
Arana mengaktifkan ponselnya begitu dia sampai di apartemen. Setelah satu minggu berbulan madu yang sebenarnya nampak seperti liburan, Arana mengerutkan kening ketika melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Amber.
Saat duduk dipesawat, Arana baru menyadari bahwa ponselnya tertinggal. Ia tidak sadar bahwa dia tidak memasukkan ponselnya kedalam tasnya dan masih tergeletak diatas meja sampai mati karena kehabisan daya.
Arana segera membuka kontak Amber dan menemukan pesan yang membuat maniknya melebar bahkan tanpa sadar. Tangan Arana yang memegang ponsel melemas dan ponselnya jatuh tepat keatas wajahnya yang membuatnya memekik pelan. Hidungnya memerah ketika dia kembali meraih ponselnya, namun Arana tidak memperdulikannya dan terus saja memandangi layar ponselnya dengan ketidakpercayaan.
Ada sebuah pesan dari Amber.
[**Nana! bad! bad! One more week Lily will be back!! || **Nana! Gawat! Gawat! Satu minggu lagi Lily akan kembali!!]
[**Nana! Why didn't you reply to my message?! Arana!! This **** is really bad!! || **Nana! Kenapa tidak membalas pesanku?! Arana!! Arana ini benar-benar gawat!!]
Banyak pesan lain, hingga ada pesan terakhir yang lebih panjang dari pesan lainnya. Dan itu baru dikirimkan tadi pagi. [**Na\, I really don't know what happened to you and your phone. I really hope you are well. But this is really precarious. Once Lily came back and asked for you\, I couldn't hide anything from her. But I have tried and told that your parents picked you up to let you live with them. Nana\, Lily booked flight tickets today. Do whatever\, whatever not to let him know the real reason you're going to Indonesia\, or he'll really get mad || **Na, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padamu dan ponselmu. Aku benar-benar berharap kamu baik-baik saja. Tapi ini benar-benar genting. Begitu Lily kembali dan menanyakanmu, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Namun aku sudah mencoba dan mengatakan bahwa orangtuamu menjemputmu untuk membiarkanmu hidup bersama dengan mereka. Nana, Lily memesan tiket penerbangan hari ini. Lakukan apapun, apapun untuk tidak membuatnya tahu alasan sebenarnya kamu ke Indonesia, atau dia akan benar-benar marah.]
Wajah Arana pias.
Lily ... akan datang?!
"Tidak mungkin!"
"Apa yang tidak mungkin sayang?" Suara itu membuat Arana mendongak, dan tanpa sadar mengunci layar ponselnya. Ia meletakkannya dibelakangnya dan memandang Alva dengan senyuman, mencoba menyembunyikan kegugupan yang dia miliki.
Arana menggeleng. "Bukan apa-apa, Al. Aku tadi hanya melihat sepatu yang bagus tapi sudah sold out, padahal baru saja diluncurkan. Jadi seperti mustahil saja."
Alva menyadari keanehan Arana, namun ia hanya mengangguk. Diam-diam memikirkan alasan sikap Arana. Tetapi ketika menyadari bahwa Arana juga memiliki privasinya yang mungkin tidak ingin diketahuinya, Alva diam-diam menelan keinginannya untuk menyelidiki apa yang baru saja dilihat Arana. Kriminalitas jika menyadap ponselnya.
"Kapan kamu mulai bekerja, Al?" Tanya Arana.
Duduk disamping Arana, Alva menjawab. "Besok. Ada beberapa meeting yang harus aku lakukan dengan klien. Ada kemungkinan bahwa aku akan kembali lebih lambat, namun aku akan memastikan untuk tidak melewatkan makan malamku."
Arana mengangguk dengan tenang dengan senyuman yang tidak tertinggal diwajahnya. Berpura-pura bertanya dengan santai, padahal bersorak dalam hati bahwa seharusnya bertepatan dengan kedatangan Lily besok. Lily tidak mungkin melepaskannya dan pasti akan mengejar sampai menanyakan dimana dia tinggal jika mengajak bertemu diluar. Mengetahui bahwa ia bersama Amber yang sudah tahu rumahnya, Arana yakin Lily memaksa Amber untuk langsung membawanya ke apartemen ini.
