
Arana pasti gila!
Bagaimana dia bisa menyerang Alva seperti itu?! Arana sudah gila! Dia pasti sudah gila!!
Bukankah bagus jika Alva dekat dengan mantan kekasihnya? Bagus jika Alva kembali luluh pada Flora, karena nyatanya Flora adalah sosok wanita hebat dimata Arana. Penampilannya yang mempesona, dan kharismanya. Arana yakin Flora adalah wanita independen yang memiliki karir cemerlang. Siapa pria yangg tidak memiliki minat padanya?
Seharusnya bagus jika Alva kembali pada Flora, menceraikannya seperti apa yang direncanakannya. Namun, mengapa Arana bertindak tanpa sadar dengan mencium Alva didepan Flora. Pikirannya berkata untuk membiarkan Flora mendekati Alva, namun hatinya memaksanya untuk melakukan sesuatu. Hatinya tidak ingin sakit, sebab itu sakit melihat Flora yang bergelanyut manja pada Alva.
Ada apa dengannya?
Arana bingung dengan pikirannya sendiri hingga membuatnya tak bisa berkata-kata. Dia memandang lingkungan Alva yang ada didepannya setelah dia berkata merindukan pria yang notabennya adalah suami kembarannya.
"Pft! Sepertinya itu kebiasaan burukku. Aku juga datang di waktu yang tidak tepat. Hei, Va. Aku akan memberikan proposal kerjasama kepada Erlan nanti. Jangan lupa sematkan tanda tanganmu atau aku akan mengebom perusahaanmu."
Suara Flora terdengar keduanya. Arana memerah, dan perlahan melangkah mundur, memberikan ruang kepada Alva. Oh, Arana ingin masuk kedalam lubang lagi karena rasa malu yang entah mengapa selalu ada diakhir.
Alva menyipitkan matanya. "Yah, kalau sudah pergilah."
Flora mencebikkan bibirnya, melirik Arana dengan seringaian geli. "Ngomong-ngomong, Ana. Kau bisa memanggilku kakak mulai sekarang."
"Eh?" Arana yang merasa terpanggil terkejut, bingung dan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mengapa wanita yang awalnya dingin dan acuh kepadanya bisa tiba-tiba memintanya memanggilnya kakak?
Mengibaskan rambutnya saat berbalik, Arana berkedip melihat gadis itu melangkah dengan tegas dan anggun meninggalkan ruangan Alva. Ada keheningan selama beberapa saat. Gadis itu mencuri pandang kearah Alva, sebelum kakinya berusaha menghindar dari tempat itu. Sayangnya, sepasang tangan kokoh terlebih dahulu menangkapnya dalam pelukan, sehingga Arana tidak bisa melarikan diri dari rasa malunya yang kian bertambah.
"Kemana istriku ini ingin pergi, huh?" Tanya Alva.
Arana menggeleng. "Ka—Kamar mandi!"
Alva menunjuk pintu dibelakang Arana dengan dagunya. "Dibelakangmu ada kamar mandi, sayang. Tidak perlu keluar untuk ke kamar mandi."
__ADS_1
Manik Arana melirik tajam dan penuh ketidakpuasan pada kamar mandi Alva. Mengapa harus ada kamar mandi diruangan itu? Jika tidak ada, dia bisa beralasan dan kabur, kan? Sekarang lihat, dia tidak bisa melarikan diri dan menyelamatkan mukanya dari rasa malu.
Oh, malang sekali.
Arana mencoba melepaskan pelukan Alva. "Aku sudah membawakanmu makan siang. Lepaskan aku dan makanlah."
Alva menggeleng, mengeratkan pelukannya pada Arana. "Tidak mau! Aku mau memelukmu saja."
Arana masih mencoba membujuk. "Apa kamu sudah makan siang?"
"Belum."
"Maka dari itu, lepaskan aku dulu, dan makan. Menunda makan bisa membuat perutmu sakit. Itu tidak baik untuk kesehatan." Jelas Arana.
