
Alva melangkah dengan langkah berat memasuki ruangan dimana Arana berada. Bukan berat karena kesedihan atau kesusahan, namun kebahagiaan yang tiada kira yang Alva rasakan.
Langkahnya membawa Alva menuju kepada Arana yang tengah berbaring diranjang yang sudah bersih. Wajahnya nampak lemah dan pucat, namun tidak ada jejak keringat karena perawat dengan cepat membantunya membersihkan diri dengan kain bersih. Manik Alva melebar ketika mendapati dua sosok kecil tengah terbaring disisi Arana.
Arana menoleh, dan beradu tatap dengan Alva.
Perasaan Arana tidak bisa dijelaskan. Segala emosi beradu dibenak, dan otaknya begitu kosong untuk berpikir. Arana hanya ingin berlari menuju Alva dan memeluknya, namun dia terlalu malu untuk itu. Kapan Alva mengetahui identitasnya? Mengapa Alva masih bersikap baik padanya meskipun tahu bahwa dia bukan Alana? Apakah Alva masih menganggapnya Alana? Namun, mengapa namanya terukir dicincin pernikahan yang seharusnya terukir nama Alva dan Alana seperti yang pertama kali dia lihat ketika acara pernikahan?
"Maafkan aku..."
Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Arana ketika dia menitikkan air mata. Menatap Alva dengan sepasang manik penuh penyesalan. Arana tidak pernah menyesal datang kemari. Arana tidak pernah menyesal bahwa dia mencintai Alva. Arana hanya menyesal, bahwa dia tidak bisa jujur kepada pria itu. Arana menyesal telah membohonginya selama ini, meski Arana tidak tahu kapan pastinya Alva mengetahui identitasnya.
"Maafkan aku.."
Alva tanpa kata melangkah maju, bersimpuh didekat ranjang, bersandar sehingga kepalanya menyentuh kepala Arana sementara tangannya memeluk Arana yang secara otomatis seakan memeluk kedua bayinya yang tengah terlelap. Alva tidak bisa menyembunyikan tangisnya dan ia menyatukan dahinya dengan dahi Arana ketika dia berbisik.
"Terimakasih, sayang. Terimakasih sudah melahirkan putra dan putri kita kedunia dengan selamat. Terimakasih sudah berjuang."
Arana menitikkan air mata semakin deras. Ia memanggil dengan suara pelan, "Al."
"Aku mencintaimu," Alva sedikit menjeda ucapannya ketika dia mencium dahi Arana dengan penuh rasa syukur dan penuh cinta, "Arana."
...***...
Setelah Arana selesai melakukan persalinan secara normal meski sang bayi terlahir sedikit premature, Arana kemudian segera dibawa kembali ke Indonesia. Pada awalnya, semua orang yang mendapatkan kabar bahwa Arana akan kembali dan bahkan akan kembali bersama dengan buah hatinya ingin langsung menjemput mereka di bandara, namun Alva melarang dengan mengatakan bahwa Arana akan langsung dibawa kerumah sakit, jadi semua orang setuju untuk ke rumah sakit.
Setelah mendapatkan alamat dari Erlan, semua orang yang mengenal Arana segera menuju ke rumah sakit.
"Dimana Nana kesayangan Cece?! "
Cella adalah yang paling terlambat datang bersama dengan Arselyne. Keduanya segera menjadi pusat perhatian untuk sepersekian waktu sebelum Arletta segera menyambut Cella dengan pelukan. Keduanya sama-sama ibu rumah tangga dan mereka menjadi akrab dalam waktu singkat semenjak Cella mengenal Alva juga.
"Kita akan menjadi nenek! Benar-benar menjadi nenek! "
Meski bukan orangtua kandung Arana, Cella sudah menganggap Amber dan Arana sebagai putri baptisnya. Jadi meski bukan cucu biologisnya, Cella dengan bangga mengakui bahwa si kembar adalah cucunya juga.
"Bayinya benar-benar kembar? "
Arletta menganggukan kepalanya. "Iya, laki-laki dan perempuan. Sungguh sempurna! "
"Sepertinya Nana masih belum selesai diperiksa, ma." Arselyne berkata setelah memastikan bahwa Alva juga tidak ada disana. "Alva sepertinya menemani Nana."
Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang dokter wanita melangkah keluar. "Pasien sudah diperiksa bersama dengan sang bayi, dan keadaannya baik. Bagi keluarga yang ingin melihat dipersilakan, tapi dimohon untuk menjaga ketenangan dan tolong tetap beri ruang kepada bayi dan sang ibu."
"Terimakasih dok!"
"Terimakasih!"
"Aku mau masuk duluan!"
Segera, lorong menjadi sepi. Mereka bersamaan masuk kedalam kamar VVIP yang memang luas. Arana tengah duduk bersandar di ranjang sembari menggendong sesosok bayi, sementara Alva yang duduk disebelah Arana juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Arletta dan Cella hampir memekik bersamaan jika mereka tidak bisa menahan suara mereka. Flora, Calvian dan Erlan tersenyum dan kemudian duduk disofa, memandang mereka yang penasaran dengan bayi Arana dan Alva. Bahkan Juan turut serta segera mengambil tempat disamping Arletta dan memandang bayi dipelukan Alva dengan tatapan penasaran.
"Kecil sekali~" Gumamnya.
Arletta segera berkata, "Kau dulu juga sekecil itu saat dilahirkan."
Juan menoleh dengan terkejut, "Benarkah?"
Cella menutup bibirnya, mengulurkan tangannya menyentuh pipi sang bayi sebelum berlinang air mata. "Cantiknya!"
Arselyne memandang kedua bayi itu dan berceletuk. "Al, yang kamu gendong laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
Arselyne sedikit mendengus dan mengulas senyuman paling tulus yang pernah dia miliki. "Dia mirip dengan Nana. Dia, akan menjadi anak laki-laki yang manis dimasa depan."
Cella menunjuk bayi dipelukan Arana. "Dan yang satu ini akan menjadi gadis yang sangat cantik dimasa depan."
"Lihat betapa nyenyaknya mereka tidur." Johan bergumam yang membuat Arletta menoleh dan tersenyum, "Sama persis seperti Alva dan Theo dimasa lalu ya, Pa?"
Johan tersenyum dan memeluk Arletta. "Iya."
Setelah beberapa waktu kemudian, kedua bayi itu sudah berpindah kegendongan Arletta dan Cella. Keduanya terlihat sangat girang dan menggoda kedua bayi yang terbangun itu. Alva menggenggam tangan Arana dan kemudian berkata kepada sisa orang yang memperhatikan keduanya.
"Pa."
"Ya, nak?"
Mendengarkan keputusan Alva, Johan tidak banyak merespon dan menganggukkan kepalanya. Alva masih melanjutkan perkataanya. "Perusahaan yang ada disini akan aku serahkan kepada Erlan, dan kemudian aku akan membangun perusahaanku lagi di Melbourne. Kami akan memulai kehidupan baru kami disana, aku dan Arana."
"Papa mengerti, nak. Papa bangga kepadamu."
Johan menoleh kearah Arana dan mengelus kepalanya. "Papa titip Alva ya, Arana? "
Manik Arana berkaca-kaca ketika dia menganggukkan kepalanya. "Pasti, papa. Terimakasih dan maafkan Rana."
Alva mengeratkan genggamannya pada tangan Arana dan tersenyum dengan lembut. Perempuan yang ia cintai, sekarang ada disisinya, selamanya.
Suasana yang hangat dirumah sakit bersamaan dengan suasana duka bagi Michael, Lidia, Hiro dan Alana. Karena pembuktian bahwa mereka bersalah, ketiganya dipenjara dan hanya Alana yang mendapatkan kebebasan bersyarat karena ia telah memiliki putri. Berita menyebar seperti parasit. Karena Alva dan keluarganya adalah tokoh yang terkemuka, berita mengenai keempatnya segera menjadi kasus viral. Pertama adalah karena merupakan kasus unik dimana seluruh anggota keluarga adalah keluarga yang bermasalah dan tidak bermoral.
Kehidupan Alana benar-benar hancur. Kemanapun kakinya melangkah, kemanapun dia menunjukkan wajahnya, semua orang akan memandang wajahnya dengan dingin dan penuh dengan cemoohan karena perbuatan yang dia lakukan.
