
Mengenakan kemeja coklat berlengan panjang dengan bawahan rok ubur-ubur berwarna putih sebatas kakinya, Arana memandang bangunan bergaya Jepang didepannya dengan sedikit keraguan.
Ini adalah rumah saudara sepupu Alva. Puluhan tahun lalu, ayah Arletta yang juga kakek Alva menikah kembali setelah sang nenek meninggal dunia karena sakit. Wanita yang dinikahi Sam--kakek Alva adalah seorang janda yang sudah memiliki anak laki-laki yang berbeda enam tahun dari Arletta. Dalam beberapa waktu, Arletta menjadi seorang kakak. Pernikahan mereka tidak terkendala apapun, dan Arletta sendiri merestui hubungan mereka, dan mereka menjadi keluarga yang harmonis.
Kemudian lima tahun setelah Arletta menikah, adik tirinya yang bernama Yosua segera menyusulnya, menikah dan membawanya ke Jepang karena pekerjaanya yang juga ada di Jepang. Pada saat pernikahannya, mereka tidak bisa hadir karena tuntutan pekerjaan yang dilakoni Yosua. Bekerja disebuah perusahaan yang besar sebagai seorang manager, Yosua disibukkan dengan berbagai urusan, apalagi pada waktu itu, perusahaan mereka sedang mengadakan event besar.
Jadi mereka tidak bisa datang dan hanya bisa mengirimkan hadiah melalui paket.
Arana ragu, namun memang sudah sewajarnya Alva memperkenalkan istrinya kepada saudara-saudara jauhnya.
Alva secara alami mampu memahami kegugupan dan kecemasan Arana. Namun dia tahu bahwa Arana akan disukai oleh mereka. Buktinya saja, sang mama dengan mudah suka padanya. Padahal sejak Awal Alva tahu bahwa sang mama tidak menyukai Alana sejak Alva membawa gadis itu menemui keluarganya saat Alana masih adalah Alana yang asli.
"Ayo sayang, mereka pasti akan terkejut melihat kedatangan kita." Ajak Alva membuat Arana menganggukkan kepalanya.
Alva dan Arana kemudian berjalan beriringan menuju pintu masuk dan menekan bel. Ada jawaban samar dari dalam, dan tidak lama kemudian gerbang setinggi dada orang dewasa. Ada seorang wanita yang mengenakan baju berlengan panjang dengan rok panjang berwarna gelap. Wajahnya cantik dan rambutnya sebahu.
Begitu dia melihat Alva yang dia kenali, dia segera berkata, "Alva? Kamu ada disini?"
Alva menganggukkan kepalanya. "Iya bibi."
Wanita itu melirik Arana dan segera memandang Alva kembali. "Apakah dia istrimu?"
Alva mengangguk dan membuatnya berkata sembari memandang Arana. "Halo, aku adalah bibi Alva, namaku Yoko. Kamu cantik sekali."
Yoko adalah gadis Jepang yang memiliki darah Indonesia. Ibunya berasal dari Indonesia, maka dari itu dia fasih menggunakan bahasa bahasa Indonesia.
Arana segera membungkukkan badannya dan menyapa. "Halo, bibi. Namaku Alana, senang bertemu dengan bibi."
Yoko menyunggingkan senyuman dan mengajak keduanya masuk sembari membukakan gerbang lebih lebar. "Ayo masuk dan minum teh. Dimana kalian menginap?'
Alva menjawab dengan santai. "Penginapan yang ada didekat kuil Yashaka."
Yoko menganggukkan kepalanya. "Itu cukup jauh dari sini. Kalian pasti lelah berkendara kesini. Aku akan memanggil Yosua, duduklah lebih dulu. Nyamankan diri kalian, anggap rumah sendiri."
