My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 76: How Destiny Made Them Meet


__ADS_3

Memandang Alva yang memasuki dan pergi menggunakan mobil pribadinya, Arselyne didalam mobil diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun, sebelum menoleh pada Amber yang cemas hingga berkeringat didahinya.


"I have obeyed to wait for him to leave. Now, don't hold me back || Aku sudah menurut untuk menunggunya pergi. Sekarang, jangan menahanku." Katanya membuat Amber menggelengkan kepalanya pelan.


Toh, dia memang tidak bisa melakukannya.


Dia hanya bisa membantu Arana agar Arselyne tidak menghadang Alva dan atau identitas Arana akan terbongkar begitu saja. Tadi malam ia telah berkirim pesan dengan Arana, dan gadis itu mengatakan bahwa Arselyne tidak membalas atau membaca pesannya satupun. Amber tahu bahwa dia dan Arana bersalah karena menyembunyikan hal sebesar ini dari Arselyne, namun Amber menyadari bahwa Arana tidak bisa berbuat banyak dalam keadaannya.


Arana terpojok oleh orangtuanya, dan kekhawatiran dimana Arselyne memiliki urusan yang menyangkut masa depannya, impiannya.


Amber melangkah dibelakang Arselyne. Punggungnya lebar, nampak kuat dan hangat. Dulu, Arselyne adalah yang paling pendek diantara mereka, namun sekarang Arana hanya sebatas telinganya, dan dia sebatas bahunya. Amber memandangnya dan tidak bisa tidak membatin dengan senyuman dibibirnya.


"Now we are not little kids anymore. Arana, your role as parent between us might be replaced in a moment, humph || Sekarang kami sudah bukan anak kecil lagi. Arana, peranmu sebagai orangtua diantara kami mungkin akan digantikan sebentar lagi, humph!"


...***...


11 tahun yang lalu, Melbourne


"Auntie, today Amber will play with Arse, in the garden. OK, right? || Tante, hari ini Amber akan bermain dengan Arse, ditaman. Boleh, kan?"


Gadis cilik itu mengenakan dress bunga yang menggemaskan. Rambut panjang sepinggangnya dibiarkan terikat dengan gaya ponytail yang menambah tingkat kelucuan dan kemanisan yang dia miliki. Bibirnya yang berwarna merah muda alami menyunggingkan senyuman lebar hingga menampilkan dua gigi depannya yang hilang.


Wanita bersurai pirang yang tengah menyiram bunga didepan rumah besarnya menoleh, menganggukkan kepalanya. "Yes, Amber. But remember not to play until evening or to tears. Understand? || Boleh, Amber. Tapi ingat untuk tidak bermain sampai sore atau sampai menangis. Mengerti?"


Amber mengangkat tangan kanannya, menempelkannya di dahinya dan membentuk gerakan memberi hormat yang tidak sempurna. "Ayay!"


Amber melangkahkan kaki kecilnya untuk bergerak riang mencari Arselyne yang seharusnya masih ada di kamarnya. Dan benar saja, ketika Amber membuka pintu dengan sedikit usaha, anak laki-laki bersurai pirang itu tengah menunduk untuk membaca sebuah buku dimeja belajarnya.


Bibir Amber semakin mengembang membentuk senyuman. "Boom!"


Pekikan Amber membuat anak laki-laki itu menoleh dan memasang wajah terkejut. Melihat bahwa itu adalah Amber, ia mengusap dadanya dengan samar dan menaikkan kacamata bundar yang bertengger dihidungnya yang bengir.


"Amber, don't like to shock people || Amber, jangan suka mengagetkan orang." Tegurnya tidak puas.


"Hehe," yang kemudian hanya dibalas cengiran Amber. "Let's play, I have permission from your mother, we will play in the playground by the fountain today! || Ayo main, aku sudah izin pada mamamu, kita akan bermain di taman bermain dekat air mancur hari ini!"

