
EKSTRA BAB 2 — AMBER & EXEL
[Chapter 2]
•
•
Exel sedikit menatap Amber sebelum berkata dengan suara yang senantiasa tenang. "Apa yang aku lihat saat itu hanya seorang anak perempuan pemberani yang diseret kedalam ruangan oleh wanita yang memanfaatkannya untuk masa depannya sendiri."
"Amber," ia memanggil.
"Apakah menurutmu aku membencimu?"
Dalam sekejab, Amber ditinggalkan diruangan itu sendirian. Ia memandang pintu yang tertutup selama beberapa waktu sebelum menghela napas dan mendudukkan dirinya disofa. Ia memandang lurus kedepan dan memikirkan banyak hal dibenaknya. "Darimana aku tahu bahwa dia tidak membenciku? Sikapnya saja selama ini sangat aneh."
Amber menghela napas dan kemudian dengan tenang kembali melakukan aktivitasnya sementara disisi lain, Exel nampak memasuki bangunan rumahnya, ketika Leviana bergegas menghampirinya. "Exel, darimana saja kamu?"
Exel tidak pernah menaruh hormat apapun kepada Leviana yang sejak awal sudah menjadi sosok yang paling dibencinya dirumah. Dia melangkah menuju tangga ketika Leviana berusaha menghentikannya kembali. "Exel, dengarkan mama sebentar."
"Kau bukan mamaku. Jangan panggil dirimu seperti itu kepadaku." Ucapan dingin Exel membuat Leviana malu dan juga merasa kesal. Ia berkata dengan sedikit nada yang ditinggikan. "Betapa tidak sopannya kamu. Aku sudah berusaha bersikap baik selama ini, namun kalian selalu mengabaikannya dan justru membalas dengan sikap yang kurang pantas seperti ini. Aku hanya akan menyampaikan apa yang disampaikan oleh ayahmu."
"Pergilah keruangannya sekarang juga." Leviana berkata, "Ayahmu sudah menunggu sejak tadi."
Exel sedikit terdiam ditempatnya sebelum berbalik dan melangkah menuju tangga lain dan melangkah menaiki tangga tersebut menuju lantai dimana ruangan sang ayah berada. Dibawah, Leviana menyaksikan bagaimana Exel melangkah pergi dengan cibiran dikedua matanya. "Ayah dan anak sama-sama sulit. Aku heran bagaimana manusia seperti mereka bisa dilahirkan dengan kekayaan seperti ini."
...***...
Tok ... Tok
__ADS_1
Exel mengetuk pintu bercat kayu didepannya dua kali sebelum membukanya dan melangkah masuk. Ia menutup pintu dibelakangnya dan berjalan menuju meja dimana sang ayah tengah berada. Pria itu duduk dibangkunya, mengenakan kacamata baca dan tengah membaca sebuah buku tebal yang sering Exel lihat.
"Ayah mencariku?"
Tak!
Pria itu melemparkan cangkirnya hingga mengenai pelipis Exel. Pecahan kaca menggores wajahnya, namun pria muda itu bahkan tidak bergeming. "Kau masih berani untuk menemuinya setelah apa yang kau lakukan?!"
Exel menatap sang ayah dengan tatapan tegas dan berkata, "Aku mencintainya. Dan anak diperutnya adalah milikku, mengapa aku tidak bisa menemuinya?"
"Tutup mulutmu!"
William membentak dengan suara yang nyaring. "Setelah kau berani menghamili putri kandungku, bersyukurlah bahwa kau masih memiliki tubuh yang utuh dan aku tidak mengusirmu dari rumah ini."
Exel menantang. "Ayah tidak akan bisa."
"Karena satu-satunya pewaris yang mampu hanyalah aku, kan?"
Blam!
Dan pintu tertutup berbarengan dengan lantangnya suara William. "Dasar anak tidak tahu diuntung! Sudah baik aku memungutmu dari panti asuhan! Sekarang kau malah menghancurkan masa muda putri kandungku! Kau bajing*n sialan!"
