
Seseorang tolong carikan Arana lubang untuk bersembunyi!
Gadis itu memandang Alva dengan tatapan tidak puas. Dalih untuk menyembunyikan kegugupannya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dan wajahnya masih memerah. Bahkan semakin lama dalam posisi berbahaya itu, wajahnya semakin memerah bahkan sampai telinga dan pangkal lehernya.
Alva menyunggingkan senyuman dan terkekeh. "Haha, maafkan aku. Aku hanya bercanda."
Melihat Alva tak lagi mengukungnya, gadis itu bernapas lega. Arana melirik Alva yang nampak kelelahan disampingnya. Tentu saja Alva pasti merasa kelelahan. Dia baru saja bekerja di perusahaan, menemaninya ke bazaar, menunggunya dirumah sakit, dan sekarang beberes rumah. Pasti Alva kelelahan. Dan Arana merasa sedikit tidak enak karena membuat pria itu bekerja keras hari ini.
Gadis itu merenung, memikirkan sesuatu yang bisa membuat Alva setidaknya memiliki mood yang lebih baik. Atau setidaknya, itu yang selalu dia gunakan untuk meningkatkan moodnya saat dia kelelahan atau sedang sedih.
"Sayang," panggilnya.
Alva menoleh, tersenyum dan seolah bertanya mengapa dia memanggilnya. "Kamu mau puding susu tidak?"
Wajah Alva nampak aneh. Memandang Arana dengan tatapan yang sulit diartikan. Arana terbatuk canggung melihat tatapan Alva. Arana tahu bahwa mungkin Alva berpikir jika dia ingin Alva membelikannya puding susu.Yah, sedari tadi kan Arana memang menyuruh Alva melakukan ini dan itu. Wajar saja jika Alva berpikir kali ini dia menginginkan puding susu.
Arana tersenyum. "Maksudku, aku akan membuatkanmu puding susu. Kamu mau?"
Mendengar itu, Alva mengangkat alisnya. "Memangnya kamu bisa membuat puding susu?"
Arana menggangguk. "Kak Melisa mengajariku cara membuatnya."
...***...
Menyiapkan bahakn-bahan yang diperlukan untuk membuat puding susu, Arana mulai mencampur semua bahan kedalam rebusan air susu. Membuat puding susu sangatlah mudah, dalam sepuluh menit, cairan puding itu telah dimasukkan kedalam cetakan.
"Kita tunggu sebentar." Ucap Arana ketika sepasang manik Alva menatapnya dari ruang tengah.
__ADS_1
Arana menatap Alva yang kini nampak mengalihkan tatapannya darinya. Ditangannya ada sebuah ponsel, dan nampaknya Alva tengah berkirim pesan dengan seseorang. Jika dugaan Arana benar, seharusnya itu Erlan. Mungkin saja pria itu bertanya kepada Alva tentang masalah yang ada di perusahaan. Atau bertanya tentang data-data tertentu yang hanya diketahui oleh Alva.
Arana menurunkan tatapannya.
Semua cara telah dia coba lakukan. Mulai dari marah-marah tidak jelas bahkan sampai menempel pada Alva seperti benalu. Tetapi pria itu tidak terganggu sedikitpun, dan selalu memprioritaskan Alana di setiap waktu. Bagi Arana, Alva benar-benar mencintai Alana . Bagaimana dia bisa membuat Alva menceraikan Alana jika pria itu mungkin sudah terbiasa dengan sifat Alana yang sejak awal sudah buruk?
Rencana-rencanannya sudah gagal sejak awal karena Alva sudah terbiasa dengan sifat Alana saat mereka berpacaran.
Tuhan, Arana sedang pusing.
Belum lagi masalah kuliah dan tawaran dari Karina. Dimanapun jurusan Alana berkuliah, Arana tidak masalah menggantikannya, sesaat. Dimanapun itu, Arana yakin dia bisa mengikuti setiap mata pelajaran dengan baik. Namun, dia tidak bisa selamanya menjadi Alana. Dia juga memiliki kehidupan yang harus diurusnya. Kehidupannya sendiri.
Jika sampai dia bercerai dengan Alva, Alana akan kembali, dan Arana tahu dia harus pergi.
Jika dia mengikat perjanjian dengan Karina dan tiba-tiba semua berubah, bukankah akan sulit untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan meskipun menjadi desainer adalah keinginannya sejak kecil?
Aduh, kepala Arana terasa panas. Dia mulai menyesali keputusan gegabahnya.
Sesaat kemudian, setelah kembali ke kesadarannya, Arana susah memasukkan puding susu yang setengah dingin kedalam lemari pendingin. Seharusnya 20 menit sudah dingin dan siap dinikmati. Gadis itu mendudukkan dirinya disamping Alva kembali setelah mencuci tangannya. "Siapa itu, sayang?"
Arana bertanya kepada Alva yang masih sibuk mengetik diponselnya. Alva menoleh dan tersenyum sembari meletakkan ponselnya dimeja. "Erlan. Dia menanyakan beberapa hal. Lupakan saja, tidak begitu penting."
Arana berpura-pura mengangguk acuh, padahal sebenarnya dia merasa kasihan kepada Alva dan Erlan yang kerepotan karenanya. Heh, toh rencananya sudah gagal.
Arana menoleh. "Lebih baik kamu mandi dulu. Aku akan menyiapkan pudingnya setelah kamu mandi."
Alva mengendus dirinya sendiri. "Benar juga. Aku butuh mandi. Aku berkeringat banyak karena istriku."
__ADS_1
Hah?
Ambigu sekali!
Arana mendorong Alva yang tergelak. "Cepatlah mandi!"
"Haha!"
...***...
Ruangan itu luas. Namun keadaannya saat ini tidak cukup terang untuk mengetahui siapa saja yang ada disana. Seseorang berpakaian jas lengkap itu berdiri diseberang meja. Dimana seseorang duduk dibangku yang membelakanginya.
"Jadi maksudmu, Alva sudah menikah?"
Pria dibelakangnya menjawab dengan nada datar. "Ya, nona!"
"Tanpa sepengetahuanku?"
Nadanya sedikit tajam ketika dia bertanya kembali. "Siapa itu?"
"Nona muda dari keluarga Damarian, nona." Jawaban sangat pria membuat wanita itu tertawa. Bibir merah pekatnya membentuk seringaian, dan tahi lalat kecil dipucuk hidungnya berkilat samar. "Pesankan tiket untukku pulang malam ini. Aku harus melihat sendiri dengan mata kepalaku, gadis itu."
"Baik, nona."
"Well, aku ingin tahu bagaimana dia menggoda kesayanganku ?" Gumamnya dengan dingin.
__ADS_1