My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 121: Tears And A Call


__ADS_3

Jauh dinegeri seberang, Yoko tengah bersitegang dengan Yosua yang mempertanyakan alasan mengapa Aki bisa melarikan diri dari rumah ketika dia tidak berada dirumah selama beberapa waktu karena bekerja.


"Bagaimana Aki bisa melarikan diri, Yoko? Apa yang membuatnya melarikan diri dari rumah? Apa terjadi sesuatu selama aku tidak ada?" Tanya Yosua.


Kening Yoko mengerut sedetik setelah Yosua menyelesaikan pertanyaannya. Maniknya memandang tajam Yosua, "Apakah kamu menuduhku melakukan sesuatu kepada Aki? Bukankah kamu juga tahu bahwa aku hanya menyuruhnya belajar seperti biasanya dan mengurangi bermain game? Apakah aku salah jika menyuruhnya belajar? Aku juga melakukan hal yang sama untuk Naoki!"


Yosua hampir tidak bisa bereaksi melihat betapa sensitifnya istrinya. "Ada apa denganmu, Yoko? Aku bertanya dengan baik, apakah mungkin Aki mengalami gangguan selama dia disekolah, mengapa kamu begitu marah?"


Yoko membungkuk, dan menangis. "Aku tidak mengerti, dia tidak pernah mau memberitahu meski aku adalah ibunya! Hiks, hiks! Aku hampir tidak mengerti putraku sendiri."


Yosua tidak bermaksud mengatakan sesuatu dengan niat menyinggung atau menuduh istrinya, namun Yosua tidak tahu bahwa respon istrinya akan cukup berlebihan seperti itu. Yosua merasa aneh dalam hatinya, namun dia tidak tega melihat istrinya menangis dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mengenali putra mereka seperti itu. Dia menghampiri Yoko dan memeluknya dengan erat sembari meminta maaf.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku tidak bermaksud menuduhmu, aku bertanya karena aku benar-benar penasaran dan bingung tentang alasan mengapa Aki kabur dari rumah. Anak itu bahkan tidak mau mengangkat telponku dan bahkan mengabaikan pesanku." Ucapnya sembari mengelus punggung Yoko untuk menenangkan.


"Jangan menangis lagi."


"Tapi Aki, hiks ..."


"Aku akan meminta Alva dan Alana untuk menenangkan Aki dan mencari tahu apa yang membuatnya kabur. Jangan menangis lagi."


...***...


"Aki memang benar-benar pendiam, ya?"


Arana berkata kepada Alva yang tengah beristirahat di balkon sembari menikmati secangkir kopi buatannya. Aki tengah berada di ruang utama, menonton televisi sembari menikmati kue kering. Arana memandangnya dari kaca balkon, dan berkata dengan suara yang tidak terlalu keras. "Apa sejak kecil dia memang begitu, Al?"

__ADS_1


Alva menganggukkan kepalanya. "Mn, kak Yosua bilang dia memang agak pendiam bahkan sejak dia masih kecil. Kupikir, itu turunan dari bibi Yoko yang memang cukup pendiam."


"Aki mengatakan bahwa dia benar-benar tidak ingin menerima panggilan atau pesan dari bibi," Arana sedikit merenung, "Apa mungkin dia mengalami kekerasan? Maksudku bukan kekerasan secara fisik."


Alva menggeleng, bukan menandakan penolakan namun sebuah ketidaktahuan. "Paman secara pribadi adalah orang yang tegas, namun dia tidak pernah bermain tangan dan aku tahu itu. Sementara bibi berasal dari keluarga dengan adat istiadat yang masih kental dan dia adalah wanita yang berbudi luhur. Aku tidak paham mengapa, atau mungkin apa yang terjadi diantara mereka hanya sebuah kesalahpahaman saja."


"Bisa jadi." Gumam Arana.


"Kita akan membiarkannya tinggal disini tanpa bertanya sampai dia sendiri yang akan menjelaskan mengapa dia kabur. Mungkin dia memang memiliki alasannya, dan jika dia memang tertekan atau semacamnya, biarkan Aki menenangkan dirinya dulu untuk beberapa waktu. Aku juga sudah menjelaskan kepada paman dan paman mengatakan bahwa dia baik-baik saja dengan itu." Kata Alva membuat Arana mengangguk paham dan setuju.


