
Lebih dari setengah jam berkeliling, tangan Alva penuh dengan plastik berisi berbagai jenis makanan. Mulai dari klepon, kue putu, dadar gulung, kue cubit, bika ambon, risoles, rujak dan bahkan sampai sate, bakso bakar dan telur gulung. Arana telah mencoba semuanya dan menurutnya, semuanya enak. Tetapi jika ditanya apa yang paling Arana suka, Arana akan menjawab bahwa sate terutama sate telur burung puyuh adalah yang paling enak. Dia paling suka dengan pempek. Rasanya benar-benar unik dengan kuah pedas yang menggugah seleranya.
"Sayang, aku mau itu. Itu apa?" Arana menunjuk sebuah stand sembari menarik lengan baju Alva yang tengah membawa berkantung-kantung jajanan yang dibelinya.
Alva sedikit kesusahan, namun dia tersenyum. "Itu Es Doger."
"Es Do?"
Alva mengulangi perkataannya dengan sabar. "Es Doger, sayang. Terbuat dari susu dan parutan kelapa, ditambah dengan tape, ketan hitam, avokad dan beberapa bahan lain. Rasanya manis dan enak. Ingin beli?"
Arana mengangguk semangat. "Mau!"
Lima menit kemudian, ada segelas es ditangan Arana. Gadis itu menikmati esnya dengan senyuman yang terkembang diwajahnya. Rasanya manis dan dingin, dengan rasa unik yang belum pernah dirasakannya dimanapun. Oh, Arana akan menjadikannya sebagai makanan kesukaannya setelah pempek.
Tangan kanannya menggaruk lehernya yang terasa sedikit gatal. Kemudian, dia makan lagi. Hmm, kenapa rasanya gatalnya semakin terasa, ya? Atau hanya perasaannya saja?
Sruk .. Sruk ..
Gatal sekali!
Arana mengangkat tangannya dan menemukan bintik-bintik merah. Ia terkejut. Ada apa dengan tangannya? Ia menoleh kepada Alva yang tengah menyesap americano dari sedotan. Merasa ditatap, Alva menoleh dan melebarkan maniknya saat melihat wajah, leher dan lengan Arana memiliki bintik-bintik merah yang mulai terlihat jelas. "Sayang, ada apa denganmu?"
Arana menggelengkan kepalanya. "A–Aku tidak tahu. Tiba-tiba gatal."
Alva mengangkat wajah Arana, sedikit memiringkan untuk memeriksanya. "Sepertinya kamu alergi terhadap sesuatu. Kita harus kerumah sakit sekarang."
__ADS_1
Arana bergumam menganggukkan kepalanya. Keduanya bersama-sama berjalan menuju mobil Alva yang diparkiran disisi jalan. "Tunggulah disini sebentar, sayang. Aku akan mengambil mobil."
Arana merasakan napasnya memberat. Dia hanya mengangguk, membiarkan Alva menyeberang dan meletakkan jajanannya kedalam mobil. Arana mencoba menenangkan pernapasan. Menarik napas dan perlahan-lahan mengeluarkannya. Orang-orang yang lewat disekitarnya sesekali memandangnya. Beberapa yang ramah mendekat dan menanyakan keadaannya sebelum Arana menjawab bahwa dia baik-baik saja. Ia mengedarkan pandangannya, sebelum berhenti pada satu titik.
Pria itu membawa pisau.
Tidak salah lagi, pria botak yang menggunakan masker itu membawa pisau ditangannya yang disembunyikan dibalik jaketnya. Arana hendak berteriak, namun suaranya tercekat kala melihat pria itu menatap lurus kearah Alva dan melangkah dengan mantap kearah Alva. Jantung Arana berdentum cepat. Antara rasa sakit dan sesak yang dideritanya, juga karena perasaan khawatir dan cemas bahwa Alva dalam bahaya karena pria itu.
Arana berlari, menuju pria itu yang hampir sampai ke Alva. Bak gerakan slow motion, ketika pria itu mengangkat pisaunya untuk menusuk Alva, Arana melayangkan tendangan dikepala pria itu yang membuat pria itu membentur mobil Alva.
