
"R sudah memberitahu aku. Mereka sudah dibawa ke tempat biasanya."
Alva sama sekali tidak menoleh dan memandang lurus keluar jendela. "Bawa aku kesana. Aku akan mengurus mereka dengan tanganku sendiri."
Erlan tidak membalas dan hanya dengan tenang melajukan mobil berbelok dari jalur biasanya menuju daerah pinggiran. Ada sebuah hutan dengan bagian tengahnya ada berbagai bangunan tua yang tampak seperti bekas pabrik. Karena tempat itu merupakan lahan pribadi, tidak ada orang lain yang berani memasuki wilayah itu.
Mobil mewah itu terparkir di depan sebuah bangunan pabrik tua. Alva dengan tegas melangkah turun dan berjalan memasuki pabrik yang dijaga oleh banyak pengawal bersetelan hitam dan berkacamata hitam. Sepasang maniknya memandang kesekelilingnya ketika dia melewati pintu.
Ada sekelompok pria yang terduduk dilantai dengan kondisi tangan dan kaki terikat. Mulut mereka terbungkam, dan ada seorang yang didudukkan di kursi.
Pria itu adalah pria yang sama yang berbicara dengan Arana dan menyampaikan ancaman itu.
"Hei boss~ Menemukan mereka cukup sulit, lho. Tidakkah aku akan diberikan imabalan yang cukup besar kali ini?"
Pemuda itu memiliki rambut kemerahan yang gelap. Bibirnya menyunggingkan senyuman, dan dibawah bayangan, wajahnya kabur. Tetapi suaranya dengan jelas mengungkapkan bahwa dia masih remaja yang baru saja matang.
Alva mengabaikannya dengan dengan tenang melangkah menuju pemimpin geng motor itu dan melepaskan lakban yang menutup bibirnya dengan gerakan yang sama sekali tidak lembut, namun terlihat elegan dilakukan olehnya.
Pria itu mengerutkan keningnya. "Hei, kawan. Masalah apa yang kita miliki?"
Ia ingat bahwa dia tidak pernah bertemu dengan pria ini atau bahkan membuat masalah dengannya. Mengapa dia dan anak buahnya ditangkap dan disekap seperti ini?
Alva menoleh menatap Erlan. "Jadi dia yang sudah mengganggu dan mengancam istriku?"
Pria itu melotot. "Omong kosong apa!! Istri ap--!!'
Ia baru saja hendak memprotes ketika sebesit ingatan muncul dikepalanya. Ia memiringkan kepalanya dan bergumam, "Oh. Jadi gadis cantik itu adalah istrimu?"
"Kupikir dia masih single sampai-sampai aku ingin menjadikannya sebagai salah satu dari kekasihku." Ucapnya.
Bugh!
Alva dengan kejam mengayunkan tinjuan dan mengarahkannya tepat dihidungnya. Membuat suara retakan yang membuat remaja yang pertama kali berbicara dengan Alva bersiul dengan nada yang menyenangkan.
"Jangan berani-beraninya mengatakan sesuatu seperti omong kosongmu tentang istriku." Dingin Alva.
Ia menendang bangku itu, membuat pria tadi terjatuh miring, ketika Alva menginjak kepalanya dengan sepatunya. Lelehan darah mengalir dari hidungnya yang patah oleh kerasnya injakan Alva. "Aku akan memberimu waktu lima detik untuk menjawab, siapa yang sudah menyuruhmu untuk mengancam istriku."
Pria itu kesakitan, dan linglung oleh rasa sakit yang mendera wajahnya. Dia dengan terbata menjawab apa saja yang melintas dipikirannya. "Tidak tahu .. lewat pesan .. nomernya tiba-tiba menghilang."
__ADS_1
"Aku .. aku berani bersumpah!"
Memandang dingin pria yang kesakitan dibawah kakinya, Alva mengangkat kakinya dan melangkah menuju remaja dibawah bayangan itu. Dan berkata dengan dingin. "Pastikan mereka jera dan tidak akan mengingat sedikitpun tentang istriku. Kau bisa diandalkan kan, R?"
R menyunggingkan seringaian dengan sepasang manik melengkung yang nampak seperti seorang iblis. "Tentu saja bos!"
Kemudian, Alva berbalik untuk meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikipun.
Kejam?
Alva memang kejam. Tetapi itulah caranya untuk melindungi apa yang menjadi sesuatu yang ia sayangi dan ingin dia lindungi.
Bahkan jika dia menjadi seorang iblis, Alva akan melakukannya demi menjaga senyuman orang terkasihnya.
***
Ketika Alva kembali dari perusahaannya, ia melihat istrinya termenung didepan televisi. Meski sepasang maniknya memandang kedepan, Alva jelas melihat bahwa ia sedang tidak fokus dan pikirannya entah melayang kemana.
Bahkan ketika dia mendekat, Arana tidak menyadari keberadaannya.