Meninggalkan Arana dan Alva diruang utama, Alva menarik Arana untuk duduk diatas bantal yang sudah disediakan dengan cara bersimpuh. Ada meja didepan mereka yang berisi teko dan cangkir porselen kecil yang indah. Manik Arana memandang sekelilingnya dengan tatapan penasaran. Ruangan ini tidak begitu luas, namun penataan barang membuat ruangan terlihat lebih lega. Pintu geser yang menghubungkan halaman samping, penuh dengan rumput hijau dan bunga terbuka, dan cahaya bisa masuk dengan mudah, dan membuat ruangan menjadi hangat, namun juga sejuk.
Tidak lama kemudian, ada suara yang menyapa mereka. "Oh, Alva! Paman terkejut kamu datang kesini."
Pria itu nampak berusia hampir sama dengan Arletta. Wajahnya cukup tampan dan penampilannya gagah. Ia mengenakan baju berlangan pendek dengan celana panjang bahan yang ringan dan nampak sejuk.
"Paman," sapa Alva sembari bangkit berdiri dan berjabat tangan dengan Yosua.
"Ini istrimu? Halo, aku Yosua, paman Alva. Maafkan aku karena tidak bisa datang kepernikahan kalian, tapi doaku menyertai kalian dan pernikahan kalian."
Arana menggeleng dengan panik atas perminta maafan Yosua. "Ti-Tidak apa paman. Alva sudah berkata bahwa paman sibuk dengan pekerjaan paman, dan kami mengerti akan masalah itu. Paman tidak perlu minta maaf, dan terima kasih banyak atas doanya."
Yosua tersenyum, menilai Arana sekilas sebelum melirik Alva yang nampak memandang lembut Arana. Senyumnya semakin lebar, dan dia dengan ramah menyuruh mereka duduk sementara Yoko meraih teko diatas meja dan menuangkannya kedalam cangkir sebelum menyerahkannya kepada Arana dan Alva.
"Silakan diminum."
Arana mengangguk, tersenyum. "Terimakasih, bibi."
ia mengangkat cangkir teh dan menyesapnya dengan perlahan, dan merasakan rasa manis dan ringan teh menyeruak di indra perasanya. Ia tidak bisa menahan untuk tidak membatin, bahwa teh itu sangat enak.
__ADS_1
"Apakah kalian kesini untuk berbulan madu?"
Mendengar pertanyaan Yosua, Arana mendongak, sementara yang menjawab adalah Alva. "Ya, paman. Mama memberikan hadiah pernikahan berupa tiket berbulan madu."
Yosua menganggukkan kepalanya. "Pilihan kakak memang bagus. Di bulan ini, kalian bisa melakukan hanami dan mengunjungi kuil, meminta keberuntungan kalian untuk pernikahan."
Arana tahu apa itu hanami. Hanami adalah hal yang cukup wajib dan sangat diminati oleh penduduk dalam negeri maupun penduduk luar negeri. Bunga sakura yang mekar adalah pemandangan indah, dan perlu diabadikan dalam memori.
Jadi orang Jepang menikmati bunga sakura dengan kegiatan piknik yang dinamakan Hanami.
"Hahaoya! Watashi wa ie ni imasu || Ibu! Aku pulang!"
Suara itu membuat keempatnya menoleh. Ada seorang anak perempuan yang mengenakan seragam sekolah dasar. Dibelakangnya, anak laki-laki yang nampak lebih dewasa darinya. Mengenakan seragam sekolah menengah atas dan memandang Arana dengan bingung.
"Eh? Gesuto ari || Eh? Ada tamu." Anak perempuan itu membungkuk dan menyapa dengan suara manis. "Halo!"
Diikuti oleh anak laki-laki dibelakangnya yang membungkuk dan menyapa. "Kon'nichiwa! || Halo."
Arana tidak bisa menahan gemas dan senyumnya tersungging memandang anak perempuan itu. Wajahnya yang bundar dengan manik berair yang jernih itu membuat Arana ingin mencubit kedua pipinya dan menciuminya saking gemasnya.
