My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 114: Reverse Threats


__ADS_3

Otak Arana mendadak tidak bisa berfungsi dengan baik.


Dia berani datang kemari ketika dia sudah mempersiapkan kebutuhannya. Dia membawa alat perekam ditopinya, dan ponselnya selalu menyalakan alat perekam suara. Dia berniat mencari kelemahan David untuk mengancamnya balik, namun dia tidak menyangka bahwa identitasnya diketahu bahkan dengan cara yang sia-sia.


"Katakan, siapa kau?" desak David dingin.


Arana memejamkan matanya, dan menarik napas dingin ketika dia menatap David tegas kemudian. "Apa matamu buta? Tidak bisa melihat siapa aku?"


David mengusap bibirnya, nampak bosan dan tidak sabar. Ia dengan tegas melangkah mendekati Arana, menariknya dan dengan tegas membalikkan tubuhnya dibawah perlawanan Arana. Pria itu dengan mudah menarik kemeja Arana keatas, menyingkap bagian perutnya yang rata, mulus tanpa bekas sedikitpun yang membuat seringaian David semakin lebar. Dibawah tatapannya dan tindakannya, wajah Arana memerah karena amarah dan rasa malu.


"Apa yang kau lakukan, huh?! Lepaskan aku!"


David tidak melepaskannya dan semakin menekan tangan Arana. "Alana menjalani operasi cecar karena dia masih begitu muda ketika dia melahirkan. Ada bekas luka diperutnya, dan dokter mengatakan bahwa luka itu akan memberikan bekas permanen. Tapi disini, tidak ada sedikitpun bekas."


"Kau bukan Alana, jadi siapa kau?" David terus mendesak, "Apa kau kembarannya?"


Ia memiringkan kepalanya. "Tapi kudengar Alana hanya satu-satunya putri dikeluarganya. Jadi, apakah kamu anak yang disembunyikan?"


Kepala Arana semakin pusing dan dia tidak bisa menahan lebih lama lagi perasaan tidak nyaman dihatinya. Arana dengan wajah memerah dan gigi terkatup mendesis pada David. "Lepaskan aku!"


Pemuda itu tidak mendengarkan Arana sama sekali. Tatapannya terkunci pada wajahnya yang memerah dan itu membawa kecantikan yang unik. Berbeda dengan Alana, David menyadarinya. Wajah gadis dibawahnya membawa perasaan segar seolah dia benar-benar menemukan hal baru diantara sekian banyak hal yang dia temukan selama ini. Ia penasaran.


David dengan tenang menurunkan wajahnya, mengunci bibir kemerahan yang sejak tadi mengeluarkan desisan untuk mengusirnya.


Arana merasakan krisis ketika melihatnya mendekat. Mengencangkan rahangnya, Arana dengan kekuatan penuh menyentak tangannya, mengangkat kakinya dan mendorong pemuda didepannya. Karena Arana tidak main-main, gerakannya membuat tubuh David terlempar terbalik ke atas dan menimbulkan debuman keras dan ringisan kesakitan dari pemuda itu.


"****!!" raungnya kesakitan ketika merasa punggungnya membentur lantai dengan keras.


Napas Arana sedikit memburu, dan dia memandang David dengan jejak kemarahan dan perasaan kesal didalam hatinya. Arana meraih jaketnya yang tersampir diatas meja, melepaskan kemejanya yang robek begitu saja dan memakai jaketnya untuk menutup seluruh tubuh bagian atasnya yang hanya mengenakan baju dalam tanpa pengait. Melihat David yang tengah terduduk sembari meringis pelan, Arana memandang kertas diatas meja, meraihnya dan dengan tenang mengambil topinya. Mengeluarkan kamera kecil dari dalam topi, Arana melemparkan topinya dibawah pengawasan tajam dan kejutan dimata David.

__ADS_1


"Yah, buktinya sudah cukup."


Alana melanjutkan dengan santai. "Jika kamu memiliki sesuatu untuk merusak namaku, aku juga memiliki sesuatu untuk merusak namamu. Ketika kamu membeberkan berita bahwa Stephen adalah anakku, aku bisa melakukan hal yang sama. Ketika kamu memberi tahu suamiku, aku akan melaporkanmu kepada polisi. Dengan video ini, kamu bisa dianggap melakukan pelecehan. Tidak sulit untuk mengedit suara didalam rekaman ini, David."


"Apa yang kau lakukan?!" David mengerang mendengar perkataan Arana.


Arana dengan ringan memasukkan kamera seukuran ibu jari itu kedalam saku roknya. Arana melihat David berdiri dan mencoba meraih kertas ditangannya. Arana sudah berlatih dengan Maria, sebagai seorang tutor, Maria sangat bagus dalam memberikan pelatihan. Dalam sekejab, Arana sudah bisa menguasai pertahanan tingkat lanjutan dari apa yang sudah diajarkan oleh Amber, sehingga dia bisa menghindari David dengan mudah.


