
EKSTRA BAB 4 — AMBER & EXEL
[Chapter 4]
•
•
Mendengar pertanyaan Amber, Exel sedikit terkejut. Ia memandang Amber dan menganggukkan kepalanya. "Aku mencintaimu."
Exel menghela napasnya. "Kamu mungkin tidak tahu. Tapi, aku sudah menyukaimu dari lama. Kamu cantik, kamu manis, kamu bercahaya dan kamu apa adanya. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku pikir aku melihat seorang peri."
"Aku tidak berbohong."
Amber memikirkannya dan tidak bisa tidak berpikir bahwa dia merasa malu dan tersanjung atas pujiannya. Pernyataannya mungkin bisa memiliki artian yang sama dengan yang disampaikan oleh Arana kepadanya. Dia mencintainya.
"Lantas, malam itu ..." Amber sedikit menjeda pertanyaannya yang membuat Exel memejamkan mata karena tahu maksud Amber bahkan sebelum selesai bertanya, "... mengapa kamu melakukannya kepadaku? Mengapa kamu mencampur minumanku dengan obat?"
Exel menghela napas selepas menarik napas dalam. Ia menatap Amber dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Amber, bukan aku yang memberimu obat. Pada saat itu, sudah waktu ketika pesta memasuki pertengahan. Karena kamu izin naik ke lantai atas terlebih dahulu, aku khawatir jika mungkin kamu sakit. Aku menyusulmu untuk sekedar melihat apakah kamu baik-baik saja atau tidak, namun aku menemukan seseorang mencoba masuk ke dalam kamarmu."
"Kamu ingat putra pengusaha yang pernah kamu tendang di perjamuan dulu?"
Amber mengingat dan melebarkan matanya sembari mengangguk. Amber memang pernah menendang seorang anak pengusaha karena pria itu mencoba melecehkannya dengan menyentuh area pribadinya. Amber yang marah langsung saja menendangnya dan dia diberi hukuman kurungan oleh Leviana didalam kamarnya selama seminggu penuh. Namun, mengapa pria itu mencoba masuk kamarnya? Jika saat itu, bukankah saat dia dalam keadaan pusing dikamarnya?
__ADS_1
"Aku mendatanginya dan dia langsung lari. Pada saat itu aku sudah sangat curiga, dan aku masuk ke dalam kamarmu yang pada saat itu tidak dikunci."
Amber mengerutkan keningnya. "Aku, aku ingat aku mengunci kamarku setelah aku menutup pintu. Meski aku cukup pusing, aku bisa ingat dengan jelas bahwa aku sudah mengunci pintu. Mengapa pintunya bisa terbuka?"
"Tidakkah kamu bisa menebaknya, Amber?"
Pertanyaan Exel membuat Amber mencelos dan memandang Exel dengan jejak ketidakpercayaan. Sampai dia bergumam, "Mama.."
"*Aku masuk ke kamarmu dan melihatmu berbaring ditempat tidur dengan keadaan yang seperti itu. Kamu pusing, tubuhmu panas dan ruangan dipenuhi dengan aroma yang seharusnya tidak ada. Pada saat itu aku memikirkan ibumu dan aku merasa marah. Dia bahkan tega menjebakmu dan mengumpankanmu kepada para bajin*an untuk dijadikan sebagai batu lompatan akan kekayaan dan kekuasaan. Pemikiran seperti itu membuat darahku mendidih, aku ingin melindungimu, aku ingin menyelamatkanmu, aku ingin menjagamu*."
Exel menjeda perkataannya, "Dengan cara memilikimu seutuhnya."
Exel menyadari bahwa dia juga salah. Caranya untuk menjadikan Amber menjadi miliknya adalah list terakhir dari pilihan yang dia miliki, namun dengan kejadian malam itu, Leviana benar-benar memaksanya untuk menjadikan Amber sepenuhnya menjadi miliknya agar dia bisa menjaga Amber.
Meski setelah itu Amber membencinya, selama Amber bisa keluar dari cengkraman Leviana, Exel tidak pernah menyesal telah melakukannya. Karena tujuannya adalah membuat Amber kehilangan kepercayaan kepada keluarganya terlebih dahulu sebelum menentukan hidupnya sendiri. Exel berani mengambil keputusan berisiko karena dia tahu bahwa Amber adalah gadis yang sangat kuat dan berani yang dia kenal, sehingga bahkan jika Amber menghadapi kebejatannya, Amber akan tetap berdiri dengan tegas menghadapinya.
