My Beloved Arana

My Beloved Arana
EPILOGUE


__ADS_3

"Jangan lama-lama gendongnya kenapa, pa? Mama juga mau gendong Zhoe!"


Didalam ruangan utama rumah kumpul milik Cella, Arletta berdiri disamping Johan yang tengah menggendong Zhoe yang tengah memandang keduanya dengan sepasang manik yang berkedip lucu. Sejak tiga bulan lalu, Arana dan Alva sudah pindah ke Melbourne. Alva membeli rumah lama Arana bersama dengan neneknya--mantan pengurus rumah tangga Michael, dan saat ini sedang dalam tahap renovasi untuk dijadikan bangunan yang sedikit lebih luas sehingga bisa menampung banyak orang didalamnya. Karena sejak kelahiran si kembar Zhia dan Zhoe, banyak orang yang datang keapartemen mereka terutama orangtua Alva dan Cella yang tidak pernah absen datang.


Jadi untuk menghemat waktu dan mempernyaman, Arana dan Alva setuju tinggal bersama dengan Cella sementara menunggu rumah baru mereka jadi.


Diruang utama hari itu, Cella bersama dengan Jasmine tengah bermain dengan Zhia yang merupakan adik dari Zhoe yang tengah menjadi bahan rebutan dari Arletta dan Johan hanya karena ingin menggendongnya. Sementara Arana tengah duduk bersebelahan dengan Alva disofa didekat Cella dan Jake.


Arana dengan lembut mengulas senyuman ketika dia menoleh saat merasakan sentuhan lembut ditangannya. Alva memandangnya dan bersuara dengan suara halus, "Ikut aku sebentar, ya?"


"Kemana Al?" tanya Arana yang sedikit kebingungan.


Alva menggenggam tangannya dan tersenyum sebelum berkata kepada Arletta dan Cella. "Mama, Cece, titip Zhia dan Zhio sebentar ya?"


Cella yang tengah membantu Zhia minum ASI dari botol menjawab tanpa menoleh. "Semoga berhasil." Yang membuat Arana menaikkan sebelah alisnya dengan bingung.


Arletta bahkan mengangkat kedua ibu jarinya dan tersenyum kearah keduanya. "Semangat, Nan!"


Arana yang masih kebingungan segera tanpa sadar diseret oleh Alva menuju mobil dan dibawa menuju sebuah tempat. Dalam setengah jam berkendara dengan kecepatan rata-rata, Alva membuka mobil dan menuntun pintu mobil terbuka. Arana dengan cepat menatap sekelilingnya dan sedikit terkejut ketika dia berada disebuah tempat yang cukup tidak asing baginya. Alva menggandeng Arana melangkah masuk lebih jauh untuk kemudian berhenti di bawah sebuah pohon, ditepi danau yang memantulkan langit biru dan asri menjadi bagian utama dari Botanic Gardens Victoria. Sebuah situs yang memiliki lebih dari 1.000 spesies tanaman dari seluruh dunia yang menyebar didanau yang membentang dengan lembut dibawah pepohonan yang rindang.


Rumput hijau bersemi dan lembutnya angin membuat Arana tidak bisa menahan keterpesonaannya. Arana dengan kagum memandang sekelilingnya.


"Aku sudah lama ingin kesini. Ternyata memang seindah itu." Gumam Arana.


Ia melihat kesekelilingnya dan sedikit bingung. "Tapi mengapa sama sekali tidak ada orang disini, Al?"


Alva tersenyum. "Aku menyewa seluruh tempat ini hanya untuk kita."


Arana sedikit melebarkan matanya. Namun pada akhirnya dia tidak bisa berkata apa-apa karena memang uang tidak berarti bagi Alva seberapa banyak dia menghabiskannya. Arana hendak menoleh kesana kemari ketika Alva dengan tenang menarik kedua tangannya dan menggenggamnya, membawa keduanya untuk saling berhadap-hadapan. Arana memandang Alva dengan bingung sebelum pria itu berucap dengan senyuman lembut yang tidak pernah lepas dari wajahnya yang rupawan.


"Ada banyak hal yang aku syukuri ketika aku bertemu denganmu."


