
Melangkah memasuki sebuah caffe, Civanya tampil sederhana dengan kemeja biru muda dan celana panjang berwarna hitam berbahan jeans. Maniknya mengedar, menatap sekelilingnya guna mencari sosok yang sekiranya masih ada dalam ingatannya. Ia berhenti di satu titik dan memandang pemuda yang duduk dan melambaikan tangan kepadanya.
Pemuda itu memiliki helaian rambut pirang. Matanya sedikit keabuan, dan dia nampak mencolok diantara pengunjung cafe lainnya.
Beberapa pengunjung caffe bahkan menatap pemuda itu dan nampak kagum, berbisik betapa tampannya dia sebagai seorang bule. Civanya melangkah mendekati meja dimana pemuda itu duduk dan menarik bangku untuk duduk diseberangnya.
"Oh, kau bertambah cantik saja, Civa."
Civanya menatapnya dan tidak memiliki senyum diwajahnya selain anggukan kepala sopan. "Terimakasih, Ernad. Kau juga nampak ... berbeda."
"Jadi, apa yang mau kau tanyakan padaku? Kuharap ini bukan pertanyaan yang berisi candaan karena aku sedikit buru-buru."
Civanya benar-benar memberi jarak antara mereka. Civanya sama sekali tidak beramah tamah dan dengan tenang dan dingin memberi mereka pegertian bahwa mereka bukanlah teman dekat atau bahkan mantan teman yang bisa saling bernostalgia atas masa lalu dan bisa beramah tamah dengan ringan dan harmonis. Sejujurnya Civanya tidak pernah menyukai Ernad bahkan dalam artian suka sebagai teman, dan Civanya tidak akan pernah menyukainya.
Ernad tertawa akan respon Civanya dan dengan seringaian dibibirnya bersuara. "Kau menjadi sangat kaku setelah lulus, Civa. Itu membuatku agak kecewa."
Ya, kau kecewa karena Civanya bukan lagi seseorang yang bisa kau tindas dengan mudah seperti yang kau lakukan di masa sekolah menengah.
"Sebenarnya aku ingin bertanya mengenai Alana."
Civanya mengangkat matanya dan menatap Ernad dengan sedikit kebingungan dan sedikit kehati-hatian dimatanya sebelum bertanya, "Alana? Apa yang ingin kau tanyakan?"
Ernad memainkan sendok didalam cangkir kopinya dan dengan tenang menjawab. "Aku merindukannya, tentu saja. Aku berniat menemuinya di acara reuni, namun dia juga tidak datang. Aku bertanya kepada yang lain untuk meminta nomornya, namun mereka mengatakan bahwa Alana berganti nomor baru-baru ini, dan tidak ada yang melihatnya selama beberapa waktu. Maudy mengatakan padaku bahwa kamu yang paling dekat dengan Alana akhir-akhir ini. Apa yang terjadi dengan Alana? Apa terjadi sesuatu padanya?"
Civanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apapun yang terjadi pada Alana. Sudah kukatakan dia memiliki urusan mendesak."
Civanya melirik Ernad. "Lagipula kau sudah bertanya pada Maudy dan yang lain. Kau pasti sudah tahu bahwa Alana sudah menikah."
Ernad menggulung senyuman. "Oh, jika kau mengatakannya, berarti Alana memang benar sudah menikah. Dengan siapa dia menikah? Dengan tunangannya, yang waktu itu?"
Civanya menatap cangkir coffe didepannya. "Ya. Mereka saling mencintai, wajar mereka menikah."
Ernad tertawa. "Saling mencintai? Aku meragukannya."
Civanya menatap Ernad sebelum dengan tenang menyunggingkan senyuman. Dia bisa tidak percaya, dia bisa mentertawakan Alana, dia bisa mengatakan Alva dan Alana tidak saling mencintai karena memang benar adanya. Alva tidak pernah mencintai Alana karena yang dia cintai adalah Arana. Bukan Alana yang lama, namun Alana yang selama ini dia kenal.
__ADS_1
"Yah, kau bisa berkata apapun. Intinya, mereka sudah menikah."
Ernad menatap cangkir kopinya dan berkata, "Berikan aku nomornya. Aku ingin menghubunginya dan menyapanya."
Civanya tersenyum namun matanya tidak tersenyum. "Aku ragu bisa memberikannya. Alana pernah mengatakan tidak ingin membagikan nomornya sembarangan, aku harus meminta izinnya terlebih dahulu jika aku ingin memberikannya pada orang lain."
Civanya berdiri. "Aku harus pergi. Aku memiliki janji dengan tunanganku, jadi tidak bisa mengobrol denganmu lebih banyak. Senang bertemu denganmu, Ernad. Oh ya, selamat datang kembali di Indonesia."
"Sampai jumpa lain kali." Kemudian, Civanya berjalan pergi meninggalkan Ernad yang tidak bergeming selama beberapa waktu.
Ernad duduk dibangkunya selama beberapa waktu dengan tenang sebelum menyunggingkan seringaian lebar yang penuh dengan kejenakaan dimatanya. "Dua tahun tidak di Jakarta, aku melewatkan banyak hal yang menarik rupanya~"
"Civanya yang merobek cangkang kikuknya, dan Alana yang menikah dan ..." Ia menjeda ucapannya.
"... mencintai suaminya?"
...***...
