My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 150: I'll Destroy They All


__ADS_3

Alva membawa Alana menuju mobilnya. Erlan yang sedang bermain ponsel perlahan menoleh dan segera menurunkan kaca mobilnya.


"Sudah sampai?" Tanya Erlan membuat Alva mengangguk sesaat dan berkata, "Ayo pergi ke tempat Angga. Kita harus memeriksakan keadaan anakku."


Erlan menganggukkan kepalanya sementara Alva membukakan pintu untuk Alana. Gadis itu perlahan melangkah masuk sembari memegangi perutnya dan duduk dibangku dibelakang Erlan sementara Alva menyusul Arana. Erlan meraih sesuatu dari bangku penumpang disampingnya dan mengulurkannya kebelakang kepada Alana yang menerimanya dengan bingung.


"Apa ini?"


Erlan segera kembali dan mulai menjalankan mobilnya. "Makanan. Aku membawanya atas perintah Alva. Aku harus mencari kesana kemari untuk menemukan makanan kesukaanmu itu."


Alana sedikit mengerutkan keningnya, membuka bungkusan dan menemukan sebungkus bakso bakar dan pempek. "Dimana kau membelinya?"


"Itu tidak dibeli. Kekasihku yang membuatkannya karena kebetulan dia suka memasak juga."


Alana mengerutkan keningnya semakin dalam dan meletakkan bungkusan itu ke samping. "Aku tidak sedang ingin makan. Lagipula, aku hanya percaya kebersihannya jika yang memasak adalah koki. Aku sedang hamil, bagaimana jika makanan seperti itu membahayakan bayiku? Apa kekasihmu mau bertanggung jawab?"


"Sudah beruntung bayiku selamat setelah aku minum. Hiro breng*ek itu menipuku bahwa bayiku tidak selamat. Aku jadi hampir gila, sialan! Aku pasti akan membalas Hiro nanti!"


"Eh, bukan begitu. Makanannya bersih, kok." Erlan berkata dengan nada tidak enak.


Alana mendengus sementara Alva tersenyum dan mengusap kepalanya. "Sudah, sudah. Tidak apa jika kamu tidak ingin makan, nanti kamu bisa makan apapun yang kamu mau."


Alana perlahan kembali tenang sebelum menganggukkan kepalanya. "Katakan pada Erlan untuk tidak membawa hal-hal seperti itu lagi."


"Iya." Jawab Alva membuat senyuman Alana merekah.


"Bagus."


Beberapa jam kemudian, ketiganya sampai di apartemen Alva. Erlan yang ada urusan segera pamit dan kembali, membiarkan Alva dan Alana berada di apartemen. Alva menyampirkan jasnya ke atas sofa sementara dia sedikit meregangkan tubuhnya. Alana dibelakangnya mengamati fitur apartemen itu dan sedikit mendengus.


"Bagus, namun masih kurang luas dan mewah. Aku harus tinggal ditempat seperti ini?"


"Sayang, makan malam hari ini apa? Aku sudah merindukan masakanmu."


Ucapan Alva membuat Alana sedikit menegang.


"Arana sialan, dia yang memasak? Aku tidak bisa masak, jika aku melakukannya, bukankah Alva akan segera curiga?"


Alana melangkah mendekat, duduk disebelah Alva dan menyandarkan tubuhnya kepada Alva. "Aku terlalu lelah untuk memasak hari ini. Sayang, pesan saja, ya?"

__ADS_1


Mendengar perkataan Alana membuat Alva mengangguk dan tersenyum. "Kamu pasti lelah karena perjalanan jauh. Maaf karena aku tidak peka, ya? Apa yang ingin kamu makan? Aku akan pesankan untukmu."


"Apapun untukmu, sayang. Buatku, cukup pesankan salad."


"Hanya salad?"


Alana menganggukkan kepalanya. Dia sedang dalam masa dimana dia harus menjaga pola makannya atau tubuhnya akan melebar dan dia tidak akan sempurna. Alva kemudian mengangguk dan mulai memesan makanan. Mereka berdua kemudian makan bersama, mandi secara bergantian dan kemudian tidur.


Alana berbaring dengan penuh kepuasan ditempat tidurnya. Ia menoleh dan menatap sosok Alva disebelahnya. Mungkin karena kelelahan, pria itu tidur lebih awal. Alana memandanginya selama beberapa waktu sebelum menyeringai.


Pria yang baik yang mencintainya.


"Tau begini aku akan menikah dengannya dari awal. Sekarang, aku bahkan hamil anak pria baji*an itu dan bahkan Arana hamil anak Alva. Aku bahkan harus menyesuaikan diriku kembali, karena aku tidak banyak tahu apa yang dilakukan oleh Arana. Dari cerita mama, aku hanya tahu sedikit hal."


"Aku harus berusaha menghindari bertemu dengan banyak orang."


Alana mengusap wajahnya dan menatap tajam foto besar yang terpasang diatas tempat tidur. "Menjijikkan. Aku harus melepaskan foto itu besok."


...***...


Arana memandang pemandangan dari balik jendela. Sepasang maniknya sedikit sendu. Namun Arana tidak kehilangan sedikitpun kepercayaan dirinya bahwa dia akan segera bisa keluar dari tempat ini. Sudah satu minggu dia berada dibangunan yang dia ketahui berada di sebuah pulau yang sebenarnya adalah kepunyaan dari Alana. Tentu saja itu cerita dari seseorang yang dipekerjakan Josh untuk mengurusnya selama pria itu sedang tidak ada. Lagipula, Josh juga sadar bahwa dia tidak akan bisa mengurus wanita hamil seorang diri.