Arana benar-benar gugup!
__ADS_1
***
Itu sudah hampir siang hari. Biasanya Arana akan duduk santai disofa sembari menonton televisi ketika saat ini dia sedang sibuk menyembunyikan hal-hal yang bisa dicurigai oleh Lily dan menyimpannya ke tempat terdekat.
Arana harus merasa bersyukur bahwa lukisan selebar 3 meter x 4 meter yang memperlihatkan dirinya dan Alva dalam balutan pakaian pengantin itu tertempel apik di kamarnya dan Alva, bukan diruang utama atau koridor. Jika tidak, dia benar-benar akan kesusahan untuk menyembunyikan benda sebesar itu dari pandangan Lily ketika dia datang hari ini.
"Menyimpan foto dalam bingkai mereka kedalam laci dan menguncinya, Arana menghela nafas pelan dan tidak bisa menahan rasa gugup dan bersalah secara bersamaan.
Dia tidak hanya membohongi Alva, dia bahkan juga membohongi sahabat baiknya yang selalu ada untuknya bahkan sejak dia masih kecil. Namun Arana benar-benar tidak memiliki pilihan lain karena Arana tidak ingin membuat Lily khawatir akan dirinya. Arana adalah yang paling mengerti Lily daripada Amber. Sahabatnya itu sudah tidak menyukai orangtuanya melebihi Amber, namun dia masih memahami keinginan terdalamnya untuk bisa merasakan kasih sayang orangtua.
Lily baru saja melakukan proyek yang harus dia tangani bersama dengan timnya, dan itu membutuhkan usaha dan konsentrasi yang baik.
Jika Lily mengkhawatirkannya karena masalahnya, Arana tidak ingin membuat Lily kehilangan fokus yang bisa berdampak pada proyeknya pada akhirnya.
Terlarut dalam obrolannya, Arana tersadar ketika mendengar suara bel yang berdentang merdu dan nyaman ditelinganya. Ia segera berlari kepintu depan dan menyalakan layar intercom. Ada wajah Amber disana.
"Nana! We come || Nana! Kami datang."
"Amber? You are here? || Amber? Kamu ada disini?"
"Lama tidak bertemu, Na."
Arana mengangkat tangannya dan dengan gugup membalas, memanggilnya dengan suara lembut. "Li-Lily. Kenapa kamu tidak mengabariku jika kamu sudah kembali dan akan kemari?"
Ia berpura-pura terkejut, meskipun ia memandang Amber yang mengatupkan tangannya dan berkata maaf tanpa suara.
Arana dan pemuda itu memisahkan diri setelah beberapa saat berpelukan. Arana mendongak, melihat wajah sahabatnya yang sudah lama tidak dilihatnya. Pemuda didepannya secara alami adalah pemuda yang tampan. Jika Alva adalah tampan yang maskulin dengan afeksi dingin dan tidak bisa sembarang didekati, ketampanan Lily lebih menjurus ke feminim, dengan senyuman teduh yang selalu menjadi bagian yang paling mempesona darinya. Meski demikian, sifat keduanya tidak jauh berbeda bagi Arana, karena pemuda didepannya ini juga tidak mudah didekati oleh orang asing dan tidak terlalu banyak bicara.
Kulitnya putih cerah dan rambutnya berwarna pirang lembut. Penampilan yang identik seperti pangeran berkuda putih dari negeri dongeng.
"Kamu seharusnya tahu bahwa aku sedang marah saat ini, Na. Aku memelukmu karena aku benar-benar merindukanmu, tapi aku juga kesal denganmu."
Arselyne adalah orang yang cerdas. Dia menguasai banyak bahasa sama halnya dengan Arana, dan dia fasih berbahasa Indonesia karena tidak ingin membuat Arana melupakan bahasa kelahirannya yakni bahasa Indonseia. Ucapan Arselyn membuat Arana tersenyum dengan kaku dan mau tak mau mendongak, memandangnya dengan senyuman khasnya setelah lebih tenang dan mengajaknya untuk masuk terlebih dahulu. "Mari masuk dan duduk terlebih dahulu. Tidak nyaman untuk berbicara diluar."
