My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 54: I'll Destroy You


__ADS_3

Melangkah memasuki apartemennya, Alva disambut pemandangan dimana Arana tengah duduk di sofa sembari menonton televisi. Ditangannya, ada setoples kue kering rasa vanilla, dan segelas susu putih hangat tersaji diatas meja.


Merasa ada seseorang yang datang, Arana menoleh dan menyambut Alva dengan senyuman cerah. "Selamat datang, sayang! Bagaimana harimu? Apakah hari ini baik?"


Alva berjalan mendekati Arana. Sembari melepas dasinya, pria itu mendaratkan kecupan ringan dipipi Arana yang sedikit memerah. Ia kemudian mendudukkan dirinya disebelah Arana. "Hari ini aku benar-benar sibuk di perusahaan. Banyak dokumen yang harus ditandatangani. Untung semuanya lancar."


Arana menyunggingkan senyuman. "Untunglah kalau begitu."


"Tapi sayang, aku minta maaf karena tidak bisa menyiapkan air mandi untukmu. Aku sedikit kesulitan berjalan tanpa bantuan kak Rosa—perawat pribadi Arana, karena kak Rosa sudah pulang."


"Jangan minta maaf sayang. Kamu hanya perlu fokus pada penyembuhanmu, masalah rumah, serahkan padaku."


Arana mengerutkan alisnya. "Serahkan pada jasa home cleaning, maksudnya?"


Alva terkekeh pelan. "Hehe, iya."


"Ngomong-ngomong, apakah kak Rosa memperlakukanmu dengan baik? Dia adalah perawata yang merawatku ketika aku sakit dulu." Kata Alva membust Arana menoleh dan membeo. "Benarkah?"


"Iya."


"Pantas saja kamu memanggilnya kak, juga. Kak Rosa baik, dia banyak membantuku. Aku jadi merasa aku merepotkan." Ucapan Arana membuat Alva tertawa kecil sembari mengelus rambutnya.


"Jangan khawatir. Kak Rosa sangat senang bisa membantu. Impiannya sejak dulu memang agar bisa berguna bagi orang lain. Merawat dan menjaga kesehatan pasiennya adalah hal yang membuat kak Rosa bangga pada mimpi dan pekerjaannya."


Arana menganggukkan kepalanya. "Pantas saja."


"Oh iya, besok aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Sekedar menghirup udara. Kamu mau?"


Mendengar tawaran dari Alva tentang jalan-jalan, Arana tentu saja tidak akan menolak. Setelah beberapa hari terkurung dirumah sakit dan di apartemen, Arana membutuhkan waktu untuk sekedar menikmati lingkungan sekitar. Arana butuh cahaya matahari untuk kulitnya. Gadis itu menoleh dan menganggukkan kepalanya dengan antusias.


"Mau! Aku mau!"


"Kalau begitu besok aku akan menyuruh Erlan untuk menjemputmu." Kata Alva membuat Arana menganggukkan kepalanya seperti ayam mematuk beras.


...***...


Arana melirik Erlan yang berdiri disampingnya selayaknya seorang penjaga. Duduk dikursi rodanya, pada pagi itu, ia tengah berada di taman dekat perusahaan Alva. Pagi tadi, Erlan sudah menjemputnya, namun begitu sampai di perusahaan Alva, pria itu masih mengadakan meeting bersama dengan koleganya yang Erlan bilang dari Jepang.


Jadi, berakhirlah dia disini bersama dengan Erlan yang sejak tadi diam tak berucap sepatah katapun.

__ADS_1


Arana diam-diam menggaruk tengkuknya dan beberapa kali melirik Erlan kembali. Sedikit kebingungan untuk mencairkan suasana canggung ini dengan perilaku seperti apa. Atau sebenarnya, Arana merasa bahwa hanya dirinya yang merasa canggung. Belum lagi, beberapa penggunaan jalan nampak beberapa kali meliriknya penasaran. Mungkin didalam pikiran mereka, mereka sedang mempertanyakan siapa dirinya dan Erlan.


Apakah dia seperti orang lumpuh yang membutuhkan bodyguard?


Lagipula, apa pria itu tidak lelah terus berdiri sejak tadi?


"Tidak bisakah kau duduk? Kau membuat orang-orang memandang aneh kesini." Ucap Arana.


Erlan meliriknya sesaat sebelum mendudukkan dirinya dibangku disebelahnya. Maniknya tak lepas memandang jalanan yang ramai, ketika Aranapun melakukan hal yang sama.


"Aku tidak membencimu."


Entah angin apa, namun Erlan tiba-tiba mengatakan hal demikian. Arana yang mendengarnya tak bereaksi berlebihan. Namun sebenarnya ketenangan di wajahnya adalah karena kebingungan dan ketidakpercayaan yang dirasakannya. Arana pikir Erlan adalah sejak awal sudah membenci Alana. Tapi ternyata tidak?


"Kalau begitu, apakah kamu menyukaiku?" Pertanyaan Arana membuat Erlan menoleh padanya dan mengernyitkan dahinya.


Menyadari bahwa pertanyaannya salah, Arana meralat pertanyaannya. "Maksudku, suka yang bukan dalam hal romantis. Maksudku, kalau kamu tidak membenciku, apa kamu menyukaiku?"


Erlan sedikit memiringkan kepalanya dan menggeleng. "Tidak juga. Tidak ada darimu yang biss membuat orang menyukaimu. Kamu pemilih, angkuh, bodoh dan jelek. Seperti preman."