Kemudian, satu bulan kemudian, dia menjadi gila.
Gila, karena sang bayi menghilang, seakan dikucilkan dan dianggap sampah saja tidak cukup dikatakan sebagai hukuman baginya.
...***...
"Bagaimana kabar mama?"
Karina, yang duduk dibalik kaca ruang komunikasi di penjara tersenyum. "Bahagia."
__ADS_1
"Mama memang harus bahagia karena Alana sudah hancur sepenuhnya. Namun aku masih tidak mengerti, mengapa mama menutupi kejahatan yang aku lakukan?"
Karina menyunggingkan senyuman, memandang Bianca yang duduk diseberangnya, mengenakan setelan baju berwarna putih yang membuatnya nampak seperti malaikat dimata Karina. Ia tersenyum dan memandang sang putri dengan senyuman.
"Karena kamu pantas bahagia."
"Bahagia? Itu agak lucu ma."
"Mama tidak menyesal. Hanya sedkit tidak mengerti mengapa kamu membunuhnya.."
"Karena dia mencampur minuman Nana dengan obat. Meskipun mama sih, yang menyuruhnya."
"Mama menyuruhnya mencampur minumannya dengan obat pencahar, bukan obat perangsang, sayang."
"Makanya. Aku membunuhnya."
Karina terkekeh pelan. "Ngomong-ngomong, dimana kamu meletakannya?"
"Di depan panti asuhan. Mama tenang saja, wanita itu akan kehilangan akal sehatnya sebentar lagi. Aku berharap dia akan bunuh diri perlahan, tapi lebih menyenangkan melihatnya menderita seperti ini." Senyuman Bianca nampak menakutkan untuk sepersekian detik.
"Bagaimana keadaan Arana?"
Bianca tersenyum. "Nana baik-baik saja, ma. Dia melahirkan dengan normal, dan dia memiliki bayi kembar. Mereka cantik dan tampan. Kudengar dari Erlan mereka akan tinggal kembali di Melbourne. Membicarakan Arana dan Melbourne membuatku ingat tentang ingatan dulu sekali. Aku jadi merindukannya."
"Benarkah? Itu bagus. Siapa nama mereka?"
"Namanya..."
"... Zhoe dan Zhia."
Hai, Ree disinii~!
Akhirnya selesai sudah novel My Beloved Arana. Eits, tapi tentu aja aku belum bakal selesai menulis, perjalanan dan rangkaian imajinasiku masih sepanjang samudera, eaa.. Aku harap, kalian puas dan suka dengan ending MBA. Jujur aku sedih harus mengakhiri perjalanan AlvaRana disini. Aku sedih karena aku nggak akan bisa lagi pamerin ke uwuan Alvarana ketemen-temen, hehe.
Namun aku juga bahagia dengan endingnya karena itu seperti yang aku harapkan. Aku sadar kalau tulisanku masih banyak kurangnya. Masih ada beberapa hal yang belum terungkap, tapi biarlah jadi rahasia sesaat sebelum akhirnya terungkap, hehe. Makasih buat temen-temen yang udah nemenin aku dari awal sampai akhir aku bikin novel ini terutama buat Kak Bintang Kecil yang selalu like dan komen karya akuu. Makasii buat kak Anggita, sesama penulis pertama yang suport dan dukung serta baca karya aku, yang bikin aku semangat terus berkarya. Makasih banget buat kak Anna selaku editor, yang dongkrak semangat aku buat lanjutin MBA sewaktu aku kena block writer setahunan. Juga makasih buat my mom dan my bestie yang terus dukung dan semangatin aku berkarya. Aku juga ucapin makasih banyak kepada semuaaaaa pembaca MBA yang udah mau baca dan ngikutin keseruan AlvaRana. Really BIG THANKS !!
Awalnya aku nggak percaya diri bikin novel ini atau yang lain. Tapi bermodal nekat, Puji Tuhan aku bisa selesain MBA tanpa kurang suatu apapun.
Sekali lagi, makasihh banyak, LOVE U ALL😍😍
^^^•^^^
^^^•^^^
^^^•^^^
^^^Salam,^^^
^^^Reelumina (LuminaLux)^^^
__ADS_1
^^^Yogyakarta, 10 Agustus 2023^^^