"Naoki dan Aki sudah besar, ya?" Alva bertanya kepada Yosua, dan diangguki kepala oleh pria itu. "Nao sudah kelas 3 sekarang. Saat itu dia masih sangat kecil saat kamu datang, jadi mungkin dia tidak mengingatmu dengan baik."
Alva hanya bergumam mengiyakan dan kembali menikmati tehnya, memandang Arana yang menatap Naoki dengan gemas. Melihatnya, Alva tidak bisa menahan senyuman dan diam-diam menggelengkan kepalanya.
Arana benar-benar lemah pada anak kecil.
***
Mengenakan dress bunga berlengan panjang berwarna biru, Arana memadukkannya dengan rok setengah kaki berwarna putih. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan anak rambutnya diselipkan kebelakang telinganya. Ia menggendong Naoki dan berjalan berdampingan dengan Yoko yang membawa keranjang makanan.
Dibelakangnya lagi, Yosua dan Alva berjalan beriringan dengan tas selimut ditangan Alva dan tas berisi tikar ditangan Yosua. Keduanya melihat para perempuan yang asyik mengobrol didepan sana sebelum Yosua membuka suaranya.
"Istrimu cantik dan baik." Ia menoleh pada Alva sekilas dan kembali berkata, "Kamu pandai menilai seseorang."
Alva bersenandung ringan sebelum berkata, "Istriku adalah gadis yang sempurna. Aku benar-benar mencintainya."
Yosua menganggukkan kepalanya. "Maka kamu harus melindunginya."
"Tentu saja."
Setelah mengucapkan kata terakhirnya, Alva dan Arana segera membuka tikar di bawah pohon sakura yang kosong, berdampingan dengan keluarga lainnya yang juga turut menikmati keindahan bunga sakura dan cuaca yang menyenangkan. Menurunkan Naoki dari gendongannya dan membiarkannya bermain dengan bonekanya dan bunga sakura yang jatuh tertiup angin, Arana berniat membantu Yoko menyiapkan makanan yang mereka bawa ketika wanita itu menolaknya.
"Ah, tidak perlu, Na. Aku bisa melakukannya sendiri. Kamu nikmati saja keindahan tempat ini, lihat. Minta Aki memotretmu." Katanya sembari menunjuk Aki yang sedang memotret bunga sakura.
"Apakah bibi yakin?" Tanyanya membuat Yoko tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya, Arana menyerah dan mengikuti saran Yoko. Ia berjalan menuju Aki dan berdiri disampingnya dengan kedua tangan dibelakang punggungnya, saling bertautan. "Apa yang kamu potret?"
Aki menurunkan kameranya, meliriknya sedikit dan mengabaikannya untuk memotret kembali pemandangan yang ada disekelilingnya. Arana mengangkat alisnya, tidak merasa tersinggung ketika dia mengabaikannya. Ia dengan tenang kembali bertanya, "Bisakah kamu memotretmu?"
"Tidak." Aki menjawab dengan singkat.
Arana mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
__ADS_1
"Hanya tidak mau."
Arana mengerutkan bibirnya, memalingkan wajahnya dan bergumam, "Dasar pelit."
Suara Aki terdengar disampingnya. "Watashi wa kechide wa arimasen. Jibun ga utsukushī to omou mono dake o eizoku sa seru || Aku tidak pelit. Aku hanya mengabadikan apa yang aku anggap indah."
Mengetahui bahwa Aki mendengar gumamannya, Arana meringis dan malu, namun senyumnya menghilang ketika ia menyadari ucapan Aki. Hanya memotret sesuatu yang indah, sesuatu yang artinya bagus dan menarik, sesuatu yang tidak jelek. Apakah dia baru saja dihina jelek?!
Baik, Arana akui dia tidak cantik, namun dia tidak jelek, kan?
"Aku tidak jelek." Kata Arana dengan keluhan yang jelas.
Aki hanya mengabaikannya dan meneruskan memotret. Arana memandangnya dan menghela napas samar. Maniknya kemudian jatuh pada gantungan kunci di ransel pinggangnya dan ia berkata dengan riang. "Apakah kamu suka dengan Jessica Ann?"