"Kematian adikku karena Alana membuatku menumbuhkan dendam dan kebencian kepadanya. Sejak awal aku sudah berusaha mendekatinya untuk membuatnya menderita akan cinta palsu yang akan aku berikan kepadanya dan aku akan menghancurkan Alana sampai ke titik dimana dia tidak akan bisa bertahan, tapi kamu datang dan menghancurkan semua rencanaku."


Alva tersenyum. "Tetapi kamu datang bukan sebagai hambatan. Kamu datang sebagai malaikat pelindung bagiku, Na. Seseorang yang mampu membuatku keluar dari lubang neraka itu dan membawaku pada kebahagiaan tulus yang sudah lama tidak aku rasakan. Perasaan itu yang membawaku sampai ke titik ini."


Arana menatap Alva dan balas berucap, "Aku minta maaf, Alva."


"Ketika kamu menjawab kamu membenci pembohong, aku selalu memiliki kekhawatiran dalam hatiku. Pada awalnya aku datang tanpa cinta, namun begitu aku mengenalmu dan semakin dekat denganmu, hatiku tidak bisa berbohong bahwa aku mencintaimu. Namun ketakutanku membuaku selalu menutupinya, karena aku tidak ingin kamu membenciku, Al."


Alva balas tersenyum. "Kamu sudah benar-benar tidur waktu itu, ya?"


"Mari kita anggap itu sebagai masa lalu, ya?"


Arana mendongak dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Alva kemudian berlutut dengan sebelah kaki yang membuat Arana melebarkan matanya karena tebakan dalam hatinya akan tindakan Alva. Pemuda itu mengeluarkan sebuah kotak putih dari dalam sakunya dan membukanya didepan Arana yang menutup bibirnya dengan terharu dan tak percaya.


"Maukah kamu menjadi milikku, Arana Canyelier?"


Arana hampir tidak bisa bereaksi selama beberapa waktu sebelum dia menjawab, "Memangnya aku bisa mengatakan tidak?"


Alva menyeringai dan mengambil cincin itu sembari memasangkannya kejari manis Arana. "Tentu saja tidak. Karena kamu adalah istriku."


Setelahnya, Alva menarik Arana kedalam pelukannya dan menghujaninya dengan ciuman dalam yang penuh dengan kasih sayang, cinta, pengabdian dan penghormatan yang tiada bandingannya.


Ckrek!


Jauh diseberang danau, Calvian berjongkok dibalik pohon dan menggunakan kamera canggihnya memotret setiap momen diantara pasangan itu dan menghela napas tanpa daya. "Mereka membuat kaum jomblo iri sekali. Lagian dari sekian banyaknya orang, kenapa harus aku sih?"

__ADS_1


"Nasib, nasib."


...***...


"Mama."


Lidia yang berada dibalik kaca penjara menatap Jasmine dengan tatapan sendu, kosong dan tak tergambarkan. Didepannya, Jasmine menatap Lidia dengan tatapan dingin dan terasing yang membuat Lidia semakin gemetar.


"Ada yang ingin saya tanyakan."


Lidia menatap kedua tangannya yang tertaut dan mengangguk. Bahkan mamanya sudah menggunakan bahasa formal padanya. Dia benar-benar dibuang.


"Kenapa kalian memisahkan Arana dan membuatnya tinggal bersama dengan Joana?"


Lidia mengerutkan keningnya dengan sedih. "Itu permintaan Michael."


"Atas dasar apa?!"


"Michael mencintai Nadia, ma. Arana dan Alana adalah putri kembar Nadia bersama dengan Michael. Pada saat itu, aku menjalin hubungan dengan Michael dibelakang Nadia dan membuatku bertengkar dengan Nadia saat dia tahu. Aku tidak sengaja mendorongnya dari tangga karena emosiku. Sejak hari itu, Michael menikahiku secara paksa untuk menggantikan Nadia dan menjadi ibu dari Arana dan Alana."


Lidia bercerita dengan penyesalan dihatinya dan air mata meluruh dikedua pipinya. "Aku tidak pernah benar-benar berniat menyakiti Nadia, namun keadaan terjadi begitu saja."


