
"Rana, coba bicara perlahan dan jelaskan apa maksudmu?" tanya Lidia yang hampir tidak mengerti dengan sikap yang dimiliki Arana.
Arana menghela napas dan dengan tenang menjelaskan secara lebih rinci dan lebih mudah. "Sebenarnya, ketika kalian menemuiku di Melbourne, kupikir akan menyenangkan untuk berpura-pura menjadi Alana. Karena terlalu bosan dengan kehidupan di Melbourne yang memang begitu-begitu saja, aku jadi tertarik menerima ajakan kalian kembali kesini."
"Awalnya, menjadi Alana memang menyenangkan. Makanan lezat, tempat tidur yang seperti putri, dan semua orang memandangku dengan segan. Hm, perasaan seperti itu tidak buruk." Lanjut Arana.
"Tapi belakangan ini, aku tidak bisa lagi menikmati permainan ini. Kalian tidak pernah sekalipun memperlihatkan sosok Alana, dan Alana sebenarnya, juga tidak pernah memperlihatkan dirinya dengan jelas. Itu menggangguku, ketika aku menemukan banyak sekali yang mencoba menyakiti Alana." Ungkap Arana.
Michael tidak bisa menahan untuk tidak mengerutkan kening. "Permainan? Permainan apa yang kamu maksud? Kamu menggunakan identitas Alana saat ini!'
"Papa masih belum mengerti? Mama juga?"
Lidia memandang Arana dan meremas tangannya. "Apa yang terjadi ... Alana, kamu harus menjaga nama baik Alana. Kekacauan yang kamu sebabkan bisa membuatnya mengalami tekanan yang tidak akan baik untuk kesehatannya."
Arana memandang Lidia dengan senyuman yang tidak bisa menyembunyikan cemoohan. "Jadi begitu? Apa mama dan papa tidak tahu bahwa sebenarnya, aku bisa saja mengalami kematian lebih awal daripada resiko kesehatan Alana?"
Michael menegurnya. "Arana! Berhenti membuat kekacauan dan renungkan kesalahanmu! Jangan menganggap hidup Alana sebagai mainan yang bisa kamu mainkan sesuka hatimu seperti ini."
Arana menajamkan suaranya. "Kalianlah yang menganggap hidupku seperti mainan! Mama dan papa pikir kenapa aku bisa seperti ini sekarang?! Karena aku menjadi Alana! Aku yang tidak tahu apa-apa dengan mudahnya menuruti permintaan konyol kalian dan aku harus berakhir dengan menderita luka fisik dan mental. Apakah mama dan papa masih berpikir bahwa aku menganggap hidup Alana sebagai mainan? Aku yang hampir mati dipermainan kalian!"
Nafas Arana memburu, sepasang maniknya memerah.
Arana marah pada mereka. Namun Arana tidak keras kepala dan berhati busuk. Arana hanya membutuhkan permintaan maaf yang tulus, dan dia akan meluluhkan hatinya untuk itu. Namun mereka bahkan tidak pernah menyadari kesalahan mereka dan justru menyalahkannya. Arana hanya membutuhkan mereka mendatanginya dengan cengraman tangan atau dengan rangkulan kecil yang kemudian akan membuatnya memaafkan mereka dengan senang hati, tanpa beban apapun lagi.
__ADS_1
Namun mereka tidak bisa mengerti.
"Apa mama dan papa tahu, aku ... tidak pernah mengharapkan bisa dilahirkan kedunia. Jika mama dan papa tidak menginginkanku sejak awal, mengapa mama dan papa tidak membuangku?" Arana menyunggingkan senyuman mencemooh, "Maksudku, benar-benar membuangku dan tidak membuat kalian menjilat ludah sendiri ketika kalian memungutku kembali hanya ketika kalian membutuhkanku?"
"Sejujurnya mama dan papa tahu, bahkan sahabatku tidak ingin melihat batang hidung kalian didepan mereka."
"Arana! Jaga kesopananmu!" sentak Michael membuat Arana semakin naik pitam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak bisa menahan ketenangannya dan dia ingin meledak-ledak. Kemarahan dan kekecewaan yang lebih mendominasi jatuh kedalam suaranya yang nyaring dan begitu menyakitkan saat mendengarnya.
"Aku selalu! Selalu dan selalu berdoa kepada Tuhan agar orangtuaku diberikan kesehatan dan kepanjang umuran selalu! Tapi apakah kalian pernah sekali saja mengingatku yang jauh di Melbourne dan pernah sekali saja mendoakanku?!"