Setelah kembali dari beribadah di gereja bersama-sama dengan Arana dan Aki, Alva mengganti pakaiannya dengan kemeja dan jas hitam dan siap berangkat ke perusahaan untuk bekerja.
Alva tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tentu saja boleh, sayang. Maaf aku tidak bisa menemani. Aku harus menghadiri beberapa meeting bersama client dari luar negeri. Tapi jika kamu membutuhkan sesuatu secara mendesak, kamu bisa selalu menghubungiku. Atau jika kamu bisa menghubungi Erlan karena dia sedang mengambil cuti hari ini."
"Kalau Erlan mengambil cuti berarti dia sedang ingin beristirahat atau memiliki kepentingannya sendiri. Aku tidak bisa mengganggunya, dong." Ucap Arana.
"Kamu selalu bisa, sayang. Erlan sudah menganggapmu seperti adiknya sendiri. Selelah apapun Erlan, dia pasti akan membantu selama kamu meminta bantuan kepadanya."
Arana tersenyum dengan lembut dan menganggukkan kepalanya dengan tenang. "Jika aku membutuhkan sesuat, aku pasti akan menghubungi kalian berdua. Jadi jangan khawatir dan bekerjalah dengan semangat, sayang~"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Arana membuat Alva menyunggingkan senyuman dan dengan lembut mendaratkan kecupan didahinya. "Ya, sayang. Aku akan bekerja dengan keras supaya bisa membelikanmu banyak hal yang kamu inginkan didunia."
Arana tidak akan mengelak bahwa Alva bisa membelikan apapun yang dia inginkan, didunia. Bahkan jika Arana meminta dibelikan dibelikan Kapal Pesiar Supreme yang dibandrol dengan harga 71,92 tiriliun itu, Alva tidak akan ragu membelikannya.
"Baiklah, berangkatlah. Meski kamu adalah CEO, kamu tidak boleh terlambat dan tidak boleh memberi contoh buruk kepada karyawanmu."
Arana mencium pipi Alva dan kemudian membantunya membawakan tas kopernya ke pintu depan. Aki yang baru dari dapur turut mengantarkan Alva sampai kedepan pintu.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu. Nikmati waktu jalan-jalan kalian." Ucap Alva.
"Hati-hati dijalan, kak."
Arana melambaikan tangannya ketika Alva mulai berjalan menjauh. "Hati-hati dijalan sayang~"
Setelah Alva tidak lagi terlihat, Arana dan Aki masuk kembali kedalam apartemen dan memulai aktivitas mereka masing-masing dan sesekali mengobrol dengan obrolan ringan. Dua jam kemudian, Aki dan Arana sudah siap untuk pergi ke jalan-jalan bersama dengan Aki, sekaligus membantu Aki untuk menjadi lebih ceria meski hanya sedikit.
Mengenakan pakaian bernuansa merah dan hitam, Arana tampil cantik dan manis. Sementara Aki mengenakan pakaian yang lebih sederhana dengan hanya berwarna putih dan abu-abu. Keduanya memesan taksi dan memulai perjalanan.
"Kemana kita akan pergi, kak?" Tanya Aki.
"Mari pergi ke taman hiburan. Katanya banyak permainan baru yang bisa kita coba. Setuju? Atau jika kamu ingin pergi kesuatu tempat, aku akan menemanimu."
Aki menggelengkan kepalanya. "Aku setuju ke taman hiburan. Aku suka bermain sebenarnya."
"Bagus!"
Arana segera berkata kepada supir. "Pak, pergi ke taman hiburan."
Supir mengiyakan dan dengan segera mobil melaju menuju taman hiburan yang dimaksudkan oleh Arana. Taman hiburan itu berada di pusat kota Jakarta. Dengan luas taman hiburan mencapai sepuluh hektare dengan banyak sekali stand dan permainan-permainan yang menarik. Arana sebenarnya belum pernah kesini, tapi karena Arana pernah menjadi maskot di taman hiburan saat berada di Melbourne, Arana tidak merasa begitu asing dan juga tidak sekagum kebanyakan orang yang baru pertama kali ke taman hiburan. Namun Arana masih tetap merasa kagum dengan taman hiburan seluas dan sebesar itu.
Arana dengan semangat mengajak Aki masuk kedalam setelah membayar taksi dan membeli tiket masuk yang bisa membuat keduanya bermain dimanapun dan kapanpun secara bebas setelah hanya membayar sekali.
"Ayo! Kita akan mencoba permainan yang mana duluan?" Arana bertanya dengan semangat. Sebenarnya daripada Aki, Arana lebih terlihat seperti anak kecil.
Arana memang memiliki sikap dewasa dibandingkan remaja seusianya, namun Arana sebenarnya juga memiliki sisi kekanakan yang jarang dia tunjukkan. Jika dia berhadapan dengan orang yang lebih dewasa darinya dan membuatnya nyaman, terkadang Arana bisa menjadi manja. Itu terjadi ketika dia bersama dengan neneknya dan juga Alva.
Sementara didepan sahabat-sahabatnya, Arana mencoba yang terbaik menjadi sosok ibu, sahabat dan kakak mereka, mendukung Arselyne dan Amber.
Arana memandang sekelilingnya dan menunjuk wahana. "Ayo coba itu, Aki!"
Kemudian dia berlari kecil menuju wahana lempar bola dan meninggalkan Aki yang menggelengkan kepala dan bergumam. "Siapa yang mengajak siapa."
__ADS_1