My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 125: Alana And Ernad


__ADS_3

Berada dikamarnya, Arana memandang ponselnya dengan tatapan kesal. Maniknya dengan tajam menatap rentetan pesan yang tertera dilayar ponselnya.


Dua hari berlalu semenjak pertemuannya dengan Ernad. Lepas dua hari, dia mendapati pesan dari sebuah nomor asing yang ternyata adalah Ernad. Awalnya Arana mengabaikannya, namun Ernad tidak berhenti mengiriminya pesan yang membuat Arana merasa terganggu dan memblokirnya. Arana pikir dia sudah baik-baik saja, namun ternyata setelah diblokir, Ernad menggunakan nomor baru untuk menghubunginya dan bahkan mencoba menelphonenya.


[Jawab pesanku.]


Arana dengan cemberut membalas pesan Ernad. [Jangan menghubungiku! Aku sudah mengatakan bahwa hubungan kita sudah berakhir.}


[Oh, enggak, sayang. Kamu tidak pernah bilang putus padaku. Dan apa kamu pikir memutuskan hubungan bisa dilakukan secara sepihak? Apa kamu pikir itu adil buatku jika kamu memutuskanku begitu saja padahal kamu bilang kamu mencintaiku dan kita berjanji akan menikah?]


Arana merasa sedikit simpati. Mungkin memang bukan kesalahan Ernad. Mungkin Alana terlalu menjanjikannya dengan kata-kata manis yang membuat Ernad menjadi mencintai Alana, dan Alana merahasiakan soal tunangan dan pernikahannya.


[Aku tidak peduli. Intinya kita sudah putus karena aku muak denganmu. Aku tidak mencintaimu lagi. Orangtuaku sudah memilihkanku pasangan yang sesuai denganku, dan aku mencintainya. Kami sudah berkeluarga dan jangan mengganggu kami.]


Mungkin ini adalah jawaban yang paling tepat yang bisa diberikan Arana. Meski terkesan sangat kasar, namun Arana tidak memiliki pilihan lain selain menjawab dengan jawaban seperti itu. Arana tidak mau memperumit hubungan yang ada.


Tidak ada jawaban selama beberapa waktu.


[Aku mengerti. Maafkan aku karena aku mungkin menyakitimu karena meninggalkanmu sendirian disini. Bisakah kita mulai hubungan baru? Hanya teman? Meski hubungan kita berakhir, setidaknya kita bisa berteman karena bagaimanapun, hubungan kita sangat baik dulu.]


Arana menatap pesannya selama beberapa waktu sebelum bimbang. Pada akhirnya, Arana menghela napas dan membalas.


[Hanya teman, tidak lebih. Dan jangan pernah membicarakan tentang hubungan lama kita.]


...***...


Dilain tempat, pemuda itu tengah duduk disofa membelakangi pintu. Tatapan mata abu-abunya terarah pada ponselnya dan sebuah senyuman miring tercipta dibibirnya ketika dia bergumam dengan nada penuh ketertarikan dan kejenakaan.


"Jika aku tidak tahu, aku benar-benar akan mengira dia adalah Alana."


Beberapa hari yang lalu


Pemuda itu melangkah menuju bandara. Langkahnya tegap dan ia membawa koper dengan ringan dibelakangnya. Kacamata hitam membingkai wajahnya, ketika dia menghentikan langkah kakinya ketika melihat seseorang yang nampak akrab dimatanya tengah duduk disebuah bangku tunggu di bandara. Ia mengerutkan keningnya, sebelum dengan seringaian melangkahkan kakinya menuju seseorang itu.


"Hei, cantik~ Lama tidak bertemu!"


Alana mendongak, menatap Ernad dengan mata menyipit selama dua detik sebelum mengangkat alisnya dengan penasaran. "Ernad, kan? Oh, lama tidak bertemu denganmu. Kau sepertinya sudah menjadi lebih baik disini."

__ADS_1


Ernad tertawa, merangkul Alana. "Dan kau?"


Ernad menatap Alana dari atas kebawah. "Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik. Oh ya, apa yang kau lakukan disini? Menunggu seseorang?"


"Menunggu kekasihku. Kau sendiri sepertinya akan pulang ke Indonesia, ya?"


Ernad mengangguk. "Reuni konyol itu. Mereka memaksaku datang karena aku sudah lama tidak datang. Katanya aku akan merindukanmu. Tapi ternyata begitu aku bertemu denganmu disini, aku tidak begitu rindu, tuh."


Alana memutar bola matanya malas. "Siapa yang peduli dengan rasa rindumu?"


Ernad memiringkan kepalanya. "Bukankah orangtuamu biasanya melarangmu berpergian jauh? Kenapa kau bisa ada disini? Disini bukan negara dimana nenek dan kakakmu berada, kan? Bukankah katanya, kau juga sudah menikah?"


Alana menyunggingkan seringaian. "Kau terlalu lama tinggal di luar negeri sampai ketinggalan banyak hal. Tapi karena kau sudah bertemu denganku disini, mau tak mau aku harus mengatakan yang sebenarnya. Sebenarnya, aku memang seharusnya sudah menikah. Namun, aku tidak mau dan aku pergi. Orangtuaku dengan liciknya menyuruh saudari kembarku menikah menggantikanku."


"Kau punya saudari kembar?" Ernad terkejut.