"Jangan membuatku bersikap kasar padamu, Alana. Serahkan kertas itu kepadaku."


Arana melipat kertas itu dan memasukkannya kedalam saku jaketnya. "Aku yang seharusnya mengatakan itu."


David mendengarkan pernyataan Arana sebelum tertawa dengan keras. Pemuda itu melangkah dengan tegas menuju Arana yang tidak mengubah seinci pun tubuhnya. David mengayunkan tangannya untuk menakuti Arana, ketika dia tercengang saat Arana dengan ringan mengangkat kakinya dan memberikan tendangan lutut padanya. Tidak berhenti disana, gadis yang sejak dulu tidak pernah menyentuh latihan apapun dengan ringan meraih tubuhnya dan membantingnya kelantai dengan ringan, seakan beratnya bukanlah masalah.


"Ugh!"


Menariknya dari lantai setelah mengatur napasnya sesaat, Arana meraih tangannya, memelintir tubuhnya dan dengan keras mendorongnya kesofa, membuatnya jatuh tertelungkup dengan tangan tertahan kebelakang.


Arana dengan tenang menyampaikan pesannya. "Aku serius, David. Jika aku sampai tahu bahwa kamu menyebarkannya, kamu juga akan tahu bagaimana aku membiarkan bukti itu, berbalik menyerangmu. Akan lebih menarik jika itu menjadi korban pemerkosaan kan? Kudengar, hukuman teringannya adalah empat tahun kurungan penjara. Tentu saja dengan bantuan keluargaku, hukumanmu, tidak akan seringan itu."


"Pikirkan itu dengan bijak."


Selesai mengatakan itu, Arana dengan tenang menarik tangannya, memandang singkat David yang berdiri tegak dan menatapnya tajam, sebelum dia melangkah melewatinya dan membuka pintu dengan ringan, meninggalkan kamar apartemen yang dipenuhi dengan raungan dan umpatan.


...***...


Tiba diapartemennya, Arana dengan cepat mengganti pakaiannya. Mengenakan baju berlengan pendek dengan celana selutut berwarna hitam, Arana duduk diatas ranjangnya, memandang kertas dan rekaman video ditangannya sebelum dengan tenang menyimpannya didalam kotak dikopernya.


Arana memang tidak menjamin apakah David akan mendengarkan ancamannya dan tidak akan menyebarkan fakta tentang Alana. Sebenarnya, bahkan jika berita itu tersebar, itu tidak akan merugikannya, karena memang Alana yang melakukan kesalahan. Namun, membayangkan jika Alva sampai mengetahuinya dan sampai membencinya, Arana menggigil tanpa sadar dan dia meremat selimut ditangannya.

__ADS_1


Arana hanya berharap bahwa David akan mendengarkan ancamannya, dan memikirkannya dengan matang-matang.


Namun jika pada akhirnya semua kejadian yang tidak diharapkannya masih terjadi ...


"Aku hanya bisa pergi." Gumamnya.


Arana menggelengkan kepalanya, menarik napas dan dengan tenang mengatur emosinya. Arana meraih ponselnya, melihat nomor Alva dan dengan ringan menekannya setelah ragu selama beberapa waktu. Panggilan itu dengan cepat tersambung ketika dia mendengar suara Alva dari seberang.


[Sayang, ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu?]


Mendengar betapa perhatiannya Alva membuat Arana tanpa sadar menggulung senyuman, hatinya lebih ringan. "Apakah kamu sibuk?"


[Yah, tidak. Aku hanya akan menghadiri rapat sekali dan menandatangi berkas. Tidak ada acara penting.]


Arana membuka bibirnya. "Bolehkah aku main ke perusahaanmu?"


Suara Alva nampak penuh jenaka. [Oh, apa kamu merindukanku, sayang? Ingin melihatku, ya?]


Arana tidak berusaha menyembunyikannya dan dengan lembut bersenandung. "Aku merindukanmu dan ingin bertemu denganmu."


Ucapan Arana dengan cepat membuat Alva yang ada diseberang sana terdiam. Namun selang beberapa detik kemudian, suara Alva kembali terdengar, seperti dia dalam suasana hati yang sangat baik. [Mau aku minta Erlan menjemputmu? Tidak, aku saja yang menjemputmu.]


Arana dengan cepat menolak. "Tidak perlu, sayang. Aku bisa meminta pak Agus mengantarku. Kamu lanjutkan saja kerjamu, aku mungkin akan tiba disana dalam setengah jam."


[Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah diperjalanan, sayang. Aku akan menunggumu.]


"Haha, iya." Terkekeh pelan, keduanya selesai berbicara. Arana memutuskan panggilan telepon dan memasuki kamar mandi untuk berganti pakaian.


Arana benar-benar ingin bertemu Alva saat itu juga.

__ADS_1



__ADS_2