sendiri adalah seseorang yang mendambakan kasih sayang dan perhatian?
"Kau dan dia menjalin hubungan, pasti antara kau dan dia memiliki perasaan yang sama. Apakah kamu masih menyukainya? Bahkan jika itu hanya sedikit?" Tanya Arana membuat senyuman diwajah Alva sedikit berkurang. Ia memandang Arana yang menatapnya dengan serius. Tidak ada keraguan disepasang manik Alva, dan ketika dia membuka bibirnya, nafas Arana diam-diam terhenti sejenak.
"Aku masih menyukainya."
__ADS_1