My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 71: Honey, Are You Teasing Me?


__ADS_3

Ketika kembali ke kamarnya, Alva masih menggulir layar ponsel pintarnya dan nampak sibuk hingga bakan tidak menyadari kedatangan istri tercintanya.


"Apa yang kamu lihat dari tadi, Al?' Arana bertanya sembari duduk disebelah Alva, mencondongkan tubuhnya kedepan untuk bisa melihat apa yang sedang dilihat Alva diponselnya. Yah, meskipun jika dia melihatnya dan dia tidak paham, Arana masih merasa penasaran dengan apa yang dilihat oleh Alva sehingga bahkan dari sebelum dan sesudah mandi, pria itu masih tidak melepaskan pandangannya dari ponsel.


Alva tidak keberatan menunjukkan apa yang dilihatnya kepada Arana.


Deretan agloritma yang panjang dan beragam itu memang terlihat rumit, namun bisa saja Arana mengerti apa yang terjadi. Jika istrinya penasaran, maka cukup beritahu saja.


Alva mendekatkan ponselnya kearah Arana dan menoleh, ketika gerakannya terhenti secara tiba-tiba. Maniknya terpaku melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Setelah mandi, Arana mengenakan jubah tidur yang disiapkan oleh penginapan. Jubah itu berlengan panjang dengan panjang semata kaki. Posisi duduk Arana yang bersilang kaki membuat jubah mandinya sedikit tersingkap, dan kaki rampingnya tereskpos, kontras dengan jubah mandi yang berwarna abu-abu gelap.


Lengannya menahan tubuhnya untuk condong kearahnya, dan belahan bajunya menjauh dan sedikit menampilkan area pribadi bagian atasnya yang sedikit tertutupi oleh rambut karamelnya yang setengah basah setelah mencuci rambutnya.


Pandangan Alva sedikit linglung, dan ia tidak bisa bereaksi selama beberapa waktu sampai Arana menyadari keanehannya dan memiringkan kepalanya, menggoyangkan tangan kanannya didepan Alva sembari memanggil namanya. "Al?"


"Hei, ada apa denganmu, sayang? Al?"


Tersadar dari lamunannya, Alva menyunggingkan senyuman dan menggeleng. "Tidak, maafkan aku."


Arana masih tidak mengerti, jadi dia menanyakannya kembali. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Katakan saja."


Bugh!


Dalam sekejab, Arana merasa dunianya terbalik. Ia berkedip selama beberapa detik untuk menyadari bahwa dia sudah terbaring diatas futon dan berada dibawah kungkungan Alva yang menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah dilihat Arana darinya selama ini, dan itu membuatnya sedikit gugup dan takut.


"Al?'


Suara Alva setengah serak ketika dia berbicara. "Sayang, apakah kamu mencoba menggodaku?"


"Hah?" Arana terbeo dengan tidak mengerti. "Menggodamu?"


Alva dengan senyumannya mengulurkan tangannya dan meremas telapak tangan Arana dengan lembut. "Mn, kamu menggodaku. Bahkan dengan jubah mandi yang biasa ini, kamu terlihat sangat cantik, menarik, dan ..."

__ADS_1


Ia menjeda ucapannya sebelum menundukkan kepalanya dan berbisik didekat telinga Arana. "Dan terlihat sangat seksi."


Wajah Arana memerah seketika, antara merasa geli karena embusan udara dari bibir Alva atau karena bisikan Alva yang mengucapkan kata-kata yang memalukan baginya itu. Yang pasti, wajahnya benar-benar memerah hingga pangkal lehernya.


"Aku tidak menggodamu, kamu salah paham." Arana ingin berkata seperti itu, namun ia mengingat percakapannya dengan Lidia dan harapan Arletta, Arana mengerutkan bibirnya dan menjawab. "Memang jika aku menggoda suamiku sendiri tidak boleh? Jika aku menggoda suami orang lain baru tidak boleh, kan?"


Alva dengan segera membungkamnya dengan ciuman. Ciuman dalam yang menuntut, yang membuat Alva melebarkan matanya karena terkejut.


"Kamu tidak boleh mengatakan hal itu dimasa depan?" Tegas Alva.


Menenangkan keterkejutannya, Arana membeo. "Bahwa aku menggoda suamiku?"


"Tidak akan ada perkataan, bahwa kamu akan menggoda pria lain. Karena kamu adalah istriku, dan aku satu-satunya suamimu." Ucap Alva membuat Arana tertegun, sebelum menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Gemas, Alva menjatuhkan ciuman kembali kepada Arana, ciuman yang kali ini lembut dan seringan ciuman capung pada permukaan air.


Ia memeluk Arana sebelum bangkit berdiri. "Aku akan mandi. Kamu bisa beristirahat terlebih dahulu jika kamu sudah mengantuk."