Bruagh!
Menoleh, Alva mendapati pria yang kesakitan itu mencoba meraih pisau dibawah kakinya. Alva tidak tahu siapa pria itu, namun instingnya menyuruhnya bergerak mengunci pergerakan pria itu. Orang-orang yang berada disekitar sana langsung memusatkan perhatian mereka kepada Alva dan Arana yang saat ini tengah terduduk dipinggir jalan sembari memegangi dadanya. Keringat meluncur deras dari dahinya. Wajahnya memucat dan ruam merah ditubuhnya makin kelihatan jelas.
Arana pingsan.
...***...
"Setelah melakukan pengujian, saya bisa menyimpulkan bahwa pasien menderita alergi yang cukup parah terhadap biji wijen. Saya sudah menyuntikkan dosis epinefrin kepasien, jadi pasien akan segera membaik." Dokter dirumah sakit terdekat itu memberi tahu Alva apa yang terjadi pada Arana.
"Saya akan menuliskan resep untuk ditebus ke farmasi untuk menghilangkan ruam-ruam merah ditubuh pasien. Anda bisa menebusnya nanti." Lanjut Dokter itu membuat Alva menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih, Dok."
Dokter itu mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu. Pasien akan segera sadar, jadi anda bisa menunggu pasien sadar."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Dokter itu pergi meninggalkan Alva yang berdiri disamping tempat tidur Arana. Gadis itu terbaring diatas ranjang rumah sakit dengan wajah yang mulai memiliki warna merah alami. Napasnya teratur dan masih ada jejak ruam dan bintik-bintik merah ditubuhnya.
Mendudukkan dirinya diatas bangku, pikiran Alva berkelana.
Sebelum Arana datang tadi, sebenarnya dia tengah membaca file tentang Arana. Ia menyuruh seorang detektif untuk menyelidiki identitas Arana. Dan apa yang membuatnya terkejut adalah bahwa selama ini, Lidia dan Michael memiliki putri kembar. Mereka sama sekali tidak memiliki data bahwa mereka memiliki putri kembar, catatan itu bersih, jika saja Alva tidak menyadari bahwa tanggal lahir Alana dan Arana sama. Tentu, wajah mereka juga sama persis.
Setelah membaca data Arana, Alva sedikit banyak tahu tentang gadis itu.
Bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri sejak kematian neneknya. Dia memiliki banyak pekerjaan sampingan disela waktu sekolahnya. Tetapi yang membuat Alva takjub adalah meskipun waktu gadis itu sebagian besar terbagi untuk bekerja, dia adalah gadis yang berprestasi dan cerdas. Ia memperoleh banyak penghargaan dan banyak piala dari olimpiade dan perlombaan yang dia ikuti.
Dia bahkan mendapatkan undangan khusus dari Universitas terbaik di Amerika.
Menelisik ke kehidupan sosialnya, Arana terkenal akan sifatnya yang ramah dan hangat. Dia pekerja keras, mudah bersosialisasi dan memiliki banyak teman yang dekat dengannya. Salah satu sahabatnya yang berhasil dia dapatkan informasinya adalah Amber. Gadis keturunan Eropa itu adalah salah satu yang paling dekat dengan Arana. Sementara yang satunya, detektif tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentangnya selain namanya, Lily.
Beberapa hari sebelum pernikahan, ada catatan penerbangan yang dilakukan oleh Lidia dan Michael menuju Melbourne. Setelahnya, mereka kembali bersama dengan Arana yang saat itu menggunakan masker dan topi yang menutupi penampilannya. Namun Alva yakin, bahwa dari foto itu, itu adalah Arana.
Memandang wajah damai Arana, Alva tidak bisa menahan kernyitan didahinya.
Pantas saja dia berubah.
Tapi, apa tujuannya? Mengapa dia menggantikan Alana menikahinya? Mengapa?
Tangan Alva terulur. Ujung jarinya dengan lembut menyentuh pipi Arana. Menyusuri sepanjang garis pipi, hingga maniknya menggelap. "Sebenarnya, apa tujuanmu, Arana?"
__ADS_1