"Saat aku harus menjadi istri Michael, dia membalas dendam kepadaku atas kematian Nadia, yang dia cintai. Kemudian, dia memisahkan Arana dan Alana agar kejadian yang sama tidak terjadi kembali. Sama seperti aku dan Nadia yanh sama-sama mencintai Michael dengan cara yang berbeda."


Michael sengaja memisahkan Arana dan Alana. Dimatanya, Alana tumbuh menjadi pribadi yang lebih rendah dari Arana, dalam segi kecerdasan dan ketangguhan bahkan fisik. Sama seperti bagaimana dulu Nadia selalu ada dibawah Lidia yang bersinar. Penampilan Alana yang sejak awal mirip dengan Nadia membuat Michael lebih memiliki rasa sayang kepada Alana daripada Arana. Ketakutan dan trauma dihati Michael membuatnya takut jika Arana akan tumbuh menjadi seperti sosok Lidia, yang bisa menghancurkan Alana.


Meski teorinya tak berdasar.


Jasmine menatap Lidia dengan tatapan tak terlukiskan. Wanita itu bangkit berdiri dan bergumam, "Satu-satunya penyesalan dalam hidup saya adalah anda, Lidia. Anda bahkan tega memisahkan saya dengan cucu saya selama ini tanpa sepengetahuan saya sedikitpun."


...***...


Satu tahun kemudian


Anak laki-laki itu berlari dengan tanpa alas kaki. Sepasang kakinya yang terluka oleh kerikil dia abaikan. Pakaiannya yang lusuh dan penampilannya yang kotor membuat orang-orang yang bertemu dengannya dengan segera menyingkir dan menutup hidung mereka dengan cepat, seolah dia adalah hama yang wajib dihindari. Kakinya yang kecil tidak berhenti berlari, dan dipelukannya, dua buah roti ia genggam dengan erat, seolah-olah roti itu adalah segala hal yang dia miliki.


"Pencuri !"


Dibelakangnya, seorang pria dengan tegas berlari mengejarnya. Wajahnya menampilkan jejak kemarahan dan kekesalan luar biasa. Dengan rotan ditangannya, dia berlari dengan niatan untuk mendaili si anak yang mencuri roti tersebut.


Anak itu berlari, namun dalam sekejab tersandung oleh kaki seseorang hingga membuatnya terjerembab jatuh ke trotoar yang keras dan dingin. Anak itu meringis, namun tidak ada air mata yang keluar dari matanya meskipun darah mengalir keluar dari lutut, siku dan dagunya. Anak itu dengan cepat bangkit berdiri dan berusaha mengambil rotinya ketika sebuah tangan terulur dan menarik kerah belakang lehernya dan membuatnya berjinjit karena tercekik oleh pakaiannya sendiri.


"Tertangkap juga kau! Dasar pencuri kecil !" Pria itu berteriak dengan lantang yang membuat perhatian orang-orang tertuju kepadanya.


"*Aku bukannya menangkapmu karena uang! Tapi karena kau harus tahu bagaimana disiplin dan bertanggung jawab akan dirimu sendiri! Kecil-kecil sudah menjadi pencuri! Setidaknya jika kau kelaparan kau bisa meminta, bukan mencuri! Dasar bajing*n cilik* !"


Anak laki-laki itu memberontak dan menggigit lengan pria itu. Ia dengan kasar dilemparkan ketanah ketika pria itu melolong kesakitan dan mengangkat rotan ditangannya dengan amarah yang meluap. "Beraninya kau menggigitku! Dasar anak busuk !"


Ketika tongkat terangkat tinggi, tidak ada siapapun disana yang berniat membantu. Semua hanya memandang dengan simpatik, namun tidak ada yang mau ikut campur. Mereka berlalu seolah mereka tidak melihat mereka dan bahkan beberapa melirik dengan jijik. Anak laki-laki yang baru berusia tujuh tahun itu meringis kesakitan dan mencoba bangkit berdiri ketika dia menyadari rotan terayun kearahnya. Anak itu memejamkan matanya, mempersiapkan diri menghadapi rasa sakit yang akan segera dia terima.


Namun setelah menunggu beberapa waktu, rasa sakit itu tak kunjung datang. Ketika dia membuka matanya perlahan, ada sebuah tangan yang menariknya kedalam sebuah pelukan bersamaan dengan suara hangat dan tegas yang membuat maniknya sedikit melebar.


