
Arana menarik napasnya dalam. Siap untuk memulai rencananya membuat Alva menceraikannya. Kemarin Amber benar-benar menginspirasinya, bagaimana dia bisa membuat Alva tidak mencintai Alana lagi. Ide mengalir dalam otaknya sekilas, dan dia tahu bahwa dengan bersikap memalukan atau bersikap berlebihan akan membuat Alva ilfeel padanya dan akan kehilangan minatnya pada Alana.
Hehe, Arana sudah siap!
Rencana A: Marah-marah dan galak.
Duduk di meja makan di ruang makan, Arana menghadap banyak makanan didepannya. Ada berbagai hidangan yang dibelinya. Entah makanan apa saja itu, selama terlihat enak dengan rating tinggi, Arana memesannya. "Oh, ada apa ini? Tumben memesan banyak sekali makanan?"
Arana mendengus. "Tidak usah berisik dan makan saja. Aku lapar!"
Mendengar nada seperti itu dari Arana, Alva menampilkan wajah bingung yang dapat dilihat langsung oleh Arana diseberang meja. "Baiklah, makanlah. Aku tahu moodmu berubah-ubah karena kamu sedang datang bulan."
Gagal!
Itu bukan karena datang bulan! Arana bahkan belum datang bulan! Tapi karena alasannya untuk menghindari malam pertama waktu itu, Arana menelan bantahannya dan hanya menatap tajam kearah Alva. Oh, tentu itu juga bagian dari rencananya. Dia tidak benar-benar memiliki masalah dengan pria didepannya sebenarnya. Sejujurnya, dia cukup suka dengan Alva karena pria itu cerdas, baik, hangat dan penyayang.
Rencana B: Makan dalam porsi besar dan tidak sesuai etika makan seorang gadis !
Arana mengalihkan tatapannya dari Alva dan mulai mengambil makanan yang ingin dimakannya. Jika biasanya Arana hanya akan mengambil sedikit bagian, kali ini dia mengambil banyak dan menaruhnya di piringnya sendiri tanpa mengambilkan makanan untuk Alva. Alva yang memandangnya bingung tak luput dari tatapan Arana, namun dia tidak peduli dan membiarkan Alva mengambil makanannya sendiri.
Gadis itu mulai menyendokkan makanan ke mulutnya dan mengunyah dengan suara. Merasa bahwa tindakannya kurang, dia mengangkat satu kakinya dan memasang posisi santai. Bahkan kunyahan semakin cepat. Heh, lihat bagaimana reaksi pria itu.
Sial!
Ketika Arana melirik, sepasang manik jelaga itu memandangnya dengan lembut. Namun jika di telisik, ada tatapan geli disana. Arana menghentikan kunyahan sesaat, menarik perhatian Alva.
__ADS_1
"Ada apa? Mengapa kamu berhenti makan?" Pertanyaan itu membuat Arana meraih gelas air putih didepannya dan menenggaknya hingga terkuras seperempat gelas. Gadis itu menyeka bibirnya dengan punggung tangannya dan menggelengkan kepalanya. "Jangan bertanya-tanya dan makan saja makananmu."
"Mn, baiklah?" Alva bergumam dengan nada ragu, sebelum keduanya melanjutkan kembali sarapan mereka dengan suara kunyahan Arana yang bergema diruang modern-kontemporer itu.
Masih gagal! Alva bahkan memandang dengan lembut!
Rencana C: Menghindari Skinship
Berdiri di depan pintu apartemen, gadis itu menyilangkan tangan didepan dada, memandang Alva yang tengah berusaha membenarkan dasinya. Arana sebenarnya ingin membantu, namun dia tidak bisa melakukannya. Jadi dia hanya mengawasi.
"Sayang, tolong bantu aku memakai dasi, ini." Alva berujar sembari mendekati Arana.
Arana hanya menatapnya. "Tidak mau. Pakai saja sendiri."
Melihat Alva tidak lagi membujuk dan mulai memakai dasi sendiri, Arana masih diam ditempatnya dan mengawasi. Oh tidak, ikatan dasinya miring! Lebih kekanan sedikit, aduh!