__ADS_1
Ketiganya melangkah kedalam, dan Arselyne langsung disuguhi pemandangan apartemen yang mewah, sama mewahnya dengan apartemen yang ditinggalinya di Belanda.
Ia mengerutkan keningnya, dan ketika dia duduk langsung berkata, "Apa yang membuat orangtuamu bermurah hati memberikan apartemen semewah ini padamu setelah menelantarkanmu selama 12 tahun lamanya?"
Pertanyaannya yang diimbuhi dengan fakta itu membuat Arana gelisah, namun tetap menjawabnya dengan kata-kata yang sudah ia pikirkan masak-masak. "Mereka berkata akan menebus kesalahan mereka dan mencoba awal yang baru."
"Awal yang baru? Lantas kenapa mereka tidak memintamu tinggal bersama mereka dan justru membiarkanmu tinggal di apartemen? Bukankah ini sama seperti kehidupanmu di Melbourne, dan hanya merasakan fasilitas yang lebih?" Selidik Arselyne.
"Sebenarnya, aku, aku yang menolak untuk tinggal bersama dengan mereka, Ly. Belasan tahun hidup terpisah dengan mereka, mereka terasa sedikit asing bagiku, dan aku butuh waktu untuk membiasakan diriku dengan mereka." Jawab Arana.
Arselyne tidak berhenti mengajukan pertanyaan kepadanya. "Kapan mereka menjemputmu?"
"Not long ago, just two weeks ago. Isn't that right, Nana? || Belum lama\, baru dua minggu yang lalu. Benar kan\, Na?"
Arselyne menatap tajam Amber yang menyela jawaban dari Arana. Melihat tatapan itu, seketika Amber menciut, mengerutkan keningnya dan meraih setoples kue kering diatas meja dan meneggigitnya dalam ketidakpuasan. Dalam lingkaran persahabatan mereka, Amber selalu saja menjadi pihak yang paling kalah jika harus berhadapan dengan Arana dan Arselyne, baik sikap maupun pengetahuan.
Arselyne menoleh kearah Arana dan kembali bertanya. "Lantas kenapa kamu tidak mengabariku jika mereka mendatangimu dan mengajakmu tinggal di Indonesia? Na, apakah aku tidak penting bagimu sampai hal seperti ini, kamu tidak mau memberitahuku?"
"Tidak!" Arana menggeleng dengan panik, "Bukan seperti itu!"
"Lalu apa maksudmu?"
Arana menyatukan tangannya, sedikit menunduk. "Aku tidak ingin kamu mengkhawatirkanku. Kamu masih memiliki proyek sains di Belanda bersama dengan team-mu, makanya aku tidak ingin memberitahumu sampai kamu kembali. Tetapi kamu tiba-tiba datang bahkan tidak mengabariku, jadi aku tidak memiliki kesempatan untuk memberitahumu."
"Ly, aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir."
Melihat keseriusan Arana, Arselyne hanya bisa menghembuskan napasnya dan mengangguk. "Baiklah, aku bisa mengerti. Aku akan memaafkanmu untuk kali ini, tetapi aku masih kesal untuk beberapa alasan. Jadi, jika kamu ingin meredakan kekesalanku, kamu membutuhkan sesuatu."
Manik Arana berbinar dengan cerah. "Betapa beruntungnya! Kebetulan kemarin aku membuat puding susu kesukaanmu!"
Sebenarnya bukan kebetulan.
Arana sengaja membuatnya untuk mengantisipasi masalah seperti ini.
__ADS_1
Mendengar puding susu, telinga Arselyne langsung berdiri. Kedua tangannya yang bersilang tidak berubah, namun matanya tidak bisa menahan perasaan bersemangat. Arana tersenyum dan riang berkata, "Akan aku ambilkan!"