Aki sedikit bereaksi, menoleh, menyipitkan matanya dan bertanya dengan ragu. "Kamu, mengenalnya?"
Jessica Ann adalah seorang novelis. Ia tidak terlalu terkenal, padahal, karya-karyanya sangat menarik dan memiliki banyak poin-poin kehidupan yang relate sekali dengan masalah yang dihadapi orang dikehidupan nyata.
Arana memiliki lebih dari selusin karyanya diapartemen lamanya, dan dia membacanya berulang-ulang ketika dia sedang menghadapi masalah dalam hidupnya.
"Tentu saja aku tahu. Aku memiliki hampir semua novelnya. Tiga seri Cahaya Dan Bayangan, dua seri Lentera Baghata dan terutama Airistya. Aku juga memiliki yang satu seperti ini dirumah sebagai hadiah karena membeli novelnya, bedanya milikku berbentuk kucing." Kata Arana.
Manik Aki melebar, ia menoleh dan menatap Arana. "Arisitya wa genteiban dake de urikire janai no? Dō yatte teniireta no? || Bukankah Airistya hanya diterbitkan terbatas dan sudah habis terjual? Bagaimana bisa kamu memilikinya?"
Arana tidak tahu anak ini akan begitu bersemangat membahas tentang Jessica Ann. Arana menjawab dengan sedikit malu. "Tōji watashi wa Melbourne ni sunde imashita. Jesicca Ann wa mītingu o hiraki, chōdo 100-sai no tanjōbi o mukaeta sobo e no okurimono to shite 100-bu shika hakkō sa renakatta Airistya o hanbai shimashita. Hayame ni narande, un yoku jikihitsu sain-iri no hon o te ni ireru koto ga dekimashita || Aku tinggal di Melbourne saat itu. Jesicca Ann mengadakan jumpa-temu sekaligus menjual Airistya yang memang hanya diterbitkan 100 buah sebagai hadiah untuk neneknya yang berulang tahun tepat 100 tahun usianya. Aku datang mengantri lebih awal dan untungnya aku bisa mendapatkan bukunya\, lengkap dengan tanda tangannya."
Aki terkejut, dan dia nampak ragu sesaat sebelum membuka bibirnya, namun kembali menutupnya ketika dia tidak tahu harus berkata apa. Pada akhirnya dia diam, menatap kameranya.
"Apa kamu mau membacanya? Aku bisa meminjamkannya padamu." Kata Arana membuat Aki segera mengangkat wajahnya dan bertanya dengan serius. "Benarkah? Apa kamu serius?!'
Arana mengangguk. Anak didepannya pastilah penggemar Jessica Ann, dan tidak bisa memiliki bukunya. Jika Arana memilikinya, mengapa dia harus pelit dengan tidak meminjamkannya?
"Tentu saja. Ketika aku sampai di Indonesia, aku akan mengirimkannya padamu menggunakan pos. Mungkin akan memakan waktu sedikit lama, namun, aku jamin kamu tidak akan menyesal membacanya." Katanya.
Aki mengangguk. "Aku membaca sinopsisnya dimedia sosialnya, dan aku benar-benar tertarik. Sayangnya aku tidak bisa membelinya karena itu tidak dijual secara online."
"Tidak masalah, aku akan segera mengirimkannya nanti."
"Berjanjilah!"
Arana mengangguk, "Aku berjanji."
***
Amber memandang ponsel ditangannya dengan manik melebar. Bibirnya membuka dan menutup selama beberapa saat sebelum akhirnya ia mengeluarkan jeritan dengan panik.
"Arana!! Kita akan dalam masalah besar!!"
[Sudah merindukanku? Aku akan kembali dalam satu minggu. Jangan beritahu Arana, aku akan memberi dia kejutan.]
"Ahhhhh!!!"
"Amber, bisakah kamu berhenti berteriak seperti orang gila?!"
__ADS_1