My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 129: Heading for Melbourne


__ADS_3

Arana melangkah dengan tenang disepanjang koridor universitasnya bersama dengan Civanya. Arana mengenakan dress bermodel off shoulder berwarna hitam dengan sepatu boots hitam semata kaki yang membuat kulitnya terlihat lebih putih daripada biasanya. Ia menggunakan tas selempang putih tulang dengan beberapa buku dipelukannya. Sementara Civanya tampil lebih manis dengan menggunakan cardigan dua warna dan celana kulot highwaist. Keduanya mengobrol tentang makanan apa yang akan mereka makan sebagai makan siang mereka. Sesekali, Arana akan menyapa dan balas menyapa orang yang dikenalnya.


"Aku ingin makan Yakisoba."


Civanya nampak berpikir dan mengangguk. "Mari pergi kerestourant Jepang didekat sini. Kudengar disana ada menu baru."


"Jam berapa kelasmu berikutnya dimulai?" Tanya Arana.


"Dua jam lagi. Masih ada banyak waktu untuk makan."


Arana menganggukkan kepalanya dan keduanya lanjut berjalan ketika ponsel ditangan Arana bergetar. Ia sedikit berhenti, melihat nama dilayar ponselnya, tersenyum dan mengkode Civanya bahwa dia akan menjawab panggilan telepon itu. Civanya mengangguk dan membiarkan Arana menjawab telepon disaat keduanya masih berjalan berdampingan.


"Halo, Amber!"


Arana menyapa dengan penuh semangat. "Aku baru saja selesai kelas dan sekarang akan makan makanan Jepang. Itu makanan kesukaanmu, lho~ Ngomong-ngomong, ada apa menghubungiku?"


Ada keheningan panjang yang membuat Arana berkedip bingung. Arana sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk mengecek bahwa ia masih tersambung dengan nomor Amber dan kembali menempelkan ponselnya kedekat telinganya. "Amber?"


Arana hendak berucap kembali ketika suara Amber terdengar lirih diseberang sana. [Na ... maafkan aku.]


Kemudian, sebelum Arana sempat merespon apapun, panggilan diakhiri. Arana dengan cemas menatap layar ponselnya dan mencoba menghubungi Amber lagi. Namun beberapa percobaan telah dia lakukan, dan hasilnya sama. Nomor Amber tidak aktif.


"Na, ada apa?" Tanya Civanya.


Arana merasakan perasaan tidak enak ketika mendengar perkataan Amber beberapa waktu lalu. Arana menatap ponselnya. "Civa, maaf aku tidak bisa menemanimu makan hari ini. Aku harus pergi sekarang juga."


Melihat kepanikan dimata Arana, Civanya tidak banyak bertanya lagi dan menganggukkan kepalanya ketika dia membiarkan Arana bergegas pergi. Arana segera menaiki taksi untuk kembali keapartemennya, mengambil paspor miliknya dan beberapa uang tunai untuk digunakan diperjalanan jika dia tidak bisa menggunakan e-money.


Arana juga mengemas beberapa pakaian kedalam koper ketika Arana menghubungi Arselyne. Arana mencoba menghubunginya sampai tiga kali, namun nomernya sedang tidak aktif. Arana menghela napas, menutup kopernya dan menghubungi Alva.


"Halo, Al?"


[Sayang, ada apa? Apa kamu merindukanku?]


Suara Alva memiliki semacam godaan. Namun saat ini, karena Arana sedang diliputi perasaan cemas, Arana segera menjawab. "Al, aku akan pergi menemui Amber sekarang juga."


[Oh, ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu?]

__ADS_1


"Amber menghubungiku ketika aku sedang dikampus. Dia menangis dan hanya mengucapkan kata maaf kepadaku sebelum memutuskan panggilan telepon kami. Setelah aku mencoba menghubunginya lagi, nomornya tidak aktif. Aku sangat khawatir, jadi aku akan ke bandara sekarang dan menemuinya."


[Tunggulah dirumah sebentar, sayang. Aku akan datang.]


"Apa? Bagaimana dengan perusahaanmu? Aku hanya akan sebentar."


[Tidak akan ada apa-apa dengan perusahaan. Ada Erlan yang akan mengurus perusahaan. Jadi tolong tunggulah dirumah, aku akan menjemputmu dalam 30 menit.]


Arana tidak bisa membantah. Lagipula, dia tidak memiliki alasan untuk menolak Alva karena pria itu hanya ingin menemaninya. "Baiklah, Al. Aku akan menunggumu."


Setelahnya, Arana kembali keapartemen dan mengemas beberapa pakaian Alva yang akan Alva kenakan. Karena tidak banyak, Arana mencampurkan keduanya kedalam satu koper dengan pack masing-masing. Setelah selesai, Arana duduk disofa dan menunggu Alva. Setelah duapuluh menit kemudian, Alva datang. Pintu terbuka, Arana menoleh dan berdiri, mendapati Alva datang dengan sebuah papper bag ditangannya.


"Al?"


