
Duduk di bangku panjang diruangan sidang, Arana menatap Amber yang duduk dibangku korban dengan tatapan yang penuh dengan harapan. Ruangan sidang kosong, hanya beberapa orang yang datang untuk menjadi penonton. Hanya keluarga dari pihak keduanya, bibi Amber, termasuk Arselyne, Arana dan Alva serta orang suruhan Alva yang menjadi saksi.
"Saya tidak melakukannya."
Satu kalimat pertama yang diucapkan oleh Exel yang duduk di bangku tersangka, yang membuat Arselyne hampir memekik geram jika saja Arana tidak menahan Arselyne dan menenangkannya.
"Tenang, Ly. Ini pengadilan, jangan bersikap seenaknya. Kita akan membuktikan bahwa dia bersalah." Ungkap Arana membuat Arselyne menenangkan napasnya yang tak beraturan dan memejamkan mata sebelum mengangguk.
"Aku akan mencobanya."
"Kamu harus, Ly." Gumam Arana kembali memandang pemandangan didepan.
Hakim memandang Jaksa penutut yang menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa Amber tidak memberi sedikitpun celah untuk mengambil jalur damai. Hakim menatap keduanya selama beberapa waktu sebelum kemudian membiarkan penggugat menggugat, dan tergugat membantah. Sesi itu berlangsung dengan tegang antara Jaksa penuntut dan pengacara. Amber yang duduk dibangkunya sesekali memandang Arana dan tersenyum ketika Arana mengangguk, menyalurkan semangat melalui senyuman yang dia bagikan kepada Amber.
Manik abu-abu Amber menatap kearah Exel yang ternyata juga menatapnya. Dua pasang mata itu bertemu. Amber tidak gentar menghadapi tatapan itu, dan dengan tenang menatap pemuda itu dengan tatapan yang sama datarnya. Sejujurnya, sejak dulu Amber tidak pernah takut dengannya. Pemuda itu tidak pernah memukulnya, dan hampir menganggapnya tidak ada. Justru, itu membuat Amber nyaman dan menghormatinya meski bukan dengan pandangan yang baik juga.Namun Amber lebih nyaman dengan caranya yang seperti itu daripada dia bertingkah seperti adik tiri gilanya.
Namun dia tidak menyangka pemuda itu justru lebih berbahaya ketimbang Ansel. Meski Ansel lebih sering menghina dan berteriak, namun Amber bisa menghadapinya dengan mudah dan bisa menebaknya. Namun Amber tidak pernah bisa menebak orang seperti apa Exel itu, hingga berakhir dirinya hamil.
Manik hijau pemuda itu perlahan turun, menatap kearah perutnya yang terlapisi katun, sebelum kembali memandang Amber dan menarik sudut bibirnya keatas.
Amber memegang perutnya dan dengan dingin menatap Exel. Jika pria itu mencoba mengambil anaknya dimasa depan, dia harus berhadapan dengannya dahulu. Amber akan memastikan itu.
Waktu berjalan dengan begitu panjang dan lama. Suasana menjadi tegang ketika hakim meminta pihak Amber memberikan bukti yang meyakinkan bahwa Exel benar melakukan tindakan pelecehan itu. Dengan izin sang hakim, Jaksa penutut melangkah maju dan memberikan sebuah ipad kepada sang hakim. Rekaman itu menampilkan rekaman dari kamera tersembunyi dikamar Amber yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana Exel menggagahi Amber yang sedang dalam keadaan setengah sadar karena efek obat yang diminumanya.
"Kami bisa membuktikan keaslian video. Kami memiliki hasil dari ahli jika anda tidak percaya. Kami juga memiliki rekam medis dan telah mencocokkan dna yang tertinggal di tubuh penggugat dan hasilnya cocok. Dokter dapat menjadi saksi juga untuk masalah ini, bahwa kehamilan yang dialaminya adalah karena kejadian ini jika dilihat dari waktu dan situasi." Ucap sang Jaksa penuntut turut memberikan beberapa berkas yang langsung diperiksa dan membuat Hakim terdiam dan merenung selama beberapa waktu.
__ADS_1
"Buktinya sangat jelas. Tapi kami akan merundingkan ini terlebih dahulu. Kami harus menentukan masa hukumannya."
Ansel melotot dan berdiri. "Tapi kakakku tidak melakukannya!"
Exel menatap dingin Ansel dan dengan nada datar berkata, "Diam."
Melihat tatapan tajam yang diarahkan sang kakak kepadanya, Ansel tersentak dan segera duduk kembali. Bibirnya terbungkam, namun dia masih memiliki ketidakpuasan dan ketidaksetujuan dimatanya. Hakim hendak berdiri untuk membahas masa hukuman bersama para majelis lainnya ketika Amber membuka suaranya.
"Saya akan mencabut tuntutan saya."