"Fakta yang mengejutkan, bukan? Aku sendiri juga tidak menyangka bahwa aku akan memiliki saudari kembar. Dia awalnya kampungan, namun lama kelamaan dia menjadi semakin berani dan dia menjadi sombong sekarang." Ucap Alana dengan tatapan tajam.


"Tidak sadar diri."


Ernad mencoba mencerna apa yang terjadi dan menyeringai dengan heboh. "Wahh! Benar-benar luar biasa. Itu terdengar sangat menarik dan sangat menyenangkan. Permainan macam apa ini. Kau seharusnya menikah, tapi saudari kembarmu menggantikanmu menikah dengan tunanganmu. Sementara kau pergi ke luar negeri. Wahh, aku hampir tidak bisa berkata-kata."


Alana mengedikkan bahunya dengan acuh. "Sepertinya sejak kami masih bayi, dia dititipkan kepada mantan kepala pelayan dirumah kami. Entah mengapa orangtuaku melakukannya, namun katanya memang dia sengaja dipisahkan denganku karena tubuhku yang lemah sejak kecil. Kepala pelayan itu tinggal di Melbourne dan Arana dititipkan kepada wanita itu. Bodohnya, dia bahkan menganggap wanita itu neneknya. Mungkin dia tidak tahu jika wanita itu hanya mantan pelayan dirumah kami."


"Lagipula, dia sangat mendambakan kasih sayang mama dan papa. Dia langsung setuju saat mama dan papa mendatanginya dan memintanya menikah menggantikanku."


"Jadi namanya Arana? Mirip denganmu."


Alana mengerutkan kening dengan jijik. "Dia sama sekali tidak mirip denganku. Dia kampungan, miskin, sok bijak dan pokoknya sangat menyebalkan!"


"Kalau kau kembali, kau akan segera menemukan betapa menyebalkannya dia." Ucap Alana.


Alana menatap lurus kedepan dan segera berdiri. "Kekasihku sudah sampai. Sampai jumpa lain kali, Ernad. Oh, ya. Jangan sampai ada yang tahu bahwa aku ada disini dan yang disana bukanlah aku. Jika kau memberitahu orang lain, kau harus menyiapkan dirimu untuk kehilangan ibumu karena terkena serangan jantung saat aku memberitahunya rahasiamu."


Setelahnya, Alana berjalan pergi meninggalkan Ernad yang menatapnya dengan senyuman, namun matanya sangat dingin.


"Dia masih sama arogannya dengan dulu." Gumamnya sebelum melirik jadwal penerbangan di papan besar dibandara.

__ADS_1


Ia kemudian menyeringai. "Aku jadi tidak sabar~"


...***...


Arana tengah duduk dibalkon sembari membaca sebuah buku. Angin lembut yang yang nyaman membuatnya merasa bisa duduk disana untuk waktu yang lama. Disampingnya, secangkir teh melati tersaji diatas meja dan aromanya yang lembut yang membuat perasaan Arana semakin tenang.


Arana menoleh ketika merasa ponselnya bergetar. Arana mengambil ponselnya dan menemukan bahwa itu adalah panggilan dari Arselyne. Arana tersenyum sebelum akhirnya mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo, Ly? Ada apa menghubungiku?"


Ada suara Arselyne yang tercampur dengan sedikit suara mekanik. [Rana, apa Amber sudah menghubungimu?]


"Hum? Amber? Belum, beberapa waktu ini dia belum menghubungiku. Memangnya ada apa, Ly?"


Arana mendengar Arselyne menghela napasnya. [***Hah*.. Sudah berhari-hari dia mengabaikan pesan dan panggilan telepon dariku. Maksudku, dia bahkan tidak terlihat online. Apa terjadi sesuatu dengannya ya, Na**?]


Mendengar apa yang dikatakan oleh Arselyne membuat Arana mau tak mau juga merasa khawatir pada Amber. Ia berucap kepada Arselyne. "Jangan cemas, Ly. Mungkin Amber hanya terlalu sibuk. Aku juga akan mencoba menghubunginya, jadi kamu tidak perlu khawatir dan fokus saja pada proyekmu. Jika dalam beberapa waktu Amber masih belum menjawab, aku akan mengunjunginya."


Suara Arselyne sedikit tenang. [Mn, aku mengerti. Baiklah, aku akan kembali bekerja. Sampai jumpa lagi, Na.]


"Um! Sampai jumpa lagi."


Setelahnya, Arana mengakhiri panggilan telepon itu dan mencoba mengirim pesan kepada Amber yang memang Amber bahkan tidak membukanya meski online. Arana mengerutkan keningnya dan mengirim pesan kembali ketika dia mendengar suara Aki disampingnya.


"Kak Ala."


Arana menoleh, menurunkan ponselnya. "Ya? Apa kamu butuh sesuatu?"


Wajah Aki nampak sedikit aneh. Dia tidak menatap mata Arana dan dengan gugup mencengkram tangannya sendiri ketika ia mulai membuka suaranya dalam tatapan kebingungan Arana. "Maafkan aku. Tapi aku tidak akan bisa mengembalikan buku yang kakak pinjamkan padaku."


"Eh? Memangnya kenapa?" Arana bertanya refleks.


Wajah Aki berubah menjadi sedikit pucat ketika Aki berbicara. "Bunda membakar bukunya."


Ketika suara Aki jatuh, Arana tercengang.


Hah?

__ADS_1



__ADS_2