
Arana segera membantu Erlan untuk membantu Alva berdiri. Pria muda itu nampak kesakitan, dan memegangi punggungnya sembari meringis.
Arana dilanda kepanikan. "Ka—Kamu tidak apa? Apakah sangat sakit?"
Arana ingin menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang dibanting seperti itu tidak kesakitan? Anggota lain di dojo latihan saja selalu kesakitan saat terbanting oleh lawan latihannya. Dirinya bahkan sudah beberapa kali merasakannya dan rasanya sangat sakit.Bahkan membuat punggungnya memar.
Bodohnya dia bertanya.
Melihat kepanikan dimata Arana, Alva tersenyum. "Tidak, tidak begitu sakit. Sekarang sudah baik-baik saja."
Arana tidak yakin dengan jawaban pria rupawan didepannya. Tetapi meski begitu, bagaimana dia bisa tahu kalau seorang yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang adalah Alva, calon suaminya?
Bukan salahnya kan jika refleks fisiknya masih merespon bahkan setelah dua tahun hiatus dari dojo taekwondo?
Tapi jika diperhatikan, Alva ini sangat-sangatlah tampan.
Tapi, kenapa Alana tidak menyukainya, ya?
Erlan mengernyit. "Sebenarnya, ada apa disini? Bos, kenapa kau bisa tergeletak dilantai sambil kesakitan seperti itu?"
Sesaat teralihkan karena penampilan Alva yang tampan, Arana tiba-tiba kembali tegang saat Erlan menanyakan alasan Alva jatuh.
"Um itu .. Um, maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, sa—sayang!" Ucap Arana.
Betapa susahnya memanggil orang asing dengan sebutan sayang!
Alva mengulurkan tangannya dan mengusap surai Arana yang nampak panik dan merasa bersalah meski tidak kentara. "Calon istriku ini hebat sekali. Jika dimasa depan ada orang lain yang berani memperlakukanmu tidak sopan, aku tidak akan khawatir kamu terluka. Jangan khawatir."
Arana ingin tertawa tapi juga menangis, tetapi dia hanya bergumam lirih. "Be—Benar juga."
"Tapi," Alva melangkah mendekati Arana, membungkuk untuk mengecup pipi kanannya penuh kasih sayang.
"Istriku ini sangatlah cantik dengan gaun yang kamu kenakan." Lanjutnya dengan senyuman.
Arana membeku. Dia menatap kosong selama beberapa saat kedepan sebelum batinnya menjerit. "Ahhhh!!! Bagaimana dia menciumku?! Pi—Pipiku!!"
Tetapi dipermukaan, Arana menyunggingkan senyuman.
Arana ingin pulang!
...***...
Beberapa jam berlalu setelah keduanya mencoba pakaian pernikahan yang akan mereka kenakan di resepsi pernikahan dan pesta pernikahannya. Keduanya telah menggunakan pakaian awal mereka dan keluar dari butique. Tetapi Arana masih dilanda rasa keterkejutan hingga membuatnya diam dari awal sampai akhir.
__ADS_1
Sebelum keluar dari ruang ganti, Karina menahannya, menatapnya dengan senyuman dan mengatakan sesuatu yang membuat Arana membeku.
"Aku tidak tahu apa masalahnya. Tetapi, gaun itu lebih cocok untuk dirimu."
Arana berjalan dengan hati dan pikiran yang linglung. Apa maksudnya? Apakah wanita itu mengetahui identitasnya? Atau itu dimaksudkan Alana dan orang lain?
"Ala."
Panggilan dan sentuhan ditangannya itu membuat Arana menoleh dan mendapati Alva memandangnya dengan sedikit kekhawatiran dan kebingungan.
"Ah, apa?" Beo Arana.
Alva berkata, "Aku memanggilmu beberapa kali tadi, tapi kamu tidak menjawab. Apakah ada sesuatu yang kamu pikirkan? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"
Arana menggeleng. "Tidak kok. Maafkan aku, aku tadi masih memikirkan betapa indahnya gaun itu."
"Ngomong-ngomong, bagaimana jika kita jalan-jalan sebelum kembali?" Katanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Untungnya Alva teralihkan. "Baiklah, kemana kamu ingin pergi?"
Panti asuhan!
Arana ingin sekali pergi kepanti asuhan terdekat dan bermain dengan anak-anak. Namun, Arana tidak bisa mengatakannya karena Alana tidak pernah sekalipun ingin menginjakkan kakinya di panti asuhan, dilihat dari sifatnya. Arana menelan suaranya sebelum mengubahnya.
"Tentu saja ke mall. Aku ingin berbelanja." Ucap Arana.