Pernyataan Amber membuat semua orang yang ada diruangan itu terkejut. Arana melebarkan matanya dan memandang Amber bingung sementara Arselyne berdiri dan berteriak, "Amber! Apa maksudmu dengan mencabut tuntutanmu?!"
"Jangan bercanda Amber!"
Amber tidak mendengarkan Arselyne yang ditarik Arana untuk kembali tenang, sementara dirinya sendiri bangkit berdiri dan berkata kepada hakim yang memusatkan perhatian kepada Amber. "Saya akan mencabut tuntutan saya dan mengambil jalur damai. Namun saya memiliki satu permohanan sebagai syarat damai."
Amber mengalihkan tatapannya dan menatap Exel yang juga menatapnya dan berkata, "Dimasa depan, saya ingin hak asuh anak ini jatuh ketangan saya, dan tidak akan pernah jatuh ketangan pihak lain. Hanya itu harapan saya."
Arana mencelos mendengar pernyataan Amber. Dalam sekejab, Arana juga membayangkan banyak kemungkinan yang bisa terjadi jika Exel benar-benar dipenjara. Bagaimana dengan nasib buah hati Amber jika memiliki seorang ayah yang merupakan narapidana karena kasus pelecehan?
Amber rela mengambil jalur damai karena tidak ingin membuat sang buah hati merasa bahwa kehadirannya benar-benar sebuah petaka sehingga bahkan ayah kandungnya dipenjara, dan ibunya memenjarakan sang ayah. Amber rela kehilangan masa bebasnya, rela kehilangan impiannya untuk memenangkan turnamen taekwondo berturut-turut, karena dia sudah bertekat untuk menjaga dan merawat sang buah hati. Sebagai seseorang yang tahu masa lalu Amber, Arana menyadari bahwa Amber tidak ingin membuat anaknya kelak merasakan menjadi Amber, dimana dia berada diposisi dimana dia tidak diinginkan oleh orang yang seharusnya mendekapnya dengan kasih sayang dan cinta keibuan.
Amber tidak menginginkan anaknya merasakannya, karena Amber tahu betapa sakitnya perasaan tidak diinginkan itu.
Arana menatap Amber dan gadis itu perlahan terisak. Arana juga merasakannya.
__ADS_1
Amber benar-benar sudah dewasa bahkan tanpa dia sadari.
Sang Hakim dan majelis segera berdunding, dan dengan tegas menentukan hasilnya. "Permintaan dikabulkan. Hak asuh akan menjadi milik sang ibu, dan tuntutan resmi dicabut. Sebagai bentuk ganti rugi kepada korban, pengadilan memutuskan bahwa pihak tergugat harus menjalankan kewajiban sebagai seorang ayah dengan memberikan fasilitas dan pemenuhan kebutuhan kepada korban dan putra korban sampai putra korban mampu menghasilkan penghasilan sendiri."
Tok! Tok! Tok!
Kemudian, terdengar suara palu yang diketuk tiga kali, berbarengan dengan suara isak tangis Melody.
Amber melemaskan bahunya, dan berbalik menatap Arana dan Arselyne. Meskipun masih menampilkan wajah kesal, Arselyne sebenarnya juga mengerti keputusan Amber. Jadi pemuda itu mendengus, menyilangkan tangan dan membuang wajah sementara Arana menangis dan menganggukkan kepalanya. Alva yang ada disamping Arana dengan lembut menggenggam tangan Arana.
Melihat bahwa orang-orang yang dia sayangi mendukung keputusan yang dia buat, Amber tersenyum lembut.
Ia tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih rata dan berbisik dihatinya, "Mommy mencintaimu, nak. Jangan pernah berpikir kamu akan seperti mommy yang tidak diinginkan. Lihat, nak. Ada paman Lily, bibi Nana dan paman Alva serta nenek Melody yang menerima kamu dan akan mencintai kamu seperti mommy mencintai dan menginginkanmu."
"Kamu akan tumbuh dengan cinta, nak. Mommy berjanji."
...***...
Seseorang itu berdiri didepan cermin. Tangannya terulur meraih sebuah vas dan dengan kejam dia melemparkan vas itu ke cermin hingga cermin hancur menjadi berkeping-keping. Replika banyak wajah dengan satu rupa muncul didepan cermin, bayangan samar membuat sosok itu kabur dan tidak jelas terlihat.
"Sialan! Padahal aku sudah berani membayar begitu mahal untuk jasa orang-orang itu. Bagaimana mereka menolak hanya untuk membuat menderita satu gadis kecil yang lemah?!"
Suaranya dingin dan kejam. Ruangan gelap yang berdebu dan samar-samar menampilkan foto-foto seseorang yang terlihat sama kaburnya karena kegelapan.
"Alana ... Alana ... Alana ... Alana! Alana!" Ia mengulangi terus bak mantra hingga ia bergumam dingin, "Aku akan memastikanmu menderita. Aku akan membuatmu menderita!!"
__ADS_1