My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 46: Poor Tiffany


__ADS_3

Otak Arana berhenti beroperasi selama beberapa detik. Ketika dia bereaksi, Arana menatap Amber dengan sepasang manik yang melebar. Gadis itu menjauhkan sesaat ponselnya.


"Amber, kamu beri nama apa kontakku di ponselmu?! " Tanyanya dengan suata setengah berbisik.


Amber mengerutkan kening kebingungan, namun mengikuti nada suara Arana. Menjawab dengan jujur. "Kuberi nama Nana Kesayanganku."


Mendengar bahwa itu bukan Arana, gadis pemilik iris hazel itu menghrla napas lega. Ia kembali mendekatkan ponselnya kedekat telinganya dan menyapa seseorang diseberang sana. "Hai, Juan."


Sebenarnya Arana tidak menduga bahwa identitas orang yang dimaksud Amber adalah Juan. Benar, Juan adik sepupunya. Arana memijit pelipisnya dan tidak bisa untuk tidak membatin bahwa dunia itu begitu kecil. Benar-benar kecil sampai bahkan orang asing yang bertemu dengan Amber adalah sepupunya yang tidak pernah akrab dengan Alana, apalagi padanya.


[Benar, Alana, ya? Bagaimana kau bisa mengenal gadis bar-bar itu? Kupikir kau pilih-pilih saat berteman.] Suara diseberang sana terdengar.


"Bukan urusanmu. Aku hanya ingin mengatakan, kembalikan ponsel temanku dan akan kuganti ponselmu. Belilah ponsel sendiri." Tegas Arana meniru Alana.


[Haha! Kalau begitu masalah ini juga bukan urusanmu, Alana.]


Oh, pintar sekali bicaranya.


Arana membuka bibirnya kembali. "Aku ikut campur masalahnya karena dia adalah sahabatku. Sementara kamu, bukan siapa-siapaku. Jadi, kirim lokasimu dan akun rekeningmu supaya kami bisa ambil ponselnya dan bisa mengirim uangnya. Masalah selesai."


Juan diseberang sana diam selama beberapa detik sebelum menjawab. [Tidak mau. Dia bahkan tidak minta maaf setelah merusak ponselku dan bahkan mengganggu kenyamananku di muka umum.]

__ADS_1


"Ha?" Beo Arana.


[Aku akan mengembalikan ponselnya jika dia mengembalikan ponselku dalam keadaan utuh. Jika aku tidak mendapatkan kembali, dia juga tidak akan mendapatkan kembali ponselnya.] Arana hendak memprotes ketika Juan kembali berkata dengan nada yang lebih jahil dan terdengar menyebalkan ditelinga Arana.


[Aku bisa memberi keringanan kepadamu. Jika kau bisa menemukan dimana aku berada sekarang, datanglah temui aku dan akan kuberikan ponsel gadis itu. Ngomong-ngomong, aku sudah mematikan lokasi perangkat ini, jadi kamu tidak akan bisa menemukannya dengan melacaknya. Oh, waktunya sampai jam 1, jika lewat, berarti ponselku harus kembali.]


Setelahnya, panggilan berakhir.


Arana melotot dengan kesal. "Hah?! Memangnya bagaimana aku bisa menemukannya? Aku saja tidak tahu dia tinggal dimana!"


"Nana? Apa yang salah? " Tanya Amber yang penasaran dengan sikap Arana yang nampak kesal.


Arana menarik napas, menoleh memandang Amber dan mulai menceritakan apa yang terjadi. Apa yang dia sampaikan membuat emosi Amber meningkat, dan gadis itu mengepalkan tangannya. "Benar-benar laki-laki yang menyebalkan! Seumur hidup baru aku menemui laki-laki yang benar-benar mirip dengan Wios. Sama-sama membuat orang ingin meninjunya."


"Padahal itu cara paling mudah. Memberinya uang dan masalah selesai." Gumamnya dengan suara yang sedikit terdengar putus asa.


Amber nampak mempertimbangkan pernyataan Arana dan dalam sekejab mendapatkan ide dikepalanya yang melintas secepat angin. "Bagaimana dengan Alva? Apakah dia tahu dimana biasanya sepupumu berada? "


"Alva sedang istirahat." Ucap Arana membuat Amber menghembuskan napasnya. "Sudahlah, lupakan. Aku akan mencari ahli reparasi yang bisa memperbaiki ponsel ini. Jika di Indonesia tidak bisa, aku akan membawanya keluar negeri. Kemanapun asal ponselku bisa kembali."


...***...

__ADS_1


Waktu berlalu dengan cepat. Amber yang tengah berbaring telungkup disofa sembari mengganti acara televisi yang ditontonnya. Sementara Arana trngah membuatkan makan siang untuk Alva. Bubur ayam dengan kaldu jamur yang gurih. Walaupun Alva tidak bisa merasakan rasa masakan buatannya, Arana tetap tidak membuat makanan secara asal-asalan dan tetap mencurahkan perhatian dan perasaannya pada sajian sederhana itu.


"Huft!" Menarik napas dalam, Amber menyembunyikan wajahnya di bantal sofa dan memukul sofa. "Menyebalkan!"


Bibirnya mengerucut dan maniknya menyipit. "Jika aku sudah memperbaiki ponselnya, ingatkan aku untuk menendang sekali burungnya atau memukul wajahnya yang menyebalkan itu."


"Jangan buat masalah lagi, Amber~" Ucap Arana sembari mematikan kompor.


Amber bangkit duduk dan menoleh kearah Arana dengan tatapan kesal. "Tapi dia benar-benar mengganggu, Na. Ada ya, manusia semenyebalkan dia? "


Arana terkekeh, menggeleng dan memilih diam tak merespon. Gadis itu justru mengambil mangkuk dan mulai memasukkan bubur kedalam mangkuk keramik berwarna putih kebiruan itu. Memandang jam dinding, Amber menemukan bahwa waktu perjanjian sudah dilampaui, dan Amber menangis dalam hatinya. Bisa saja ponselnya tidak akan pernah kembali.


Bagaimana ini? Haruskah dia mengucapkan selamat tinggal kepada Tifanny—nama ponsel Amber, kesayangannya?


"Tifanny-ku yang malang! " Ratap Amber menatap langit-langit putih apartemen. Memperhatikan polah tingkah Amber, Arana hanya bisa menghela napas. Yah, lagipula mengapa harus Juan, sih? Jika orang lain, Arana akan berbicara baik-baik sehingga masalah bisa dibicarakan dengan mudah. Namun masalahnya ini adalah Juan, sepupunya yang mengenal Arana sebagai musuh bebuyutan. Jika Arana berbicara baik-baik pada pemuda itu, bisa membuat identitas Arana mengalami krisis!


"Kita bisa memikirkan cara lain sembari mencari tempat untuk memperbaiki ponsel Juan. Jangan terus meratap, Amber." Ucapan Arana membuat Amber mau tak mau menganggukkan kepalanya.


Ding~ Dong~


Suara bel menginterupsi keduanya. Arana yang dalam posisi berdiri segera melangkah menuju pintu dan membuka pintu tanpa sempat melirik atau melihat ke layar intercom. Ketika Arana membuka pintu, gadis itu tercengang. Tidak menyangka, siapa yang datang ke apartemennya pada saat ini.

__ADS_1


Itu tidak terduga.



__ADS_2