Alva masih tetap dengan kekeraskepalaannya. Pria itu menggeleng. "Nanti saja aku makannya."
Menggembungkan pipinya kesal, Arana mengangkat kakinya dan memberikan pijakan kuat diatas kaki Alva yang terlapisi sepatu kulitnya. Arana saat ini menggunakan sepatu kets dengan bagian belakang cukup tebal. Meski tidak panjang, gaya kets heels itu cukup untuk meninggalkan jejak yang menyakitkan jika tidak sengaja menginjak kaki orang lain.
"Auch!" Alva mengaduh ketika Arana hampir sekuat tenaga menginjak kaki Alva. Tapi dia tidak benar-benar menggunakan kekuatan penuhnya. Dia masih memiliki hati nurani dan rasa bersalah. Jangan sampai Alva menjadi pincang sementara hanya karena dia menginjak kakinya.
Arana menatap Alva. "Makan siang dulu, Alva! Makan atau aku akan menyuapimu!"
Ups, nampaknya dia mengatakan hal yang salah. Sebab detik berikutnya, Alva menyeringai. "Suapi aku."
"Seperti anak kecil saja. Sudah, makanlah." Ucap Arana sembari mendorong Alva menuju ke sofa yang ada di sudut ruangan itu.
Alva masih tidak melepaskan Arana. "Aku hanya mau makan jika kamu menyuapiku. Ayolah, apa kamu tega membiarkan suamimu ini kelaparan?"
Memandang wajah Alva, Arana membatin dalam hati. "Ya ampun, bagaimana Alva bisa semanja ini, sih?"
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Ayo sayang, aku akan menyuapimu." Kata Arana pada akhirnya dengan nadanya yang dipanjangkan.
Gadis itu menarik Alva untuk duduk disofa. Tangannya kemudian bergerak membuka paper bag yang dibawanya, mengambil sebuah tempat dari stereofom dan membukanya. Ada beberapa makanan lainnya, dan Arana hari ini membawakan Alva makanan Jepang yang dibelinya dari restoran Jepang beberapa blok dari panti asuhan.
Mengambil sepotong sushi tuna dengan sumpit, Arana membawanya kepada Alva yang dengan senang hati menerima suapan Arana. Pria muda itu mengunyah dengan perasaan yang baik. Melihat berapa lahapnya Alva menikmati makanannya membuat Arana penasaran. "Apa sangat enak, sayang?"
Alva mengangguk. "Enak."
"Aku coba, ya?" Arana mengambil satu sushi dan memasukkannya kedalam mulutnya sendiri. Rasa yang khas dari ikan tuna bercampur dengan wasabi yang pedas, nasi yang gurih dan nori yang asin. Perpaduan yang enak dan rasanya sangat lembut.
Arana mendongak dan tersenyum. "Rasanya memang enak."
Alva mengangguk setuju. Dan menerima kembali ketika Arana menyuapinya. Menikmati makanan lain, keduanya larut dalam makan siang mereka yang hangat dan manis.
Memandang Alva yang tengah menyedot minuman dingin dengan sedotan, Arana diam-diam menurunkan matanya. Merasa salah untuk beberapa alasan. "Sayang, aku mau tempuranya."
Tersadar dari lamunannya, Arana tersenyum dan mengambilkan sepotong tempura udang untuk Alva.
...***...
Beberapa jam sebelumnya..
"Jadi maksudmu dia bukan Alana?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Flora yang tengah menggigit sedotan untuk menyesap americano-nya. Gadis itu duduk bersandar disofa, menyilangkan kakinya, berhadapan dengan Alva yang duduk di bangku kebesarannya dengan auranya yang dingin dan tidak tersentuh.
Alva bergumam membenarkan. "Hm."
Flora mengerutkan keningnya. "Alana yang bukan Alana. Hmm, haha! Sungguh menarik. Baiklah, mari kita lihat bagaimana dia sebenarnya."
"Siapa namanya?" Tanya Flora.
__ADS_1
"Arana."