My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 29: Kerak Telor, Lumpia And Karedok


__ADS_3

Ding!


Notifikasi ponselnya membuat Arana menoleh. Ditengah kegiatannya menonton film, dia mengulurkan tangannya, meraih ponsel gold dengan casing semi transparan itu dan membuka chat dari nomor yang tidak dikenalnya. "Hm?"


[Halo, Alana. Ini aku, Karina Andini.]


Arana membalasnya dengan segera. [Ya, apa ada sesuatu?]


[Aku akan langsung ke intinya karena cukup tidak nyaman berkomunikasi lewat pesan. Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan denganmu. Bisakah kita membuat janji untuk bertemu besok pagi?]


Arana mengernyitkan dahinya sesaat, bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi gadis itu pada akhirnya hanya diam dan menyetujui ajakan pertemuan dengan sang desainer itu. [Baik, kirimkan lokasinya padaku dan aku akan datang.]


[Baiklah, selamat malam.]


Arana memandangnya selama dua detik. Tangannya gatal untuk membalas, namun pada akhirnya dia menarik tangannya dan meletakkan ponselnya disampingnya. Alana tidak seramah itu sampai bersedia membalas salam Karina. Duduk memeluk bantal, Arana penasaran apa yang akan dibicarakan Karina padanya sampai harus bertemu secara tatap muka. Pertemuan pertama dan terakhirnya adalah saat dia mencoba gaun pernikahannya dan sejak itu dia belum bertemu lagi dengan Karina.


Arana masih menaruh kecurigaan kepada Karina. Menduga apakah wanita itu tahu bahwa dia bukan Alana, atau memang hanya menyatakan gaun itu lebih bagus dipakainya daripada dipakai orang lain. Oh, lalu sepupu Alana—eh, itu juga sepupunya. Nampaknya dia juga curiga dengan dirinya. Tatapannya menunjukkan hal aneh yang membuat bulu kuduk Arana meremang. Nampak merencanakan sesuatu.


Siapa lagi yang tahu?!


Ah! Arana pusing!!


"Apa yang mengganggu pikiranmu sampai kamu terlihat frustasi, sayang?"


Suara Alva membuat Arana tertarik dari lamunannya. Gadis itu mendongak, memandang pria rupawan yang menjulang tinggi dihadapannya. "Kamu sudah selesai mandi?"

__ADS_1


"Sudah. Apa yang baru saja kamu pikirkan?" Pertanyaan itu membuat Arana menggulung senyuman dan menggeleng. "Tidak ada. Aku baru saja berpikir apa yang akan kita makan hari ini. Kamu mau makan apa malam ini?"


Alva mendudukkan dirinya disamping gadis itu. "Hmm, apa yang ingin kamu makan?"


"Kenapa balik bertanya?" Bingung Arana. Alva menjawab, "Hari ini aku mau makan apa yang ingin kamu makan."


"Ehh, kenapa memangnya??"


Alva menggeleng, menaruh kepalanya dibahu Arana. "Entah, aku hanya merasa ingin makan apa yang ingin kamu makan."


Mendengar itu, Arana sedikit mendongak, mengangkat maniknya dan memasang pose berpikir. "Kerak telor."


"Kerak telor?" Arana mengangguk membenarkan.


Neneknya adalah keturunan orang Indonesia, tepatnya, Jakarta. Neneknya sering bercerita tentang berbagai macam hal di Jakarta dan Indonesia yang membuat Arana merasa ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia. Dulu neneknya pernah mengatakan, bahwa Kerak Telor adalah makanan kesukaannya selain rendang dan sate. Namun di Melbourne, mencari Kerak Telor tidak semudah mencari roti dan sosis. Bahkan jika ada, neneknya mengatakan bahwa kerak telor buatan mereka tidak seenak kerak telor buatan tangan dipinggir jalan dengan gerobak angkut. Arana tahu rendang dan tahu rasa sate karena neneknya cukup sering membuatkannya rendang dan sate dulu. Namun neneknya tidak bisa membuat kerak telor.


"Apa hanya itu?"


Arana menimang sebelum menambahkan apa yang ingin dimakannya. "Aku juga ingin lumpia dan karedok."


Arana dengan ragu bertanya, "Apa tidak apa-apa?"


Tangan hangat itu jatuh diatas kepala Arana. Mengusapnya dengan sayang. "Mengapa kamu bertanya seperti itu. Aku senang istriku ini bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jadi, kamu bisa menunggu sebentar dan makanan akan segera datang setelah aku memesan."


Arana menyunggingkan senyuman. "Hm, baiklah."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Arana melihat Alva meraih ponselnya, membuka sebuah aplikasi dan mencari makanan yang diinginkannya dengan rating tertinggi dan komentar positif, dan memesan makanan yang diinginkannya.


Arana tidak sabar.


...***...


Pengantar makanan datang setengah jam kemudian. Untuk tiga jenis makanan, pengantar makanan itu cukup cepat. Mungkin itulah salah satu yang membuat aplikasi itu diminati. Cepat, aman dan mudah. Sangat efektif.


Arana duduk diseberang Alva yang tengah mengeluarkan makanan yang ada didalam plastik. Sewadah kerak telor bebek, sewadah lumpia dengan saus sambalnya dan sewadah karedok yang masih nampak segar. Arana memandangnya dengan manik berbinar. Tidak sabar mencoba makanan yang ada didepannya.


Dia berkata, "Sudah bisakah aku memakannya?"


Alva terkekeh dan mengangguk. "Tentu, sayangku. Makanlah."


Arana tersenyum senang. Mengambil sebagian kecil dari kerak telor keatas piringnya sendiri. Ia mengambil satu sendok, dan mengantarkannya ke mulutnya sendiri. Giginya mengunyah, menunggu sesaat sebelum cita rasa yang unik menguar dimulutnya, dikecap oleh lidahnya. Rasanya benar-benar baru baginya.


Tidak buruk, tapi enak!


Pantas sana neneknya suka dengan kerak telor.


Memandang Arana yang makan dengan lahap, Alva menyunggingkan senyuman. "Sayang?"


"Hm?"


Alva menggeleng geli. "Kamu makan seperti kamu baru pertama kali mencoba makanan ini. Sepertinya lumpia yang aku bawakan sebagai oleh-oleh bulan lalu membuatmu ketagihan, ya?"

__ADS_1



__ADS_2