__ADS_1


Arselyne menggelengkan kepalanya. "I'm not in the mood to go out. I want to continue reading || Aku sedang tidak ingin keluar. Aku mau lanjut membaca saja."


Amber menggelengkan kepalanya dan dengan keras kepala menarik Lily. "I've come all the way here, I'm not going to let you ignore me and just sit there reading a book. Anyway we're going to the playground! || Sudah jauh-jauh aku main kesini, aku tidak akan membiarkanmu mengabaikanku dan hanya duduk disana membaca buku. Pokoknya kita akan ke taman bermain!"


Arselyne yang tidak bisa berkutik hanya pasrah diseret keluar oleh Amber.


Dalam sekejab, keduanya sudah ada ditaman bermain didekat perumahan Arselyne. Ada cukup banyak orang yang berlalu lalang, dan anak-anak lain nampak senang bermain di taman bermain yang dibangun disebelah taman itu. Ada berbagai macam permaian. Jungkat jungkit, ayunan, mangkok putar bahkan sampai perosotan. Karena itu adalah wilayah mewah, fasilitas yang ada disana juga terjamin dan keamanannya tidak bisa diragukan.


Amber menarik Arselyne untuk bergabung bersama dengan anak-anak yang lain. "Let's play with them! || Ayo bermain bersama mereka!"


Amber adalah anak yang riang dan mudah bergaul. Hanya dengan beberapa kata, Amber sudah bermain mangkuk putar bersama dengan anak-anak perempuan, dan meninggalkan Arselyne untuk bermain dengan anak laki-laki.


"Hey, come climb with us! || Hei, ayo memanjat bersama kami!" Salah seorang anak mengajaknya sembari menunjuk sebuah sangkar dari besi yang cukup tinggi, dicat menggunakan banyak warna menarik.


Arselyne menggelengkan kepalanya. "I'll catch up later. You guys can play first || Aku akan menyusul nanti. Kalian bisa bermain lebih dulu."


Keempat anak laki-laki yang nampak lebih besar darinya itu saling pandang sebelum dengan bingung mengedikkan bahu mereka. "All right, we'll play first. If you want to play together, just join! || Baiklah, kami akan bermain lebih dulu. Jika kamu ingin bermain bersama, bergabung saja!"


Arselyne menganggukkan kepalanya. Dan mereka pergi untuk bermain. Arselyne memandang Amber yang tengah bercanda ria dengan anak-anak perempuan dan pada akhirnya hanya diam mendudukkan dirinya diatas ayunan sembari melirik sekelilingnya.


Pandangannya terhenti ketika seekor kucing muncul dipenglihatannya. Kucing itu berwarna putih, dengan sepasang manik biru dan hijau yang indah. Arselyne berkedip dan dengan tenang mencoba mendekati kucing yang tengah menjilati cakarnya sendiri itu.


"Puss~ Puss~ Don't be afraid || Puss~ Puss~ Jangan takut." Ucapnya samar sembari berjongkok dan mendekatinya.


Merasakan sesuatu mendekatinya, secara naluri kucing itu segera bangkit dan berlari pergi. Arselyne yang melihatnya segera mengikutinya tanpa berpikir panjang, melupakan Amber dan anak-anak lain yang tidak menyadari kepergiannya.


...***...


Memandang sekelilingnya, Arselyne hampir menangis.


Ia secara tidak sadar tersesat saat dia mencoba mengejar kucing tadi, dan dia bahkan tidak tahu arah sekarang. Ia tidak mengingat darimana dia datang atau mengenal daerah ini. Jalanan tidak begitu ramai, dan hanya ada beberapa orang yang lewat dengan nampak terburu-buru. Arselyne hampir tidak pernah berinteraksi dengan orang lain selama bertahun-tahun, dan dia tidak suka keramaian. Yang bisa dilakukannya hanyalah kebingungan, menoleh kesana kemari sebelum akhirnya menunduk dan menangis.


"Mama, Arse wants to go home, sob! || Mama, Arse mau pulang, hiks!" Isaknya samar.