"Aku selalu merindukan kalian! Aku selalu menginginkan pelukan kalian! Namun apa pernah sekali saja kalian ingin ... benar-benar menginginkan untuk memelukku, bukan Alana? Pernahkah?"
Arana mulai menitikkan air matanya dan menjerit. "Katakan dimana kesalahanku! Katakan dimana aku salah dan aku akan memperbaikinya! Katakan bagaimana aku bisa memutuskan hubungan darah ini dengan kalian/! Katakan bagaimana dan dimana aku pernah melakukan kesalahan kepada kalian?!"
"Rana, kamu ..." Lidia bergumam lirih, memandang Arana dan tenggorokannya tercekat ketika dia melihat sepasang manik itu berlinang air mata.
"Nyo-Nyonya, tuan muda Alva datang."
Seorang pelayan melaporkan dengan ketakutan pada Lidia. Mendengarnya, Arana mengusap air matanya, memaksanya mengering dan mengipasinya selama beberapa detik sebelum dengan tenang mencoba memasang senyuman ketika Alva melangkah mendekat.
"Sayang, mengapa kamu menangis?" pertanyaan itu Alva lontarkan bahkan sebelum dia menyapa Lidia dan Michael yang ada diseberangnya. Fokusnya hanya tertuju pada Arana yang tengah duduk disofa dengan manik sembab.
Karena Arana duduk disofa tunggal, Alva secara otomatis berjongkok dengan satu kaki, mengulurkan tangannya dan menahan wajah Arana yang basah agar tetap terarahkan kepadanya. "Katakan sayang, mengapa kamu menangis?"
__ADS_1
"Al, lepaskan dulu." Kata Arana diabaikan oleh Alva. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya terlalu merindukan mama dan papa sampai aku menangis ketika melihat mereka. Bukankah kamu tahu bahwa aku sedikit manja ketika bersama mereka? Aku terluka seperti ini, tentu menangis saat menceritakannya kepada mama dan papa." Ucap Arana berbohong dengan mudah dan nampak seperti tindakan alami tanpa sedikitpun kecanggungan didalamnya.
Alva secara alami tahu bahwa Arana bebohong. Kebersamaannya bersama dengan Arana selama ini mmebuatnya tahu apa yang menjadi kebiasaan Arana. Dengan sikap Alva yang senang mengamati, dia bisa meneliti Arana dengan sangat mudah dan dalam. Seperti ketika dia sedang melamun, gadis itu akan memainkan kedua tangannya dengan bentuk lingkaran samar. Ketika Arana gugup, jemari tangannya akan meringkuk, sehingga Arana terkadang memilih menyembunyikan kedua tangannya dibelakang tubuhnya. Ketika Arana berbohong, maniknya akan sedikit menyipit, dan tanpa disadarinya, Arana akan selalu menggaruk ibu jari tangan kirinya menggunakan jari lain telunjuk dan jari tengah tangan kirinya.
Sekarang ini, melihat jemari Arana yang menggosok ibu jarinya membuat Alva yakin bahwa dia berbohong, namun Alva tidak ingin mengekspos kebohongannya.
"Benarkah? Astaga, manjanya istriku ini." Ucap Alva sembari mengacak surai Arana dengan sayang.
Alva berbalik dan dengan tenang menyalami Lidia dan Michael sebagai salam penghormatan. Alva kemudian duduk kemudian.
"Alva ... Alana terluka seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lidia.
Alva mengerutkan alisnya. "Aku pikir Nana sudah menceritakannya kepada mama dan papa."
"Sebenarnya, ada kesalahpahaman yang terjadi disini. Ketika teman-teman Nana mengungang Nana ke club untuk mengobrol dan bermain bersama, Nana yang akan kekamar mandi tiba-tiba dihentikan oleh seseorang yang mengira Nana adalah wanita bayaran yang dia panggil. Itu sebabnya ..."
Alva menjelaskan sesuai kejadian nyata, namun Alva tidak pernah sekalipun mengangkat topik tentang obat perangsang yang dikonsumsi Arana, yang membuatnya kepayahan melawan sehingga mendapatkan sebegitu banyak kekerasan fisik. Arana juga tidak mengatakan apapun, hanya diam dan dengan tenang menyandarkan tubuhnya ke Alva yang dengan santai merangkul pinggangnya, mengabaikan perubahan ekspresi Lidia dan Michael yang sebenarnya tidak sedap dipandang baik oleh Alva maupun Arana.
Arana memandang mereka, dan dengan tenang memejamkan matanya.
Arana, ingin bertahan dan tidak ingin menerima apa yang seharusnya tidak dia terima.
__ADS_1