"Sayang," panggilnya lembut.
Arana hendak berdiri ketika Alva menahan kedua tangannya, dengan perlahan menariknya untuk kembali duduk. "Apa terjadi sesuatu? Kamu seperti terganggu oleh sesuatu."
Apakah Arana masih memikirkan ancaman para preman waktu itu?
Arana menyadari kesalahannya, menggelengkan kepalanya dengan tenang. "Tidak, sayang. Aku tadi hanya memikirkan sesuatu. Lihat, mama memberikan ini pada kita."
Arana mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah dengan pita berwarna emas yang nampak rapih. Arana mengeluarkan isinya, dan menemukan tiket pesawat penerbangan Kyoto dan key card. "Mama bilang ini hadiah pernikahan. Mama meminta kita untuk berbulan madu ke tempat yang sudah disiapkannya."
Alva melihat destinasi bulan madu itu dan memikirkan ide tertentu. "Ide bagus. Aku akan mengurus izin kita. Aku akan menyuruh Erlan mengurus cutimu selama beberapa minggu kedepan dan kita akan ke Kyoto bersama."
Arana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya!"
Alasan mengapa Arana sejak tadi diam melamun adalah pikirannya yang berkelana dengan liar. Banyak hal yang ia pikirkan sebelum Alva datang.
Bulan madu adalah hal yang sakral dan lumrah bagi pasangan muda yang baru menikah. Bulan madu identik dengan perjalanan romantis pasangan muda untuk menikmati masa-masa awal pernikahan mereka, melakukan pendekatan intim hingga selalunya menghasilkan buah cinta berupa buah hati dalam kandungan.
Jika mereka melakukan bulan madu, Arana tidak bisa mencari cara untuk menghindari terjadinya momen intim yang mungkin bisa terjadi begitu saja. Meskipun Alva sudah mengatakan tidak akan menyentuh Arana sampai Arana mengizinkannya, banyak hal yang menekan Arana.
__ADS_1
Salah satunya adalah perkataan Arletta yang masih terngiang dikepalanya sebelum wanita itu berpamitan untuk kembali ke luar negeri.
"Mama tidak sabar untuk mendapatkan kabar baik darimu dan Alva. Mama dan papa benar-benar menantikan cucu pertama mama dan papa."
Arletta adalah satu-satunya wanita selain sang nenek yang membuat Arana ingin menangis ketika memeluknya. Kelembutan dan kehangatan wanita itu membuat Arana merasa nyaman, dan entah sejak kapan dia mulai menganggap Arletta sebagai ibunya sendiri.
Melihat pengharapan wanita itu, Arana merasa tertekan. Tidak ingin membuatnya kecewa, namun dia tidak bisa melangkah lebih jauh dalam kepalsuan.
Dia tidak ingin membohongi Alva lebih dari ini.
Dia tidak ingin Alva menodai kesuciannya dalam hubungan palsu. Jika dia benar-benar hamil dan suatu ketika Alva menemukan kebenaran tentangnya, Arana tidak ingin Alva membencinya. Arana tidak ingin dan tidak bisa membayangkan Alva menatapnya dengan sepasang mata tajam yang penuh dengan kekecewaan dan kemarahan.
Dia tidak bisa membohongi Alva.
Pada akhirnya, semua pemikiran dan kekhawatirannya membuatnya tidak bisa tidur dan membuatnya terjaga ditemoat tidur.
Memandang Alva yang sudah terlelap disampingnya, Arana mengambil ponselnya dan bangkit dari tempat tidur perlahan. Ia dengan hati-hati menutup pintu dan melangkah turun untuk menghubungi seseorang. Arana tahu itu sudah malam, namun Arana perlu menghubunginya.
"Halo, ma?"
[Arana, ada apa menelpon mama malam-malam begini?]
Arana tidak langsung menjawab selama beberapa detik, sebelum ia berbicara. "Mama Alva memberi kami tiket bulan madu, dan menanyakan soal cucu. Ma, apa yang harus aku lakukan?"
Lidia diseberang sana diam selama beberapa waktu sebelum menjawab dengan ringan. [Lakukan apa yang perlu kamu lakukan, nak. Selama kamu tidak mengungkap identitasmu, tidak masalah untuk melakukan apapun. Juga, tidakkah menurutmu baik memiliki bayi? Dengan keberadaan bayi yang akan diketahui berasal dari Alva dan Alana, perusahaan papamu akan semakin dapat dipertahankan.]
Mendengarkan jawaban Lidia, Arana tidak mampu berkata-kata. Pada akhirnya dia menutup panggilan telepon setelah bergumam mengiyakan.
Arana menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan menghela napasnya.
Perusahaan, perusahaan dan perusahaan.
Arana, benar-benar tidak ingin Alva membencinya.
"Al, aku tidak mau kamu membenciku." Gumamnya pada udara kosong.
"Tidak mau, kamu membenciku."
__ADS_1