"Mama, Arse wants to go home, friend! || Hai, apakah kamu baik-baik saja?" Suara itu membuat Arselyne mendongak.

__ADS_1


Ada anak perempuan yang setengah kepala lebih tinggi darinya. Rambut hitam panjangnya nampak diikat kuda dengan tanpa aksesoris apapun menghiasi rambutnya. Ia menggunakan mini dress bunga berwarna peach dengan baju berlengan pendek berwarna putih didalamnya. Ada sebuah kalung yang melingkar dilehernya.


"Why are you crying? Where is your parents? Are you alone here? || Kenapa kamu menangis? Dimana orangtuamu? Apa kamu sendirian disini?" Anak perempuan itu, Arana, menanyakan serangkaian pertanyaan yang tidak dijawab Arselyne karena kebingungan.


"Are you lost? || Apa kamu tersesat?" Pada akhirnya, Arana melihat Arselyne menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Arana.


"I-I was playing in the park, I.. I then followed the cat and ended up here || A-Aku tadi bermain ditaman, aku .. aku kemudian mengikuti kucing dan berakhir di-disini." Jawabnya dengan ragu-ragu.


Arana mendengarnya dengan serius sebelum menganggukkan kepalanya. Ia menyunggingkan senyuman yang selalu menenangkan dan berkata dengan santao. "Now, there's no need to cry. I know where the playground is, I'll take you || Sudah, tidak perlu menangis. Aku tahu dimana taman bermain itu, aku akan mengantarmu."


Arselyne mendongak, menghapus air matanya dan bertanya dengan penuh harap. "Really? || Benarkah?!"


Arana mengangguk, mengambil tangan Arselyne dan membawanya untuk melangkah menuju ke arah taman bermain yang dimaksud oleh Arselyne. "Do you go to the playground alone? || Apakah kamu ketaman bermain sendirian?"


Arselyne menggeleng. "I'm with my friend || Aku bersama dengan temanku."


Arana menoleh, memandangnya dan tersenyum. "Doesn't he notice you're gone? || Apakah dia tidak sadar kamu pergi?"


"Um, actually he was just playing with the others, and I suddenly left. So, I don't think he will notice until later || Um, sebenarnya dia sedang asyik bermain dengan yang lain, dan aku tiba-tiba pergi. Jadi, kurasa dia tidak akan menyadarinya sampai nanti." Kata Arselyne membuat Arana kecil menganggukkan kepalanya mengerti.


"Do you like cats? || Apakah kamu suka kucing?" Arana bertanya lagi, mencairkan suasana selama perjalanan ke taman bermain.


"I quite like it. They are cute and adorable, and their fur is fluffy. I love petting them || Aku cukup menyukainya. Mereka lucu dan menggemaskan, dan bulu  mereka halus. Aku suka mengelus mereka." Jawab Arselyne.


Arana menyahutinya. "I also like cats, actually I really like them. I keep two cats, male and female. Unfortunately my male cat died of illness leaving only the female. He is very lonely, so I often invite him to play so he doesn't get bored || Aku juga suka kucing, sebenarnya aku sangat suka. Aku memelihara dua ekor kucing, jantan dan betina. Sayangnya kucing jantan milikku meninggal karena sakit dan hanya menyisakan yang betina. Dia sangat kesepian, jadi aku sering sekali mengajaknya bermain agar tidak bosan."


Arselyne melihat rambutnya yang bergoyang kekanan dan kekiri sesuai langkah kakinya dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Do you live around here? || Apakah kamu tinggal disekitar sini?"


Arana menggeleng. "I live in a house near the second street || Aku tinggal diperumahan didekat jalan kedua." Arselyne mengerutkan keningnya, "Then why are you here? || Lalu kenapa kamu disini?"


"I'm deliver filet porridge to someone at this house || Aku mengantarkan bubur filet pada seseorang diperumahan ini."


"Deliver porridge? || Mengantarkan bubur?"


__ADS_1


__ADS_2