Wajah Arana terdistorsi.


Meski Arana tahu bahwa Erlan menjabarkan Alana, namun entah mengapa Arana juga merasa kesal karena Alana adalah saudari kembarnya. Bukankah wajah mereka sama? Apa itu artinya memang dirinya jelek?


"Hei, memangnya kamu pikir kamu tampan begitu?" Arana ingin menyebut bahwa dia adalah lulusan terbaik di SMA-nya, namun terhenti ketika ingat bahwa dia dan Alana berbeda.


Meski kembar, Arana sedikit banyak tahu bahwa mereka memang sedikit berbeda. Karena terbiasa hidup dimanja, Alana tidak pernah berusaha mendapatkan sesuatu dengan kerja kerasnya. Gadis itu malas belajar dan tidak suka melakukan hal yang merepotkan, berbeda dengan Arana yang sejak kecil sudah rajin belajar disela kegiatannya yang padat.


Jadi ketika Arana bisa mencapai posisi terbaik disekolahnya, Alana berbeda karena tidak suka belajar.


Erlan menggeser maniknya ke sudut matanya. "Tentu saja aku tampan. Aku juga pintar."


"Hee!" Arana mengeluarkan suara yang menyatakan ketidakpercayaannya. "Tidak, kita butuh masukan lain!"


Ia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. Panggilan videocall itu dengan segera terhubung. Asa wajah Amber disana, terpampang dengan jelas. Ponsel Arana dan Amber sama-sama bagus, sehingga sinyal dan kualitas panggilan videocall bisa jernih baik gambar maupun suara. Gadis diseberang sana tengah berbaring diatas tempat tidur, mengenakan tanktop berwarna maroon dengan masker wajah.


Itu adalah kebiasaan Amber.


[Hey, Nana! What's contacting me? || Hei, Nana! Ada apa menghubungiku?] Tanya Amber.

__ADS_1


"Amber, I need your opinion. Answer honestly, okay? || Amber, aku butuh pendapatmu. Jawab sejujur-jujurnya, ya~" Bersamaan dengan perkataannya, Arana memiringkan ponselnya sehingga menghadapi wajah Erlan. "Apakah pria ini tampan?"


Erlan menatap layar ponsel Arana, melihat gadis diseberang sana sedikit menjauhkan ponselnya sebelum mendekatkannya lagi ke wajahnya. Erlan tersenyum bangga. Wajahnya menampilkan senyuman yang baginya penuh dengan pesona. Biasanya jika dia tersenyum seperti itu, perempuan akan terpesona padanya. Amber meneliti selama lima detik, sebelum memberikan penilaian.


[Well, his face isn't bad || Yah, wajahnya tidak buruk.]


"Hah?" Erlan terbeo. Tidak buruk, katanya?


Arana menggeser ponselnya. "Is he handsome? || Apakah dia tampan?"


Telinga Erlan berdengung, dan kepalanya seakan terhantam batu besar karena perkataan Amber. [His face is average, Na. To be honest, I'm being honest~ I think his face is quite handsome. But, but to be honest, his face is so scary. Like pedophiles || Wajahnya rata-rata, Na. Sejujurnya ya, ini aku jujur yaa~ Wajahnya lumayan tampan menurutku. Tapi, tapi sejujurnya, wajahnya agar menyeramkan. Seperti pedofil.]


Crak!


Jika saja Arana bisa mendengar suara hati seseorang, sudah dipastikan dia akan terkejut mendengar suara retakan parah yang berasal dari hati dan mental Erlan. Pria itu memasang wajah kosong yang pias. Namun jika diperhatikan, wajahnya lucu karena ekspresi aneh yang ditampilkannya.


"Pedo—pedofil?!" Beo Erlan tak bisa menahan diri dari keterkejutannya.


Melihat reaksi Erlan, Arana menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyuman. Namun makin lama, ia tidak bisa menahan tawa sampai ia tertawa lepas. "Astaga Amber! Kamu jujur sekali, lihat! Erlan sampai tidak bisa berkata-kata!"


Amber diseberang menggaruk kepalanya. [You asked my opinion. Hehe, I'm sorry, uncle || Kan kamu menanyakan pendapatku. Hehe, maaf ya, om.]


Crak!


Double kill!


Dia benar-benar dipanggil dengan panggilan om?!


"Haha!"


Tawanya tulus. Dia benar-benar menikmati waktunya. Erlan melirik Arana. Ternyata bercengkrama langsung dengannya tidak terlalu buruk. Arana, memang berbeda dengan Alana. Mungkin Arana memang hanya berpura-pura menjadi Alana, mencoba meniru sebaik mungkin sifat dan sikap Alana sampai membuatnya tertipu. Jika bukan karena Alva, mungkin selamanya dia akan mengira gadis didepannya adalah Alana yang tidak disukainya.


Yah, rasanya seperti mengasuh seorang adik.


Ketika tawa obrolan diantara mereka masih berlanjut bersama dengan Amber, mereka tidak menyadari sepasang manik memandang mereka dari sebuah gedung. Bibir berlapis lipstik merah muda itu membentuk garis lurus, sebelum gumaman lembut keluar dari bibirnya.


"Pria payah itu gagal membuatnya cacat ternyata."


Ia berbalik, meninggalkan bayangan dengan gumaman dingin. "Masih banyak waktu. Aku pasti akan menghancurkanmu."

__ADS_1



__ADS_2