Benar apa yang dikatakan Alva. Jika Aki sudah merasa lebih baik dan nyaman, dia akan menjelaskan apa yang terjadi dengan sendirinya, jadi tidak perlu terburu-buru.


"Aku akan mengobrol dengannya sebentar~"


Aki tidak bereaksi selama beberapa waktu sebelum dengan samar menganggukkan kepalanya. "Novelnya bagus."


"Aku senang kamu menyukainya. Oh iya, apa kamu ingin berjalan-jalan bersamaku besok? Aku akan mengajakmu berkeliling kesekitar sini untuk mencari banyak jajanan yang enak." ungkap Arana membuat Aki merenung selama beberapa waktu sebelum dengan tenang menganggukkan kepalanya dan bergumam, "Oke."


Mendengar jawaban singkat Aki membuat Arana tanpa sadar tersenyum. Diantara temannya tidak ada yang sedingin Aki, dan seirit bicara dia. Itu membuat Arana menjadi sedikit lebih sulit untuk berinteraksi dengan Aki karena tidak bisa menemukan topik pembicaraan. Namun mengingat sesuatu, manik Arana sedikit melebar dan dia dengan riang menghalangi pemadangan Aki dari televisi didepannya.


"Aku memiliki banyak buku novel diruang baca. Mau ikut dan membaca bersama? Aku bisa merekomendasikan beberapa buku untukmu dan mungkin kamu belum pernah membacanya!" Kata Arana riang.


Ekspresi Aki tertutupi oleh poninya ketika dia sedikit menunduk. Arama tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya namun ia bisa merasakan bahwa suasana diantara mereka menjadi sedikit tidak bagus. Arana dengan lembut menurunkan kepalanya mencoba mengintip ekspresi Aki ketika remaja itu mengangkat wajahnya dan memandang Arana dengan sepasang manik cerah. "Aku hanya sedang ingin menonton Telvisi saja, kak. Mungkin lain kali."


Melihat bahwa Aki begitu tenang justu membuat Arana merasa bahwa Aki benar-benar mengalami sesuatu. Entah apa itu, yang pasti Arana merasa bahwa Aki semakin mampu menyembunyikan emosinya yang membuat Arana merasa khawatir kepadanya. Namun Arana tidak bisa mengatakan apapun dan dengan berat mencoba membiarkan Aki melakukan apa yang dia inginkan. Arana dengan tenang duduk kembali disampingnya dan sesekali

__ADS_1


Arana menghela napas dalam hatinya dan dengan tenang bangkit berdiri dan pergi untuk memberikan ruang pada Aki.


Sepertinya Aki memang butuh waktu untuk menenangkan hatinya dulu.


...***...


Civanya memandang ponselnya dengan tatapan bingung ketika sebuah nomor asing menghubunginya. Ia dengan ragu berpikir selama beberapa detik sebelum mengangkat panggilan itu.


"Halo? Siapa ini?"


Ada suara bernada ramah diseberang. Suara familiar yang membuat Civanya mengerutkan keningnya sebelum terkejut. [Hai, Civa. Mendengar suaramu, sepertinya kau baik-baik saja, ya?]


"Ernad?" Civanya bertanya ragu ketika ada tawa dari seberang sana.


[Benar. Ini aku, Ernad. Sebenarnya aku ingin menyapamu di acara reuni, tapi kau tidak datang. Ah, Alana juga tidak datang, kan?]


Civanya merasa gugup tanpa alasan dan dengan ragu menjawab. "Aku dan Alana tidak bisa datang karena sedikit sibuk. Aku memiliki banyak tugas dan Alana tidak bisa hadir karena ada urusan mendesak yang harus dia lakukan."


[Hmm.. Bisakah kita bertemu? Aku memiliki beberapa hal yang perlu aku tanyakan kepadamu. Aku akan menunggumu. Akan kukirimkan alamatnya padamu. Sampai jumpa!]


Kemudian, panggilan telepon dimatikan sepihak. Civanya menatap ponsel dengan tatapan yang sulit digambarkan. Pemuda itu selalu seperti itu, semaunya sendiri. Civanya menghela napasnya dengan tenang. Baiklah, jika sampai dia menanyakan hal yang tidak penting, Civanya tidak akan pernah menganggapnya teman karena sudah mengganggunya.


Lagipula, mereka memang tidak pernah menjadi teman.


__ADS_1


__ADS_2