"Sayang," Alva memanggilnya lembut, namun Arana mengabaikannya. "Pergilah."
Menghela napas, Alva memandangnya selama dua detik sebelum berkata, "Aku pergi." Dan pintu tertutup.
Diam ditempatnya selama beberapa waktu, Arana menengok keluar setelah dia membuka pintu dan menampilkan wajah yang lain. "Apakah berhasil? Apa Alva mulai membenciku? Maksudku Alana?"
"Ahhh! Aku pusing!" Arana mengerang sebelum menjatuhkan dirinya disofa. Gadis itu mengangkat sebelah kakinya dan menaikkannya diatas pegangan sofa. Sungguh posisi yang paling nyaman, namun tidak mencerminkan seorang gadis dari keluarga yang memiliki segudang aturan selayaknya bangsawan.
Getar ponselnya membuat perhatian Arana dari langit-langit kamarnya teralihkan. Gadis itu meraih ponselnya yang ada disebelahnya dan melihat pesan yang muncul diantar muka percakapan. Itu pesan dari Karina.
__ADS_1
[Luveryx Restorant, pukul 10]
Oh, Arana hampir saja melupakan janjinya dengan Karina. Gadis itu menatap nama restauran itu dan mau tak mau merasa penasaran. Jadi dengan menggunakan google pencarian, dia menemukan bahwa restauran itu tidak terlalu jauh dari apartement yang ditinggalinya. "Aku harus segera bersiap-siap."
...***...
Satu jam kemudian, Arana sudah berada didepan gedung restauran yang dimaksudkan oleh Karina. Restaurant itu bertingkat dua, dengan nuansa modern yang kental. Lalu lalang kendaraan teredam oleh kaca yang berfungsi sebagai dinding restauran itu, dan tanaman hijau menghiasi tiap bagian, membuat tempat itu lebih hidup dan nampak segar. Sirkulasi udara yang baik membuat gedung itu terasa sejuk saat panas dan hangat saat dingin. Meja dan bangku berjajar dengan rapi, ditempatkan secara horizontal dan memiliki jarak tertentu. Bahkan untuk beberapa pengunjung penting, ada meja besar yang dibatasi kaca yang meredam suara dari dalam dan dari luar, sehingga apa yang dibicarakan tidak bisa didengarkan oleh orang lain.
Arana mengedarkan pandangannya, sebelum maniknya menguncinya sosok wanita yang dikenalinya duduk disalah satu bangku dimeja didekat jendela sembari menyesap secangkir minuman hangat.
Melihat Arana, Karina mengangkat dan melambaikan tangannya. "Disini, Alana."
"Apakah kamu kesulitan menemukan tempat ini?" Pertanyaan itu terlontar begitu Arana mendudukkan dirinya didepan Karina. Arana menggeleng. "Tempat ini ada disekitar apartemenku. Bagaimana bisa aku tersesat?"
"Betulkah? Aku tidak menduga apartemenmu dekat dengan tempat ini. Kalau begitu, syukurlah aku memilih tempat yang tepat." Ucap Karina.
Arana tahu bahwa Karina berusaha berbasa-basi agar suasana tidak begitu tegang. Namun dengan sifat Alana, dia tidak bisa membalas basa-basi Karina karena Alana tidak suka berbasa-basi. "Baiklah, jadi apa alasan anda memanggilku kesini?"
Karina tersenyum lembut. Tidak terganggu dengan pertanyaan yang terdengar kasar. "Aku sudah mendengar dari Diana dan Lita, bahwa gaun yang kami kenakan diacara pernikahanmu adalah gaun buatanmu sendiri. Aku turut sangat sedih mendengar bahwa gaun pengantinmu rusak. Dan dengan tulus meminta maaf karena tidak hadir disana untuk membantu."
Arana mengangguk acuh. "Yah, sudah berlalu."
"Bekerjalah dibutiqku, Alana."
"Hah?"
__ADS_1