Arana menoleh.


Wanita didepannya, seorang wanita bersurai coklat sebahu dengan tahi lalat dikeningnya itu adalah pengasuh yang dipekerjakan oleh Josh. Bukan pengasuh sungguhan, namun wanita itu benar-benar membantunya dalam mengurus dirinya selama ada disana, membantu mengatur makanannya yang sehat dan membantunya menyiapkan keperluannya.


"Terimakasih kak Lisa."


Arana menerima obat yang diberikan oleh wanita itu. Arana tahu obat apa itu, hanya vitamin untuk memperkuat kehamilannya. Arana juga sering meminumnya atas perintah Arletta. Arana menenggak obat itu dan kemudian dengan tenang mengembalikan gelas itu kepada Lisa yang menerimanya dan meletakkannya kembali ke atas nampan.


"Nona, harap bersabar."


Lisa berucap dengan nada datar yang membuat Arana menatapnya. Namun wanita itu melangkah keluar dan menutup pintu, meninggalkan Arana yang terdiam diatas tempat tidur. Ia menghela napas dan memandang lurus kedepan. Arana tidak butuh dikasihani, dia hanya butuh dibebaskan dan segera kembali ke kehidupan normalnya.


Ia memandang jarinya.


Ada bekas samar cincin, hanya bekas samar karena memang Arana tidak menggunakannya untuk waktu yang begitu lama. Arana mengusap jari manisnya dengan tatapan samar. Ketika dia sadar, cincin pernikahan itu sudah menghilang dari jarinya, dan Arana yakin saat ini sudah ada ditangan pemiliknya. Arana menghela napas dan membelai perut buncitnya yang terlapis baju tidur lentur berwarna putih.


"Baby ... jika kita hidup berdua, jauh dari semua orang ... apakah kamu akan mengerti ketika kamu dewasa nanti? Apakah kamu akan mengerti apa yang mama alami, dan akan memaafkan mama karena menempatkanmu dalam situasi seperti ini?"

__ADS_1


Arana sedikit menunduk. "Maafkan mama, nak."


...***...


Koridor panjang itu tengah dalam suasana tegang. Tidak ada satupun diantara mereka yang duduk dan berdiri itu yang berani membuka suara terlebih dahulu. Alva duduk disatu bangku, menatap lurus kedepan dengan sepasang manik tajam nan tegas. Alva mengatukan kedua tangannya, menyembunyikan sepasang mata dan ekspresinya kedalam lipatan tangannya dan menunduk.


Suara pintu terbuka disampingnya membuat atensi orang-orang disana segera teralihkan. "Dok, bagaimana?"


Arletta adalah yang pertama kali bertanya kepada dokter. Tepat setelah pintu ruang persalinan terbuka. Dokter melepaskan maskernya dan menganggukkan kepala dengan senyuman. "Operasi cesar berjalan dengan lancar. Namun, dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa nona Alana sudah tidak bisa hamil lagi. Kandungannya terpaksa kami angkat bersamaan dengan sang bayi, karena keselamatan beliau bisa terancam bila ia hamil lagi. Kami juga sudah mendapatkan persetujuan dari orangtua pasien dan pasien sendiri, jadi kami berhasil mengangkat kandungannya."


"Pasien akan dipindahkan keruang perawatan sementara bayinya sedang diperiksa oleh perawat dan akan dibawa keruang bayi setelahnya. Hanya ayah yang bisa menjenguknya untuk sementara waktu. Saya permisi."


Arletta menghela napas dan tersenyum penuh dengan rasa syukur kepada sang dokter. "Terimakasih banyak dokter!"


Angga menepuk pundak sang rekan sesama dokter dan menariknya untuk mengobrolkan tentang beberapa hal. Sementara Arletta duduk disamping Alva dan mengusap pundaknya dengan tatapan kasih sayang seorang ibu.


"Nan ingin melihatnya, ma."


Arletta menyunggingkan senyuman dan berkata dengan suara lembut. "Pergilah, Nan."


...***...


Berdiri didekat sebuah box bayi, sepasang manik hitam itu memandang kearah bayi mungil yang terbaring nyaman didalam kotak bayi. Gerakan samar yang bayi itu lakukan, dan isakan tangis pelan yang dikeluarkannya. Bayi yang cantik, rapuh dan lemah. Bayi yang membuat siapapun ingin melindunginya dan ingin mendekapnya.


Alva menatap sang bayi dengan tatapan datar. Tidak ada ekspresi kebahagiaan, tidak ada ekspresi kegembiraan dan kasih sayang seorang ayah. Bahkan ketika bayi itu menggeliat dan menangis, tatapannya tidak tergoyahkan dan bahkan ia mengantongi tangannya kedalam sakunya dan bernapas dengan dingin.


"Anak malang, yang harus lahir dari rahim wanita yang salah."


Ia sedikit membungkuk. "Seandainya kau lahir dari wanita yang aku cintai, meskipun kau bukan putriku, aku akan mencintaimu dengan sepenuh hati."


"Tapi..." Alva menjeda suaranya dan nadanya menjadi semakin dingin. "Rasanya aku bahkan ingin membunuhmu sekarang agar ibumu kehilangan akal dan menjadi gila. Seharusnya itu menjadi karma baginya."


Alva menatapnya dengan dingin selama beberapa detik sebelum berbalik bahkan tanpa menyentuh bayi itu sedikitpun.


"Bagaimanapun, kau mungkin tidak akan pernah bisa lagi mengenal ibumu, nanti."


"Karena aku, akan segera menghancurkan mereka."


__ADS_1


__ADS_2