Alva mendatangi Arana dan memeluknya. "Jangan khawatir. Kita akan ke Amber sekarang juga."


Arana menganggukkan kepalanya, hendak mengambil kopernya ketika Alva terlebih dulu meraih koper itu dan meraih tangannya untuk berjalan keluar bersamanya disisinya. "Maaf, Al. Aku pasti merepotkanmu."


Alva mengeratkan genggaman tangannya. "Jangan pernah mengatakan bahwa kamu merepotkan aku, sayang. Kamu adalah istriku, aku memilihmu dan aku memiliki kewajiban untuk mengurus dan membahagiakanmu."


Arana menunduk, melangkahkan kakinya berbarengan dengan Alva dan menganggukkan kepalanya. "Terimakasih, aku mengerti."


"Orang kaya. Aku tadi berpikir kami akan mengantri membeli tiket pesawat." Batin Arana.


...***...


Sepuluh jam melakukan penerbangan udara, Arana dan Alva akhirnya tiba di Melbourne. Setibanya disana, Arana menghidupkan kembali ponselnya dan mendapati Arselyne menghubunginya sebanyak dua kali dan mengirim pesan juga. Arana menghubungi Arselyne setelahnya.


"Ly."


[Ada apa, Na? Saat kamu menghubungiku waktu itu, aku sedang tidak diapartemen dan ponselku tertinggal. Apa ada sesuatu yang kulewatkan?]


"Apa Amber tidak menghubungimu?"


[Tidak, ada apa?]


Arana menjawab, "Amber menghubungiku. Dia sedikit terisak dan hanya mengucapkan kata maaf sebelum nomornya menjadi tidak aktif."

__ADS_1


Mendengar penuturan Arana, Arselyne yang tengah mengeringkan rambutnya di dalam kamar apartemennya mengerutkan keningnya. "Amber mengatakan itu?"


Ia mendengar suara Arana. [Iya. Sekarang aku sudah sampai di Melbourne dan dalam perjalanan menuju rumah Amber. Aku akan mengabarimu untuk selanjutnya, Ly. Jadi, jangan terlalu khawatir. Aku akan memastikan bahwa Amber akan baik-baik saja.]


Arselyne menghembuskan nafasnya dengan berat dan meletakkan handuknya disampingnya ketika dia berbicara, "Tolong kabari aku jika terjadi sesuatu. Jangan menyembunyikan apapun seperti yang kalian lakukan saat itu."


[Iya, maafkan aku. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Kami sudah hampir sampai.]


Arselyne menganggukkan kepalanya tanpa sadar dan bergumam, "Mn."


Setelah panggilan terputus, Arselyne memandang figura foto disebelahnya dan menghela napasnya dengan berat. Itu adalah foto dirinya, Arana dan Amber ketika mereka baru pertama kali masuk SMA. Ketiganya mengenakan seragam. Arana dan Amber berada dikanan dan kirinya ketika mereka memeluknya dan dia merangkul mereka. Senyuman merekah diwajah ketiganya.


"Amber, apa lagi yang terjadi padamu?"


Disisi lain, ditempat Arana, gadis itu melangkah keluar dari mobil dan berdiri didepan gerbang rumah Amber yang megah. Sang penjaga gerbang segera menghampiri Arana dan Alva. "Mencari siapa?"


Arana menatapnya selama dua detik sebelum menjawab. "Amber. Apa dia ada dirumah?"


Penjaga itu sedikit terkejut, dan dengan segera menggelengkan kepalanya. "Nona Amber sedang tidak ada dirumah."


"Tidak ada?"


Arana bergumam dan memandang melalui celah gerbang. Bangunan tinggi yang menjulang disana, dan tirai-tirai yang terbuka. Tatapannya tertuju pada sebuah jendela dan maniknya menyipit. Kebiasaan Amber adalah mengunci rapat jendelanya ketika dia sedang tidak ada dirumah dan tidak membiarkan sedikitpun celah ditirai. Saat ini jendela sedang tertutup rapat, begitu juga dengan tirai yang ada didalamnya.


"Amber memang tidak ada dirumah."


Ia mengerutkan kening dan mencoba mengingat tempat yang akan didatangi Amber, dimana orang lain tidak tahu.


"Sayang, bisakah kamu mengantarku kesuatu tempat?"


...***...


Gadis itu berdiri di atas sebuah gedung. Tatapan matanya yang sendu memandang sekelilingnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menatap pada tanah belasan meter dibawahnya dengan kosong. Angin dingin menerbangkan anak rambutnya, memperlihatkan sepasang manik abunya yang berlinang air air mata. Luka lebam diwajahnya telah berubah menjadi ungu kehitaman, dan darah disudut bibirnya telah mengering, namun dia sekalipun tidak meringis, seakan luka itu adalah sebuah hal yang biasa baginya.


"Inilah akhirnya."


Ia menyunggingkan senyuman miris diwajahnya ketika dia berbisik kepada sang angin. "Pada akhirnya aku menyerah."

__ADS_1



__ADS_2