Pada awalnya Exel sudah bersiap untuk menghadapi hukuman penjara atau denda, namun dia tidak pernah menyangka bahwa Amber akan bertindak sedewasa itu dengan melakukan pilihan untuk menjatuhkan hak asuh sepenuhnya ke tangan Amber dan menetapkan garis kepadanya.
Tapi, itu adalah kesempatan bagi Exel.
"Bolehkah aku menamparmu sekali saja?"
Exel terkesiap mendengar pertanyaan Amber. Gadis itu menatapnya dengan tegas yang membuat Exel menganggukkan kepalanya. Amber mengangkat tangannya dan dalam sekejab mendaratkan tamparan keras dipipi Exel. Pria itu bahkan sampai menolehkan kepalanya karena kerasnya tamparan Amber. Yang memang tidak main-main jika Amber serius.
__ADS_1
"Tamparan itu untuk kebejatanmu. Tamparan itu untuk sikap dingin yang kamu berikan kepadaku seolah kau memandang aku seolah bukan apa-apa. Tamparan itu untuk semua rasa takut yang aku alami setelah rasa sakit dan mimpi buruk yang aku alami setelah malam itu."
"Aku minta maaf, namun aku tidak pernah menyesal, Amber." Kata Exel.
Amber mengerutkan bibirnya dengan sepasang manik yang berair sebelum menghambur kepelukan Exel. Pria itu memandang Amber sebelum mengusap punggung kecil gadis kesayangannya itu. "Tapi aku tidak bisa membencimu. Aku tidak bisa menyalahkanmu karena kamu juga tidak salah. Jika kamu tidak muncul, aku mungkin tidak akan seberani ini karena itu bukan kamu."
"Seandainya bukan kamu ..." Amber mulai terisak, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya itu bukan kamu."
Pada saat itu, Amber memang ketakutan. Dibawah ketidakberdayaanya, Amber selalu ketakutan. Namun Exel memperlakukannya dengan lembut. Meski itu adalah pengalaman buruk yang sama sekali tidak diinginkannya, namun Exel tidak pernah menyakitinya dan memperlakukannya dengan lembut, membisikkan kata-kata penenang. Pada saat itu pikiran Amber kacau oleh rasa panik yang dirasakannya, sehingga dia tidak bisa memahami setiap bisikan dan perkataan Exel pada saat itu.
Namun ketika mengingatnya dengan jelas, Exel benar-benar mencintainya.
"Amber, aku tahu aku akan terdengar kejam dan seperti seorang psikopat. Namun ketika orang itu bukan aku, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri dan memastikannya memilih kematian daripada harus mengingat tentangmu." Kata Exel sembari menarik Amber lebih dekat kepelukannya namun menghindari tekanan diperut Amber.
Exel tidak berbohong bahkan pada saat ini.
Jika orang itu bukanlah dirinya, dia akan menghabisi siapapun itu dengan tangannya sendiri.
"*Aku mungkin terdengar seperti bajing*n manipulatif. Aku mengakuinya, namun aku bersumpah bahwa aku tidak pernah memiliki niat buruk padamu, Amber. Aku tidak ingin menyakitimu. Aku ingin melindungimu dan menjagamu dengan sepenuh hatiku. Meski orang bilang aku tidak memiliki hati, meski orang bilang aku dingin dan kejam, aku tidak peduli karena tujuan hidupku hanyalah untuk melihat senyummu setiap saat*." Kata Exel dengan penuh tekad.
Dipelukan Exel, wajah Amber pelahan menjadi semakin merah. Ia menggigit bibirnya dan berbisik, "Kau memang bajing*n manipulatif. Dan bodohnya aku sudah jatuh pada bajing*n itu."
Mendengar apa yang dikatakan Amber membuat Exel menyunggingkan senyuman. Ia mengeratkan pelukannya pada Amber dan menjatuhkan ciuman mesra kepuncuk kepala gadis yang telah berhasil merebut hatinya ketika ia pertama kali melihatnya.
__ADS_1
Istrinya, Amber.