Dalam beberapa puluh menit perjalanan, mobil mewah itu berhenti dibasement mall terbesar di Jakarta.
"Berhati-hatilah." Betapa perhatiannya Alva, bahkan ketika Arana ingin keluar mobil, ia membantu melindungi kepala Arana dari cap mobil.
"Betapa beruntungnya Alana bisa dicintai pria gentle seperti Alva. Alana, Alana. Mengapa menyia-nyiakan cinta seseorang yang seperti Alva, sih?" Batin Arana tidak mengerti.
Gadis sembilan belas tahun itu keluar dari mobil mewah itu.
"Ayo masuk." Ajak Alva.
Bangunan didepan sana begitu ramai. Ada banyak pengunjung yang berlalu lalang keluar masuk mall. Arana memandangnya dan mengangkat sebelah sudut bibirnya yang berkedut.
Sial, dia sudah sampai. Tapi apa yang harus dibelinya didalam sana?!
"Um, ayo." Tetapi mengingat pesan Alana bahwa dia hanya suka pergi ke mall, Arana menerima uluran tangan Alva dan melangkah berdampingan memasuki mall.
...***...
__ADS_1
Sunburn Mall adalah mall terbesar di Jakarta. Ada banyak tempat didalam satu gedung yang memiliki luas hampir seratus hektare ini. Bahkan ada tempat hiburan didalamnya. Arana sudah berkeliling kesana kemari, tetapi bukan hanya tidak bisa menemukan apa yang harus ia beli, Arana bahkan merasa sedikit pusing karena keramaian yang ada.
Saat ini Arana tengah mendudukkan dirinya dibangku yang ada di mall, menunggu Alva membelikannya minuman. Arana meremat pangkal hidungnya dan menghela napas.
"Oeek!! Oekk!"
Ada suara bayi menangis. Pengunjung disekitar sana termasuk Arana berusaha mencari sumber suara, hingga menemukan seorang wanita berbaju merah tengah mencoba menenangkan bayinya yang menangis.
Wanita itu nampak kebingungan, dan pengunjung disekitar sana mulai merasa terganggu setelah sekian lama bayi itu menangis.
"Stt, Caca. Jangan menangis. Uh!" Gumam wanita itu gugup.
Ia mencoba menghubungi suaminya, sampai suara seseorang terdengar. "Permisi, bolehkah saya mencoba menenangkannya?"
Arana hanya merasa tidak tega pada bayi yang menangis itu. Wanita itu awalnya nampak tidak yakin karena penampilannya yang masih gadis, namun melihat tatapan Arana yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan membuat wanita itu mengulurkan bayinya kepada Arana.
Gadis itu menerimanya dan berkata. "Siapa namanya?"
"Aleca, panggilannya Caca." Jawab sang Ibu bayi.
Arana mengangguk dan memandang bayi digendongannya dengan senyuman. "Cup, cup, cup. Baby Caca tidak boleh menangis lagi, ya~"
"Mnn~" Menyenandungkan senandungan samar yang lembut, bayi berusia delapan bulan digendongannya perlahan memelankan tangisannya dan menatap Arana dengan sepasang manik bulat yang berair.
Arana mencoba memasang wajah jelak, memajukan bibirnya dan melebarkan matanya sebelum tersenyum dan melakukannya lagi. Terkadang, Arana menjulingkan matanya hingga membuat bayi perempuan itu terkikik dengan gemasnya.
"Blwee~ Siapa ini?" Godanya pada bayi itu sembari menggesekkan hidungnya pada hidung kecil bayi itu.
"Kyaaa~" Bayi itu menjerit girang dan tertawa.
Arana menyerahkan kembali bayi itu kepada Ibunya yang langsung berkata. "Terima kasih, ya. Caca sungguh rewel, tetapi hebat sekali kamu anak muda bisa menenangkannya dan bahkan membuatnya tertawa."
Tentu saja mudah.
Selama hampir setahun, Arana bekerja mengasuh bayi dipenitipan anak. Dari bayi hingga anak berusia dibawah lima tahun, selalu menyukai Arana karena sifatnya yang hangat dan menyenangkan. Jadi, Arana sendiri tahu bagaimana membuat anak-anak berhenti menangis.
"Sepertinya baby Caca sedikit kelelahan. Sebaiknya kakak membawanya kembali dan istirahat." Ucap Arana.
"Ah, sepertinya juga begitu. Terima kasih ya, um .. siapa namamu?"
"Ara—ah!"
"Namaku Alana." Ralat Arana saat menyadari bahwa ia hampir salah menyebutkan nama.
__ADS_1
Yah, dia hidup sebagai Alana sekarang.