Diluar, Exel yang tidak bisa mendengar apapun dengan tenang melangkah pergi menuju ruangan bawah dan bertemu kembali dengan Leviana yang meliriknya. Exel berjalan sembari bertepuk tangan. "Sungguh pertunjukan yang bagus. Aku hanya bertanya-tanya sejak kapan kau mengambil sampel rambut Ansel dan menggunakannya untuk tes paternitas kepada Amber, nona Leviana?"
Leviana memandang Exel dan mengerutkan keningnya. "Omong kosongmu keterlaluan."
Exel mengantongi tangannya dan mencibir Leviana dengan wajah datar. "Sejak awal aku sudah memperingatimu untuk tidak berbuat macam-macam hal. Aku membiarkan tipuanmu tentang identitas Amber, aku membiarkanmu memonopoli rumah dan pelayan dirumah ini, aku membiarkanmu mengatur keuangan rumah ini."
Exel melangkah mendekati Leviana dengan dingin dan menunduk. "Tapi bukankah aku sudah memperingatimu untuk tidak bertingkah keterlaluan sebagai seorang ibu?"
__ADS_1
"Ingat apa yang aku katakan," Exel mendekat dan berbisik disamping wajah Leviana, wajahnya dan tatapannya sedingin lapisan es dan sedalam dasar samudra. "Setiap lontaran kata tajam dan ayunan tangan yang kau berikan kepada Amber, kau akan mendapatkan balasannya dariku tidak lama lagi. Jadi kuharap kau mau menunggu dan bersamar ... mama."
Setelahnya, Leviana ditinggalkan dengan mata yang melebar dan tubuh yang gemetar oleh ketakutan dan kecemasan.
...***...
Hari-hari berlalu dengan Exel yang tidak pernah absen makan dirumah Amber. Melody yang beberapa kali bersinggungan dengan Exel pada awalnya masih memandang Exel dengan tatapan yang dipenuhi kecurigaan dan ketidaksukaan yang mendalam, namun melihat tingkahnya yang semakin lama semakin hangat kepada keponakannya dan melihat keponakannya yang lebih aktif ketika bersama dengan Exel membuat Melody sedikit luluh oleh Exel.
"Kalian akan berangkat sekarang?"
Melody bertanya kepada Amber yang tengah mengenakan sepatu. Dibawahnya, Exel tengah membantu Amber mengikat sepatunya agar keamanan Amber terjaga. Amber menganggukkan kepalanya sembari memegangi perutnya yang membesar. "Iya, bibi."
"Maaf ya, bibi tidak bisa ikut karena bibi harus segera kembali ke restourant."
Amber menganggukkan kepalanya. "Tidak masalah, bibi Mel. Aku sudah ditemani Exel. Bibi harus semangat bekerja, ya. Aku akan segera mengabari bibi hasil pemeriksaan hari ini."
Melody mengangguk dan berkata kepada Exel yang sudah berdiri. "Jaga keponakan bibi, Exel."
"Baik." Exel menganggukkan kepalanya, sebatas formalitas karena tanpa disuruhpun, pria itu jelas akan melindungi Amber dengan kedua tangannya sendiri.
Setelah berpamitan, Exel menuntun Amber menuju mobil dan keduanya berlalu pergi setelah beberapa waktu kemudian. Duapuluh menit kemudian, Amber dan Exel tiba di sebuah rumah sakit dan memasuki departemen kehamilan. Beberapa pandangan orang-orang diarahkan kepada keduanya, terlebih kepada Amber yang memang nampak seperti remaja dibawah umur. Ia sedikit melirik Exel dan mengerutkan bibirnya.
"Mereka pasti mengira aku dibawah umur."
Amber sedikit mendengus. "Meskipun memang kehamilan diluar nikah, namun usiaku-kan sudah legal untuk hamil."
Mendengar perkataan Amber, Exel sedikit menghela napas tanpa daya. Mau bagaimanapun, memang keduanya nampak seperti pasangan diluar nikah yang memeriksakan kehamilan mereka. Melihat penampilan Amber pun, Exel tidak akan menyalahkan orang lain yang mengatakan Amber masih dibawah umur.
Amber memang sangat imut.
__ADS_1
"Ayo kita menikah."