Memandang langit-langit kamar, Arana mendinginkan wajahnya setelah merasa malu karena pemikiran liarnya dan menghela napas panjang.


Ia memejamkan matanya dan mencoba untuk melepaskan beban pikirannya seharian ini, dan dalam sekejab, ia telah disambut didunia mimpi. Benar-benar melupakan untuk sesaat masalah yang ia miliki didunia fana untuk bersantai dan berfantasi, menyenangkan mentalnya dan mempersiapkan tubuhnya untuk menghadapi masalah demi masalah yang harus ia tanggung kedepannya.


***


Matahari sudah merangkak naik, dan cahayanya yang hangat dan lembut menerobos masuk, mengintip melalui pintu geser yang terbuka, untuk memberikan pemandangan secara langsung ke arah danau yang bergemerlap, tersapa oleh cahaya sang raja siang.


Membuka kedua matanya perlahan, Arana berkedip selama beberapa waktu sebelum menyadari bahwa ruang futon disampingnya kosong, menyisakan dirinya difuton besar itu, memandang kosong langit-langit selama beberapa waktu untuk mengumpulkan kesadarannya yang terpecah selama dia tengah bermimpi panjang.


"Al?"


Ia memanggil dengan suara khas bangun tidur, yang terdengar menggemaskan dan manis. Tidak ada balasan dari Alva, namun ada siluet wanita di balik pintu penyekat yang berkata dengan suara magnetis khas seorang profesional. "Okusama, aruba-san kara, shawā o abita nochi, chōshoku o tanoshimu tame ni resutoran ni tsureteiku-yō ni meiji raremashita || Nyonya\, Tuan Alva sudah berpesan kepada saya untuk mengantarkan anda kerestoran untuk menikmati sarapan setelah anda mandi."

__ADS_1


"Em? Aku terlambat bangun." Gumamnya ketika maniknya melirik jam. Ia menjawab wanita didepan. "Baiklah, terimakasih banyak."


Arana melipat selimut yang baru saja dia kenakan dan menaruhnya dipojokan ruangan sebelum ia melangkah keluar untuk mandi. Tidak lama baginya untuk menghabiskan waktu guna membersihkan tubuhnya, dalam sepuluh menit, Arana sudah mengenakan yukata berwarna biru gelap ketika seorang pegawai hotel mengantarnya ke ruang makan, untuk melihat Alva tengah duduk diatas bantal, menghadap meja persegi yang tidak begitu besar, lengkap dengan hidangan mewah khas Jepang.


Merasakan kedatangannya, Alva menoleh dan tersenyum. "Sayang, kamu sudah datang? Duduklah, kita sarapan kemudian pergi."


Arana mengangguk dengan patuh. "Baik."


Dalam sekejab, Arana sudah duduk berhadapan dengan Alva yang terpisahkan oleh semeja makanan dengan berbagai macam variasi. Keduanya mengangkat sumpitnya, dan mulai menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh pihak penginapan. Tentu saja semahal dan semewah fasilitasnya, makanan tersebut dibuat dari bahan-bahan yang benar-benar berkualitas tinggi. Sebut saja contohnya beras Jepang yang didatangkan dari kota Niigata sebagai penghasil beras paling berkualitas di Jepang.


Salmon dan Tuna ditangkap menggunakan cara tradisional dan merupakan bagian terbaik dari ikan Salmon dan tuna, tidak memiliki rasa amis dan benar-benar rasa yang menyegarkan.


Mencelupkannya ke dalam kecap asin yang sudah dicampurkan dengan minyak wijen, Arana menikmatinya dengan wajah puas, benar-benar menyukainya.


"Kamu suka?"


Arana mengangguk, karena makan sushi secara utuh, pipinya menonjol dan membuat Alva merasa gemas. Ia mengulurkan tangannya dan menggosok kepalanya dengan senyuman lembut diwajahnya yang rupawan.


"Kenapa kamu tidak lanjut makan?' Arana bertanya ketika melihat Alva tidak melanjutkan makannya dan hanya memandangnya.


Alva menyangga wajahnya dengan sebelah tangan. Cahaya matahari pagi yang lembut menyapa wajahnya, dan membuat fitur rupawannya semakin hangat dan lembut. Manik Arana berkedip beberapa kali, sebelum menyunggingkan senyuman mendengar perkataan Alva. "Melihatmu makan sudah membuatku sangat puas."


"Makanlah yang banyak, sayangku."


Arana mencebikkan bibirnya. "Mendengarmu berkata seperti itu, aku merasa seperti kamu berharap aku menjadi gendut? Apa kamu akan mencari yang lain saat aku jelek karena gendut?"


"Mana mungkin, sayangku bahkan akan terlihat sangat cantik dengan lemak yang menggembung dipipinya."


"Bukankah aku sudah mengatakannya sejak awal? Satu-satunya yang aku cintai, adalah kamu."


__ADS_1


__ADS_2