My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 56: To Singapore


__ADS_3

"Tidak sayangku.." Lirihnya hampir tanpa suara.


Alva tersenyum, namun tidak ada sedikitpun cahaya yang tergambar diwajahnya.


Alva lelah dengan pembicaraan yang berputar-putar ini. Bagaimana coba?


Erlan memegang ponsel Arana, melirik ekspresi Alva dan tidak bisa menahan tawanya. Pada akhirnya, tatapan Alva jatuh ke Erlan dengan tajam. "Apa yang kau tertawakan, huh?"


Erlan menggeleng, menghindari tatapan Alva. Pria muda itu menyunggingkan senyuman provokatif yang membuat kening Alva berkerut dengan tidak menyenangkan.


"Sudahlah, Al. Aku haus, belikan aku sesuatu untuk diminum."


Arana sudah berhenti bermain bersama dengan Erlan dan Amber. Gadis diseberang sana hampir memekik dan wajahnya menampilkan ketidakpuasan karena drama gratis yang ditontonnya berhenti.


[Tch, it just turned out like that. Less satisfactory || Cih, ternyata hanya seperti itu. Kurang memuaskan.]


Perkataan Amber hampir membuat Alva membakar ponsel ditangan Erlan jika saja tidak ingat bahwa itu adalah ponsel Arana. Dalam hatinya, Alva bertekad bahwa dia akan menjauhkan gadis perusuh itu dari istrinya. Benar-benar akan melakukannya.


Alva menghela napas dan bangkit berdiri. "Kamu ingin minum apa?"


Arana sudah tidak lagi mengerjai Alva. Dia benar-benar merasa cukup haus. Yah, sesekali—maksudnya berkali-kali, memanfaatkan Alva tidak masalah, kan?


"Terserah kamu."


Satu kata yang selalu diucapkan wanita saat ditanya ingin apa.


Terserah.


Alva tersenyum tak berdaya. Yah, semoga saja Arana benar-benar berbeda dari perempuan kebanyakan. Jika tidak, bisa menjadi masalah besar bagi Alva hanya karena masalah minuman.


...***...

__ADS_1


10 menit kemudian, Alva kembali dengan satu cup minuman ditangannya. Langkahnya yang tegas membawanya melangkah menuju Arana yang tengah memandang jalanan sementara Erlan yang tengah fokus pada ponsel ditangannya. Nampak mengetik sesuatu dengan gerakan cepat.


Arana suka jalanan. Tetapi kadang dia juga tidak suka jalanan.


Apa yang Arana sukai adalah bagaimana kendaraan berlalu lalang. Ia bisa melihat orang-orang berjalan, beraktivitas. Mereka nampak menikmati kegiatan mereka, dan masing-masing dari mereka terkadang memiliki keistimewaan dari penampilan mereka. Terkadang rambut mereka begitu mencolok sehingga Arana bahkan sangat mudah untuk mengingatnya. Atau terkadang pakaian mereka begitu modis hingga membuat Arana begitu suka hingga hampir ingin memotretnya.


Tapi jalanan terkadang penuh dengan debu. Asap dari kendaraan terkadang membuat dadanya sesak. Memang tidak selalunya begitu, namun terkadang Arana merasakannya.


Tapi terlepas dari itu, Arana suka memperhatikan.


Merasakan seseorang mendekat, Arana menoleh. Menyambut Alva dengan senyuman yang biasanya ia tampilkan dimanapun ia berada. "Maaf aku merepotkanmu, Al."


Belakangan ini, Arana merasa bahwa memanggil Alva dengan panggilan sayang terlalu banyak untuknya. Ia merasa bahwa dadanya berdesir sakit kala ia memanggilnya dengan panggilan sayang.


Mungkin karena dia merasa bahwa dia tidak pantas untuk memanggilnya begitu.


Alva tersenyum, memberikan minuman ditangannya kepada Arana yang menerimanya, sebelum duduk dibangku taman disamping kursi roda Arana. "Minumlah."


"Susu stroberi?" Ia membeo terkejut.


"Enak?"


Arana mengangguk mendengar pertanyaan Alva. "Enak! Aku suka."


Alva menumpukan wajahnya dan memandangnya dengan senyuman yang membuat jantung Arana berdetak lebih cepat. "Syukurlah kalau kamu suka. Berarti pilihanku tidak salah. Tidak baik kamu mengkonsumsi kafein disaat kamu terluka seperti ini. Jadi lebih baik minum susu untuk memperkuat tulangmu."


Sebenarnya Alva berbohong. Dia dengan sengaja meminta susu stroberi karena dalam daftar kebiasaan Arana yang dia dapat, gadis itu sangat suka minum susu stroberi. Pagi, siang dan malam. Mungkin karena Alana suka minum kopi, gadis itu menerima kopi yang diberikan padanya, bahkan saat dia tidak suka kopi.


Jadi mulai sekarang, Alva akan memanjakan istrinya dengan susu stroberi kesukaannya.


Wajah Arana sedikit memerah. Dia diam-diam malu disela kegiatannya menyesap cairan kemerahan mudaan dari dalam gelasnya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, Al. Kemana kamu akan membawaku jalan-jalan dengan kondisiku yang seperti ini?"


Alva tersenyum. "Kamu akan tahu nanti. Sekarang, Erlan! Ayo berangkat."


"Hn." Gumam Erlan.


...***...


Arana berkedip dengan bingung. Beberapa jam yang lalu dia ingat dia masih ada di Jakarta, bagaimana sekarang dia bisa ada di Singapura?!


Tiga jam lalu, Alva membawa Arana menaiki mobil menuju sebuah tempat yang mirip bandara, namun lebih kecil. Didalamnya, Alva tanpa menjawab kebingungannya membawanya memasuki sebuah pesawat pribadi yang didalamnya lengkap dengan fasilitas apapun. Arana hampir merasa bahwa dia adalah orang paling bodoh didunia. Arana bahkan masih tercengang, hingga tak sadar telah berada di dalam mobil yang membawa mereka ke sebuah tempat yang masih belum Arana ketahui.


"Al! Kita akan kemana?!"


"Hotel, sayang."


Manik Arana melebar. "Hotel?!"


Alva meraih Arana kepelukannya. "Tenanglah. Kita hanya akan beristirahat sebentar di hotel sebelum kita ke tempat tujuan utama kita. Kita akan pergi saat malam."


Arana mendengus kesal. "Kenapa tidak langsung bilang, sih?"


"Surprise, dong."


"Tapi kamu tidak akan mengajakku ke tempat yang aneh kan?"


Mendengar itu, Alva mengeratkan pelukannya pada Arana. "Mana mungkin aku akan membawa istri kesayanganku ini ke tempat aneh. Aku janji, kamu akan menyukainya."


Arana mengangguk. "Baik, aku percaya."


Karena Alva memang tidak akan pernah bisa membahayakan Alana, kan?

__ADS_1



__ADS_2