"Beraninya kau mencoba memukul seorang anak kecil !"


Maniknya mencoba mendongak keatas, namun atensinya lebih dahulu teralihkan kepada pria yang mencoba memukulnya. Pria itu dipegang satu tangan oleh seorang pemuda yang mengenakan jaket jeans dan celana selutut. Rambut merahnya yang terang membuatnya sedikit linglung. Apalagi, setelah muncul seorang pria yang nampak mengenakan setelan kemeja dan celana bahan yang mahal ketika pria itu melangkah didepannya. "Apa alasanmu mencoba menyakiti anak itu ?"


Pria itu mencoba memberontak dari lengan si pemuda, namun justru merasakan lengannya serasa diremas oleh besi. Dia menjawab, "Dia mencuri roti ditokoku !"

__ADS_1


"Jadi hanya masalah itu ?"


"Aku bukan mengincar uang! Anak itu hanya terlalu kurang ajar dengan mencuri! Bagaimanapun, dia harus diajari bahwa mencuri itu tidak baik !"


"Dengan memukulnya ?"


Suaranya yang dingin membuat tulang punggung anak laki-laki itu meremang, namun sentuhan hangat dilengannya membuatnya merasa hangat tanpa alasan. "Anak itu akan jadi urusanmu. Sekarang kau akan belajar juga bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik di kantor polisi."


Pria itu merogoh sesuatu dari sakunya dan melemparkan berlembar-lembar uang kemuka pria itu. Uang yang begitu banyaknya itu membuat pria itu melebarkan mulutnya dan buru-buru meraup uang itu setelah tangannya terbebas.


"Apa kamu terluka, nak ?"


Anak itu mendongak, masih merasakan pelukan ditubuh kecilnya. Sepasang maniknya melihat sebuah senyuman yang tergaris dengan indah dan sebuah suara halus dan lembut, "Sekarang kamu sudah baik-baik saja."


"Siapa namamu, sayang ?"


Tangan lembutnya mengusap noda diwajah si anak ketika dia berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak itu, ketika si anak menjawab dengan suara serak, "Kaiser."


"Kaiser? Apa kamu sendirian ?"


Kaiser menganggukkan kepalanya dengan ragu. "Maafkan saya karena merepotkan kalian. Roti itu, itu kesalahan saya."


"Jangan minta maaf, Kaiser. Tidak apa."


"Bisakah kamu berjalan dengan baik? Kamu terluka parah. Kita harus kerumah sakit."


Kaiser menggelengkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dan ekspresinya dibalik poninya yang panjang. "Tidak, tidak perlu."


"Sudah sayang, kita bawa langsung pulang saja. Aku akan menghubungi Angga untuk datang."


"Ya gendong dia!"


Belum sempat memprotes, sepasang lengan kokoh mengangkatnya dan membawanya dalam sebuah gendongan. Ia dengan panik mencoba memberontak turun. Ia mendongak dan mencoba memandang siapapun yang ada disekitarnya agar dia bisa memberitahu bahwa dia baik-baik saja, dan mereka tidak perlu menggendongnya karena kasihan. Namun apa yang Kaiser lihat masihlah sebuah senyuman tulus yang terukir dibibir keduanya.


"Al, jangan melamun. Ayo bawa Kaiser."


Alva menyunggingkan senyuman mendengarkan perkataan Arana. "Iya, sayang. Aku tadi sempat terkejut karena anak ini sangat tampan."


"Ke-Kemana kalian akan membawaku ?"


Alva tersenyum, menepuk punggung Kaiser. "Kerumah, nak."


Manik Kaiser membelalak dan dia berbisik ketika Arana dan Alva melangkah dengan dirinya berada digendongan Alva. Suasana cerah, hangat dan lembut. Dan dia berbisik pada hatinya sendiri. "Rumah ?"



DENGAN BAB EPILOG INI, MY BELOVED ARANA IZIN MELABUHKAN TIRAI.


BABAY AND SEE YOU NEXT TIME~


...•...


...•...


...Waktu tamat: 11 Agustus 2023...


...Yogyakarta...

__ADS_1


__ADS_2